
Setelah selesai membersihkan tubuh mereka Damara Dan Jelita pun turun menuju dapur.Dimana Damara kini terlihat mengambil peran, masak-memasak, dia begitu kelihatan sangat cekatan dan terampil mengolah setiap bahan-bahan yang ada dan menjadikannya sebuah makanan yang lejat. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit makanan istimewa ala Damara pun sudah siap tersaji.
"Makanlah kamu pastinya sudah sangat lapar dan semoga kamu menyukai rasanya." Ujar Demara sambil menyodorkan satu piring spaghetti pasta buatannya kepada Jelita.
Jelita pun meraih piring yang penuh dengan makanan itu dengan sangat sumringah bagaimana tidak Damara sendiri yang membuat makanan itu untuknya.
Deg.
Tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat kencang begitu melihat tatapan suaminya yang selama ini jarang terlihat olehnya.
"Kamu kenapa belum memakannya apa kamu tidak suka dengan makanan buatanku?" tanya Damara saat melihat Jelita belum sedikit pun menyentuh bahkan menyuap makanan masuk ke mulutnya.
"Tit-tidak hanya saja makanannya terlalu banyak aku tidak kuat untuk menghabiskan nya sendiri." Tuturnya dengan suara yang sedikit tergagap.
"Baiklah kita makan bersama ya! karena kebetulan aku juga lapar." Kekehnya menarik piring dan garpu yang berada didepan Jelita.
Damara pun mulai menyendokkan makanan pada Jelita.
Jelita hanya bisa menatap makanan yang ada di depan matanya itu tanpa ingin membuka mulut untuk memakannya, ia merasa berada di sebuah mimpi saat Damara menyuapinya, dan ia pun menatap lekat wajah tampan suaminya dengan seksama.
"Sampai kapan kamu akan menutup mulut tanganku sudah pegal!" Cicit Damara membuyarkan lamunan Jelita, Jelita yang merasa tak enak hati dengan cepat membuka mulutnya sambil matanya tak berkedip menatap Damara.
"Kenapa, apa kamu sekarang sudah mulai terpesona dengan ketampanan ku ini?" Kelakar Damara, Jelita sendiri merona merah mendengar pertanyaan Damara, hingga membuatnya tertunduk malu ia pun benar-benar merasa gugup.
"Kamu kenapa tidak makan juga katanya lapar." Selanya bertanya pada Damara untuk menutupi ke gugupannya itu
"Aku hanya mau makan kalau kamu yang menyuapiku, tapi kalau kamu tidak mau tidak apa-apa." Pinisnya
Jelita pun dengan cepat menyambar garpu yang berada di tangan Damara lalu ia pun mulai menyendokkan makanannya kemudian mengarahkannya, ke mulut sang suami dengan tangan yang sedikit bergetar. Karena ini kali pertamanya ia begitu menikmati saat berdua dengan suaminya itu Damar pun meraih dengan lembut tangan yang menyuapinya itu.
Jelita yang gugup pun tak kuasa berlama-lama di samping Damara dengan jantung yang terus berdetak dia pun segera menarik tangan nya yang dari Damara.
__ADS_1
"A-aku sudah kenyang, aku mau ke kamarku dulu karena aku sudah mengantuk, dan juga capek, karena besok akan ada banyak tugas menungguku." Selanya dan segera bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu kamu mau kemana? Apa kamu mau meninggal kan aku sendiri di sini!" serunya segera menarik tangan Jelita, membuat Jelita menabrak kembali dada bidang tersebut.
"Kamu mau kenapa?" selanya kembali menangkup wajah Jelita, dan itu mampu membuat Jelita kembali terlena dengan tatapan lembut Damara.
"A-aku_"
"Ussst...!" Damara memberikan kode dengan satu jari telunjuk di depan bibir Jelita agar Jelita diam, Ia mendekatkan wajahnya begitu dekat hingga tinggal beberapa senti saja. Bibirnya hampir menyentuh bibir Jelita, dan Jelita pun segera menutup matanya, dengan sedikit membuka mulutnya, berharap agar Damara dengan leluasa mengeksplor bibirnya.
