
"Kau,, bukankah sudah aku katakan padamu untuk pulang cepat! lalu kenapa kau baru pulang dan ya! mantan mu itu, kenapa kau tidak menyuruh nya masuk? apakah kau malu karena rumah mu ini jelek dan sederhana?" Darandra terus saja melontarkan pertanyaan yang tidak-tidak saat hatinya terasa panas melihat Amara di antar pulang oleh Danu.
Amara yang mendengar kata-kata Darandra memilih acuh, la memilih tak ingin mengubrisnya. Karena dia, tau dia salah, dan dia, tidak ingin terpancing dengan masalah yang bisa membuatnya saling menghujat itu.
"Aku ingin membersihkan tubuhku dulu, jika Kakak ingin menunggu silakan tapi kalau tidak, juga tidak apa-apa." Ucap Amara Datar
"Amara kau!" Darandra menarik tangan Amara dengan kencang hingga membuatnya berbalik dan membentur dada bidang itu. Darandra yang terbakar emosi mengunci tangan Amara kebelakang dan menyandarkannya di dinding.
"Kenapa kau selalu saja tidak mendengar perintahku, untuk tidak dekat dengannya?"
"Apa kah kau cemburu? kalau iya itu tandanya Kakak mencintaiku." Ucap Amara menatap lekat lelakinya itu.
"Mencintaimu,? heh,, yang benar saja kamu sudah tau kan cintaku itu untuk siapa?" sentak Darandra tersenyum sinis.
"Kalau begitu berhentilah untuk melarang ku dekat dengan siapa pun, karena jika kau melarang ku maka aku akan menganggap mu mencintai ku." Amara mendorong tubuh Darandra agar menjauh dari tubuhnya, namun di luar dugaannya tubuhnya malah terjatuh menimpa tubuh Darandra karena ia lupa kalau Darandra masih menggenggam erat tangannya.
Bugh.
"Aawwwh Ahkh...kau itu kasar sekali, kau mau membuat pinggaku patah ya!" Cicit Darandra yang merasakan punggungnya mendarat sempurna mencium lantai di tambah tubuh Amara yang juga menimpa tubuhnya, dia pun tak berhenti meringis ke sakitan. Sedangkan Amara bergegas berdiri dari atas tubuh suaminya itu, dengan raut wajah bersalah nya.
"Maafkan aku Kak, aku, aku tidak sengaja apa kau butuh bantuan ku?" Amara yang takut kalau Darandra akan marah padanya binggung tak tahu harus berbuat apa.
"Kau bertanya aku butuh bantuan, lalu kenapa kau berdiri diam di situ? cepat tarik tangan ku bantu aku berdiri!" Seru Darandra yang membuat Amara tersadar dan segera meraih tangan Darandra untuk membantunya berdiri.
"Aauuwww...lsssh ahkh..."
"Ap-apakah masih sakit?" cicit Amara bertanya saat melihat Darandra masih saja meringis kesakitan.
"Apa kau pikir aku ini berbohong apa? apa kau tidak lihat kalau ini sakit sekali?"
Darandra terus memegang punggungnya yang masih terasa hangat dan disertai rasa nyeri itu dan tentunya sambil ngedumel.
__ADS_1
"Sini biar aku lihat separah apa?" ucap Amara sambil menggenggam tangan Dara Andra lalu membawanya duduk di pinggir tempat tidur.
"Apa lagi yang akan kau lakukan padaku?" kesal Darandra sinis.
"Bukankah tadi kau bilang, kau sakit? biarkan aku melihatnya?" jawab Amara sambil membuka baju yang dipakai Darandra dan benar saja ia melihat punggung Darandra kini nampak memerah.
"Tunggu aku sebentar" ucap Amara lalu bergegas turun dan mengambil sesuatu di dalam laci.
"Apa itu? dan apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Darandra kembali.
"Diamlah! dan jangan banyak bergerak" Amara duduk di belakang Ia pun menumpahkan minyak sereh yang diambilnya di dalam laci tadi di telapak tangannya lalu membalurinya ke tubuh Darandra yang berwarna merah.
"Apa yang kau Pakaikan di tubuhku ini kenapa baunya Sangat aneh sekali? dan apa yang kau lakukan padaku? Apakah kau akan mematahkan tulang-tulangku?"
