Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Memanggil Sayang


__ADS_3

"Ayo kita pulang!" cicit Dara yang melihat kebahagiaan adiknya itu dia tak ingin berlama-lama mengganggu ke duanya. Sedang tatapan tajam masih di berikan kepada Exel, karena Dara tau kalau Damara berbohong di saat mengatakan kalau dirinya itu salah masuk toilet, dan dia begitu yakin kalau suaminya itu tahu, menahu tentang semuanya.


Dengan kaku Exel mengiakan ajakan sang istri


"Kakak apa secepat itu kakak mau pulang Kak Exel kan baru sampai biarkan dia duduk dulu sebentar."


"Kakak lupa Je, kalau Kakak, ada janji dengan seseorang dan Kakak baru mengingatnya lain kali aku akan datang dan mengajak mu jalan-jalan bagaima lagian ini sebentar lagi petang?" Sela Dara dengan raut wajah yang tak dapat di gambar kan.


"Mmm...baiklah Kak, aku akan menunggu hari itu tiba." Sahut menyetujui usul kakaknya itu. Setelah saling berpelukan mereka pun mau tidak mau akhirnya berpisah.


Kini tinggal Jelita dan Damara yang masih berada di ruang tamu Jelita pun segera beranjak ke dapur membuka kulkas mengambil es batu, sedangkan Damara memilih masuk ke kamar untuk segera membersihkan tubuhnya.


"Sayang...! kamu dimana?" cicit Jelita yang baru saja masuk di kamar, sambil membawa mangkok berisikan es batu dan sebuah waslap.


"Aku di sini sayang" ucap Damara memeluk pinggang Jelita dari belakang.


"Aku dengar tadi ada orang yang memanggilku sayang? dan apa kau tidak merindukan ku seharian ini."


"Sudah bercanda nanti aja lukamu mana aku ingin mengompresnya dulu" Ucap Jelita berbalik menatap wajah suaminya meski Damara tak ingin melepaskan pelukannya.


Damara sendiri baru selesai mandi terlihat dari handuk yang masih membelit di pinggang nya.


"Sayang aku sudah tidak apa-apa kamu jangan khawatir. Tapi jika kamu masih ingin mengobati ayo sini." Damara menarik lembut tangan Jelita dan membawanya ke tepi ranjang dan kini ia mendudukkan Jelita di pangkuannya.


"Sekarang lakukan lah apa yang ingin kamu lakukan"


"Bagaiman aku bisa melakukannya kalau aku di peluk terus seperti ini!" Jelita karena merasa Damara terus mengeratkan pelukannya.


"Biarkan seperti ini dulu aku sangat merindukanmu" ucap Damara.


"Jangan banyak bergerak kalau tidak kamu akan membangunkannya"


"Siapa yang bangun?" tanya Jelita begitu polos nya. Membuat Damara mengerutkan alisnya namun kemudian tersenyum miring.

__ADS_1


"Apa kamu betul-betul tidak tau maksud ku?"


"Tidak...!" ucap nya cepat sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah sekarang mana tanganmu." Damara meraih tangan Jelita lalu membawanya menyentuh miliknya di bawah sana.


Dan Jelita hampir saja menjerit kalau saja Damara tidak segera menautkan bibirnya, dan membuat sesuatu yang di bawah sana menegang dan mengeras, Jelita pun segera melepaskan tangannya.


Ia pun menarik nafas panjangnya lalu mendelik menatap Damara yang terlihat pura-pura acuh, ia melihat wajah Jelita yang sudah merah padam akibat menahan malunya.


Jelita segera meraih waslap, dan mangkok yang sudah terisi dengan es batu lalu mengompres luka lebam, di wajah suaminya dan luka sobek di bibirnya itu.


"Aku tau tadi kamu berbohong telah salah masuk toilet kan? karena aku tau kamu orang yang teliti dan tidak mungkin seperti itu." Ucap Jelita dengan serius.


"Dan aku ini istri mu jangan kamu anggap aku bodoh tidak tau mana pukulan wanita dan mana pukulan laki-laki, tapi jika kamu ingin menutupi nya tutupi saja, dan lain kali jika aku juga berbohong padamu maka kamu tidak boleh, protes dan aku tidak akan bertanya apa pun lagi padamu karena kamu mungkin menganggap ku orang lain yang tak perlu tahu masalah suaminya"


Deg.


"Sas-sayang aku, aku_ maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu, kamu ingat pesan Dokter kan, kalau kamu harus banyak istirahat dan bukan banyak fikiran aku tidak mau membebankan masalah yang ku hadapi ini padamu karena ini hanya salah faham saja."


