
"Ini maksudnya untuk apa?"
"Kak, itu untuk merekam. Jelita ingin momen kebersamaan nya dan melahirkan nya di rekam untuk kenangannya yang terakhir."
Exel nampak menunduk mendengar apa yang di sampaikan Darandra. Ada rasa yang tidak tega melihat keadaan sang adik semata wayangnya.
"Dari mana kamu tau kalau Jelita yang memintanya?" Tanya Exel ragu.
"Dari Dokter Rini." Yah, tadi Darandra sebenarnya sempat bertanya kepada Dokter Rini apa yang menyebabkan Jelita tiba-tiba pendarahan.
"Dokter Rini bisa kau jelaskan padaku. Kenapa Jelita jadi seperti ini? apa sebenarnya yang terjadi kepada Jelita kenapa Jelita pendarahan seperti ini?" Dokter Rini pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Flashback on.
"Bun..da…Bun..da…" Panggil Jelita dengan suara pelan hampir tak terdengar, karena di saat membuka mata, iya melihat sang Bunda berada tepat duduk di samping bankar sambil menggenggam erat tangannya.
"Ada apa Sayang kamu sudah sadar ya! katakan pada Bunda Apa yang kau sarakannya dimananya yang sakit?"
"Aku tidak sakit Bunda. Damar ke mana ke mana Damar Bunda? Katakan padaku Damar kemana bunda?"
"Sayang-sayang dengarkan Bunda ya, tenangkan dirimu dulu. Dengar Damara tidak ada di sini sayang, sekarang kamu Tenangkan dirimu dan beristirahat lah Bunda akan memanggil kan Dokter untukmu." Anggun
terus saja mengelus pundak Jelita yang sudah bergetar karena isakannya.
"Jelita Tidak akan bisa tenang Bunda, Jelita butuh Damar sekarang juga, katakan di mana dia, Aku ingin melihatnya. Bagaimana keadaannya?"
"Sayang Apakah kamu tau, setiap yang hidup di dunia ini akan pergi suatu saat nanti kepada sang pemilik nyawa, dan setiap orang akan menunggu giliran itu tiba, dan tidak akan ada yang tahu kapan dan dimana waktunya kita semua tidak tahu."
__ADS_1
"Bun, Jelita hanya ingin bertemu Damar." Selanya dengan perasaan yang mulai tidak enak."
"Sayang dengarkan Bunda Damara sekarang sudah bahagia dia sudah tidak merasakan sakit lagi, ikhlaskan dia ya nak ya, tabahkan hatimu ya karena Damar_" Anggun merasa sudah tak mampu lagi untuk melanjutkan kata-katanya.
"Bunda ini tidak lucu. Bun, kenapa Bunda tega sama Jelita sih Bun...?" Jelita berucap dengan perasaan yang campur aduk. Ia berharap apa yang di ucapkan Bundanya itu hanya sebuah candaan semata, Namun seseaat lemudian. Ia benar-benar mengingat kembali momen terakhirnya bersama Damara.
"Bunda..." lirihnya
"Iya sayang…!"
"Katakan padaku kalau semua ini bohong kan Bunda? katakan padaku Bunda kalau Damar tidak akan pernah pergi meninggalkan aku kan Bunda? Jawab Jelita Bun, jangan diam saja!"
Anggun tersentak kaget mendengar perkataan yang di ucapkan Jelita. Lalu Ia hanya bisa menganggukkan kepala dan mengeluarkan air mata sedihnya.
"Tidak…Damar…kenapa kau harus pergi seperti ini meninggalkan aku dan anak kita. Seharusnya aku yang pergi bukan kau, kenapa kau harus menyelamatkanku Damar... kenapa? hiks hiks hiks..." Jelita terus menangis di saat dirinya mengingat kembali setiap kata dan cacian yang diucapkannya kepada Damar dan setiap kata yang diucapkan Damar kepadanya.
