
"Apa! apa Anda sudah tidak waras!"
"Pilihan hanya ada padamu kamu tinggal pilih Amara atau Jelita." Ucap Darandra dengan sikap tidak pedulinya.
"Tapi aku tidak ingin kehilangan keduanya!" tegas Damara.
"Kamu jangan egois kamu harus bisa memilih antara cinta dan hidup adikmu, apa kamu akan bahagia diatas penderitaan Amara? aku fikir kamu akan tau jawabannya." lmbuh Darandra.
"Temui aku jika kau berubah fikiran dan tanda tangani kertas kosong ini karena aku tidak mau jika kamu akan mempermainkan kesepakatan kita, nanti aku akan mengisinya dengan poin-poin yang tidak boleh kamu langgar, aku berharap kamu cukup mengerti maksudku!" setelah berucap Darandra pun segera beranjak pergi meninggal kan Damara yang masih bingung, karena biar bagaimana pun ia tidak mau kehilangan orang-orang yang di cintainya, namun beberapa saat kemudian, ia memilih menelpon Exel untuk meminta bantuannya agar ia untuk sementara menitipkan Jelita, selama kepergian nya.
"Jelita maaf kan aku, untuk kesekian kalinya cinta kita di uji tapi jika kita berjodoh maka kita akan bersatu untuk selamanya walaupun banyak rintangan karena tidak akan ada yang bisa melawan takdir." Setelah menimbang dan berfikir Damara pun segera menanda tangani kertas kosong yang fi berikan Darandra tanpa curiga sedikit pun.
Dan ia pun segera beranjak menemui Darandra, agar ia segera bisa menemui Amara.
"Bagaimana apa kamu berubah fikiran?" Darandra bertanya saat menyadari kehadiran Damara walau ia masih belum mengangkat wajahnya, karena ia sibuk memeriksa beberapa laporan di depannya.
Bukannya menjawab Damara hanya menyodorkan kertas kosong yang sudah di tanda tanganinya itu.
"Good job, aku tau kamu tidak akan pernah salah untuk memilih" ucap Darandra sambil meraih kertas putih kosong yang hanya berisikan tanda tangan asli milik Damara tersebut. Darandra pun tersenyum dengan senyum yang tak dapat di artikan.
"Baiklah malam ini kita berangkat dengan pesawat pribadi kita berangkat pukul 02:00"
"Apa! harus secepat itu aku kan ingin menemui Jelita dulu!" protes Damara.
"Tidak sempat kita harus buru-buru
karena aku juga ada urusan di sana selama beberapa bulan ke depan, jadi aku akan merawat Amara dengan penuh perhatian, sekarang pergilah temui Amara karena kamu juga akan segera menemui Jelita untuk yang terakhir kalinya." Dengan perasaan yang campur aduk Damara melangkah dengan gontai meninggalkan Darandra.
__ADS_1
Sedang Darandra menarik nafas panjang. Lalu ia pun tersenyum bahagia.
Flashback of
"Jadi maksud mu yang melakukan semua ini adalah Darandra?" Damara hanya membalas dengan sebuah anggukan.
"Brengsek! apa maksudnya melakukan semua ini bukankah dia hanya seorang Dokter, seharusnya dia hanya fokus mengurus pasien nya saja lalu kenapa dia ingin menghancurkan perusahaan?" Kesal Exel mengepalkan ke dua tangannya.
"Saya rasa dia hanya ingin mengacaukan kita bukan perusahaan karena dengan begitu otomatis kita akan saling bertikai dan saling menyalahkan."
"Dan aku akan membuatmu hancur apa itu maksud dan tujuannya"
"Mungkin, saja seperti itu, Anda jangan khawatir saya akan mengatasi semuanya, hanya saja yang saya inginkan tenggang waktu dari Anda."
"Baiklah aku memberimu kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini urusan Darandra biarkan dia menjadi urusanku, dan maaf atas pukulanku tadi," Ucap Exel tulus.
"Bagaimana kalau kita pulang bersama lagi pula aku ingin menjemput istri ku yang berada di tempatmu apa kamu tidak keberatan?"
