Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Merindukan


__ADS_3

Kembali ketanah air.


Jelita yang sedang tertidur nyenyak kembali di bangunkan oleh rasa mualnya ia pun segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam perutnya.


Jelita terlihat pucat dan lemas ini ia alami semasa kehamilan nya membuat tubuhnya semakin kurus karena apa yang disantapnya di malam hari akan keluar ketika pagi padahal dia baru bisa tidur ketika fajar tadi.


Jelita menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar mandi lalu ia pun luruh kelantai, saat itu lah air mata kembali menetes di pipi nya, dimana ia membayangkan di saat kehamilannya seharusnya dia bersama dengan orang yang sangat dirindukannya namun sayang hingga Detik ini ia belum juga mendapatkan kabar dari Damara, entahlah semenjak hamil ia selalu merindukan lelaki itu. Padahal sebelumnya ia sangat membencinya.


Jelita menatap perutnya yang masih rata


"kenapa sayang apa kamu merindukan papa mu? kenapa kalau mama membawamu nenginap di Rumah utama kamu tidak pernah rewel seperti ini." Lirih nya mengelus perutnya yang masih rata itu.


"Baiklah Mama akan membawamu kesana dan kita akan tinggal di sana sampai Papamu datang apa kamu puas sekarang?" Jelita tersenyum setelah berbicara dengan perutnya sendiri, ia pun bangkit untuk membersihkan tubuhnya walau masih terasa lemas.


Setelah selesai dan rapi Jelita pun melangkah menuju dapur untuk membuat minuman hangat seperti jahe dan lime, untuk menghilangkan rasa ingin muntahnya hal ini rutin ia lakukan selama kehamilannya.


Di apartemen ia memilih tinggal sendiri alasannya ia ingin mandiri sendiri hal yang tak pernah ia lakukan selama ini bisa ia lakukan saat ini mulai dari memasak mencuci baju menyetrika bahkan membersihkan seluruh ruangan di apartemen nya dia akan melakunya di saat hari libur saja.


"Semua sudah beres sekarang kita berankat"


Jelita pun melangkah keluar menuju parkiran mobilnya. Namun baru saja ia ingin masuk tiba-tiba saja ada yang berteriak memanggil namanya.


"Jelita...!" Jelita berbalik dan melihat siapa gerangan orang tersebut karena suaranya sudah tidak asing.


"Kamu! ada apa! kemana saja kamu selama ini aku hubungi tidak pernah aktif dan kenapa wajah mu pucat apa kamu sedang sakit?"


"Aku tidak apa-apa maaf aku sibuk di luar kota makanya belum bisa mengabarimu dan hari ini aku baru sampai dan langsung kemari mau ngasih kejutan."


"Yah aku menerima kejutanmu itu tapi sekarang lebih baik kamu pulang istirahat kamu pasti capek." Usir Jelita


"Jadi kamu sudah berani mengusir temanmu sendiri!" protes Jhony

__ADS_1


"Aju tidak mengusirmu hanya saja kamu harus istirahat lihat wajahmu itu pucat seperti mayat hidup" Celetuk Jelita


"Sudah, aku bilang aku tidak apa-apa, Kamu mau kemana biar aku mengantar mu."


"Aku mau kerumah Utama aku akan tinggal di sana untuk sementara sampai perpisahan kami, sampai Damara kembali" Terang Jelita.


"Berpisah? apa kamu yakin dengan semua keputusan mu itu? Jelita aku harap kamu berfikir ulang untuk berpisah karena kasihan anak yang ada dalam kandunganmu itu dia butuh ayah dan ibunya, untuk tetap bersama, apa kamu tak cukup belajar dari kisah ku?"


Jelita terdiam menatap intens wajah pucat Jhony seperti ada luka yang menganga tersirat du dalam tatapan matanya.


"Mmm...aku, aku akan memikirkan nya nanti," Ucap Jelita menunduk lesu.


"Ayo kita berangkat aku akan mengantar mu ke rumah Utama" sela Jhony menepuk pundak Jelita.


