
Ke esokan harinya.
Amara pun diizinkan pulang oleh dokter namun semenjak semalam Darandra tak pernah datang bahkan muncul di depannya untuk menemuinya, untuk menelpon bahkan menanyakan kabar sama sekali tidak. Membuat Amara merasa heran bahkan berfikir apa yang dilakukan suaminya itu. Hingga tidak ada sempat untuk menjenguknya.
la pun sudah menyempatkan diri berjumpa denga baby Kenan Junior sebelum memutuskan untuk pulang.
"Terima kasih Dokter karena anda telah membantu saya" Ucapnya di saat dokter David, tepat berada di depannya. tidak usah berterima kasih untuk suatu kebohongan Karena semua itu tidak baik."
"Maafkan saya dokter, sekali lagi saya minta maaf kalau saya harus melibatkan anda dalam masalah ini.
Saya paham apa yang Anda maksudkan tapi jujur kemarin itu saya sebenarnya tidak ingin melakukannya. Saya hanya terpaksa saja." Ucap Amara panjang lebar dengan raut wajah bersalah nya.
"Baiklah tidak apa-apa saya mengerti apa yang anda maksudkan Nona."
"Jangan panggil aku Nona, Panggil Namaku saja, karena aku bukanlah seorang Nona lagi."
"Sebenarnya ada hal yang penting ingin saya bicarakan pada Anda dan juga pada dokter Darandra tapi saya lihat dokter Darandra mungkin sedang sibuk"
"kalau itu sangatlah penting Kenapa tidak berbicara dengan ku saja, biar aku yang menyampakannya sendiri pada Darandra nanti." Dokter David menatap Amara secara intens.
"Apa yang akan saya sampaikan sebenarnya ada hubungannya dengan Anda. Apa Anda siap mendengar semuanya?" ucap dokter David serius.
"Apa pun itu saya siap mendengarkan nya"
Baiklah sekarang jawab pertanyaan saya, apa selama ini Dokter Darandra tidak mengetahui tentang penyakit yang ada pada tubuh Anda?"
"Penyakit maksud dokter?" Amara yang terkejut membulatkan matanya.
"Ck, ya ampun, belum juga apa-apa Kok sudah hilang ingatan. Bukankah beberapa waktu yang lalu dari rumah sakit sudah mengirimkan hasil Ct scan milik Anda dan itu langsung di kirim ke alamat Anda
__ADS_1
dan semua penjelasan mengenai penyakit yang Anda derita semua ada di dalam surat keterangan dari rumah sakit itu." Terang Dokter David.
"Saya justru merasa tidak pernah menerima apapun. Atau mungkin saja ada seseorang yang pernah menerimanya sedangkan aku tidak melihatnya sama sekali," terang Amara memberikan informasinya.
"Baiklah kalau begitu Sebaiknya kita bicarakan ini lebih cepat, karena lebih cepat lebih baik untuk menghambat semua kemung kinan apa saja yang akan terjadi."
"Menghambat semuanya maksud dokter?"
"Nona Amara Kau pernah mengalami dua kali kecelakaan benar atau tidak?"
"lya seingatku waktu bersama Kak Renata, dan yang keduanya saat itu aku tidak sengaja berlari ke mobil Kak Danu, Memangnya kenapa dokter.? Apakah ada sesuatu yang sangat mengkhawatirkan dengan diri saya.?"
"Apakah Anda siap untuk mendengarkan semuanya?" tanya dokter David kembali menatap Intens Amara.
"Saya sudah siap dokter." jawab Amara mantap.
"Baiklah kalau begitu kita ke ruanganku karena ini sangat private!" Amara hanya mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Dokter David Ia pun segera mengikuti langkah tegap Dokter David di belakangnya.
"air putih aja." Dokter David pun membuka kulkas yang berada di ruangannya tersebut. Lalu memberikan sebuah botol minum air mineral kepada Amara.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada saya Dok?" tanya Amara kembali di saat ia sudah menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang berada di ruang tersebut.
"Apa selama ini kau sering merasa sakit kepala secara tiba-tiba?"
"Iya,, dan saya pun pura-pura pingsan karena memang saya merasakan sakit kepala yang sangat dahsyat tidak dari seperti biasanya." Terang Amara kembali.