"Sudah selesai sekarang masuklah tidur!" Seru Damara setelah selesai membersihkan sisa makanan di bibir Jelita menggunakan ibu jarinya, membuat Jelita hanya melongo dengan apa yang terjadi, tadi dia fikir Damara akan melakukannya kembali seperti yang sudah-sudah dengan mengecapnya namun sungguh ini di luar ekspektasinya.
"Kok, malah diam di situ katanya kamu mengantuk dan ingin segera tidur." Selanya lagi membuyarkan lamunan Jelita.
"Hah...Iya ah-aku masuk dulu." Gugupnya yang sempat berfikir yang tidak-tidak ia pun merutuki dirinya, kenapa tiba-tiba saja otaknya selalu berfikir mesum.
"Tidurlah di kamar aku akan segara menemui
mu sebentar lagi!" seru Damara kembali yang di angguki Jelita.
"Hah...ternyata benar apa yang di katakan Cyndi, dengan bersikap sedikit lembut dia akan terpesona padaku, kita lihat saja nanti, aku akan segera melihatmu hancur dan setelah itu aku akan mencampakkan mu. Karena wanita ****** seperti mu tak pantas untukku!"
Damara kembali mengepalkan tangan saat mengingat Jelita di antar pulang oleh lelaki yang pernah dia lihat di taman saat mereka ingin berbuat mesum, bahkan dia juga mengambil momen tersebut, dengan merekamnya sendiri mengunakan Handphone nya.
Setelah lama terdiam ia pun segera melangkah untuk masuk ke kamarnya, karena ia juga punya banyak kesibukan selain besok ia akan segara menemui adiknya.
*
*
*
__ADS_1
Sementara itu Di sebuah ruangan yang begitu luas seseorang yang sedang menutup mata terus saja mengigau memanggil nama seseorang.
"Tidak! Amara, aku mohon jangan lakukan ini, kau jangan pergi meninggalkan aku, aku mohon kembalilah. Amara....Amara...Tidaaak!"
Darandra segera terbangun dari tidur nya dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Ternyata itu hanya mimpi." lirihnya
"Tapi kenapa itu seperti nyata sekali."Bingungnya, dan tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat kencang.
"Ada denganku kenapa persaanku jadi tidak enak, Apa aku harus pergi menemuinya dan melakukan seperti apa yang di katakan Jelita dan Tasya."
#Flashback on#
Darandra yang merasa kesal dengan Permintaan konyol Jelita memilih ingin menelpon kekasihnya. Namun baru saja ia mencari kontak milik Tasya, tiba-tiba saja gawainya bergetar.
"Tasya..." lirihnya.
"Halo, Sya, baru saja aku mau menelponmu ada apa sayang?"
Tasya pun langsung to thepoin dengan apa maksud dan tujuan yang ia ingin bicarakan.
Sedangkan Darandra sendiri sudah mulai merasa kesal dengan apa yang di pinta sang kekasih.
"Sudah cukup Sya! apa Jelita yang menyuruh mu untuk membujuk ku sekali aku katakan tidak, tetap tidak!" finisnya.
"Tapi Dra, ini demi kemanusiaan kamu itu seorang Dokter jadi aku mohon hanya sampai gadis itu sadar aku juga sudah berjanji pada Jelita untuk memastikan bahwa kau akan membantu nya"
"Kau, sudah aku duga ini pasti ulah Jelita, dan kau kenapa berani sekali semudah itu berjanji dengan sesuatu yang tidak mungkin ingin aku lakukan, jika kau menghubungi ku hanya karena masalah ini maka lebih baik kau dan Jelita tidak usah menghubungi ku." Finisnya mematikan telpon secara sepihak.
Sedangkan Tasya merasa kesal dengan Darandra yang langsung begitu saja mematikan telponnya.
__ADS_1
Namun sesaat ia tersenyum saat membayang kan begitu besar cinta Darandra untuk nya tidak seperti Jhony yang selalu menyelinkuhi nya.
Deg.