
"Amara apa kau mendengar ku?"
"Iya aku tidak tuli Kak!" kesal Amara
"Amara jaga ucapan mu aku ini kakak mu!"
"Siapa bilang Kak, Dama suamiku! kau tau Kak, Aku juga sedang marah padamu kau tau kenapa karena kau sudah membuat kakak ipar marah."
"Amara dengarkan aku, aku tidak bermaksud membuatnya marah aku hanya tidak bisa melihat istriku di sentuh lelaki lain sekarang berikan poselmu pada Jelita aku mau berbicara padanya."
"Kak Jelita tidak mau karena masih marah sama Kakak."
"Baiklah kau sekarang masuk biarkan aku yang akan berbicara pada nya." Amara hanya mendengus kesal mendengar perintah sang kakak. Begitu sampai di gerbang rumah utama Amara pun segera masuk meninggal kan Jelita, yang baru saja membuka pintu mobil hendak keluar.
"Sayang tunggu aku ingin bicara padamu."
"Apa lagi yang akan kau bicarakan bukankah aku sudah bilang aku hanya ingin tanda tanganmu pada surat itu apa kau belum faham juga!" sentak Jelita berusaha menepis tangan Damara yang berusaha untuk memeluknya itu.
"Jelita! apa kau sebenarnya tidak pernah mencintaiku? dan aku ingin jawaban mu yang jujur dari hati kecilmu."
Jelita yang hendak beranjak masuk menghentikan langkah nya.
"Tidak…!" Tegasnya sambil berbalik menatap Damara. "Setelah apa yang kau lakukan padaku! kau tahu aku sampai takut jika bertemu denganmu. Aku takut jika kau mengetahui aku hamil, aku sempat berfikir kau tidak akan mengakuinya, kau tau bagaimana perasaan ku saat itu, aku takut karena aku merasa tidak pernah melakukan apapun dengan mu. Tapi kenapa aku bisa hamil.
Aku takut kau, marah dan membenciku, aku takut anak ini akan terlahir tanpa kasih sayang Ayahnya. Hiks hiks hiks, Aku membencimu aku membencimu Damar" racau nya sambil memukul dada bidang milik Damara. Karena posisinya kini sedang dipeluk oleh Damara.
"Maafkan aku" lirih Damara dengan nada yang penuh penyesalan. Dan sesaat kemudian Jelita yang menyadari ia tengah di peluk berusaha melepas kan pelukan itu.
"Sayang biarkan tetap seperti ini" pinta Damara Namun Jelita masih saja kekeh ingin melepaskan pelukannya.
"Ayo ikut aku!" Damara menarik tangan Jelita dan segera membawa nya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kau mau membawaku kemana turunkan aku di sini!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu mobil agar Damara berhenti. Namun bukannya berhenti Damara terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat mobil meluncur dengan cepat.
Setelah lima belas menit ia pun berhenti tepat di tepi pantai yang tidak terlalu ramai.
"Sekarang kau boleh memakiku di tempat ini sepuas hatimu, kau boleh memukulku sekeras apapun yang kau mau, tapi aku mohon jangan pernah ingin berpisah dariku, karena aku bisa mati saat ini juga, aku mohon Jelita," Damara berlutut sambil menangkup kan kedua tangannya.
"Bangunlah, kau apa-apaan malu di lihat orang, sekarang antar aku pulang aku mau pulang!" ketus Jelita dengan memalingkan wajahnya karena ia sebenarnya tak tega melihat suaminya seperti itu.
"Jadi kau sudah memaafkan ku kan sayang?"
"Tidak! aku belum memaafkan mu nanti akan ku fikirkan lagi apa kah kau pantas di maafkan atau tidak! sekarang aku mau pulang." Setelah berucap Jelita pun segera melenggang pergi meninggalkan Damara yang masih berlutut, Damara pun segera bangkit berdiri dari tempatnya, mengejar langkah Jelita.
