Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Namanya Bara.


__ADS_3

"Anak itu kenapa Jelita?" Renata segera bangkit dari tidurnya menatap Jelita dengan tatapan gelisah saat Jelita menjeda kalimatnya.


"Anak itu dirawat di rumah sakit ini Ren." Ucap Jelita pelan, dan Jelita mulai menceritakan apa yang dilihat dan di dengar nya tanpa mengurangi dan melebihkan.


"Bawa aku kesana Jelita! bawa aku untuk menemui Anakku." Renata kembali menatap Jelita yang kembali diam nampak ragu-ragu.


"Apa kau mendengar ku Jelita!" sentaknya membuat Jelita sadar dari lamunannya.


"Tap-Tapi Ren, kamu_" lagi-lagi Jelita menjeda kalimatnya.


"Aku kenapa?"


"Kata suster kamu habis minum obat penenang. aku takut kamu_"


"Aku tidak apa-apa aku tidak akan tertidur." Ucapannya menjeda kalimat Jelita.


"Baiklah ayo aku akan menemanimu apa pun yang terjadi" timpalnya meraih tangan Renata dan menggenggam nya, mereka pun saling melempar tatapan lalu kemeduian tersenyum.


"Ayo..." ngguk Renata.


Tak...tak..tak...


Suara derap langkah kaki kedua wanita cantik itu terdengar begitu menghentak di atas lantai keramik Rumah sakit tersebut.


"Tidak...Dokter...selamatkan cucuku aku mohon...selamatkan cucuku, hu...hu...hu..."


Suara teriakan dan ratapan tangis pilu Ibu Sofia membuat langkah keduanya memelan.


Jelita dan Renata saling menatap dengan perasaan yang berdebar-debar.


"Ren...!" Jelita menggenggam kuat tangan Renata yang sudah mulai bergetar, dan berkeringat dingin sedang wajahnya kini mulai pucat dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


Renata pun segera bergegas mendekati Ibu Sofia.


"Ibu...!" serunya pelan menyentuh pundak wanita baya yang bergetar, karena sedang menangis itu. Bu Sofia memang belum menyadari kehadiran Renata, karena masih dalam keadaan membelakanginya.


Bu Sofia menyandarkan kepalanya pada dinding Rumah sakit. Ia menangisi apa yang baru saja dokter sampaikan padanya mengenai cucu semata wayang nya itu.


"Bu...katakan padaku ada apa sebenarnya yang terjadi?" Bu Sofia membalikkan badan dan begitu melihat Renata la langsung memeluknya karena sudah tak tahan lagi menahan kesedihan nya yang mendalam.


"Kamu pasti Renata menantuku itu kan?" Tanya bu Sofia. masih memeluk Renata sedang Renata hanya menggangguk. Sebagai Jawaban.

__ADS_1


"Maafkan lbu tua ini Nak, karena terlambat mengetahuinya,"


"Sudah Bu, tidak apa-apa yang penting sekarang bagaimana keadaan_" Renata menjeda kalimatnya karena di saat ingin menyebutkan nama sang Putra la tidak tau lupa menanyakan namanya.


"Nama nya Bara," Sela Bu Sofia. Menatap lembut pada menantunya.


"lya bagaimana keadaan Bara Bu?"


"Dokter bilang Bara, butuh transfusi darah tapi Stok di rumah sakit habis bahkan Tim Dokter sudah berusaha untuk mencari dan waktunya hanya 30 menit lagi."


"Apa waktu nya secepat itu?" Jelita pun tak kalah kaget nya seperti Renata.


"Katakan padaku golongan darahnya Bu!" Ujar Renata panik.


"O, golongan darahnya O, nak."


"Mana Dokter? Dokter…Dokter…Ambil darahku Dokter karena darah ku O+ sekarang selamatkan Anakku aku mohon dokter selamatkan dia!" Renata benar-benar merasa panik, karena ntah sejak kapan rasa ke ibuannya itu tumbuh di hatinya, tapi yang jelas la juga pernah merasa kehilangan anak yang belum sempat dapat Ia peluk.


"Nona Anda sedang dalam pemulihan Anda bisa drop nantinya" Sahut Dokter David.


