
Tak ada percakapan antara Damara dan Jelita mereka hanya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing jika Jelita masih berfikir kenapa Damara membawanya pulang ke rumah nya sudah sangat di pastikan kalau pria itu sudah pasti salah sangka kepadanya,
atau bisa di bilang menuduh nya tanpa alsan yang jelas lagi, Damara pasti telah berfikir kalau dia yang, membuat adik kesayangan nya itu jatuh. Dan sungguh sangat di sayangkan Damara sampai detik ini tidak ingin mendengar penjelasan darinya.
Sudah berulang kali Jelita ingin menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya namun Damara terkesan acuh tak acuh.
Bahkan ia seperti terkesan berusaha untuk menghindari Jelita, hingga membuat Jelita memilih lebih baik diam, dari pada berbicara dengan Damara, karena itu sama saja hal nya ia sedang berbicara dengan patung manekin dan bisa-bisa membuat ia akan terkena darah tinggi di usianya yang masih terbilang sangat muda itu.
Jika Jelita memilih melempar pandangan kesamping Jendela, ia memilih menatap jalan dengan wajah yang di tekuk, karena ia masih kesal dengan sikap Damara yang seenaknya saja membawanya pulang tanpa menunggu surat keputusan dari pengadilan untuk perpisahannya itu.
Maka lain hal nya dengan Damara ia memilih menatap istrinya itu tanpa berkedip sama sekali dan sudah pasti di sertai wajah datar nya, tapi itu ia lakukan ketika Jelita tak melihatnya saja karena tidak mungkin ia akan menatap Jelita se intens itu ketika Jelita melihatnya bisa-bisa Jelita akan menyumpahinya tanpa henti.
"Kita sudah sampai Tuan!" seru sang sopir membuyarkan lamunan mereka berdua.
"Baiklah sekarang kau boleh turun dan masuklah, jangan kemana-mana sampai aku datang kembali untuk menjemputmu." Ucap Damara sambil melempar pandangan nya menatap lurus kedepan tanpa ingin sedikit pun menatap Jelita, dan Jelita ntah mengapa tiba-tiba merasa kesal dengan sikap Damara yang tiba-tiba saja berubah kembali dingin se dingin kutup utara itu. lngin rasanya Jelita mencakar wajah tampan pria itu, untuk melampiaskan kekesalannya namun ia hanya bisa menahannya dalam hati saja.
"Ayo cepat masuklah! karena aku ingin segera pergi apa kau akan diam terus disini!" Ucap Damara Datar tanpa ekspresi itu.
__ADS_1
Jelita pun sedikit tersentak dan tersadar lalu memilih untuk segera turun dari mobil dari pada terus berada di depan manusia Salju seperti Damara itu.
Jelita kini segera turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan begitu kasar, membuat Damara sedikit tersentak. Jelita memilih untuk sedikit tersenyum sebelum melangkah masuk ke mansion Dad, Rafanya itu tanpa ingin berbalik sedikit pun kearah Damara yang masih menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Apa kau akan se bahagia ini jika hidup tanpa ku kau bahkan tak ingin menoleh sedikit pun untuk ku Jelita bahkan kau tersenyum bahagia saat aku mengantarmu pulang seperti ini."
Lirihnya dalam hati saat menatap Jelita yang kian menjauh.
Saat Jelita melangkah masuk Damara pun memerintahkan sang sopir untuk Jalan karena dia tak ingin terlalu lama menatap wanita yang sangat di cintainya itu.
"Baik Tuan." Jawab sang sopir sesaat kemudian mobil pun segera melesat meninggalkan mansion tersebut, dan betapa tersentak nya Jelita di saat menyadari bahwa Damara benar-benar meninggal kan dirinya sendiri, tanpa sadar ia pun berlari berbalik namun ia melihat mobil yang sudah melesat menjauh dari meninggal kan tempatnya itu. Jelita pun tanpa sadar berlari berusaha mengejar mobil yang di tumpangi oleh Damara tersebut sambil terus berteriak memanggil namanya.
"Damar...Damar...Damar...Tunggu aku kenapa kau meninggalkan aku disini bodoh bukankah kita belum resmi berpisah!" teriak Jelita terus berlari mengejar mobil yang sudah hilang di penghujung jalan hingga membuat kakinya tersandung dan membuat lututnya berdarah saat terjatuh.
"Auh aaah...sakit..." Lirihnya sambil berusaha bangkit lalu duduk memegang lututnya yang tersa begitu perih
Tes.
__ADS_1
Tak terasa bulir bening tiba-tiba jatuh begitu saja di pipi nya bukan karena sakit akibat ia terjatuh tapi ntah kenapa tiba-tiba saja ia merasa seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga di dalam dirinya namun ia tak tau apakah itu ia merasa perasaannya tiba-tiba hampa, dan entah mengapa tiba-tiba saja jantungnya berdetak begitu kencang.
Membuat Jelita memegang dadanya berusaha menetraliris perasaannya sebelum ia bangkit dari duduknya. Tak berbeda jauh dengan apa yang Damara sarakan saat ini karena ia tak bisa melihat bagaimana Jelita berbalik dan menatap kepergiannya dari kejauhan, Damara berharap Jelita melihat dan menahan kepergiannya walau hanya sesaat namun itu tidak di lakukan oleh Jelita membuat Damara merasa Kalua Jelita benar-benar tidak ingin memaafkannya bahkan mungkin tidak ingin mencintainya, dan cinta nya pada Jelita hanya cinta bertepuk sebelah tangan saja. Namun ia terus meyakinkan dirinya jika suatu hari nanti Jelita akan membalas cintanya itu.
"Maafkan aku Jelita, jika aku telalu banyak berharap darimu, aku harap juga kamu sabar menungguku hingga kita bertemu lagi, maka akan ku pastikan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi aku harap saat ini, kamu bisa mencari kebahagiaanmu.
Jelita berbahagia lah tanpaku maafkan jika aku tak bisa mengucapkan kata perpisahan ini secara langsung kepadamu. Karena aku tidak sekuat itu untuk mengucapkan kata perpisahan dengan orang yang sangat aku cintai aku harap setelah aku kembali kau akan mengatakan bahwa kau sangatlah mencintai ku." Monolognya hanya dalam hati berusaha untuk tersenyum walau senyumnya terasa getir, sambil terus menahan sesaknya yang menghimpit dadanya.
Sungguh jika ia bisa memilih maka ia akan memilih untuk tidak meninggalkan Jelita karena berpisah dari wanita tersebut sama saja seperti ia merasa berhenti untuk bernafas sungguh ia benar-benar sudah terjebak di dalam Cinta seorang Jelita, seorang wanita yang ingin ia benci namun telah mampu mengubah hatinya yang beku bahkan yang sudah mati karena patah hati kini mampu membuatnya bertekuk lutut karena cintanya kepada wanita itu.
Sementara itu Jelita yang masih terduduk di tempatnya terjatuh kini bangkit berjalan menuju mansionnya meski dengan kakinya lututnya terasa perih akibat benturan aspal jalan.
"Damara bodoh kenapa kau meninggalkan aku disini sendiri tanpa mengantar ku masuk terlebih dahulu apa lagi ini sudah mau pagi apa kata kakak kalau aku datang sepagi ini!" gerutunya bingung dan merasa resah di dalam hatinya.
Lama Jelita berfikir akhirnya ia memilih pulang kerumah utama saja dari pada ia harus di berondong berbagai pertanyaan oleh kakaknya atau oleh kedua orang tua nya, namun baru saja ia ingin mencari taxi tiba-tiba tangannya di cegat seseorang.
"Jelita...!"
__ADS_1