"Kau benar sekali karena kau tahu tabrakan yang kau alami telah Membuatmu gegar otak karena yang saya lihat dari rekam jejak medis dokter yang menangani Anda waktu itu tidak berani untuk melakukan operasi karena ada dua kemungkinan antara hidup dan mati, karena kondisimu yang saat itu sedang tidak memungkinkan, dan gumpalan itu yang seharusnya dikeluarkan karena gumpalan itu akan menghambat peredaran darah di dalam otak tapi, untuk saat ini juga ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika kau melakukan operasi, maka semua ingatanmu akan hilang, orang yang kau cintai kau tidak akan mengingatnya lagi bahkan jika kau tidak mengoperasinya pun lambat laun ingatanmu pun akan hilang."
"Maksud dokter?"
__ADS_1
"Amara kau akan terkena Amnesia."
"Apa,, Amnesia? tidak dokter ini tidak akan mungkin!"
"Amara Tenangkan dirimu dulu!"
"Dokter mengatakan aku harus Tenangkan diri, setelah mendengar semuanya? bagaimana aku bisa tenang dokter? Apakah aku harus tertawa bahagia karena akan melupakan orang-orang yang aku cintai? melupakan kakakku, kakak iparku, dan keponakanku, bahkan orang yang paling sangat aku cintai Sampai detik ini yaitu suamiku. Aku sangat berharap sekali akan bisa menyaksikan dia mengungkapkan rasa cintanya padaku aku berharap dia bisa mencintaiku seperti aku mencintainya dokter, tapi harapanku akan sirna dengan semua ini, apa aku bisa tenang dokter setelah mengetahui Semua yang akan terjadi pada diriku.? Bagaimana aku akan hidup dalam kekosongan di otakku? tanpa memikirkan orang-orang yang aku cintai?" Amara pun menumpahkan air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi, Dokter David pun merasa terharu dan serba salah.
"Amara dengarkan aku dulu." Dokter David menggenggam kedua tangan wanita itu lalu menatapnya begitu lekat.
"Amara jika orang yang kau cintai itu benar-benar mencintaimu bagaimanapun keadaanmu dia akan menerimamu apa adanya, apa kau akan memaksakan Cintamu kepada orang yang tidak pernah mencintaimu? bahkan tak menghargai perasaanmu, sadarlah Amara kesehatanmu itu jauh lebih penting daripada menunggu cinta yang belum pasti akan menerimamu," Amara menunduk sedang air matanya mengalir begitu deras di pipinya tanpa ingin tertahan lagi.
"Dengarkan aku Amara kemanapun kau melangkah pergi dan seperti apapun dirimu jika orang itu adalah jodohmu kau akan bertemu dan Jika dia mencintaimu dia akan menerimamu apa adanya. Bahkan mungkin dia akan mengejarmu, Kau tidak perlu memaksakan orang untuk mencintaimu, karena itu akan membuatmu sakit sendiri. Kau hanya akan dibuat menunggu dan menunggu tanpa kepastian dan saat kau tersadar Semuanya sudah terlambat, untuk itu Dengarkan Aku, Cinta itu bukan sebuah paksaan, atau keterpaksaan, Cinta itu sebuah kerelaan, keikhlasan, dan pengorbanan, juga sebuah perjuangan, jika cintamu hanya bertepuk sebelah tangan maka cintamu itu hanya akan di anggap sebuah lelucon, dengarkan aku Amara kau aku anggap seperti Adikku, tak Ada seorang kakak yang ingin melihat adiknya menderita."
Setelah mendengar semua apa yang di katan oleh dokter David. Amara pun mulai agak sedikit lebih tenang, Ia pun menarik nafas dengan kasar lalu menghempaskannya.
"Apakah aku bisa kuat melakukannya?"
"Aku yakin kamu bisa melakukannya"
"tapi,, Dokter berjanjilah padaku untuk tidak mengatakan apapun kepada semuanya jangan katakan apapun pada mereka, Kakak ku, kakak ipar, dan terutama pada suamiku."
"Kamu percayakan semuanya padaku, aku akan selalu tutup mulut, bagaimana perasaan mu sekarang?"
"Boleh aku memelukmu dokter?"
"Oh tentu saja boleh"
Amara pun bangkit lalu mengahambur memeluk Dokter David.
__ADS_1
"Kau benar Dokter aku tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa selain diriku sendiri,"
"Amara apa yang Kau lakukan dengannya?"