Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Mencari Renata


__ADS_3

tepat pukul 01.00 Dini hari, Baron pun tiba di rumah dia pun segera memilih melangkah menuju kamar pribadinya.


Ceklek.


dengan perlahan Baron membuka pintu kamar, lalu tangannya meraba saklar lampu karena Ia sempat heran dan berpikir, Kenapa tiba-tiba kamarnya begitu gelap tanpa pencahayaan,? Biasanya kalau Renata tertidur pasti dia akan menyalakan lampu tidur karena dia tahu istrinya itu tidak bisa tidur dalam kegelapan.


Celetek.


Setelah lampu menyala Baron melemparkan pandangan ke arah tempat di mana ia dan istrinya biasa tidur, Namun la membulatkan mata saat mendapati tempat itu kosong tanpa ada siapapun.


"Ren, Renata, Rena, kamu di mana Ren? Sayang kamu di mana?" Baron terus berteriak memanggil istrinya namun tak kunjung ada jawaban, karena tak mendapatkan siapapun di kamarnya.


Baron memeriksa semua sudut ruangan, bahkan toilet pun tak lepas dari pemeriksaannya, namun ia tak mendapatkan sosok Renata berada di tempat tersebut.


"Oh Tuhan, Kemana perginya lagi wanita ini kenapa dia menyusahkanku malam-malam begini, apa jangan-jangan dia? ti-tidak, dia tidak mungkin pergi dari sini dan aku yakin itu, apa dia marah padaku gara-gara aku sengaja mengacuhkan dan mendiamkannya? sebaiknya aku menelponnya saja supaya aku tahu di mana dia dan bagaimana keadaannya sekarang," Baron pun berusaha menghubungi nomor Renata Tapi sayangnya telepon yang dihubungi ternyata berada di atas tempat tidur.


'Renata pergi tapi tidak membawa teleponnya Lalu bagaimana caranya aku menghubunginya,? Kenapa sih wanita kalau marah selalu menyusahkan saja,?' gerutunya.


"Sebaiknya aku pergi membersihkan diri dulu baru aku pergi mencarinya lagi," Baron pun memilih segera masuk ke dalam bathroom untuk menyegarkan tubuhnya setelah selesai dari ritual mandinya Ia pun bergegas meraih bejama tidur dan segera memakainya di tubuhnya.


Baron duduk di pinggir tempat tidur sambil berpikir ke mana ia akan mencari Renata, Iya begitu menyesal telah mendiamkan istrinya itu, tapi ini untuk pertama kalinya Renata pergi meninggalkan kamarnya bahkan semarah apapun Baron dia akan tetap menunggu Baron untuk pulang, dan selalu menyiapkan air hangat untuk mandinya, walau ia sudah tertidur ia akan selalu bangun untuk mempersiapkan segala kebutuhan suaminya.


"Ya ampun, Kenapa aku sampai lupa? ini semua gara-gara Lisa, yang meminta untuk bertemu, Oh ya... Bukankah aku berjanji malam ini akan tidur menemani Bara,? Bara pasti akan marah karena menganggap ayahnya berdusta padanya, maafkan ayah Bara.''

__ADS_1


Baron pun segera melangkah keluar dari kamarnya untuk melihat Putranya sebentar, sebelum Ia memutuskan keluar untuk mencari Renata kembali. setelah sampai di depan pintu kamar Bara, Baron pun segera membuka pintu pelan-pelan.


Ceklek


Baron masuk ke kamar Bara dengan cara mengendap-endap ia takut akan mengganggu tidur anaknya, Jika ia berisik namun baru saja iya mendudukkan bokongnya di pinggir tempat tidur tiba-tiba saja sebuah tangan kecil meraih tangannya membuat Baron terperanjat kaget.


"Astaghfirullahaladzim, Bara, kamu Ternyata belum tidur nak?"


"Ust...Ayah jangan libut Ayah"


"Memangnya kenapa ayah tidak boleh ribut?" "Ust..ayah kecilkan cualanya karena bunda cedang tidul kacihan Bunda Ayah Bunda Dali tadi kecakitan Bunda baru saja tidul 1 jam yang lalu"


"Bunda?" Baron menatap sosok tubuh yang di carinya semenjak tadi ternyata ada di samping sang Putra, la pun akhirnya menarik nafas lega, karena Renata ternyata tidak pergi jauh.