"Jaj-jadi Kak Exel yang melakukannya kenapa tak bilang pada awalnya kan aku bisa membalasnya!" ucapnya menggebu-gebu


"Hei...sayang dia itu kakakmu apa kamu lupa, lagi pula kamu juga sedang hamil kasihan anak kita aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa."


"Aku tau dia Kakakku. Dan apa kamu juga lupa kalau kamu juga adalah suamiku, aku tidak mau ada orang yang menyakiti mu" Ucap Jelita dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang...hei lihat aku, aku ini suamimu seharusnya aku yang berkata seperti itu. Tapi terima kasih sudah mencintai ku sedalalam ini, dan ya aku mau tanya apa saja yang kalian lakukan tadi, hmm?"


"Tidak ada Kak Dara hanya bertanya apa benar aku mengingat kejadian waktu kecelakaan itu. Dan aku pun menceritakan nya pada Kak Dara,"


"Kecelakaan tunggu apa boleh aku bertanya padamu kejadian yang sebenarnya. Maaf aku hanya ingin tau apa yang kamu alami malam itu, tapi jika kamu enggan untuk menceritakan nya padaku juga tidak apa-apa" Ujar Damara menatap lekat wajah istri nya.


Jelita meraih kedua tangan Damara lalu menggenggam nya, Lalu ia pun menarik nafas panjang sebelum, memulai untuk bercerita.

__ADS_1


Flashback on.


Setelah mendengar ancaman dan hinaan dari Damara, dan Jelita yang balik memberikan ancaman itu kini melajukan motor sport nya di atas rata-rata apa lagi di saat semua sikap dan perlakuan kasar Damara terus saja berputar seperti kaset rusak di otaknya, membuatnya semakin geram karena untuk pertama kali ada lelaki yang berhasil mempermalukan dan melecehkannya sedemikian rupa.


"Aaaaa, brengsek kau Damara!" teriaknya penuh kekesalan dan tiba-tiba saja motor yang di bawanya berhenti mendadak di saat ia memasuki kawasan yang, sangat sepi.


"Ada apa lagi sih? kenapa motor ini bisa mogok sial, sial, sial ini pasti gara-gara lelaki brengsek itu!" umpat nya penuh emosi.


Jelita meraih gawainya ingin menelpon tapi sayang telponnya tak mendapatkan sinyal membuatnya semakin geram.


Ia pun berinisiatif ingin meminggirkan Motor nya karena motornya mogok di jalur yang salah, namun baru saja ia meraih motornya. Tiba-tiba saja dari kejauhan ia melihat sebuah harapan karena ada sebuah mobil mewah melintas ia pun berdiri dan ingin meminta bantuan, tangan satunya melambai sedang tangan satunya lagi memegang stang motornya.


Dan ia pun merasa senang saat mobil itu terlihat mendekat, namun ketika beberapa meter dari depannya tiba-tiba saja mobil itu berubah melaju dengan kencang, dan ingin menabraknya. Dan dengan cepat Jelita membuang tubuh terguling-guling, membuat satu kakinya terkilir.


Dan begitu menyadari ada tidak nya korban di dalam mobil Jelita pun bangkit berjalan mendekati mobil tersebut ia pun terkejut melihat siapa yang berada di mobil tersebut ternyata adalah Amara, setelah usahanya membangun kan Amara gagal. Jelita pun meraih kembali Gawainya dan beruntung kali ini teleponnya mendapat kan sinyal.


Flashback of.


Damara memeluk erat kembali istrinya itu setelah mendengar penuturan sang istri.


"Maafkan aku jika aku tidak memaksamu datang malam itu mungkin hal itu tidak akan terjadi."


"Sudah sayang semua sudah berlalu jika itu tidak terjadi apa kita akan menikah seperti ini?" sela Jelita


"Sayang aku ingin mandi karena dari tadi aku belum mandi" cicit nya saat Damara melepaskan Pelukannya.


"Apa Sayang? baiklah karena kamu sudah memanggil ku sayang aku akan mengatarmu masuk" ucap Damara lalu segera mengangkat tubuh Jelita masuk kedalam Bhatroom. Dan bukan saja Jelita yang mandi malah Damarapun ikut mandi kembali bersama istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Exel yang melihat mimik wajah istri nya yang sedang kesal berusaha mengejar langkah Dara yang sudah jauh di depannya itu.


"Sayang...dengarkan aku katakan padaku kenapa kamu diam saja dari tadi apa salahku?"

__ADS_1


"Kak, Exel kamu bertanya pada ku di mana salahmu kalau Kakak bijak tak perlu bertanya pada padaku letak salahmu.!" Sarkas Dara.


Deg.


__ADS_2