Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Amara Koma


__ADS_3

"Bagaimana keadaan adik saya Dokter?"


"Tuan adik Anda sudah bisa melewati masa ktritisnya tapi, maaf untuk saat ini adik Anda di nyatakan lumpuh dan koma, kami tidak bisa memastikan kapan dia bisa sadar yang terpenting sekarang Anda berdoa semoga semuanya baik-baik saja." Ucap sang Dokter memberi penjelasan.


"Apa, apa aku tidak salah dengar Dokter. Amara, lumpuh dan koma!"


"Benar Tuan, maaf kan kami, kami dan para tim Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin karena ada benturan di bagian kepala bagian belakang kami tidak bisa melakukan operasi karena di bagian kepalanya karena itu bisa membahayakan nyawa Nona Tuan." terang Dokter Farhan memberikan penjelasannya.


Damara merasa dunianya berhenti berputar karena satu-satunya orang yang paling di sayang kini terbaring tak berdaya.


"Tuan kami akan memindahkan Nona Di ruangan khusus untuk segera memasangkan nya alat agar kami bisa mengontrol nya semaksimal mungkin." ujar sang kembali


Tak ada jawaban dari Damara ia hanya bisa menatap dengan tatapan kosong.


"Tuan apa Anda tidak apa-apa?" Dokter Farhan bertanya sambil menepuk dengan lembut bahu Damara.


Membuat Damara tersadar dari lamunannya.


"Amara! Amara dimana Amara!" Damara yang tersadar teringat akan adik nya itu terus berteriak memanggil-manggil nama sang adik.


"Ayo Anda ikut saya Tuan!" ajak Dokter Farhan


"Tunggu Tuan! ada yang ingin saya sampai kan ini masalah tentang kecelakaannya Nona.


"Ada apa Rony...!?" Damara pun memberikan isyarat agar Dokter Farhan meninggalkannya.


"Sekarang apa yang ingin kau katakan?" ujar Damara begitu Dokter Farhan menghilang dari pandangannya.


"Ini Tuan saya hanya bisa menemukan ini di lokasi kejadian dan saya tidak menemukan Rekaman cctv di dalam mobil yang di pakai Nona Amara Tuan sepertinya ada yang merusak dan mengambilnya untuk menghilangkan jejak." Jelas Rony panjang lebar sambil menyodorkan lembaran Foto dan sebuah kalung yang bertuliskan inisial **.


Damara meraih kalung dan Foto yang di sodorkan oleh Rony tersebut dan dia pun lalu memeriksa dengan teliti kedua benda tersebut.

__ADS_1


"Motor..? jadi Amara tabrakan dengan sebuah motor ini dan kalung ini? bukan kah kalung ini?" Damara tercekat saat melihat inisial kalung yang ada di tangan nya itu ia ingat betul siapa yang pernah memakainya.


"Jelita...! lirih nya sedang tangannya sudah mer...emas Foto yang berada di genggamannya itu.


"Apa Anda mengenalnya Tuan, saya mendapat kalung itu tersangkut di motor yang sudah hancur itu Tuan." Sela Rony kembali memberikan laporannya.


"Urus semuanya! siapkan lamaran aku akan melamarnya hari ini juga, dan secepatnya dia harus menjadi istri ku, karena aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan wanita yang membuat Amara sampai seperti ini, apa kamu sudah memeriksa siapa itu Jelita?" tanya Damara setelah memberi perintah.


"Sus-sudah Tuan it-itu Non-Nona Jelita dia_" "Kamu kenapa? kamu sepertinya kamu ketakutan ada apa?"


"Bukankah saya sudah memberikannya filenya kepada Tuan silahkan Anda memeriksanya sendiri siapa Nona Jelita yang sebenarnya."


"Aku lupa, segera ambilkan filenya sepertinya aku menyimpannya di dalam mobil." Roy hanya bisa mengangguk lalu pergi ia hanya berfikir bagaimana respon Tuan nya kalau mengenetahui siapa Nona Jelita yang sebenarnya.


Setalah Rony pergi Damara menatap kembali menatap kalung yang berada di tangannya, sekelebat kata-kata Jelita waktu itu terngiang kembali di ingatannya.


