
Setelah mendapat perizinan, aku bergegas ke guild swordsmen lalu menemui Paman Visgore di sana. Sesuai dugaan, ini tentang ketiga wanita yang sebelumnya kami selamatkan di celah dimensi. Tampaknya sejak hari itu, ketiga wanita tersebut belum juga memperoleh kesadarannya.
“Nak Luca. Kamu bisa menyelamatkan Kak Rahnee, bukan?”
Tampak wajah penuh harap setengah putus asa dari Paman Visgore. Itu menandakan bahwa dia benar-benar sangat menyayangi salah satu dari ketiga wanita yang mengalami tidur abadi yang diakuinya sebagai kakak perempuannya itu.
“Biar aku coba dulu, Paman.”
Aku hanya memberikan jawaban netral karena aku sendiri belum tahu apa cara ini akan berhasil atau tidak sehingga aku takut akan membuat Paman Visgore semakin terjerembab dalam jurang keputusasaan jikalau sampai aku memberikannya harapan tetapi pada akhirnya hal itu nyatanya tidak membantu sama sekali.
Tetapi tentu saja aku cukup yakin dan sangat mengharapkan kalau teori yang kususun di otakku ini akan berhasil bekerja yakni selama mana mati atau energi iblis yang dihipotesiskan menjadi penyebab tidur abadi berhasil dihilangkan, maka orang itu akan segera lepas dari tidur abadinya.
Masalahnya adalah aku belum yakin apa yang menyebabkan tidur abadi ketiga wanita itu benar-benar adalah mana mati atau energi iblis ataukah bukan.
Dan juga walaupun benar bahwa salah satu di antara kedua energi itulah penyebab tidur abadinya mereka, jika kedua jenis energi itu tidak dihilangkan sepenuhnya, maka hanya akan segera tumbuh kembali dengan menyerap energi di sekitar sehingga semuanya akan menjadi percuma.
Itu pulalah alasannya mengapa seorang cleric biasa tak dapat berbuat apa-apa pada penyakit tidur abadi ini. Hanya seorang saint atau saintess dengan energi cahaya melimpah-lah yang dapat menghilangkan energi kematian atau kegelapan secara sempurna.
Sayangnya, satu-satunya saintess yang tersisa di benua ini, Saintess Monalisa dari Kekaisaran Lalania sudah lama menghilang sejak sepuluh tahun yang lalu, sekitar 6 bulan setelah ayah dan ibuku terdampar ke dunia nyata.
Aku pun mengeluarkan sabit bulan-ku dan mulai mendekatkannya ke arah tiga wanita yang mengalami tidur abadi itu.
Sesuai dugaanku, sabit bulan-ku itu bereaksi yang artinya ada energi kematian atau kegelapan yang terlibat. Sekarang yang tersisa adalah apakah sabit bulan-ku itu benar-benar mampu menyerap energi itu sampai benar-benar bersih ataukah tidak. Tetapi yang tidak aku duga-duga, rupanya energi penyebab tidur abadinya mereka adalah suatu susunan kompleks di antara keduanya.
Namun demikian, seharusnya ini bukanlah suatu masalah yang besar bagi sabit bulan-ku itu. Sabit bulan-ku memiliki kemampuan mengolah dan menyerap energi kematian dan kegelapan yang luar biasa.
Sabit bulanku mulai menguraikan susunan kompleks gabungan energi kematian dan kegelapan itu lalu menyerapnya. Dan akhirnya, setelah beberapa saat proses penyerapan, hasil yang luar biasa pun terjadi.
__ADS_1
Ketiga wanita itu benar-benar bangun dari tidur abadi mereka.
Aku pun bernafas lega, mengetahui bahwa teori yang kususun di otakku itu benar-benar bekerja pada praktiknya.
“Ini? Ini kejaiban! Kak Rahnee! Syukurlah Kakak akhirnya selamat!” Ujar Paman Visgore dengan penuh emosi kebahagiaan sembari memeluk wanita yang ada di tengah.
Sesaat kemudian setelah Paman Visgore puas melepaskan rindu kepada kakak perempuannya itu yang katanya sudah tidak dijumpainya selama sepuluh tahun, dia lantas kembali menatapku.
“Terima kasih. Terima kasih, Nak Luca. Hiks hiks. Berkatmu, kini kakakku dapat pulih kembali. Hiks hiks.” Ujarnya dalam linangan air mata.
Tak kusangka bahwa Paman Visgore yang terlihat penuh dengan aura kejantanan tersebut bisa juga menangis tersedu-sedu seperti itu.
“Tidak, bukan apa-apa, Paman.” Jawabku singkat seraya berusaha tersenyum ramah.
“Ah, saint! Seorang saint! Akhirnya benua kita kembali dianugerahi oleh seorang saint! Hidup benua Astrovia!”
