Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Lintah


__ADS_3

"Kau...! ya ampun Amara kau membuat ku kaget saja." cicit Jelita sambil menarik nafas dengan kasar. Sedang Amara hanya nyengir kuda, dan merasa bersalah.


"Maafkan aku kakak ipar ku yang cantik dan baik hati, tapi sekarang buka matamu lebar-lebar dan lihatlah sekarang sudah jam berapa dan yah...lupa itu iler di lap dulu bau. Hehehe,"


"Kau!...ah sudahlah aku tidak jadi marah padamu meski awalnya kau memujiku dan pada akhirnya kau menjatuhkan ku kedalam jurang." Ucap nya sambil melihat jam yang menggantung di dinding.


"Aaaa....Amara! sudah pukul 09:00 kenapa tidak ada yang membangunkan ku Anakku?"


"Jangan kawatir Baby Boy sudah tidur sekarang karena ia terbangun saat subuh tadi."


"Lalu suamiku kenapa dia tidak pamit pergi?"


"Kak Damara, kau jangan mencarinya. Karena kakak keluar kota dengan Kak Exel. Kakak tidak mau membangun kan, mu karena dia tau kau butuh istirahat, bahkan dia melarangku untuk mengganggumu dia bilang kau masih capek,"


"Owh...kalau begitu aku mau mandi dulu tolong ambilkan aku handuk yang di lemari itu yang paling bawah.!" Amara pun mengikuti apa yang iparnya perintahkan. Kemudian Ia pun memberikan handuk yang sudah di ambil nya pada Jelita, Jelita pun meraih handuk dari ditangan Amara lalu memakainya untuk menutup tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun itu.


"Aaaa Kakak...!" Teriak Amara tiba-tiba membuat Jelita menatapnya dengan tatapan terkejut.


"Ada apa lagi Amara!?" kesal Jelita karena sudah dua kali la di buat terkejut.


"I-itu..." tunjuk Amara ke arah Jelita,


"Apaan sih Am?" Namun seketika Jelita terdiam saat melihat seluruh tubuhnya penuh dengan tanda merah, bekas perbuatan suaminya semalam, Jelita pun merasa tak enak hati.


"Ck, aku kira apaan. Suatu saat kau juga akan mendapatkannya jika kamu sudah menikah, ini adalah gigitan lintah ranjang." Ucap Jelita santai padahal ia sendiri merutuki kebodohannya kenapa sampai Amara melihat semua tanda merah di tubuhnya itu.


"Lin-lintah ranjang? apa ada lintah diatas ranjang?" tanya Amara bingung.


"Ya tentu saja ada bahkan lebih berbahaya dari pada lintah yang ada di dalam air. Sudahlah! kau pasti tidak akan mengerti, karena kau kan belum menikah" ucapnya sambil tersenyum karena berhasil membuat adik iparnya itu binggung.


"Aku mau mandi dulu, dan tolong jaga Baby Ar, untukku!" seru Jelita sambil berlalu meninggalkan Amara yang masih binggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Amara melempar pandangannya ke seluruh tempat tidur Kakak nya itu.


"Kalau ada lintahnya pasti masih ada di sekitaran sini, aku penasaran penampakannya seperti apa" Gumamnya pada diri sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Kakak…!" teriak Amara begitu kencang. Saat melihat Kakak Iparnya itu keluar dari Bhatroom.


"Ya ampuuuun ada apa lagi sih Am! kenapa kau suka sekali membuatku jantungan! atau apa kau sengaja membuatku jantungan karena kalau aku mati Damar bisa menikah kagi?"


"Apa sudah selesai?"


"Maksud kamu?"


"Itu ngomel-ngomel nya" jawab Amara.


"Oh…iya sudah" ucap nya tanpa sadar.


"Baiklah sekarang Aku yang mau komplain sama Kakak, kenapa Kakak mengatakan kalau di sini ada lintahnya?"


"Astaga ya ampun, Am masalah itu lagi? aku kira apaan." Jelita hanya bisa menggelengkan kepala, karena ia pikir Amara sudah pergi dari kamarnya, tapi malah gadis itu menunggunya dengan rasa penasarannya.