"Ya tentu saja tidak Saya akan sangat bahagia jika Anda bertandang ke tempat saya dan mungkin itu bisa menambah kebahagiaan Jelita." Ucapnya sambil berbinar.
"Apa kebahagiaan Jelita sangat penting buatmu?"
"Pertanyaan macam apa ini? bukankah dia itu istri saya dan sudah tentu dia adalah prioritas saya terlepas dari apa yang saya lakukan selama ini sudah banyak membuatnya terluka untuk itu saya ingin menebus semua kesalahan yang selama ini saya lakukan untuk menyakiti nya."
Ada raut penyesalan yang begitu besar terlukis di wajah tampan Damar. Membuat Exel mengingat kembali apa yang pernah ia lakukan kepada Dara istrinya, dendam kesumat yang mereka tanam malah menjebak mereka kedalam cinta yang sangat mendalam. Sehingga untuk menoleh kebelakang pun sepertinya mereka enggan, Cinta seorang Dara mampu menghancurkan ke angkuhan dan kekejaman seorang Exel yang tiada ampun.
Sedangkan Jelita membuat suaminya terjebak dalam ikatan yang ia ciptakan sendiri untuk menjerat Jelita, namun siapa sangka Damara akan terjebak dalam perasaan cinta yang begitu dahsyat, cinta telah lama mati pada dirinya tiba-tiba saja tumbuh mekar kembali, membuatnya selalu ingin membuat orang yang sangat di cintainya itu untuk selalu bahagia.
__ADS_1
Yah begitulah cinta yang kita sendiri tidak tau kapan dan dimana kita akan menemukannya dan kepada siapa cinta itu berlabuh semuanya adalah rahasia sang pencipta cinta itu sendiri, cinta kadang bisa menjadi air yang bisa menyirami ketandusan di hati yang telah lama gersang, cinta juga akan berubah jadi api yang membara yang mampu membakar semuanya, jadi kita harus bijak dalam jatuh cinta.😁
"Bagaimana apa Anda akan diam saja di sini!"
tegur Damara pada Exel yang hanya tetlihat diam seperti memikirkan sesuatu itu.
Exel yang mendengar teguran dari Damara pun terkejut namun ia pun segera bangkit dan beranjak keluar mengejar langkah Damara yang sudah keluar lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada apa dengan wajahmu kenapa bisa seperti ini? kakak katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya kalian datang bersama jadi aku yakin kakak, kau pasti tau siapa yang melakukannya" pandangan Jelita beralih menatap Exel dengan tatapan intimidasinya. Mamebuat Damara dan Exel saling melempar pandangan dengan suara yang tercekat bahkan dengan susah payah mereka menelan Saliva, karena kini bukan saja Jelita yang menatap dengan tatapan intimidasinya tapi Dara juga memberikan tatapan tajam nya.
"Sayang!" Ucap Damara dan Exel secara bersamaan.
"Sayang aku akan menjelaskannya pada mu" Sela Damara kemudian.
"Yah...! sepertinya lebih baik seperti itu!" ketus Jelita.
"Sayang mam-maaf tadi aku sempat salah masuk toilet, A-Aku fikir itu toilet Cowok tapi ternyata itu toilet wanita. Jadi mereka mengira Aku ini lelaki mesum dan mereka semua menghajarku." Jelasnya berbohong lalu menunduk karena Jelita masih terus memberikan tatapan nya secara intens.
"Jika aku bertemu dengan wanita itu maka aku akan menendang nya karena telah membuat wajah tampan suamiku ini jadi berantakan." Cicit nya menggebu sambil mengepalkan ke dua tangannya.
"Sayang...! kamu tidak boleh seperti itu kasihan anak kita nantinya" ucap Damara meraih tubuh istrinya lalu memeluknya dalam-dalam.
"Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa" cicit Jelita dengan mata yang sudah berembun.
"Hei...sayang jangan menangis aku minta maaf aku tidak apa-apa kok, lain kali aku akan hati-hati" Ucap Damara merasa bersalah.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!"