
Jelita mencengkram dengan kuat punggung Damara bahkan kukunya sudah tertancap sempurna, sedang Damara tercekat, merasakan dirinya begitu susah untuk menembus kepemilikan Jelita, Namun karena hasrat dan emosinya memaksanya terus dan terus memberikan tekanan hingga pada akhirnya ia pun berhasil bersama Jeritan pilu Jelita, bahkan ia menggigit bahu Damara saat sesuatu yang keras menghujam kepemilikan nya semakin dalam.
Jelita terus menjerit menahan sakit, di area sel4ngk4ngannya yang terus di pompa keluar masuk secara kasar oleh Damara.
Hingga suara isakan dan tangisannya hilang tak terdengar oleh Damara, bahkan laki-laki itu terus melakukan aksinya hingga pada akhirnya ia melakukan pelepasannya.
"Jika kau ingin bebas kau harus mengandung anakku, maka aku akan melepaskanmu jika anak itu sudah terlahir." Bisiknya di telinga Jelita yang sudah nampak tidak berdaya itu. Sebenarnya ada rasa bangga tersendiri karena mendapatkan Jelita dalam ke adaan masih suci. Namun ia menutup semua itu, dengan rasa kebenciannya,
Sudah beberapa kali ia mengulangi penyatuannya, karena entah mengapa ia merasa semua yang ada pada diri Jelita membuatnya candu. Damara terus melakukan pelepasannya di dalam sana ia ingin membuktikan pada Jelita bahwa dia jauh lebih kuat.
Sedangkan Jelita kini benar-benar sudah tidak bersuara, bahkan isak tangisnya sudah tak dapat di dengar lagi.
"Bagaimana apa kau sudah merasakan kekuatanku sekarang ini?" bisiknya kembali penuh penekanan saat mengakhiri permainannya. Namun tidak
ada pergerakan sama sekali, dari jelita. Membuat Damara menatap intens Jelita yang sudah memejamkan matanya itu. Dan dengan perasaan gelisah ia pun menguncang tubuh polos Jelita.
"Jelita-Jelita...! bangun kamu jangan membodohiku lagi dengan pura-pura menutup matamu. Lihat aku kalau tidak aku akan menghukummu lebih parah lagi!" Sarkas nya memberikan ancaman. Namun sia-sia saja Jelita tetap tidak bergerak.
Deg...
"Apa dia...tidak dia tidak boleh mati dia masih punya hutang yang belum di lunasi." Ucapnya dengan suara bergetar.
Dengan perasaan cemasnya ia pun segera menelpon seseorang.
"Datanglah ke villa!" perintahnya lalu menutup panggilannya.
Damara kembali menatap wajah Pucat Jelita dan tubuhnya tiba-tiba bergetar seperti orang kedinginan. Damara segera mendekat dan menyentuh tubuhnya.
"Kenapa tubuhnya panas sekali dan kakinya dingin seperti es?" Gumamnya saat menyentuh tubuh dan kaki Jelita. Ia pun merah selimut dan segera menutupi tubuh polos Jelita.
"Jelita...Jelita...! apa kau mendengarku!" tetap saja tidak ada jawaban hingga tubuh itu terkulai kembali tanpa bergerak.
__ADS_1
"Jelita...! kau jangan menakutiku Jelita!" cicitnya.
Drt drt drt...
"Siapa lagi yang menelpon ku sudah tengah malam, seperti ini?" Damara meraih gawainya dan melihat nomor yang masuk.
"Dari rumah." Lirihnya lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Halo...Tuan saya Siti ingin memberikan laporan Tuan." Ucap suara Siti yang cempreng dari seberang telepon.
"Ada apa Siti?" tanya Damara karena ini kali pertamanya ART nya itu berani menghubunginya tengah malam pasti ada sesuatu.
"Tuan sungguh saya tidak bisa tidur." tuturnya membuat Damara mengerutkan keningnya.
"Maksud mu, kamu tidak bisa tidur makanya kamu menelponku ada-ada saja kamu. Sudah Aku mau istirahat!" kesal Damara.
"Tapi ini tentang Jelita Tuan." Timpal Siti cepat sebelum Tuannya itu menutup telepon. Dan benar saja perkataan Siti membuat Damara mengurungkan niatnya untuk mematikan telponnya.