"Kok kamu tahu sih Nak, Kalau Bunda mu tidur 1 jam yang lalu,?" Tanya Baron dengan suara yang setengah berbisik.


"Anak Ayah memang pintar, tapi tadi Bara bilang kalau Bunda kesakitan.?"


"Iya Ayah, kata Bunda pelut Bunda cakit Bala takut Ayah takut dedek bayi pukul pelut Bunda di dalam cini."


"Maksud kamu apa sih Nak, adik bayi bagaimana?"


"Ayah,, dalam perut Bunda Ini kan ada Dedek bayinya, itu kata Bunda, kalena Bala cudah minta cama Bunda Bara maunya punya adik bayi tapi yang cantik cepelti Bunda Ayah."

__ADS_1


"Maksud kamu adik perempuan ya?"


"lya itu Ayah," Baron hanya tersenyum mendengar Celoteh anaknya yang lucu dan menggemaskan itu, Baron pun mengingat perkataan Renata, kalau Renata membohongi Bara kalau dia sedang hamil, karena dia tidak ingin Bara merasa kecewa.


Bara mengelus dengan lembut kepala putranya itu.


"Apa karena itu Bara belum juga bobok dari tadi?"


"lya Ayah Bala mua jaga Bunda, Bala takut Bunda cakit gala-gala Adek Bayi," Jawabnya kembali.


"Bara dengarkan Ayah apa Bunda merasa sakit sekali ya,?"


"Iya Ayah tadi waktu Bala beltanya Bunda kenapa? Bunda jawab adik bayi lagi lompat-lompat di pelut Bunda Ayah."


"Baiklah sekarang Bala bobok ya biar Bunda nanti Ayah yang jaga"


"lya Ayah, tapi Ayah janji ya jangan ganggu bunda kasihan Bunda capek, capek jaga Bala capek cama dedek bayi juga"


"Iya Ayah janji, Ayah tidak akan ganggu Bunda kok, sekarang Bara tutup matanya bobok ya Bara juga masih sakit kan? jadi Bara harus Bobok juga," Ucap Baron pada Sang putra. Bara pun hanya mengangguk mengikuti apa yang dikatakan Ayah nya, la pun segera memejamkan mata.


Sementara itu, Baron menatap lekat wajah Renata yang terlihat agak sedikit pucat dan wajah yang begitu nampak sedikit tirus.


"Ren, Aku tidak tahu apa yang sedang kau sembunyikan dariku, kau bilang kau sedang datang bulan tapi kenapa setiap kau datang bulan harus sesakit ini? dan apa setiap hari kau akan datang bulan,?" Baron menyingkap anak rambut Yang tergerai menutupi wajah Renata sambil terus berbicara, namun masih dengan suara yang setengah berbisik, karena la tidak mau ke dua orang di depannya itu terganggu.

__ADS_1


"Ren, untuk apa juga kau selalu menciptakan kebohongan baru pada Bara, tanpa kau sadari Bara berharap banyak darimu, sepertinya memang mungkin kita harus mempercepat perpisahan kita, karena kau tahu sendiri kan Bara menginginkan seorang adik, dan kita tidak mungkin bisa punya keturunan, Bahkan aku sudah berjanji pada Lisa hari ini akan segera menikahinya secepat mungkin.


Besok aku harus bicara sejujurnya padamu, tentang semua Rencanaku pada Lisa hari ini, aku berjanji padamu aku akan memberikan tempat yang layak untuk kau tinggali, semoga kau bisa berbahagia dan mendapatkan kehidupan yang baru yang jauh lebih baik, kau juga pantas berbahagia dan mendapatkan orang yang bisa membuatmu bahagia, Maafkan aku jika selama ini aku pernah menyakitimu aku hanya Terlalu Mencintai Lisa," Dan tanpa Baron sadari Renata sudah mendengar semua apa yang di bicarakan Baron, karena Renata sudah terbangun dari tadi dari pertama kali Baron masuk di kamar, Bara.


__ADS_2