
"Bara__" langkah kaki Renata terhenti di saat melihat siapa sekarang yang bersama Bara, dan Baron.
Deg.
"Lisa"
Renata mencoba tersenyum untuk menutupi ke gugupannya sambil terus melangkah mendekati Bara.
"Ba_"
"Tante, Apakah boleh, Aku memanggilmu Mama mulai dari sekarang,?"
Deg.
"Tentu saja boleh Sayang, karena aku memang Mama mu," Ujar Lisa sambil membalas pelukan Bara yang tiba-tiba memeluknya.
"Sebaiknya kau lekas pergi dari sini, biarkan Bara bersamaku karena dia tidak akan membutuhkan mu lagi," Bukan Baron yang berucap tapi Lisa.
Bahkan kini Bara hanya diam tak ingin menoleh nya sama sekali, membuat Renata begitu merasa sakit, Namun la harus tegar jika tidak ingin rencananya gagal tapi tetap saja ia merasa sakit sedih, saat Bara tidak ingin menatapnya, sedangkan Baron masih dengan wajah datar tanpa expresi.
Renata mundur perlahan lalu berbalik pergi meninggalkan ketiga orang tersebut dia memilih masuk di kamar untuk menangisi semuanya, namun baru saja air matanya ingin tumpah, tiba-tiba Baron masuk dan mengunci pintu dengan rapat.
"Baron kau?" Renata segera berpaling sedang jemari tangannya menyeka sudut mata nya yang sudah mulai berair.
"Heh, aku tidak menyangka kau tega melakukan itu semua Renata! lalu untuk apa kau menyembunyikan wajah mu itu? kalau dirimu yang sebenarnya sudah memperlihatkan wajah aslimu, sekarang tatap aku, tatap aku Renata!" Baron mencengkram wajah Renata begitu kuat hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Lepaskan tanganmu! kau menyakiti ku,"
"Menyakitimu? apa aku tidak salah dengar? disini siapa yang menyakiti siapa?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Apa maksudku? apa kau lupa kalau, kau sendiri telah menyakiti semua orang dengan kepolosan mu itu? dan yang paling terluka adalah Bara, untung saja Lisa bisa mengambil hatinya kalau tidak aku akan membuatmu berakhir di tangan ku, sandiwara mu begitu hebat, bahkan kau begitu apik memainkan peran palsumu sebagai lbu."
"Mas, s-sayang dengar kan aku, aku han__"
"Jangan mencoba merayuku dengan panggilan mu itu, bukankah aku ini hanya sepupumu, yang baru berjumpa, dan apa yang kau lakukan pada putraku? kau membuat nya kecewa dan terluka, jika kau hanya menyakiti ku tidak apa-apa tapi jangan pernah sakiti Putraku," Baron terus saja memberikan penekanan pada setiap kata-kata nya sebelum akhirnya ia penghempaskan tubuh Renata hingga membuat Renata meringis menahan sakit, namun Renata berusaha sekuat tenaga nya menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya sedangkan matanya memerah karena membendung tangisan nya dengan urat leher yang menegang serta hidung yang mengembang- mengempis, karena menahan kesedihannya Baron pergi meninggalkan kamar tersebut tanpa ingin menoleh sama sekali.
"Aku akan keluar kota selama satu minggu setelah aku pulang aku akan mengurus pernikahan ku secepat, aku harap kau mengerti dengan apa yang aku maksud kan," Boron berucap sambil terus melangkah tanpa ada niat ingin berbalik kebelakang.
Renata meraih telpon genggam nya dan segera menelpon seseorang.
"Jemput aku, sekarang! aku sudah tidak kuat,"
Renata terkulai lemah di tempat tidurnya, sedang kan air mata terus mengalir di pelupuknya, la menangis menahan sakit yang datang bertubi-tubi, bukan sakit di tubuh saja ia rasakan, tapi juga sakit di hatinya membuat dirinya merasa semakin sesak, namun ia harus melakukan semuanya demi Bara, ia tidak ingin Bara tersiksa jika dia berpisah untuk itu ia ingin membuat Bara membencinya, agar Bara bisa menerima Lisa, lbu kandungnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"lya aku dan juga Kak, Exel akan pergi bersama, aku juga mengajak Baron untuk melihat lokasinya karena aku ingin Baron yang akan memimpin di bagian cabangnya nanti."
