
Saat itu, kami sedang berada di tengah perjalanan hampir memasuki perbatasan Kerajaan Doremi di suatu daerah hutan.
Tiba-tiba kendaraan terhenti setelah kami merasakan guncangan.
Rupanya, suatu sosok monster sedang berniat menyerang karavan kami.
Namun, level monster itu tidaklah terlalu tinggi. Dia hanyalah monster beruang berlevel 47.
Sungguh bodoh dia berani menerjang ke arah kerumunan mercenary tingkat tinggi seperti ini tanpa bisa memprediksikan kemampuan lawan, pikirku.
Karena jika monster itu mampu memprediksikan kekuatan lawan dengan benar, pastilah dia sudah lari terbirit-birit ke dalam hutan.
Tetapi ini kesempatan buatku.
Sudah lama aku stagnan di levelku yang sekarang karena tidak adanya monster berlevel lebih tinggi yang dapat aku temui.
Tetapi sekarang, monster itu sendiri yang melangkahkan kakinya tepat ke arahku. Sudah kuduga, datang ke Kerajaan Doremi mengikuti Kak Krimson adalah pilihan yang tepat.
“Hei, siapa nih yang akan menghadapinya?”
“Hei, Cedric, kamu saja sana.”
“Eh, aku malas ah. Aku takut nantinya malah dibilang sedang membuli monster. Soalnya monster terlalu lemah.”
Bahkan terdengar para mercenary pun berbisik enggan menghadapi sang monster karena saking lemahnya monster itu.
Di tengah-tengah keengganan mereka itu, aku pun sebagai pemilik kepentingan maju untuk memperoleh peluang tersebut.
“Serahkan saja monster itu padaku, para paman.”
Ucapku dengan percaya diri.
Aku pun maju menerjang sang monster beruang. Ketika dia hendak melayangkan cakarnya ke arahku, aku seketika mengaktifkan langkah bayangan lantas menghilang dari hadapannya.
Aku pun menyelinap dari arah belakang, menebas tengkuk lehernya. Dapat kudengar teriakan monster yang kesakitan. Tetapi aku sama sekali tidak menaruh belas kasihan padanya.
Sejak dia terkontaminasi energi jahat dan berevolusi menjadi beast, dia saat itu juga telah kehilangan hak-hak hewannya untuk perlu aku kasihi. Dia ibaratkan hanyalah perwujudan amarah tanpa akal yang berjalan.
Aku menghindari serangannya lantas mengaktifkan skill tikaman penghakimanku tepat di area ulu hatinya. Dapat kulihat usus monster itu berceceran sebelum akhirnya berubah menjadi butir-butir debu dan menghilang dengan meninggalkan item jarahannya.
Kulit beruang yang hangat serta hati beruang, ini bisa menjadi item yang bagus.
Dan tidak hanya item saja,
Selamat, poin experience Anda telah mencukupi. Anda telah naik ke level 42.
Kini aku sudah resmi naik ke level 42 dan tidak akan ada masalah bagiku lagi untuk terpromosikan sampai ke level 48.
Ini adalah awal mula yang bagus. Baru memasuki area kedalaman hutannya saja, kami sudah bertemu dengan monster level menengah ke atas yang lumayan kuat. Aku begitu tidak sabar untuk menantikan monster yang lebih kuat seperti apa lagi yang akan aku temui di area yang lebih dalam.
Namun, ketika aku menelisik ke ekspresi Kak Krimson, aku sadar ada sesuatu yang salah.
Karena penasaran, aku pun bertanya.
“Kak Krimson, ada apa?”
__ADS_1
“Hmm. Grizzdizzie adalah monster yang memiliki intelijen yang cukup tinggi. Dia seharusnya sudah bisa menebak bahwa keahlian kita di atasnya, tetapi walau demikian, dia tetap nekat menerjang ke arah kita.”
“Setelah dipikir-pikir, benar juga kata Kakak. Terlebih daripada terlihat menyerang, dia seakan ketakutan akan sesuatu dari arah belakang.”
Betapa bodohnya aku. Saking aku terobsesinya dengan peningkatan level, aku sampai melupakan fakta penting itu.
“Para mercenary. Tingkatkan kewaspadaan kalian! Ada sesuatu di depan kita!” Kak Krimson pun berteriak memperingatkan para mercenary sembari ikut pula meningkatkan kewaspadaannya.
Aku juga bisa merasakan, memang benar ada sesuatu yang beraura jahat sedang mendekat ke arah kami.
Perlahan tapi pasti, kami pun mulai merasakan goncangan. Goncangan tanah kian lama kian kencang dan pada akhirnya sosok raksasa yang menimbulkan goncangan tanah itu muncul juga di hadapan kami.
\=\=\=
Nama: Aeghter (Level 105)
Race: Orc tipe chimera
Umur: 99 tahun
Jenis kelamin: Jantan
Keterangan: monster yang diciptakan dari gabungan beberapa monster dengan menggunakan troll sebagai base-nya, tidak salah lagi bahwa bagian kepalanya digantikan oleh basilisk, juga terlihat gabungan monster seperti garupa dan mogenekia, itu hanya mungkin karena tubuh monster itu disatukan oleh dark energi
\=\=\=
Monster raksasa menyeramkan dengan kepala ular, tetapi postur tubuh kekar mirip troll dengan kedua sayap di belakangnya yang menandakan dia juga bertarung di udara, terlebih dengan dark energi.
