Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Merubah panggilannya


__ADS_3

''Dokter Rini!" Gumamnya


"Hal_"


"Apa Dokter tau sekarang sudah jam berapa?" Tanya Dokter Rini langsung menjeda kalimat Darandra.


"Saya tidak mau Tahu walaupun Anda adalah atasan saya tapi Anda seharusnya disiplin, kalau masalah pekerjaan.


Sekarang cepat lah kerumah sakit saya mau pulang istirahat karena tadi, ada pasien yang harus di operasi sekarang Cepatlah datang kemari." Pungkas nya lalu mematikan telepon sepihak. Darandra mengerutkan kening nya lalu menatap jam yang melingkar di tangan nya.


"Ada apa kak?"


Astaga ya ampun aku telat pantas saja Dokter Rini marah. Cicitnya tak mendengar pertanyaan dari Amara. "Dan aku juga belum menelpon Tasya dari kemarin pasti dia merindukan ku." Ucapnya lagi tanpa sadar.


Amara aku pamit dulu ya jangan lupa minum obatmu teratur nanti aku akan menugaskan perawat untuk menjagamu!" setelah selesai berucap Darandra langsung beranjak pergi tanpa mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulut Jelita.


"Dia kenapa dan siapa Tasya itu? dan kenapa Tasya harus merindukan nya jika dia tidak menelpon?" Sekelumit pertanyaan kini memenuhi otaknya. Cemburu kah ia? jelas sudah pasti karena dimana di saat Darandra memberikan perhatian lebih kepadanya di saat itu juga dia menyebut nama wanita asing. Antara kenyataan dan hayalan itulah kini yang di rasa.


"Kenapa aku harus cemburu dan sakit hati, bukankah kak Darandra belum sama sekali mengucapkan perasaannya secara langsung,


tapi jika tak ada rasa suka, tidak mungkin kan ia harus menjagaku dengan penuh perhatian?


apa dia hanya...ah sudahlah aku binggung biar nanti aku tanyakan kalau dia kemari lagi apa maksud dan tujuannya." finisnya kerena tidak ingin prasangka nya kemana-mana.


*


Sementara itu di sebuah rumah sakit, seorang laki-laki yang lengkap dengan jas' putih kebesarannya berjalan dengan tergopoh-gopoh.


"Dokter...! akhirnya Dokter datang juga" Cicit Dokter Rini begitu melihat seluit Dokter tampan berjalan ke arahnya.


"Apa Dokter Arya belum masuk?"


"Belum, mungkin satu minggu lagi karena banyak hal yang mau di urus masalah kepindahannya." Jawab Dokter Rini


"Baiklah Dokter boleh pulang sekarang mana berkasnya?" Dokter Rini pun menyerahkan sebuah file berwarna biru.


"Baiklah aku akan memeriksa apa-apa saja yang tindaka yangDokter lakukan untuk pasien."

__ADS_1


"Kak, Randra!" Baru saja Dokter Darandra ingin membuka file tiba-tiba saja ada suara yang sangat ia kenal memanggilnya.


"Dara, ada apa kalian kemari?" Cicitnya melihat Dara dan Exel melangkah bersama mendekatinya.


"Dokter Rini perkenalkan ini adik kembar saya dan ini ipar sekaligus kakak sepupu saya." Ucap Dokter Darandra memperkenalkan siapa yang datang menemuinya.


"Dara...!"


"Rini...!"


Ucap Dara dan Dokter Rini menyebut nama masing-masing sambil berjabat tangan.


Dan begitu tangannyavingin menjabat tangan Exel, Exel hanya menatap dengan wajah datarnya tanpa ingin menjawab atau ingin menyentuh tangan Dokter Rini, membuat Dara yang berdiri di sampingnya, menjadi kesal dengan sikap Exel yang seperti itu.


"Dokter Rini! ternyata Anda ada disini!" Cicit seorang perawat mendekati.


"Ada apa suster?" tanya Dokter Rini.


"Maaf Dokter Tuan Damara mencari Anda dari tadi, karena istri beliau Nona Jelita sudah sadar." Jelas sang suster memberi keterangan.


Dan apa yang di ucapkan suster itu mampu membuat ketiga orang yang berdiri di samping Dokter Rini terkejut dan saling menatap. Sedang Dokter Rini hanya tersenyum dan mengaguk mendengar kalau istri sahabatnya itu sudah sadar.