"Sayang Jangan pernah menyalahkan dirimu jalani semua ini dengan tabah kasihan anakmu dia juga butuh ibunya yang kuat yang tidak lemah dan cengeng." Anggun mengusap lembut kapala sang putri.
"Bunda katakan di mana Damar sekarang aku ingin menemuinya."
"Tidak sayang. Tidak sekarang! kamu masih lemah, Dad Rafa dan Exel sudah pergi melihatnya jadi kamu tunggu sebentar ya Kamu yang sabar."
"Tidak Bunda, aku ingin bertemu Damar sekarang!" tangisnya dengan kekeh Jelita segera bangkit sambil melepaskan jarum infus yang ada di pergelangan tangannya, Lalu ia pun segera turun dari bangkar, Anggun tak bisa berbuat banyak karena la tau sifat sang putri yang keras kepala.
"Jelita sayang hati-hati!" cicit Anggun.
Dan benar saja baru saja ia selesai berucap
__ADS_1
karena kurang hati-hati Jelita pun jatuh tersungkur ke Lantai membuat Anggun terkejut dan menjerit.
"Tidak… jelita…!" dan suara Jeritan tersebut terdengar oleh Dokter Rini yang baru saja akan masuk. la pun bergegas mendekati Bangkar di mana Jelita sedang dirawat dan betapa terkejutnya ia melihat Jelita yang sudah berada di bawah dengan keadaan posisi yang tengkurap.
"Ya Allah jelita…Kenapa bisa jadi seperti ini?"
"Aku mohon Apapun yang terjadi padaku dan anakku. Aku mohon pertemukan aku dengan suamiku."
"Iya Jelita tapi lihatlah keadaanmu sekarang, kamu mengalami pendarahan, ini bisa membahayakan untukmu dan bayimu, lebih baik kita bersiap karena kita harus segera melaksanakan operasi cesar. untuk penyelamatan bayimu." Lanjut sang Dokter.
"Tapi aku mau operasinya dilaksanakan di samping suamiku, aku ingin suamiku menyaksikannya juga, bagaimana aku melahirkan, Aku mohon. dan aku ingin mengabadikan setiap momen yang terjadi di ruang operasiku nanti. Aku ingin momen tersebut bisa menjadi kenangan terakhir untukku dan Damar agar kelak anak kami melihat siapa ayahnya" ucap Jelita sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat sedangkan kini wajahnya sudah terlihat pucat Pasi. Perlahan Jelita pun menutup rapat kembali mata ia kembali Pingsan sedangkan darah terus mengalir dari pangkal pahanya.
"Bagaimana ini Dokter Tolong selamatkan anak saya!" cicit Anggun penuh kekhawatiran.
"Tante tenang ya! aku akan segera memanggil bantuan," Dokter Rini pun segera memencet tombol merah yang ada di kamar tersebut. "Tolong siapkan semua tim Karena kita akan melakukan operasi!"
Perintah Dokter Rini begitu seorang masuk menemuinya. Dan dengan cepat bantuan pun datang.
Flashback of.
Dan benar saja Jelita dan Damara akhirnya di satukan di dalam sebuah ruangan, dengan suasana yang begitu mendebarkan.
Dokter Rini meraih tangan Jelita, lalu merapatkan jari tangannya pada Jari tangan Damara ia berharap Jelita mendapatkan kekuatan dan semangat dari suaminya itu.Dan benar saja walau dalam keadaan terpejam Jelita menggenggam erat tangan Damara.
Di saat semua orang sibuk dan fokus dengan penyelamatan Jelita dan bayinya. Di tempat lain nampak seorang pemuda dengan wajah yang begitu tampan duduk santai seperti tengah menunggu seseorang.
"Damar…sayang! kenapa kau datang kemari. Apa yang sedang kau lakukan di sini! Damara pun terkejut mendengar suara seseorang yang datang penyapanya, suara itu! suara yang sudah lama iya rindukan.
__ADS_1
"Damar sayang jawab! kenapa kamu diam saja!"