
Bukan Anggun dan Sonya yang berbicara tapi Rafa. Membuat semua orang di tempat itu melongo.
"Tapi Dad, aku tidak bisa jauh dari Dara!" keluhnya.
"Kau bilang tak bisa jauh, buktinya sekarang kau meninggal kannya sendiri. Sudahlah Daddy tak ingin mendengar alasanmu!" Dan benar saja sambungan telpon itu langsung di putuskan sepihak oleh Rafa.
"Jangan ada yang berani mengangkatnya jika dia menelpon. Matikan semua telepon kalian aku ingin memberi pelajaran buatnya anak ini" kesal Rafa, semuanya pun hanya mengangguk setuju.
"Dara masuklah tidur Nak. Ini sudah malam tidak baik untuk kesehatan mu Bunda juga lihat kamu begitu pucat apa kamu lagi sakit?"
"Tit_tidak Bun, aku baik-baik saja. Mungkin benar apa yang di katakan Bunda aku harus cepat tidur untuk istirahat selamat malam semuanya" setelah mengucapkan selamat malam Dara pun memilih untuk segera naik di lantai dua dan Ia pun memilih untuk tidur di kamar Baby Ken, karena ntah kenapa ia sangat merindukan suaminya itu dan dia pun belum ingin memberi tahukan tentang kehamilannya itu pada seluruh keluarga nya sebelum suaminya tahu.
"Ada apa sayang?" tegur Rafa yang melihat Istrinya terus memperhatikan kepergian Dara.
"Tidak ada apa-apa hanya saja kenapa aku merasa Dara menyembunyikan sesuatu dari kita dia sepertinya sangat sensitip sekali tidak seperti biasanya.
"Itu mungkin hanya perasaan mu saja sayang"
"Tidak Mas, aku ini ibu nya jadi aku bisa tau kalau Dara sedang hamil karena aku pernah mengalaminya."
"Apa hamil...?" Sontak semua orang di buat terkejut oleh pernyataan Anggun tersebut. Dan kini semua mata pun tertuju padanya.
Membuatnya bergidik ngeri.
"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu!" protes Anggun.
"Apa tandanya kalau Dara sedang hamil?" Tanya mereka penasaran.
"Apa kalian tidak lihat Dara itu anak yang kuat tetapi kenapa dia berubah melow dan sensitif? apa Kenan tau semua ini ya?"
"Kalau dia tau tidak mungkin dia tega meninggal kan istrinya pergi ke luar negri dengan wanita lain."
Deg.
"Apa! kau bilang Kenan ke luar Negri dengan wanita lain? dari mana kau mengetahui semuanya?" tanya Anggun yang terkejut dan penasaran dengan perkataan Sonya itu.
__ADS_1
"Aku Mommy nya jadi aku tahu dia itu kemana dan kenapa. Kamu ingat Bi Nany kan sayang? Sonya bendelik menatap suaminya dan hanya di jawab anggukan Oleh Bram.
"Bi Nany yang mengasuh Exel, jadi dia juga ikut tinggal di apartemennya saat ini. Jadi dialah yang memberi laporan untuk ku." Semua mata kini berbalik menatap Sonya.
"Lalu apa Bi Nany memberi tahukan mu kalau Dara Hamil?" tanya Anggun penasaran.
Sonya yang di tanya hanya terdiam sesaat kemudian menggeleng.
"Hah..." Anggun menarik nafas kecewa.
"Sudah sayang jangan seperti ini ayo kita semua istirahat kasian juga kan Sonya dia juga sedang hamil!" Seru Rafa lalu mereka semua pun beranjak hendak pergi namun masing-masing telepon mereka bergetar secara bersamaan mendapatkan satu notifikasi.
"Exel...!" ucap mereka serempak mereka pun saling memandang lalu mereka sama-sama membuka pesan itu dan membacanya secara bersamaan.
["Jaga istri dan cucu kalian sampai aku pulang aku mohon, aku akan menjelas kan apa yang terjadi setelah aku kembali."]
Sedangkan di handphone Jelita sendiri Exel berpesan.["Jaga Kakak ipar dan keponakan mu dengan baik. Kakak sayang kamu."]
"Kakak ku yang bodoh tanpa kau menyuruh ku pun aku selalu menjaga Kakak ku dan calon keponakan ku." Cicit Jelita sambil berkaca-kaca karena ini kali pertamanya ia mendengar Kakaknya mengatakan sayang padanya.
