Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kejutan


__ADS_3

"Sas-sayang kamu apa-apaan."


"Selamat ulang tahun yang ke 21" bisik Damara lembut di telinganya lalu menghujaninya dengan kecupan di seluruh wajahnya.


"Apa kau menyukai nya?"


"lya aku menyukai nya." Jawab Jelita dengan wajah yang berbinar.


"Kakak apa kalian tidak tau apa kalau kami di sini sedang lapar!" cicit Amara yang mulai mendekati mereka.


"Yah benar sekali kalian bisa melanjutkannya nanti dikamar goda sang Bunda dan Daddynya sambil terkekeh.


"Bunda, Daddy kalian semua ada di sini?"


"Iya sayang suamimu ini sengaja mau memberikan kejutan buat istri tercintanya" Jawab Anggun menatap ke arah sang menantu sambil tersenyum."


"Daddy senang kalian bisa menghadapi segala rintangan yang ada dalam rumah tangga kalian, Daddy tidak mau ikut campur ke dalam urusan pribadi kalian karena kalian sudah dewasa sudah mampu menimbang dan memilih mana yang benar dan mana yang salah," Sela Rafa lagi sambil menangkup wajah sang putri. Karena selama ini ia sebenarnya mengetahui permasalahan yang di hadapi putra putri nya itu, lewat orang-orang nya.


"Terima kasih Bunda, terima kasih Dad," cicit Jelita dengan mata yang berkaca-kaca ia pun memeluk kedua orangtuanya.


"Ehem...hem...! apa cuma Bunda sama Daddy saja nih yang dapat bonusnya, buat suamimu ini?" sela Damara yang langsung mendapat tatapan jengah dari istrinya.


"Lihatlah Bun, Daddy dia selalu memberikan ku tatapan yang selalu membuatku takut padanya" adu Damara membuat Jelita semakin memerah.


"Apa kau lupa kalau dia itu Putriku.!"


"Iya aku tahu tapi dia juga istriku kan." Ucap Damara tak ingin kalah.


"Sudah-sudah ayo kemari potong kuenya!" Seru Anggun menjeda perdebatan antara menantu dan sang suami.

__ADS_1


"Tunggu dulu jika kalian semua datang lalu Kak, Darandra bagaimana? apa dia sudah melupakan ku sebagai adiknya!" kesal Jelita,


yah semenjak kejadian sebulan yang lalu hubungan mereka pun membaik setelah Darandra secara langsung meminta maaf dan mengembalikan saham milik Damara, itu pun setelah ia mendapat teguran langsung dari Anthony dan Cleo, bahkan dia pun mendapatkan hukuman kalau Rumah sakit yang di kelolanya sekarang, Semua harus di ambil alih oleh Dokter Arya sahabatnya sendiri sekaligus Calon Kakak iparnya. Dan boleh ia kelola kembali, setelah ia punya anak.


"Maaf apa aku terlambat? apa acaranya sudah bubar,? Maaf, aku tadi habis menemani Tasya mencari cincin tunangan tapi sayangnya tidak ketemu karena Tasya buru-buru mau kesini. Mungkin lain kali saja, iya kan sayang."


"Iya...!" Jawab Tasya singkat sambil tersenyum membalas tatapan Darandra dengan penuh cinta, Darandra pun menggenggam erat tangan Tasya lalu berjanji akan mencarikan cincin yang Tasya suka.


Dan Apa yang di lakukannya tak lepas dari pandangan dan pendengaran Amara, Amara tidak mengangka akan bertemu dengan lelaki yang pernah ia cintai dan melecehkannya itu, bahkan ia bertemu di rumahnya sendiri. membuatnya hanya diam tak bisa berkutik, sedang bayangan tentang kejadian sebulan yang lalu terus saja berputar seperti kaset kusut di otaknya hingga membuat tubuhnya bergetar. dan tiba-tiba saja.


Brugh...


"Amara...!" Pekik Danu yang baru saja tiba menahan tubuh Amara biar tak membentur lantai di taman itu. Semua pun nampak panik tanpa terkecuali Kakak dan kakak iparnya.


