Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Jangan Salahkan Aku.


__ADS_3

Darandra tidak menghiraukan teriakan dan cacian yang di lontar kan Amara ia terus menyeret tubuh Amara masuk ke kamar pribadi miliknya yang memang khusus untuk ia istirahat dan kamar tersebut berdekatan dengan ruang kerjanya.


Brugh.


Darandra membanting dengan kasar tubuh Amara di tempat tidur lalu menindihnya. Membuat Amara sangat ketakutan, ia berusaha terus memberontak namun kekuatan nya tak mampu menandingi tenaga yang di miliki Darandra.


"Jangan salah kan aku jika aku akan melakukan hal ini padamu!" Darandra menarik pakaian yang di pakai Amara hingga membuat pakaian itu sobek di bagian pundaknya hingga tali dres yang Amara pake terlepas dan menampakkan tonjolan bagian depan dadanya. Amara berusaha memberontak menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan, membuat Darandra mengunci ke dua tangan Amara di atas kepala lalu menghimpit tubuh Amara. Amara yang terus bergerak dan berusaha untuk memberontak melepaskan diri, namun malah membuat sesuatu milik Darandra di bawah sana menegang, dan Amara merasakan itu membuatnya semakin bergetar ketakutan.


"Kakak aku mohon jangan lakukan ini." Namun nihil Darandra yang terbakar emosi dan hasratnya kini membuka mengait Bra yang di pakai Amara lalu membuangnya ke segala arah.


"Apa ini yang kau inginkan dariku, kau mengatakan kau sangat mencintaiku kan? maka aku akan memberikan diriku untukmu dan kau akan memberikan dirimu untukku!"


Setelah berucap Darandra dengan rakus menyecap dua gundukan yang selalu membuatnya candu itu, yah tidak di pungkiri kedekatan nya selama tiga bulan ini membuatnya pernah merasakan bagian tubuh Amara walau hanya sekedar menyentuh dan melu..mat tak lebih dari itu.


Itu pun ia lakukan atas izin dari Amara juga namun ia tak pernah ingin melewati batasannya untuk menyentuhnya lebih jauh, karena baginya ada hati yang harus ia jaga yaitu orang yang sangat di cintainya.


Darandra terus saja mengecap dan menggerayangi tubuh Amara dengan brutal membuat Amara terkadang meringis akibat ulah Darandra. Dan Entah sejak kapan Darandra menurunkan segi tiga pembungkus di bawahnya itu hingga membuatnya polos seperti bayi.


Mata Amara membulat saat melihat sesuatu yang sudah menegang seperti pisang ambon itu. Darandra bangkit hendak melakukan penyatuannya dan kesempatan itu tidak di sia-saikan Amara dengan sekuat tenaga ia menendang milik Darandra.


"Damn... Amara kau aahk..!" Darandra mengumpat dan meringis kesakitan akibat sang Juniornya yang ia rasa seperti patah akibat tendangan kaki Amara.


Amara dengan cepat memunguti semua pakaiannya yang berserakan di lantai lalu segera memakainya dengan mata yang sembab dan tubuh agak terasa perih akibat gigitan Kasar Darandra Amara melangkah keluar meninggalkan Darandra yang masih terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan. Namun ketika tangannya menggapai Handle pintu' Amara berhenti tanpa menoleh.


"Dengarkan aku Dokter Darandra mulai saat ini dan seterusnya aku tidak akan pernah ingin mengejar cintamu lagi dan mulai saat ini cinta itu sudah mati untukmu aku akan hidup dengan terus membencimu!"


Deg.

__ADS_1


"Amara maafkan aku" lirihnya menatap nanar kepergian Amara.


"Brengsek...! aaaaagh Amara maafkan aku, tidak bukan kah ini yang aku inginkan membuatnya pergi sejauh mungkin agar dia tidak menganggu ku lagi" tes ada bulir bening jatuh dari pelupuk matanya, ada nyeri terasa di lubuk hatinya yang paling dalam.


Sedangkan Amara pun segera berlari menyusuri lorong rumah sakit tanpa memperdulikan orang-orang, yang menatapnya dengan tatapan aneh.