"Aku tidak peduli dokter yang penting Anakku bisa Sembuh, dan berjanjilah apa pun yang terjadi padaku selamatkan Anakku!" Cicitnya penuh harap.


"Dokter! apa Anda mendengar ku!" Seru Renata pada sang Dokter yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ah...ya!" Dokter David yang terkejut merasa malu, karena ketahuan melamun.


"Bagaimana Dokter apakah Anda bisa menolong anak saya?"


"Tentu saja mari kita lakukan pengecekan darah terlebih dahulu, karena kita sudah tidak punya banyak waktu lagi." Dokter David pun segera menghubungi timnya untuk melakukan pengecekan.


"Bu…lbu yang tenang saja, aku yakin Bara anak yang kuat tapi berjanjilah Bu, jangan katakan apa pun pada Mas, Baron."


"Baiklah Nak lbu tidak akan mengatakannya." Ucapannya dengan berat hati.


"Terima kasih Bu, Renata kembali memeluk ibu mertuanya itu.


"Aku titip lbu sama kalian" ucapannya melirik ke arah Jelita dan Amara.


"Amara maafkan Kakak yang sudah membuat mu celaka, bahkan ketika kamu berada di Rumah sakit pun Kakak tidak pernah, menjengukmu." Ujarnya penuh sesal.


"Tidak apa-apa Kak. Semuanya sudah berlalu jadi lupakanlah yang penting. Sekarang aku sudah baik-baik saja, dan kakak sudah menjadi orang yang jauh lebih baik lagi."

__ADS_1


"Terima kasih atas kebaikan kalian semua." Renata memeluk Jelita dan Amara dengan perasaan bahagia karena kedua orang yang pernah ia sakiti ternyata dengan besar hati memaafkan kesalahannya dan dia pun akan berjanji akan menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Aku pergi dulu ya!"


"Iya sayang kami di sini berdoa untukmu Ibu juga akan selalu mendoakanmu nak" ucap Bu Sofia dengan mata yang berkaca-kaca, melepas kepergian Renata. Dia tak menyangka momen awal pertemuannya dengan sang menantu akan seperti ini.


"Bu ayo kita duduk, Ibu jangan khawatir lnsya Allah semua akan baik-balik saja."


"Aamiin semoga aja Nak, lbu juga berharap seperti itu." Jelita pun merangkul lbu Sofia dan mengajaknya duduk di tempat semula. Sesekali la akan melirik Baby Ar, yang masih tertidur pulas meski keributan terjadi.


:


Dan setelah menunggu selama kurang lebih satu setengah jam akhirnya Dokter David pun keluar menghampiri.


"Bagaimana Dokter cucu dan menantu saya?"


Begitu Dokter David keluar Bu, Sofia bangkit dari duduknya menghampiri Dokter tampan tersebut dengan perasaan harap-harap cemas serta menghadiahi nya pertanyaan.


Nampak Dokter David menarik nafas panjang karena apa yang akan di sampaikan seperti nya sesuatu yang tidak di ingin kan.


"Maaf semuanya mungkin kalian sudah menunggu lama," Dokter David pun memulai percakapan.


"Begini Bu Cucu lbu sudah baik-baik saja, tapi_"


"Tapi apa? Dokter," Sela Bu Sofia mulai merasa cemas.


"Nona Renata kolaps lagi Bu."


"Tidak mungkin Dokter! ini tidak mungkin"


"Saya sudah menduga kalau ini akan terjadi kepada pasien, sekarang kita akan fokus lagi merawatnya dari awal Ibu jangan khawatir.


Rasa cinta dan kasih sayang kalian yang akan membuatnya pulih dengan cepat."


"Benarkah itu dokter?" Dokter David hanya mengangguk tanda mengiakan. Dan apa boleh saya menemuinya Dok?"


"Untuk saat ini sebaiknya jangan dulu Bu, biarkan pasien benar-benar istirahat, tapi Ibu boleh kok menemui cucu lbu. Karena mungkin sebentar lagi ia akan sadar."


"Baiklah Dokter"


"Ibu…Bara...!"

__ADS_1


__ADS_2