"Jelita Awas…!!!"
"Aaaaaaaa…!!!"
Damara segera berlari menyelamatkan Jelita saat melihat sebuah mobil bergerak dengan kencang menuju ke arah istrinya itu.
"Auhk kakiku!" rinti Jelita yang merasakan tubuh nya yang hampir saja jadi korban kalau Damara tidak segera mendorong nya, walau lututnya agak nyeri namun ia bersyur kalau ia dan bayinya tidak apa-apa.
"Cepat bawa dia kerumah sakit, mungkin saja dia itu sudah meninggal, lihatlah dia tidak sudah bergerak!"
Deg.
Teriakan orang di sekeliling nya membuat perasaan Jelita tiba-tiba tidak enak. la pun membuka mata lebar saat menyadari kalau Damara tidak bersamanya.
"Dam-Damar...!" lirihnya, dengan perasaan campur aduk ia pun segera bangkit.
"Maaf Nona apa Anda baik-baik saja?" tanya seseorang mengulurkan tangan ingin membantu Jelita. Jelita pun segera menerima uluran tangan orang tersebut, Jelita masih menoleh kiri kanan mencari keberadaan Damara.
"Maaf Nona Anda mencari siapa?"
__ADS_1
"Orang, orang yang menolongku tadi siapa?"
tanya Jelita pura-pura tidak tahu.
"Owh...apa yang Anda maksud korban tabrak lari itu, tapi mungkin saja dia sudah tidak bisa selamat karena lukanya yang begitu parah. Sekarang orang-orang itu ingin membawanya kerumah sakit."
mendengar penjelasan orang tersebut Jelita langsung mendekati kerumunan orang-orang-orang tersebut dengan perasaan berdebar.
"Bagaikan bunga yang layu tubuh Jelita terkulai karena kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya yang bergetar hebat sedang jantungnya jangan di tanya sudah berdetak lebih kencang dari biasanya,
Dunianya seakan berhenti berputar, la merasa seperti langit akan runtuh menimpa kan bebannya di pundaknya.
"Dam-Damar...Damar…" suaranya tercekat dengan tatapan nanar Ia berjongkok mendekati tubuh yang sudah bersimbah darah, bahkan darah terus mengalir deras di pelipisnya.
Dengan tangan yang bergetar Jelita menangkup wajah yang sudah memejamkan mata itu.
"Sayang aku mengantuk jangan ganggu aku dulu aku mau istirahat aku capek." tiba-tiba saja Damara membuka mata nya saat merasa sentuhan lembut mengenai wajahnya itu. Sedangkan Jelita tergugu menahan isakannya.
"Sayang aku mau tidur di pangkuan mu boleh? aku sangat merindukan kalian" Damara terus saja meracau sambil terbata-bata menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Saat mata Damara mulai terpejam, Jelita yang sejak tadi ingin menumpahkan air matanya kini terisak pilu.
"Sayang kau kenapa menangis? apa ada yang menyikitimu? aku minta maaf jika banyak salah padamu, A-aku men-cin-tai-muh- uhuk-uhuk"
"Sudah hentikan jangan bicara lagi, Aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena aku telah banyak men_"
"Jelita apa hari sudah petang kenapa ge-lap se-kal-li" Damara pun menutup rapat matanya di barengi dengan tangannya yang terlepas dari genggaman Jelita
"Dam-Damar...! tidak...Damar buka matamu jangan pergi Sayang...jangan tinggalkan aku seperti ini Damara...Damara...!" Jelita berteriak histeris sebelum akhirnya ia pun terkulai tak sadarkan diri.
Dan orang-orang pun segera berlari memberikan pertolongan untuk keduanya.
__ADS_1
"Bagaimana ini semua bisa terjadi?" cicit Anggun yang baru saja tiba di rumah sakit saat menerima laporan kalau Jelita jadi korban tabrak lari.