Tidak, mengapa di saat-saat seperti ini, malah monster bernama yang muncul.
Aku memang berharap bertemu dengan monster yang lebih kuat sebelumnya, tetapi bukan yang seperti ini. Terlebih levelnya jelas jauh di atas level untuk ukuran manusia normal.
Tetapi ini sama sekali tidak baik. Jelas-jelas setinggi apa pun level mereka, level monster jauh lebih tinggi dari mereka. Paman Heisel pernah mengatakan bahwa di kala kamu berhadapan dengan lawan yang sangat jauh lebih kuat darimu, maka itu bukan lagi pertarungan melainkan pembantaian, maka lari adalah pilihan yang terbaik.
Namun jangankan berbeda 10 level, para mercenary rata-rata hanya berlevel sekitar 50 saja yang berarti terdapat perbedaan level sekitar 50 dari monster. Ini bukan lagi sekadar pembantaian saja, tetapi sudah merupakan pembantaian di atas pembantaian.
Aku tidak peduli dengan para petualang karena jika mereka gameover, mereka tidak akan mati benaran. Tetapi lain halnya dengan para mercenary, ketika mereka mati di sini, maka itulah akhir hidup dari mereka.
Aku mana mungkin akan membiarkan para mercenary itu mati secara mengenaskan di hadapan mataku begitu saja.
Tapi apa yang bisa kuperbuat? Bahkan levelku yang sekarang jauh lebih rendah dari mereka yang hanya berada di level 42. Andai aku bisa mengakses kemampuan tubuh asliku setidaknya aku punya peluang yang lebih besar untuk mengalahkan monster iblis itu.
Aku pun dengan tanpa rencana apa-apa maju menerjang sang monster bersama dengan Kak Krimson.
Namun, karena aku terlalu banyak berpikir dan terlambat menyerang, para NPC yang hanya memiliki satu nyawa itu pun mati satu-persatu di hadapanku.
Darah berceceran, tulang-belulang berserakan di mana-mana. Tidak, tidak! Jangan seperti ini! Mengapa aku bisa sampai melupakan kematian orang normal karena keasyikan bermain game?!
Di game, para player yang gameover hanya akan log out secara paksa dari game. Tetapi, beda dengan para NPC-NPC ini.
Tidak, itu sudah salah sejak awal! Mengapa aku juga jadi ikut-ikutan dengan para player itu menyebut mereka sebagai NPC?! Sejak awal aku kan juga tinggal di kota yang sama dengan mereka, kami tidak lain sejatinya juga adalah manusia biasa.
Tidak, tidak, jangan maju! Jangan mati sia-sia di hadapan monster iblis itu! Kumohon! Aku tak sanggup lagi melihat kematian kalian.
@@@
__ADS_1
Luca pada akhirnya tak sanggup lagi menahan rasa frustasinya. Dia menggila.
Mata emasnya yang cemerlang tiba-tiba berubah menampakkan warna monokromatik merah dan biru yang indah. Luca tidak lagi menyerang dalam pikirannya yang rasional. Dia menyerang secara membabi buta.
“Andai saja, andai saja aku punya kekuatan lebih!”
“Praaaaak!”
Luca yang kehilangan fokus dalam pertarungan setelah menyaksikan rekan-rekan seperjuangan NPC-nya mati satu-persatu oleh sang monster bernama, akhirnya terkena serangan telak oleh sang monster.
Luca pun gameover untuk pertama kalinya di dalam game.
Akan tetapi,
Efek sang wanderer diaktifkan, begitu player gameover di arena akan segera tersummon kembali ke arena
Sistem telah memindai rasa simpati yang kuat oleh player pada para NPC dan player lain di sekitar, menetapkannya sebagai party player secara paksa, menerapkan efek sang anak penyayang, meningkatkan dexterity seluruh anggota party secara sementara
Niat tulus sang player telah direspon oleh artifak kancing esensi kenyataan, gelar sang anak baik hati merespon artifak, kemampuan yang dimiliki oleh tubuh nyata pemain terhubung secara sementara dengan tubuh avatar pemain, meningkatkan ranah spiritual pemain
\=\=\=
Pengembangan Spiritual:
Tahap 2/5 (penyatuan aliran darah dan mana)
Ranah kepala: 6/100 --> level 100 max
Ranah tangan kanan: 6/100 --> level 100 max
Ranah tangan kiri: 6/100 --> level 100 max
Ranah kaki kanan: 6/100 --> level 100 max
Ranah kaki kiri: 6/100 --> level 100 max
\=\=\=
Pengembangan spiritual pemain telah berevolusi dari tahap aliran darah dan mana ke tahap penyerapan mana
\=\=\=
Pengembangan Spiritual:
Tahap 3/5 (penyerapan mana)
Udara: 6/1000
Air: 25/1000
Api: 2/1000
Bumi: 5/1000
Cahaya: 400/1000
__ADS_1
\=\=\=
Luca seketika tersummon kembali di hadapan sang monster bernama. Namun ada yang berbeda. Levelnya tetaplah sama, akan tetapi aura yang ditunjukkan oleh bocah itu jauh lebih mengancam.