Jelita pun hanya menurut saat Jhony menarik tangannya dan masuk di mobil. Tidak ada pembicaraan yang keluar Jelita menatap lurus jalan di depan nya. Sedang kan Jhony sesekali meliriknya.


"Kamu beruntung punya keluarga yang utuh diluar sana banyak anak yang terlantar yang butuh kedua orang tua mereka namun mereka tidak bisa berjumpa karena orang tua mereka telah tiada, apa kamu anak-anak panti mereka banyak terlahir tidak di inginkan dalam artian orang tua mereka membuang mereka untuk itulah aku ingin menjadi orang tua mereka"


"Baik lah aku akan berusaha memberikan kasih sayang kedua orang tua kepadanya" Ucap Jelita sambil mengusap perutnya.


Jhony pun tersenyum bahagia mendengar ucapan Jelita tersebut bahkan karena gemasnya ia mengacak-ngacak rambut Jelita.


"Tunggu...!" Cicit Jelita tiba-tiba membuat Jhony mengerem mendadak karena saking terkejutnya.


"Ada apa Jelita kenapa kamu berteriak apa ada sesuatu yang kamu rasakan?" tanya Jhony khawatir.


Jelita tidak menjawab hanya matanya saja yang membulat dan nafasnya seperti tersengal-sengal, Jelita pun turun dari mobil dan melihat sekelilingnya ada darah kecelakaan, dan sebuah mobil ingin menabraknya.


"Tolong dia tolong Amara dia mati, dia berdarah dia ingin membunuhku!" teriak Jelita histeris. Jhony yang melihatnya pun langsung memeluknya.


"Jelita istighfar Jelita kamu kenapa? apa yang terjadi padamu!" Tanya Jhony sambil terus mengguncang tubuh Jelita.

__ADS_1


"Amara dia sudah meninggal aku tidak bisa menolongnya dan wanita itu ingin membunuhku." Ucapnya kemudian ambruk dalam dekapan Jhony.


"Jelita...!"


Jhony yang terkejut segera membopong tubuh Jelita dan segera membawanya ke rumah sakit. 30 menit kemudian ia pun sampai di rumah sakit.


"Dokter, suster...!" Teriak Jhony panik.


Membuat para staf rumah sakit segera berhambuaran, memberikan bantuan.


"Cepat tangani dia!" Perintahnya lagi membuat para dokter segera bergerak cepat. Dan tanpa di sadari nya tidak jauh dari tempatnya berdiri se orang wanita menatap tajam penuh kebencian kepadanya.


"Ada apa, ini kenapa dia disini? dan bukankah itu Jelita?" Tasya yang geram mengpalkan ke dua tangannya lalu memilih mendekat, dan


Plak,


Satu tamparan tiba-tiba mendarat di wajahnya tanpa ia sadari dan itu cukup membuat nya terkejut dan tatapannya kini bertaut pada wajah seorang wanita yang yang selama ini ia rindukan wanita yang pernah ia sakiti.


"Tasya..." Lirihnya ingin memeluk wanita itu namun Tasya segera menghindar membuat Jhony pun tersadar.


"Mam-maaf" Cicit Jhony dengan suara berat dan kakunya.


"Aku tidak butuh kata maaf mu katakan pada ku apa yang kau lakukan kepada Jelita kenapa dia pingsan?!" cecar Tasya menatap penuh kebencian.


"Kamu boleh bertanya pada nya ketika dia sadar nanti maaf aku permisi aku titip Jelita" Ujar nya lalu melenggang pergi meninggalkan Tasya yang masih memberinya tatapan kebencian.


Tasya hanya membuang muka di saat Jhony melangkah pergi dari hadapan nya ia sama sekali tidak ingin menatap wajah pria yang pernah mencoba ingin menodainya tersebut bahkan sekarang paling dia benci seumur hidupnya.


"Astaga Jelita aku hampir saja melupakan nya. Aku akan bertanya pada nya nanti setelah Jelita sadar" Cicitnya


"Halo Dok bagaimana ke adaan Jelita."

__ADS_1


__ADS_2