"Kakak bohong kan, masalah lintah itu buktinya aku sudah memeriksa seluruh tempat tidur namun lintahnya tak ada biar sebiji." Jelas Amara.


"Ya ampun Am...sampai segitu nya." Jelita menautkan alisnya, rasa-rasanya la ingin tertawa melihat sisi polos adik iparnya itu.


"Am...lintantah itu akan muncul jika kau tidur malam hari dengan pasanganmu!" terang Jelita membuat Amara semakin binggung.


"Tidak! lebih baik aku pergi melihat Baby Ar," cicit nya. Lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut. Setelah melihat Amara benar-benar keluar sontak saja Jelita mengeluarkan tawa yang di tahannya dari tadi. Sampai-Sampai ia memegangi perutnya.


Hingga suara telepon, menghentikan tawanya.


"Ada apa? baiklah aku akan segera kesana, berikan alamatnya padaku."


Ting.


Satu pesan masuk ke teleponnya.


Jelita pun segera mempersiapkan diri untuk segara bergegas menuju alamat yang di terimanya.


"Amara…Amara…! kamu dimana Am?" seru Jelita Memanggil nama Amara.


"Iya kakak ipar. Ada apa?" sahut Amara yang tengah asik bermain dengan Baby Ar,

__ADS_1


"apa hari ini kau sedang sibuk?"


"Tidak Kak, Memangnya ada apa?"


"Kebetulan sekali. Apakah boleh aku minta bantuanmu, temani aku pergi ke suatu tempat karena aku tidak mau Damara nanti berpikir macam-macam, kalau kau ikut kan bisa dijelaskan permasalahannya."


"Baiklah Kak, kalau begitu aku akan menemani mu, lagi pula kau akan kesulitan karena jika Baby Ar, ikut denganmu.


"Terima kasih karena kau sudah sangat peduli denganku."


"Sama-sama Kak, karena kau adalah Kakak perempuanku satu-satu nya" Balas Amara sambil tersenyum melirik ke arah Jelita.


"Ya sudah yuk kita berangkat," ajak Jelita sambil menggangguk. Dan di balas anggukan juga oleh Amara. Setelah 30 menit naik mobil, akhirnya mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju.


"Kak Apa benar ini alamatnya apa kita tidak salah?" tanya Amara sambil melihat ke sebuah Rumah besar yang ada di depan mereka.


"Tunggu dulu! aku lihat sebentar." Ujar Jelita sambil melihat-lihat sekelilingnya dengan seksama dari dalam mobil.


"Sepertinya bener kok Am, ini alamatnya." "Terus rumahnya yang mana?"


"Sepertinya yang besar itu dia Am,"


"Oke Kak aku coba turun cek dulu ya! Kakak di sini aja. Tunggu aku di mobil!" Jelita pun mengangguk Ia hanya bisa melihat kepergian Amara dari dalam mobil. Tak lama kemudian Amara datang menghampiri Jelita yang berada di dalam mobil.


"Bagaimana Am,?"


"Benar kak, itu rumahnya aku sudah bertanya sama satpam yang bertugas di depan."


"Oke bagus kalau begitu ayo kita pergi tapi tunggu dulu Am,! itu ada apa?" Jelita melihat seorang ibu yang menangis Histeris dengan menggendong seorang balita yang kemungkinan sudah berusia Kurang lebih 3 tahun bersama seorang lelaki berbaju hitam, kemungkinan juga adalah sopir nya.


"lkuti mobil itu Am,"


"Kakak yakin akan mengikutinya?"


"Iya Kakak yakin cepat ikuti ke mana mereka!" "Baiklah Kak, Kak sepertinya mereka mau ke rumah sakit."


"Iya aku sempat juga berfikir seperti itu karena sepertinya terjadi sesuatu dengan anak lelaki itu. Ayo cepat kita turun! Aku titip baby Ar sama kamu ya!"

__ADS_1


"Oke Kak!" Jelita dan Amara pun bergegas turun dari mobil tiba di depan IGD Rumah Sakit tersebut.


__ADS_2