"Cepat bawa dia masuk!" cicit Jelita.


"Sayang tenangkan dirimu Amara pasti baik-baik saja." Ujar Damara menghibur sang istri walau sebenarnya ia jauh lebih khawatir.


"Kalian semua boleh keluar biarkan aku memeriksanya!" sela Darandra.


"Aku rasa mungkin seharian ini ia tidak istirahat, karena ikut menyiapkan pesta ini." Ujar Damara.


"Aku lihat seperti nya iya juga jadi biarkan dia istirahat dulu." Ujar Darandra


"Sayang hei bangunlah!" Seru Danu mengelus lembut pucuk kepala milik Amara dan mencium tangannya dengan penuh kasih, Darandra yang berdiri di sampingnya melihat dan mendengar apa yang di lakukan dan di ucap kan Danu itu, entah kenapa ia tidak menyukai hal itu, ia mengepalkan tangan berusaha menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Keluarlah aku akan segera memeriksanya!" usirnya, membuat Danu melepaskan genggamannya dan melangkah keluar.


"Kalian semua lanjutkan saja pestanya biarkan aku yang menjaga Amara kalau dia sadar aku akan segera memanggil kalian, lagi pula aku mau meminta maaf padanya, selama ini aku sudah banyak berbuat salah, sebelum aku bertunangan aku ingin dia memaafkanku dan aku ingin Amara terlibat dalam acara pertunangan ku, aku ingin ia menemaniku mencari cincin tunangan, bagaimana sayang apa kau setuju?" tanya Darandra menatap Tasya.

__ADS_1


"Tentu saja aku setuju, karena Amara memang pandai dalam masalah itu!" Bukan Tasya yang menjawab tapi Jelita membuat semua orang menatapnya. Jelita yang di tatap pun jadi salah tingkah.


"Maaf A-aku hanya_"


"Ayo, benar seperti yang di katakan Darandra biar kan dia yang mengurus Amara lagi pula ada Siti dan Bi Sumi yang menemaninya" sela Damara menimpali. Mereka pun beranjak meninggal kan Damara.


"Jaga dia untukku kalau perlu jika dia sadar segera panggil aku biar aku akan menjaganya!" Seru Danu yang membuat Darandra semakin kesal ingin rasanya ia menendang lelaki asing yang sok akrab itu.


"Bi apa boleh ambilkan aku tas hitam di dalam mobil karena peralatan medisku ada disitu dan ini kunci mobilnya!"


"Bisa Den Dokter" jawab Bi Sumi.


"Biar Siti aja Bi yang ambil Bibi istirahat saja."


Sela Siti dan di Angguki Bi Sumi.


Dan setelah selesai memeriksa Amara Darandra benar-benar menjaganya, sedang Siti pamit kebelakang, dan tak lama kemudian terdengar lenguhan dari Amara yang sudah tersadar.


"Hmng"


"Kamu jangan bangun dulu, kamu juga, harus banyak istirahat. Aku lihat dari kondisimu sekarang kamu gampang sekali capek dan kelelahan, jangan terlalu beraktivitas padat ini bisa membuatmu drop dengan cepat."


"Kau siapa yang mengizinkan mu masuk di kamarku dan kemana mereka semua!" teriak Amara yang terperanjat begitu tersadar siapa yang berada di depannya, ia pun langsung bangkit dan berdiri, namun hampir saja ia kembali terhuyung saat merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya.


Beruntung dengan sigap Darandra menopang tubuhnya dan membaringkannya lagi.


"Auhk...Ahk kenapa kepalaku sakit sekali seperti mau pecah"! Gumamnya dalam hati.


"Kenapa kamu jadi keras kepala sekali seperti ini! apa setelah kita tidak bertemu selama satu bulan ini kamu menjadi susah untuk di kasi tahu apa ini yang di ajarkan kekasih barumu itu!" Sarkas Darandra.

__ADS_1


"Apa urusannya dengan Anda sekarang keluarlah aku sudah tidak membutuhkan Anda Tuan Dokter jika Anda butuh bayaran maka saya akan mentransfer nya sebutkan saja berapa no rekening Anda!."


__ADS_2