Saint jidatmu! Seorang saint bekerja membasmi kegelapan dengan menguraikannya melalui energi yang bertolak belakang, yakni energi cahaya. Tetapi apa yang kulakukan hanyalah menyerap energi kematian dan kegelapan itu ke dalam sabit bulan-ku sebagai sumber energinya saja. Itu bukanlah cara kerja seorang saint yang berprinsipkan pemurnian.
Aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini sebelum bertambah parah.
“Tidak. Kalian salah. Seorang saint itu terlahir dengan bakat cahaya. Tetapi lihat, aku sama sekali tidak dianugerahi kemampuan elemen sihir.”
Namun di saat yang tidak tepat itu, entah apa yang dipikirkan oleh pet-ku yang bodoh itu, dia tiba-tiba keluar begitu saja.
“Wah, ada apa ini ramai-ramai, Master.” Ujar Aura dengan polos.
“Wah. Lihat itu! Itu gold dragon! Gold dragon yang selalu menjadi mitra setia sang saint dalam membasmi kegelapan di benua! Oh, saint! Seorang saint baru saja menunjukkan kemampuannya!”
__ADS_1
Tampaknya akan semakin sulit bagiku untuk menjelaskan kesalahpahaman ini.
Tetapi kalau dipikir-pikir, ini memang mengherankan juga. Bagaimana aku bisa punya skill yang mengoneksikan aku dengan Aura? Padahal sejatinya gold dragon hanya muncul di legenda sebagai partner sang saint dalam memerangi kegelapan yang menelan benua.
Awalnya, aku berpikir bahwa ini memang bisa saja terjadi. Toh, ini game yang disetting oleh sistem sehingga tidak akan mengherankan kalau kita bisa menggatcha monster-monster langka sebagai pet kita.
Tetapi kembali ke sudut pandang para NPC, wajar jika mereka berpikir aneh. Dan setelah aku pikir-pikir, memang aneh karena Aura tidak hanya muncul di dalam game saja, tetapi dia juga bisa muncul ke dunia nyata lewat hologram yang terimplementasikan oleh otakku.
Jika demikian, siapa Aura sebenarnya? Apakah aku hanya murni beruntung memperolehnya sebagai hadiah quest-ku sebelumnya di dungeon pemula? Atau semua ini direncanakan oleh sistem?
Terlebih dengan sabit bulan yang aku peroleh di quest serigala perak. Apakah ini juga kebetulan aku memperolehnya ataukah juga direncanakan oleh sistem? Yang jelas, sabit bulan ini benar-benar banyak membantuku dalam menghadapi para monster bertipe kematian dan kegelapan yang belakangan ini banyak menyerang benua.
Tetapi lupakan soal itu dulu, apa yang harus aku lakukan pada orang-orang ini? Dengan putus asa, aku pun meminta agar Paman Visgore mengendalikan rumor ini agar tidak mengganggu aktivitas petualanganku ke depannya. Kuharap, cara itu benar-benar akan bekerja.
Namun kemudian, masalah lain muncul.
Tante Rahnee, kakak dari Paman Visgore yang masih baru saja bangun dari tidur abadinya yang menurut kesaksian Paman Visgore sudah selama sepuluh tahun sehingga kemungkinan masih setengah linglung itu, tiba-tiba berujar padaku,
“Kamu, kamu, kamu seorang saint kan? Tolong, selamatkan Saintess Monalisa. Sang saintess saat ini sedang disandera oleh para iblis api di pegunungan api di utara.” Ujar Tante Rahnee sembari meraih tanganku erat-erat.
Informasi apa ini yang baru saja kudengar? Jadi, Saintess Monalisa bukannya menghilang dari benua karena sengaja mengasingkan diri karena tak tahan melihat penerus Kekaisaran Lalania yang korup seperti banyak desas-desus yang beredar, melainkan karena diculik?
Bukankah ini informasi confidential yang bisa mengguncangkan benua? Dan jika berbicara soal pegunungan api di daerah paling utara benua, itu kan daerah kekuasaan fire witch dan iblis api, daerah yang hanya bisa dimasuki oleh player veteran tingkat tinggi sedangkan aku saja belum mengikuti ujian pemantapanku.
Lagipula, jika hal ini sampai melibatkan bangsa iblis api di utara, maka seorang pemuda berlevel veteran pemula sepertiku tidak akan sanggup untuk berbuat banyak. Akan lebih tepat untuk membuat laporan ini ke Kekaisaran Lalania untuk diselesaikan oleh pihak kekaisaran.
Terlebih, kaisar yang sekarang adalah seorang kakak yang baik, bukan lagi kaisar yang penuh dengan korupsi dan manipulasi seperti kaisar-kaisar sebelumnya. Aku yakin bahwa Kak Kaisar yang sekarang akan mampu mengatasi masalah ini dengan baik.
__ADS_1