
Setelah menunggu beberapa saat kemudian akhirnya Renata pun membuka matanya ternyata berusaha mengejap-ngerjapkan matanya Amara yang melihatnya, langsung mendekat menghampiri.
"Kak Kau sudah bangun?"
"Amara aku ada di mana? Kenapa Kepalaku pusing sekali?"
"kakak masih di rumah sakit istirahat aja dulu biar pusingnya kakak hilang,"
"kenapa aku ada di rumah sakit lagi? tunggu dulu, seingatku Aku sedang berbicara dengan... Oh ya ampun Ra Kenapa semua jadi seperti ini? dia... Kenapa harus dia..."
"Siapa kak,? kak Restu maksud kakak mantan suami kakak itu?"
"Kenapa kamu bisa tahu kalau Rezeki itu mantan suami kakak?" tanya Renata menatap heran.
"Kak Restu yang membawa Kakak kemari, dan Kak Restu juga banyak bercerita tentang kakak dia juga yang sudah mengurus semuanya termasuk pembayaran rumah sakit ini, dan sepertinya Kak Restu mungkin... bukan mungkin sih tapi pasti masih menginginkan Kakak kembali padanya, Bagaimana Kak jika Restu benar-benar ingin kembali dan menjadikan Kakak sebagai istrinya?"
"kau ini bicara apa Ra, kalau bicara jangan ngawur, Kamu tahu kan kakak ini masih istri orang,"
"tapi sebentar lagi kan suami kakak akan menikah dengan perempuan lain dan..."
"tapi juga Kakak belum bercerai Kakak masih sah sebagai istrinya" ucap Renata menjeda kalimat Amara.
"Tapi jika hal itu sampai sampai terjadi?"
"Amara Berhentilah untuk membicarakan hal-hal seperti itu, yang belum tentu kita tahu kedepannya seperti apa, dan harus kamu tahu aku dan Mas restu sudah tidak ada apa-apa lagi, bahkan aku sudah lama melupakan nya,"
"Jadi selama ini kau tidak pernah memikirkan aku lagi Ren,?"
__ADS_1
"Mas Restu kau..."
"Jawab aku Ren,? apa selama kau pergi meninggalkan aku kau tidak pernah merindukanku sama sekali?"
"untuk apa Mas? Untuk apa aku melakukan itu? Apakah aku harus menangis meratapi bahkan mengemis kepadamu? setelah Apa yang kau lakukan padaku bahkan demi mencintaimu Aku rela kehilangan orang yang sangat mencintaiku, dan selalu memberikanku kebahagiaan, aku menyakitinya, menyakiti semua orang-orang yang telah menyayangiku dan mencintai ku itu semua demi kamu, Demi rasa cintaku selama ini padamu, tapi apa yang kau beri? Kau hanya memberi luka dan luka itu masih melekat di dalam sini," Renata menujuk ke arah dadanya.
"Di saat aku kehilangan anakku kau yang seharusnya aku harapkan untuk mendukung ku malah mencampakanku hanya karena demi harta, Jadi apakah pantas aku mengingatmu apakah pantas aku merindukanmu? Dan apakah pantas Aku mencintaimu? aku rasa kau sendiri yang bisa menjawabnya, dan aku mohon menjauhlah dari kehidupanku sekarang ini aku sudah capek aku lelah, aku hanya ingin fokus pada diriku mulai sekarang Aku hanya ingin mencintai diriku sendiri Aku tidak ingin lagi memikirkan orang lain hiks hiks hiks," tangis Renata akhirnya pecah.
"Apakah tidak ada maaf untukku di hatimu?" "Memaafkan itu mudah, semudah mengucapkan kata maaf, tapi melupakan apa yang telah terjadi selama ini itulah sangatlah tidak mudah, aku sudah melupakan semua itu berusaha untuk melupakannya tetapi saja aku tidak bisa karena orang-orang di masa laluku selalu ada di depan mataku,"
"Apakah aku yakin tidak menginginkan ku lagi?"
"Untuk apa aku ragu? kau memang pantas untuk di lupakan."
"Baiklah, Ren, aku tidak akan memaksamu kau harus mendengarkanku, Jika kau tak ingin lagi kembali denganku tapi setidaknya Dengarkan Aku, kali ini saja," Restu memberanikan diri mendekati Renata.
"Kau mengatakan padaku kalau kau akan mulai belajar untuk mencintai dirimu sendiri kan?"
"Oke,, baiklah, jika seperti itu maka, Dengarkan Aku aku mohon demi kebaikan dan kesehatan juga kesembuhan mu, gugurkan anak yang ada di dalam kandunganmu,"
"Apa?"