"Jika kau selangkah maju untuk untuk menghancurkan ku maka aku akan jauh selangkah lebih maju untuk menghancurkan mu."


"Dasar wanita ****** kurang ajar. Kau tidak akan lolos kali ini dari cengkraman ku. Masalah mu hanya denganku saja lalu kenapa aku melakukannya pada adikku.!" Geramnya menggenggam erat kalung tersebut.


"Ini Tuan...!"


Seru Rony sambil menyerahkan sebuah file berwarna coklat kepada Damara.


Damara pun tanpa babibu langsung meraih nya.


Karena merasa tidak sabar ia pun langsung merobek kertas pembungkusnya. Satu persatu ia memeriksanya dan betapa terkejutnya dia kala mengetahui siapa Jelita yang sebenarnya.


"Tidak! ini tidak mungkin bagaimana aku tidak mengetahuinya? Jelita adalah putri ke dua Tuan Rafa dan itu berarti dia adalah adik dari Tuan Exel?"


"Anda benar Tuan dan menurut informasi yang saya dengar Nona Jelita Dan Nona Amara pernah bersitegang karena memperebutkan satu cowok di kampusnya. Semenjak saat itu mereka berdua selalu perang dingin Tuan seperti istilah keren nya"

__ADS_1


"Apa kau yakin dengan informasi mu!"


"Tentu sajaTuan bahkan seluruh kampus mengetahuinya dan ternyata Nona Jelita jauh lebih unggul dari Nona Amara karena lelaki itu lebih memilih Nona Jelita itu yang membuat Nona Amara marah pada Nona Jelita Tuan."


"Baiklah urus semuanya, hari ini juga kita kesana aku yang akan berbicara langsung dengan Tuan Rafa, dan menjelaskan semuanya biar bagaimanapun wanita itu harus menikah denganku dengan begitu aku bisa menghukum nya dengan tanganku sendiri." Damara mengepalkan kedua tangannya, setelah memberikan perintah ia pun bergegas menemui sang adik.


Ceklek...!


"Damara masuk mendekati bangkar sang adik dimana tempat ia di rawat saat ini di pandangi nya tubuh yang masih terbungkus perban di bagian kakinya itu dengan berbagai macam alat yang terpasang di tubuhnya.


perlahan Damara menggenggam tangan sang adik berusaha memberikan semangat lewat sentuhannya.


"Aku adalah kakak yang tak berguna untukmu yang tak bisa menjagamu tapi mulai hari ini Kakak janji Kakak akan menjagamu dan akan membalas semuanya. Ayo bangunlah, kau harus menyaksikan semuanya untuk itu bangun dan jangan tidur seperti ini."


*


Sementara itu di mansion Rafa.


"Jelita bagaimana keadaan mu apa sekarang kau merasa agak baikan. Jelita hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari sang Bunda.


"Aku tidak apa-apa Bun, bunda jangan khawatir, aku hanya ingin istirahat saja aku hanya sedikit capek." tutur Jelita yang kembali memejamkan matanya. Anggun meraih selimut yang tergerai di lantai lalu menyelimuti tubuh sang Putri.


"Bunda bagaimana Jelita apa dia sudah bangun?" tanya Exel yang melihat sang bunda keluar dari kamar milik Jelita.


Anggun hanya mengangguk. Menarik napas panjang lalu menghempaskannya.


"Bunda hanya khawatir padanya Bunda tidak tau apa yang terjadi. Tapi sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Bunda takut terjadi apa-apa karena Jelita memilih tidur tidak menjawab pertanyaan Bunda." Adu Anggun pada Exel.


"Bunda jangan khawatir aku sudah menyuruh Reno memeriksa apa yang terjadi semalam padanya, jadi Bunda yang tenang mungkin sebentar lagi Reno memberi kabar. Sebaiknya Bunda sarapan dulu karena Daddy sudah menunggu dari tadi." Terang Exel


"Baiklah ayo kita ke sana. Oh ya aku tidak melihat Dara apa dia masih tidur?"

__ADS_1


"Iya Bun, aku menyuruh nya tidur setelah sarapan tadi subuh kasian dia terlihat capek dan lemes sekali."


Anggun hanya mengangguk mengerti lalu melangkah turun menuju ruang makan.


__ADS_2