"Kalau begitu aku ketempat Kak, Dara bolehkan sayang? aku takut Baby Ar, kesepian, coba ada Amara, pasti aku juga tidak akan kesepian kalau di tinggal."
"Apa kau lupa kalau Amara sudah menikah lalu bagaimana dia akan menemanimu, Sudah lah aku tidak ingin membahasnya, sekarang, Ayo ikut aku ke kamar, Biar Arjuna Siti yang gendong dulu."
Amara hanya menurut saja, apa yang di katakan suaminya itu tanpa berani berbicara lebih jauh lagi mengenai Amara, padahal la ingin sekali untuk membuat Adik iparnya itu baikan.
"Kita mau ke mana Sayang?"
"ikut saja, tidak usah banyak bertanya," lagi-lagi Jelita tidak bisa membantah apa yang dikatakan suaminya itu.
__ADS_1
"Sekarang tutup matamu, kau mau apa sih sayang kenapa harus dengan menutup mata segala?"
"Aku kan sudah bilang Jangan banyak bertanya! sekarang tutup matamu!" Jelita menarik nafas kasar lalu menghempaskannya.
"Sekarang bukalah matamu," Jelita pun membuka mata lalu.
"Apa ini sayang,?" Tanyanya sambil menyentuh lehernya.
"Apa kau menyukai nya?"
"Yah tentu saja aku menyukainya ini sangat indah, tapi kapan kau memesannyanya?"
"itu sudah lama aku pesan sebenarnya akan aku berikan di hari resepsi pernikahan kita tapi karena kejadian Amara yang tiba-tiba menghilang semua rencana yang sudah aku susun rapi-tapi jadi berantakan, sedang hari-hari berikutnya aku sibuk, Maafkan aku."
"Sayang sudah lah, aku memang senang dan sangat bahagia dengan hadiah pemberianmu, tapi aku lebih bahagia jika kita selalu saling mengerti, saling menjaga, dan mencintai, kita menua bersama itu jauh lebih membuatku bahagia, untuk itu jangan terlalu memikirkan yang sudah terjadi, dengan ada nya buah cinta kita saja membuatku seperti paling bahagia di dunia ini," Jelita memeluk lalu mengecup bibir Prianya itu.
"Sayang, jangan menggoda ku kau tau aku tidak akan bisa menahan diri ku untuk tidak melakukan nya," Bukannya mendengar perkataan Damara la malah sengaja tidak mengindahkan nya.
"Sayang, Kau__" Damara tak bisa melanjutkan kalimatnya karena dengan susah payah la kini berusaha menahan hasrat nya, di saat sisi liar wanitanya terus membuatnya tak berdaya dan ntah sejak kapan kini seluruh tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun dan itu adalah perbuatan istrinya, Jelita memang sengaja tidak memberikan kesempatan untuk suaminya itu membalas perbuatan nya karena ia ingin mencoba memberikan kepuasan kepada sang suami. Dan benar saja dari awal hingga akhir permainan Jelita terus saja berusaha untuk memimpin permainan nya.
"Terima kasih sayang" ucap Damara sambil memeluk istrinya dengan fosesif, dia tidak menyangka jika istrinya itu begitu pandai dan lihai dalam setiap permainan nya.
"Apa kau menyukainya.?"
"Menyukai apa,?" Balasnya pura-pura tidak mengerti.
"itu tadi, servisanku."
"Ohw,, aku kira apa, dengarkan aku sayang aku tidak pernah menyangka kalau kau sehebat tadi dan, seandainya aku tidak akan pergi ke Luar kota mungkin aku akan mengurung mu di kamar sehari penuh, dah
__ADS_1
Ayo kita mandi aku takut Baby Ar, nanti kesel karena kita belum menemuinya"
Damara pun mengankat tubuh sang wanitanya ala bridal Style.