Sedang Anggun, Rafa, Sonya, dan juga Bram mereka semua saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca dan saling mengucap kan selamat karena mereka semua akan menjadi Kakek dan nenek.
Balas Rafa ada perasaan hangat di hatinya karena ini kali pertamanya ia saling mengirim pesan dengan putranya yang telah lama terpisah. Ia menghampiri Anggun dan meraih tangannya lalu mengecupnya dengan penuh cinta.
"Apa kau bahagia sekarang?"
"Pertanyaan bodoh macam apa ini? tentu saja aku bahagia sangat-sangat bahagia" cicit Anggun lalu memeluk erat suaminya itu. Jelita yang melihat pun mendekati Bunda dan Daddy nya lalu ikut masuk dalam pelukan kedua orangtua nya sedang Bram merangkul istrinya yang masih merasa terharu itu. Setelah puas peluk-pelukan dan haru-haruan mereka pun bergegas masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Sonya dan Bram memilih bermalam hingga Exel benar-benar kembali.
Sementara itu Dara yang memilih tidur di Kamar baby Ken hingga kini belum bisa memejamkan matanya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4:30
"Dari pada aku tidak bisa tidur lebih baik aku bangun Sholat subuh." Gumamnya lalu bangkit masuk kedalam Bhatroom untuk mengambil wudhu. Setelah Sholat selesai tak lupa juga dia berdoa memohon kepada sang pemilik raga. Sedang asyik melipat perlengkapan ibadahnya tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Kruk...kruk...kruk!
Dara pun langsung mengusap perutnya yang masih Rata.
__ADS_1
"Apa kamu lapar sayang ayo kita ke dapur cari makanan yang bisa di makan." cicitnya lalu melangkah hati-hati menuruni anak tangga.
"Aroma apa ini kenapa aku merasa tambah lapar. Dan siapa juga yang bangun memasak sepagi ini langkah kaki penasaran nya membawanya masuk di dapur.
"Bunda, Mommy! rupanya kalian kenapa kalian masak sepagi ini?"
"Sayang apa kau lupa Mommy mu berbadan dua jadi dia merasa lapar jadi Bunda bikinin makanan yang di pengen kan dedek bayi nasi goreng spesial pake Ayam sama telor" ujar Anggun panjang lebar tanpa titik koma.
"Bun, boleh Dara minta sedikit Dara juga laper" cicitnya malu-malu.
"Tapi ini ada Ayam nya sayang..." sahut Anggun yang tau kalau putrinya pobia sama Ayam.
"Justru karena ada Ayamnya Bun, makanya Dara ingin." Ucapnya membuat Anggun tertegun.
"Boleh ya Bun,!" cicitnya kembali membuyar kan Anggun.
"Boleh dong Sayang Bunda juga bikinnya banyak kok, sekalian buat sarapan!" jelas Anggun.
"Papi sama Daddy kemana kok tidak kelihatan?"
"Papi sama Daddy ada kok di masjid untuk solat subuh." Terang Sonya.
"Ayo di makan semuanya sudah siap kok malah ngobrol nanti keburu dingin." celetuk Anggun.
"Terima kasih Bunda" Ucap Dara.
"Terima kasih Kak Anggun" timpal Sonya.
Sedangkan Anggun hanya tersenyum penuh cinta menatap kedua orang yang tengah berbadan dua itu begitu lahap menyantap makanan yang tersaji di depannya itu.
"Uhuk...uhuk...uhuk...!"
"Dara sayang pelan-pelan tidak akan ada yang mengambil makananmu!" omel Anggun sambil menyodorkan air minum lalu mengelus lembut belakang Dara.
"Bunda aku sudah kenyang aku naik ke atas dulu aku mengantuk semalam tak bisa tidur" adunya manja.
__ADS_1
"Apa kamu merindukan Kenan e- maksud Bunda Exel?"
Dara tidak menjawab dia hanya mengangguk dengan cepat ntah kenapa Anggun merasa Dara berubah manja dan polos, padahal dia anak yang mandiri dan sangat pandai mungkin ini bawaan bayi fikirnya. Namun ia juga masih heran kenapa ia tak jujur tentang kehamilannya.