"Kau bisa diam tidak! kau ingin sembuh atau tetap sakit seperti ini. Aku ingin sembuh tapi tidak dengan cara seperti ini juga. Sepertinya kau sengaja ingin merontokkan tulang-tulangku!"
"Iya aku memang sengaja akan merontok kan tulang-tulangmu, agar kau berhenti untuk mendikteku lagi, tahanlah mungkin ini agak terasa sedikit lebih sakit!"
dan benar saja tidak Amara mulai mijat punggung nya dan sedikit menekan.
"Apa kau, benar-benar akan Membunuhku?!" "Coba sekarang bergeraklah!" Darandra pun mencoba untuk menggerakkan punggungnya dan ia pun merasa aneh karena rasa nyeri yang luar biasa itu menghilang dari punggung nya.
"Kau benar sekali Amara, aku sudah tidak merasa sakit lagi, lihatlah sekarang punggung ku sudah tidak nyeri lagi." Ucapnya terus mengoyang-goyangkan punggungnya, dengan gembira, dan tanpa sadar la memeluk Amara.
"Terima Kasih." Ucapnya salah tingkah saat tersadar, Ia pun segera melepaskan pelukannya.
"Maaf,, aku mau mandi dulu." Sela Amara bergegas pergi karena ia tidak ingin Darandra mendengar suara degup jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi, ketika ia berada begitu dekat dengan Darandra.
"Baiklah Pergilah sekarang!" seru Darandra tanpa menunggu waktu lagi Amara pun segera bergegas untuk membersihkan tubuhnya Ia pun segera masuk ke kamar mandi, setelah merasa sudah cukup Amara pun segera keluar dan kini dia pun bergegas untuk siap-siap pergi tidur.
"Kemana perginya orang itu? tadi dia di sini, sekarang apa dia pergi lagi? dasar tidak punya sopan santun datang tidak bilang-bilang dan pergi pun tanpa pamit kayak jailangkung saja." Gerutunya saat tidak mendapatkan siapapun di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Lebih baik aku segera beristirahat agar besok aku bisa pergi mencari pekerjaan lagi. ucapnya pada diri sendiri dan segera melangkah menuju tempat tidur.
"Apakah kau sudah tertidur?"
"Aaaa…Kenapa kau mengagetkanku! Kau dari mana saja?" kesalnya sambil mengusap dada karena terkejut.
"Aku lapar. Aku tadi keluar untuk membeli makanan karena aku lihat tak ada apa-apa pun sini. Kenapa kau tidak berbelanja apa uangmu tidak ada sama sekali?"
"Siapa bilang aku tidak punya uang, hanya saja, aku belum sempat untuk keluar, karena setiap hari aku sibuk mencari pekerjaan." Ucapnya tanpa sadar.
"Mencari pekerjaan?"
"Iya…Eh,, maksudku__"
"Sudahlah aku sudah tahu dan mendengar semua ucapanmu itu, dan lebih baik kau memikirkan penawaranku tadi siang." Selanya menjeda kalimat Amara.
"Penawaranmu yang mana?"
"Apakah kau lupa atau pura-pura lupa?"
"Maaf aku sama sekali tidak mengingatnya jadi kau tidak pernah memikirkannya," Darandra menarik nafas kasar
"Bukankah tadi kau mengatakan akan berpikir dulu, dan sampai sekarang kau tidak memikirkannya!" kesal Darandra.
"Aku benar-benar tidak ingat." Ucap Amara jujur.
"Jadilah asisten pribadiku di klinik."
"Oh iya sekarang aku baru ingat, maaf aku benar-benar tidak memikirkannya tapi__"
"Aku tidak ingin penolakanmu kalau kau jawab tidak kau harus tetap jadi asistenku titik, tidak pakai koma." Selanya menggantung kalimat Amara. Membuat Amara mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Kenapa kau memaksa sekali? Bukankah aku yang akan bekerja kau ini se enaknya saja." "Sudahlah,, aku lapar. Ayo kita makan!"
"kau makan saja sendiri aku tidak lapar." "Kalau kau tidak lapar keluarlah! temani aku saja." Amara pun dengan rasa malasnya mengikuti langkah Darandra keluar untuk menemaninya makan.