Amara terus saja berlari tanpa memakai sendal, hatinya yang begitu hancur dan sakit dengan apa yang baru saja Darandra lakukan padanya.


"Aku membencimu aku membencimu!" tangisnya sesenggukan tanpa ingin menoleh kiri kanan hingga sebuah mobil mewah tiba-tiba saja melintas di depannya.


Brugh.


"Aaaaaaa...!"


Sriiiiiiiiieeeeet sreeeeet bruuuug dummmm.


mobil mewah itu berhasil menyerempet tubuh Amara, membuat Amara sedikit berguling-guling sebelum kepalanya membentur trotoar jalan.


"Tuan wanita itu yang muncul tiba-tiba di depan mobil kita." Jelas Boy,


"Cepat turun lihat wanita itu masih hidup atau sudah meninggal karena aku tidak mau kita bermasalah!" Perintah sang tuan.


"Baiklah Tuan!" Jawab Boy dan bergegas turun mendekati tubuh Amara yang masih tengkurap dengan baju yang terlihat berantakan dan rambut acak-acakan.


Boy segera membalikkan tubuh Amara dengan tangan yang bergetar ia takut kalau sampai wanita di depan nya itu benar-benar sudah meninggal.


"Bagaimana apa dia masih hidup?"

__ADS_1


"Tut-Tuan Danu saya juga tidak tau saya belum tau dengan jelas Tuan" ucap Boy sambil tergagap.


"Sekarang menyingkirlah biar aku yang memeriksanya" dan benar saja dan segera ia mengambil alih untuk memeriksa Apakah wanita yang ditabraknya itu masih hidup ataukah sudah meninggal.


Namun baru saja ia hendak memeriksanya tiba-tiba matanya menatap wajah wanita yang ada di depannya itu dan betapa terkejutnya ia melihat siapa sebenarnya wanita yang di depannya itu.


"Amara! bangun Amara! cepat buka pintunya dia adalah Amara, cepat kita akan segera membawanya ke rumah sakit. Tapi tunggu dulu sebaiknya kita bawa dan Apartemen ku dan panggilkan dokter pribadi untuk memeriksanya!" Danu pun segera mengangkat tubuh Amara dan membawanya masuk ke dalam mobilnya Boy pun segera melajukan mobil menuju tempat yag dipinta Danu.


*


*


*


Satu bulan berlalu semenjak kejadian itu Amara benar-benar trauma untuk kekampus saja ia tidak mau ia lebih banyak mengurung diri di kamar, dan itu membuat kakak dan kakak iparnya heran, Amara menutup rapat, kejadian hari itu dengan tidak memberitahukan siapapun termasuk Danu yang menolongnya pada saat itu.


la hanya mengatakan bahwa ada seorang preman yang berusaha untuk menculiknya. la tidak ingin masalahnya akan panjang yang akan mengakibatkan ia akan bertemu kembali dengan Darandra. Dan semenjak itu juga Danu selalu dekat dengannya, bahkan Damara pun sempat bertemu dengan Danu Sanjaya yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri.


"Amara...Amara! Siti apa kau melihat Amara?" tanya Jelita begitu melihat Siti melintas,


"Sepertinya tadi saya melihatnya, bersama Tuan ke taman belakang" Ucap Siti memberi keterangan.


"Baiklah terima kasih aku akan kebelakang" timpal Jelita.


"Apa yang mereka lakukan malam-malam bigini di taman belakang ini kan sudah hampir jam 24 am."


Gumam Jelita sambil terus berjalan menyusuri taman. Namun tiba-tiba bulu kuduknya merinding saat melihat sekeliling nya gelap gulita.

__ADS_1


"Kenapa gelap sekali Siti bilang mereka di sini" Gumamnya memilih berbalik pergi Namun baru saja ia hendak melangkah tiba-tiba ia di kelilingi lampu lilin yang menyala otomatis yang berbentuk Love dan Jelita berada di tengah-tengah nya.


"Sayang apa kamu suka kejutannya.?" Ucap Damara yang entah darimana datangnya dan tiba-tiba memeluknya dari belakang.


__ADS_2