"Dokter Rini jangan bilang pasien yang Anda operasi adalah Jelita?"


"Iya Dokter. Kok Anda tau apa Anda mengenalnya?" bukannya menjawab Dokter Darandra langsung membuka file yang di berikan oleh Dokter Rini tadi.


"Brengsek...!" Dokter Darandra segera berlalu begitu saja sambil melemparkan file nya kelantai, Exel pun segera membuka file tersebut, dan rahangnya pun mulai mengerat dengan dua kepalan tangannya Exel pun segera menyusul Darandra dan di susul lagi oleh Dokter Rini yang masih merasa heran.


"Tunggu ada apa ini jelaskan semuanya kepadaku!" teriak Dokter Rini mencegah Dokter Darandra.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi pada Jelita Dokter Cepat!" pekik Darandra dengan nada suara yang naik satu oktaf membuat Dokter Rini bergidik ngeri karena ini baru pertama kalinya ia melihat sahabat sekaligus atasannya itu marah.


Dengan perasaan was-was Dokter Rini akhirnya menceritakan semua kejadian yang menimpa Jelita hingga ia pun harus di operasi untuk menghentikan pendarahannya.


Dara yang mendengarnya hampir terjatuh kalau saja Exel tidak menahan tubuhnya,


"Sayang apa kau tidak apa-apa?" Ciicit Exel khawatir melihat kondisi sang istri.

__ADS_1


"Tidak. aku tidak apa-apa aku hanya ingin bertemu Jelita Kak."


"Dokter di mana ruangan nya?" tanya Exel.


"Kalian ikut aku" ajak Darandra.


*


#Flashback on#


Sementara itu di sebuah ruangan yang luas Jelita yang sudah sadar mendapati Damara tertidur pulas sambil menggenggam tangan nya dalam keadaan duduk. Damara yang a merasakan pergerakan tangan Jelita pun segera membuka matanya.


"Sayang kamu sudah sadar apa ada yang sakit, kamu tunggu aku di sini aku mau memanggil dokter" Damara pun segera berlalu memanggil suster dan mengatakan kalau istrinya sudah sadar dan ingin bertemu Dokter Rini.


Sedangkan Jelita merasa benar-benar bingung dengan panggilan baru yang disematkan Damar padanya.


"Apa sayang...? dia memanggilku sayang hah apa kepalanya kepentok, kenapa dia tiba-tiba merubah panggilannya, apa dia benar-benar berubah, tidak! aku tidak akan termakan oleh kata-kata manisnya, dia pasti akan menghina ku lagi." Gumamnya menguatkan hati.


#Flasbback Of#


"kemana perginya bukankah tadi dia hanya ingin menemui Dokter, dan. Ya ampun aku kenapa apa yang terjadi padaku, ini kan rumah sakit kenapa aku baru nyadar sih."


Gerutunya sambil menepuk jidat saat menyadari kebodohannya.


Ceklek...!


"Kenapa kau lama sekali? aku sudah men_" Jelita menjeda kalimatnya saat menyadari siapa yang datang.


"Kakak...! aku merindukan mu Cicitnya


"Jelita kakak juga merindukanmu sayang" cicit Dara mendekati bangkar Jelita dan segera meluknya.


"Apa kau baik-baik saja dan bagaimana keadaanmu? apa kau hah..." Dara menutup mulutnya menggunakan tangan saat melihat begitu banyak luka lebam di lengan bahkan di sudut bibirnya.


"Ada apa kak? jangan khawatir aku baik-baik saja hanya saja aku merasa di bawah sini masih sakit luar biasa Kak" Adunya pada Dara menunjuk bagian intinya. Sedang Darandra dan Exel hanya menyimak interaksi kedua orang yang di sayang dengan raut wajah yang susah untuk diterjemahkan, sedangkan kedua tangan Exel masih mengepal dengan kuat, menahan emosi yang ingin meledak melihat adiknya di perlakukan seperti itu. Dokter Rini sendiri bergidik ngeri berada di ruangan tersebut.


"Biarakan Aku memeriksa Anda dulu Nona!" sela Dokter rini mendekati bangkar Jelita.

__ADS_1


"Sayang...! aku dat_"


__ADS_2