
"Diamlah apa kau tak melihatku sedang bertanya pada Putri ku. kenapa kau yang protes!" Timpal Anggun
Dara yang melihat kejadian itu pun langsung terdiam, ia tersenyum melihat keributan kecil yang di lakukan ke dua orang tuanya yang di sengaja hanya untuk menghiburnya itu.
"Bunda, Daddy, kenapa kalian bertengkar apa kalian tidak malu? kalian sudah tua masih saja kayak Tom dan Jerry" ujar Jelita sambil terkekeh.
"Jelita...!" pekik Rafa dan Anggun bersamaan.
"Ups...Maaf." Sesal Jelita menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Kau ini ya benar-benar anak nakal!" Rafa dan Anggun yang gemas dengan Putri bungsunya itu bersamaan memberikan jeweran di telinga Jelita membuat Jelita meringis. Sedangkan Dara tersenyum bahagia melihat keluarganya yang masih saja saling menjahili itu.
"Bagaimana perasaan mu sayang?" elus Anggun lembut pada kepala sang Putri.
"Dara baik-baik saja Bunda. kalian semua jangan khawatir aku tidak apa-apa kok, hanya saja tadi Dara merasa terharu karena kalian selalu membuat Dara bahagia kalian selalu mementingkan kebahagiaanku." lirihnya kembali sendu.
"Sayang kau itu putri kami mana mungkin kami membiarkan putri kami bersedih dan terluka." Ucap Sonya menimpali sambil ikut membelai rambut panjang Dara yang ter urai. "Lihat saja kalau ada yang berani melukai menantuku akan ku uleg-uleg jadi sambel!" Sonya berucap sambil memperagakan dengan tangannya.
"Sayang kamu ingatkan apa kata Dokter!" seru Bram yang dari tadi hanya diam jadi penonton dan pendengar setia. Ia hanya sedikit khawatir dengan mimik wajah istrinya yang berubah geram sedang Dokter sudah melarangnya untuk jangan mudah marah.
Dan Sonya yang sadar pun berjalan mendekati suaminya lalu meraih kedua tangan Bram yang satu di simpan di wajahnya dan yang satu lagi di perutnya yang masih rata.
"Sayang lihat aku. Aku tidak akan membahayakan Anak kita kok, aku berjanji akan selalu menjaganya seperti aku yang selalu menjaga cintaku selama ini padamu suamiku." Mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut istrinya itu membuat Bram terharu dan meneteskan air mata Bram pun meraih pinggang sang istri lalu memeluknya dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Maafkan aku...!" hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari bibirnya saat ini. Bibir yang selalu memaki menghujat menghina bahkan merendahkan sang istri. Bahkan kata maaf mungkin tak mampu sepenuhnya untuk membalut luka yang terlalu banyak ia berikan kepada sang istri. Bram Lalu menciumnya lagi tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya yang ikut mengharu biru. Bahkan Dara kembali meneteskan air mata menyaksikan adegan itu.
"Bram sudahlah kau membuat Putri ku menangis lagi!" cicit Sonya pada sang suami Bram pun melepaskan pelukannya dari sang istri. Lalu Dara kembali mendekati Mommy Sonya dia memeluknya lalu memberi ucapan selamat semua yang melihatnya pun tersenyum bahagia dan memberikan selamat kepada Sonya.
"Om maaf...! apa boleh aku memanggilmu Papi?" tanya Dara kepada Bram.
"Tet-tentu saja beb-boleh sayang!" Jawab Bram tergagap sambil menganggukkan kepalanya, karena untuk pertama kali di usianya yang separuh abad ada yang memanggil nya Papi ada perasaan hangat yang ia rasakan. Kenapa kebahagiaan itu sesederhana ini fikirnya.
"Pi..! Dara hanya minta sama Papi untuk menjaga Mommy dan dedek baby!" pintanya sambil menatap ke arah Bram.