"Tapi Tuan harus janji tidak akan menghukum Jelita." Pinta Siti membuat Damara kesal.
"Kamu sudah beraninya bernego dengan ku apa sebenarnya terjadi cepat katan!" sarkasnya membuat Siti bergetar ketakutan.
"It-itu Tuan Jelita ternya seharian ini ada di kamarnya dia tidak keluar kemana-mana.
Dan tadi dia pamit izin mau ke apotek terdekat, kerena ia merasa sedikit pusing dan saya juga melihat dia begitu pucat Tuan, saya takut dia kenapa-kenapa karena sampai sekarang dia belum pulang,
Tadi. Sebelum pergi dia sempat menelpon Tuan untuk pamit, tapi Tuan tak menjawab, dan dia pun menyuruh saya untuk memberi taukannya ke Tuan, kalau Tuan pulang tapi Tuan juga belum pulang hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi Tuan karena saya takut Jelita pingsan di jalan atau kenapa-napa Tuan." Adunya panjang kali lebar, dengan suara gelisah.
Sedang kan Damara yang mendengar seluruh pengaduan Siti, hampir saja menjatuhkan telponnya dia betul-betul bagai di sambar petir mendengar semua informasi tentang Jelita yang sebenarnya. Ia memeriksa gawainya dan benar ada 5 panggilan tidak terjawab. Dan flashback teriakan Jhony terputar di memori otaknya.
"Hei istrimu sedang sakit kau harus membawanya kerumah sakit!"
__ADS_1
"Damn...it! kenapa aku bodoh sekali tidak bertanya baik-baik, bahkan aku menyiksanya tanpa ampun suami macam apa aku. Bodoh kau Damara, bodoh hanya karena dendam dan egomu kau melakukan ini raaaagh." Damara berteriak merutuki kebodohannya.
"Jelita-Jelita bangun sayang maafkan aku, maafkan aku, aku mohon buka matamu sayang! buka matamu Jelita!" Damara tergugu pada tempatnya hingga ia pun memutuskan untuk memakaikan Jelita kemejanya.
Setelah dirasa sempurna ia pun segera memakai kemejanya dan menelpon seseorang untuk membersihkan kamarnya. Damara langsung mengangkat tubuh lemah Jelita ala bridal style, dan bergegas membawanya keluar.
"Maafkan saya Tuan saya_"
"Cepat bantu aku Rin teriaknya menjeda kalimat seorang Dokter wanita yang baru saja tiba. Dokter Rini pun segera membukakan pintu mobil.
"Cepat ikut aku kerumah sakit!" perintahnya.
"Biarkan saya memeriksanya dulu Tuan!" dan tanpa menunggu jawaban dari Damara Dokter Rini segera mengambil tindakan, ia mulai memeriksa detak jantung dan urat jadinya.
"Tuan sebaiknya Anda yang membawa mobilnya biar aku yang menjaganya di belakang keadaannya sangat mengkhawatir kan." Seru Dokter Rini yang sudah memberikan jarum infus di pergelanga Jelita.
Damara yang mendengar seruan Dokter Rini pun dengan cepat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
30 menit mereka pun sampai di rumah sakit Damara dengan sigap mengangkat tubuh lemah sang istri, sedang beberapa tim perawat menyambut mereka dengan membawa ranjang besi untuk pasien.
Damara, bergegas mendorong bankar Jelita dan di ikuti Dokter Rini dari belakang setelah sampai di ruangan yang di tuju Dokter Rini menahan Damara, untuk tetap menunggu di luar.
"Biarkan saya menanganinya Tuan silahkan Anda tunggu di sini!"
"Tap-tapi, baiklah selamatkan istriku aku tidak mau mendengar ke gagalanmu."
Dokter Rini pun segera masuk dan mulai tugasnya dan betapa terkejutnya ia saat banyak luka lebam di seluruh tubuh Jelita bahkan bagian intinya terus mengeluarkan darah.
"Dasar laki-laki brengsek! dia menyuruhku menyelamatkan istrinya lalu dia sendiri hampir membunuhnya, oh ya ampun sejak kapan manusia es itu menikah kenapa dia tidak mengundangku!" Dokter Rini terus menggerutu melihat kelakuan temannya itu.
"Siapkan meja operasi!" cicitnya pada timnya.
__ADS_1