
"Apa tidak ada permintaan yang lain selain hanya kata berpisah!"
"Aku rasa tidak ada yang bisa membuatku merasa bahagia dan bebas selain kata berpisah hanya itu saja."
"Jelita sayang bukankah aku sudah meminta maaf, padamu apa kau belum percaya kalau aku sangat mencintaimu."
"Tapi aku belum bisa memaafkan mu. Dan apa Kau tau dulu aku pernah berdoa kalau akan meninggal kan mu di saat cinta itu sudah mulai tumbuh."
"Sekarang keluarlah dari kamar ku! aku dan anakku mau istirahat." Usirnya namun bukannya keluar Damara malah mengunci pintu dan merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur.
"Damara…!" kesal Jelita
"Damar, aku lebih suka kau memanggil ku Damar sayang apa kau lupa dengan nama panggilan itu?"
"Aku bahkan menyesal mengucapkannya, kau tau bahkan aku menyesal pernah memanggil mu dengan kata-kata sayang yang menurutku sangat menjijikan itu."
"Sayang, kau tau apa yang kau lakukan jangan pernah kau sesali, karena di saat orang itu benar-benar pergi kau akan tau rasanya sebuah penyesalan." Perlahan Damara bangkit dari tidurnya. lalu meraih kunci kemudian membuka pintu.
"Tidurlah aku berjanji selama satu minggu tidak akan menungganggu mu, kau akan di temani Amara, dan sepertinya Amara, sudah tiba." baru saja la berbalik ingin memeluk Jelita, namun Jelita lebih dulu menjauh seolah ia tak ingin di sentuh.
"Apa kau tidak ingin memeluk ku untuk yang terakhir kalinya.?"
"Pergilah dan aku harap ini benar-benar hari terakhir kita bertemu, karena jika kita bertemu lagi maka hari itu akan menjadi hari terakhir untuk kita."
Deg.
Damara pun bergegas pergi meski dengan rasa kecewa di hati, karena Jelita masih saja membencinya.
*
"Kakak kenapa kau masih saja belum tidur? apa kau tau sekarang sudah pukul 03:00 pagi"
"Amara aku mau muntah perutku terasa tidak enak,"
"Apa kakak sakit? aku telpon kan Dokter atau Kak Damara ya"
__ADS_1
"Tidak jangan Amara jangan kasih tau siapa pun."
"Kenapa? bagaimana kalau baby nya kenapa-kenapa?"
"Tidak apa-apa dia mungkin hanya rindu sama Daddy nya, ini sudah pernah terjadi di awal kehamilan Kakak, dan itu salama tiga bulan, kalau aku tidur di rumah utama maka mualku akan hilang tapi ini aneh aku kan sudah tidak ngidam lagi." Ucapnya dengan wajah binggung.
"Kalau begitu kita pulang saja kak, Kak Damara pasti akan senang sekali." Amara kembali membujuk sang kakak ipar, agar kembali lagi ke rumah utama.
"Tidak Amara, aku tidak akan pernah mau kembali lagi ke rumah itu." Nampak Amara menarik nafas panjangnya karena lagi-lagi ia gagal untuk membujuk Jelita pulang. Hingga bahkan seminggu sudah Jelita belum juga membuka hatinya. Dan seperti apa yang sudah menjadi keputusan Damara, ia benar-benar tak pernah menelpon bahkan menemui Jelita. Dan itu mampu membuat Jelita seperti kehilangan sesuatu di dalam hatinya.
"Apa kau masih yakin dengan keputusanmu itu?"
"Kenapa kau terus bertanya aku yakin atau tidaknya?" bukannya menjawab Jelita malah balik bertanya.
"Kau, kau kebiasaan sekali, menjawab dengan sebuah pertanyaan, hah…tapi baiklah, aku hanya ingin mengatakan aku tidak mau kau menyesal, dengan keputusanmu itu. Kau tahu Jelita, aku juga pernah mengalami hal yang sama."
"Maksudmu?" Jelita menautkan alisnya bingung dengan ucapan Jhony.
"Aku pernah Mengatakannya padamu beberapa waktu yang lalu. Kalau aku berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu."