"Tentu saja sayang kamu jangan khawatir Papi janji akan selalu menjaga mereka berdua, apa boleh Papi juga memelukmu?" Dara tidak menjawab hanya dia menganggukkan kepalanya dan mendekat untuk memeluk Bram.
"Terima kasih semoga kamu dan Exel selalu bahagia." Doa nya dengan tulus.
"Kau jangan memeluk putriku terlalu lama!" celetuk Rafa tiba-tiba.
"Sayang sakit!" cicitnya.
"Sayang kamu tau kenapa aku melarang Bram untuk memeluk putri kita lama-lama. Aku tidak mau Putri kita akan merasa terlalu nyaman bersamanya." Timpalnya membuat semua orang tertawa. Dan akhirnya mereka semua pun berkumpul di ruang tamu setelah selesai bersantap malam. Dara yang masih heran dengan kedatangan Mom, Sonya dan Papi Bram bersama orang tuanya pun memberanikan diri untuk bertanya. Dan Sonya pun menceritakan apa saja yang di alaminya selama ini mulai dari perubahan Bram yang meminta maaf di saat ia sendiri ingin menyerah atas semua yang ia pertahankan selama puluhan tahun.
Dan sampai akhirnya Sonya pun memintanya untuk meminta maaf pada Rafa dan Anggun yang sudah terlalu lama menderita akibat harus kehilangan Kenan yang di sangka sudah meninggal beruntung Rafa mau memaafkannya. Karena Rafa juga ingin belajar untuk tidak menyimpan dendam walau pada kenyataannya ia sebenarnya ingin menghajar Bram habis-habisan namun saat mengetahui pengorbanan Sonya yang menanti cinta sang suami selama puluhan tahun di tambah Sonya Yang sedang hamil ia pun tak tega menyakiti hati Sonya yang sudah membesarkan anaknya dengan baik dan sehat bahkan rela melakukan apa saja demi putra nya itu tumbuh menjadi orang sukses seperti sekarang ini.
Di saat mereka sedang asyik bercengkrama tiba-tiba saja deringan gawai Jelita menghentlikan obrolan mereka.
__ADS_1
"Siapa Je,? tanya Anggun.
"Kak, Kenan Bun."Jawab Jelita lalu mengangkat panggilan Vidio dari sang kakak.
Sedang Dara yang hendak melangkah pergi di tahan oleh Sonya.
"Jangan pergi sayang tetaplah disini!" Dara pun akhirnya mengalah dan memilih duduk kembali di seblah Sonya.
"Halo Kak ada apa? apa kau merindukan ku?" tanya jelita begitu Vidio Call tersambung.
"Untuk apa aku merindukanmu buang-buang waktuku saja." Celetuk Exel menimpali membuat Jelita mengerucutkan bibirnya. Namun tetap saja Exel tak menghiraukannya.
"Aku hanya ingin berbicara dengan istriku aku merindukannya apa dia bersamamu?"
"Untuk apa? untuk apa kau mencari istri mu yang kau tinggalkan pergi keluar negri bersama perempuan lain!"
Deg.
Semua orang yang mendengar kini menatap Sonya dengan tatapan bingung.
"Apa, apa maksudmu dengan apa yang kau katakan tadi katakan pada Bunda kalau semuanya ini tidak benar kan Ken? hah...kau!"
Rasa kecewa kembali menyeruak di hati Anggun karena ia fikir Dara dan Kenan sudah sepenuhnya berbahagia tetapi ternyata tidak dan kembali Dara terluka untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Mommy, Bunda, dengarkan aku. Apa yang kalian tuduh kan bukanlah seperti apa yang kalian prasangka kan, aku ingin mengajak Dara tapi dia pergi dari Apartemen. Dan Aku sudah berusaha menelponnya tapi nomor tidak aktif. Sedang Aku tidak punya waktu banyak. Untuk mencarinya." Tutur Exel ingin Memberi pengertian pada ke dua orang tuanya.
"Tapi untuk saat ini Dara tidak ingin berbicara denganmu dan kami akan membawa Dara menjauh darimu!"