Plak.
Baik Renata maupun Amara terkejut mendengar apa yang dikatakan Restu hingga membuat Renata tanpa sadar melayangkan tamparan di wajah lelaki yang pernah ia cintai itu.
"lni yang kamu maksud dengan permintaan Maafmu itu Mas? tega kamu Mas, tega kamu mengatakan ini padaku, Bukankah kau tahu aku sangat menginginkan seorang anak dan sekarang setelah anak ini hadir kau menyuruhku menggugurkannya? padahal anak ini bukanlah darah dagingmu, anak ini adalah darah daging suamiku, apa hakmu melarangku untuk mengandung anaknya? Katakan padaku apa hakmu?" Renata berteriak karena begitu emosinya, Sedangkan Restu hanya bisa menunduk dengan rasa bersalahnya.
__ADS_1
"Setelah semua terjadi pada diriku, kau datang dan menyuruhku untuk membunuh anakku aku membencimu Mas, aku membencimu, lebih Lebih baik kau segera pergi dari sini dan jangan menampakan wajahmu lagi di depanku! karena aku sudah muak dengan semuanya,?"
"Dengarkan aku dulu Ren, ini semua demi dirimu kau harus sembuh kau harus sembuh dari penyakitmu, dan aku aku akan selalu mendampingimu untuk kesembuhanmu." "Keluar kamu dari sini Mas, keluar, Aku tidak membutuhkanmu lagi, keluar aku membencimu keluar Mas,"
Amara yang melihat kejadian tersebut langsung mendekati Renata dan memeluknya.
"Pak Tuan, walaupun Anda bos saya tapi maaf jika masalah tentang Kak, Renata aku akan ikut campur, sebaiknya sekarang Pak Tuan pergi dari sini dan tinggalkan kami dan jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi pada Kak Renata karena Pak Tuan tidak tahu perjuangan karena itu seperti apa,"
"Amara, Renata, aku minta maaf Aku hanya..." "keluar Mas, aku tidak ingin berbicara lagi padamu lebih baik kau keluar!" tangis Renata kembali pecah sedangkan Restu hanya menatap nanar pada wanita yang sangat dicintainya itu, bukannya memberikan solusi yang terbaik la malah memberikan luka di hatinya kembali padahal ia sangat menginginkan kata maafnya di terima, namun kata maafnya belum diterima oleh Renata tapi apa yang dilakukan sekarang ini la nampak seperti orang yang sangat egois yang mementingkan kebahagiaannya sendiri tanpa memikirkan apa yang diinginkan Renata sebenarnya."
"Oh Tuhan maafkan, aku Apakah aku mencintai Renata dengan tulus atau aku hanya Ter Obsesi padanya saja," gumamnya dalam hati merutuki kebodohannya itu. Restu pun terpaksa memilih keluar dari ruangan tersebut karena dia tidak ingin Renata semakin membencinya.
Melihat Restu pergi Renata pun segera mengurai pelukan nya.
"Kakak, kenapa?" tanya Amara begitu melihat Renata hanya diam engan untuk berbicara.
"Kakak takut Ra, Kakak sangat takut kakak hanya ingi seorang anak tapi kenapa semua orang tidak menginginkan nya," lagi-lagi tangis Renata pecah.
"Kak, kau juga harus bisa menenangkan diri karena tidak baik bagi kesehatanmu kau jangan sampai stres, kakak masih ingatkan apa pesan dokter, kakak jangan banyak berfikir, karena itu akan melemahkan kakak nantinya kasian kan anak kakak juga akan kena imbasnya."
"Baiklah Bu dokter."
Hay..hay..hay..sambil nungu Up nya gak ada salahnya singgah di novel satu di bawah ini👇dijamin seru abizzz dech pokoknya.😍
Jerat Cinta Si Kembar
__ADS_1
Lahir dari rahim yang sama, hari, bulan dan tanggal yang sama. Bahkan wajah mereka pun sangat mirip. Meskipun begitu Aman dan Amar memiliki watak yang jauh berbeda. Aman adalah Pria pekerja keras dan penyayang. Sementara Amar adalah sosok yang suka menghambur-hamburkan uang tanpa menghiraukan betapa sulitnya bekerja.
Memiliki banyak kesamaan selain watak, ternyata kedua pria kembar itu juga memiliki tipe wanita yang berbeda, keduanya juga tidak terlalu akrab, Bagaimana jadinya jika kekasih Aman menikah dengan Amar dan begipun sebaliknya?