Jhony pun mukai menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya karena apa yang akan Iya ceritakan adalah kisah tentang masa lalunya pasti ada rasa kecewa dan sakit akan menghimpit di dadanya.
"Begitulah ceritanya sekarang kau mengerti kan kenapa aku bisa melakukan semua itu rasa kecewa dan rasa takut yang membuatku menjadi kalut, aku takut semua orang menolakku, dan tidak bisa menerimaku, untuk itu aku menjadi berjalan tak tentu arah dan tujuan.
Aku harap setelah mendengar semua ceritaku ini kamu akan mengerti dan bisa mengambil keputusan yang terbaik di dalam hidup agar tidak menjadi sebuah penyesalan yang amat besar yang akan kau sesali seumur hidupmu"
Jelita hanya menunduk sedih setelah mendengar semua fakta tentang Jhony yang sebenarnya, perlahan Ia pun mengusap perutnya yang buncitnya itu.
"Maafkan Mama sayang jika Selama ini Mama terlalu egois tidak pernah memikirkanmu. Tapi mama berjanji Mama tidak akan pernah merampas kebahagiaan dan hakmu menjadi seorang anak. Mama janji Mama tidak akan membiarkanmu kekurangan kasih sayang kedua orang tuamu."
"Jhony, apa aku boleh aku memelukmu sebentar saja." Ucap Jelita dengan mata yang sudah mulai berair.
"Kemarilah…!" ucap Jhony merentangkan kedua tangannya dengan lebar.
"Hei...Kau! apa yang kau lakukan pada istriku!" sergah Damara yang tiba-tiba saja muncul. Membuat Jhony maupun Jelita tersentak kaget melihat seorang laki-laki mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Bugh-Bugh...
dua pukulan pun mendarat tepat di perut Jhony. Hingga membuatnya hampir saja tersungkur kebelakang.
"Kau! kau apa-apaan sih! bikin malu saja. Dan sejak kapan kau berada di sini!"
"Apa kau bilang! aku bikin malu? heh yang benar saja, aku ini suamimu dan dia!" tunjuknya pada Jhony yang masih memegang perutnya karena kesakitan.
"Dia itu sudah aku anggap sebagai Kakak ku! karena setiap aku ada masalah dia selalu ada
untukku. Tadinya aku ingin memikirkan kembali keinginanku dan memberi mu kesempatan, tapi aku berfikir sepertinya lebih baik kita akhiri sampai di sini saja karena aku tidak mau hidup dengan orang yang tukang selingkuh dan orang yang tidak pernah percaya pada pasangan nya sendiri."
Jelita pun memilih pergi sambil menyodorkan selembar kertas putih. Ia benar-benar kecewa dan malu atas sikap Damara yang berlebihan itu.
"Oh ya! setelah aku sampai di rumah utama aku harap surat itu harus sudah di tanda tangani!" serunya tanpa berbalik dan memilih pergi meninggalkan Jhony dan Damara yang terkejut dengan kertas yang ada di tangannya. yang ternyata surat itu adalah surat perpisahan.
"Kau bodoh sekali kenapa kau menghancur kan semuanya, apa kau tau tadinya Jelita sudah mau balikan, tapi kau datang merusak.
semuanya." Kesal Jhony
"Apa kau juga sekarang ikut menyalahkan
ku?"
"Aku tidak menyalahkanmu tapi berfikirlah lebih objektif lagi agar masalah kecil tidak menjadi besar dan rumit."
"Maafkan aku, lalu sekarang apa yang harus ku lakukan?"
"Kau bertanya padaku kau itu suami Jelita atau bukan?"
"Iya aku suaminya!"
"Lalu.?" Jhony menggidikkan bahu dan kedua tangannya.
"Apa aku harus menjelaskan apa yang harus kau lakukan kau dengar sendiri kan kalau tadi dia bilang mau kemana? bukankah dia mengatakan akan kerumah utama."
__ADS_1
"Oh...Sit...kenapa aku masih disini. Baiklah aku minta maaf sekali lagi!"
"Lupakan itu pergilah.!"