The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
75. Antara Bakat dan Minat, Areka yang Egois, Nina yang Keras Kepala


__ADS_3

“Bagaimana monsternya? Apa cukup kuat buat kalian bersenang-senang?” Swadow Monarch bertanya kepada Virus Lady dan S07 yang baru saja log out dari game seraya menyajikan mereka minuman coklat hangat.


“Slurrrrp.” Virus Lady segera menyambar minuman lantas meminumnya seperti orang yang sangat kehausan. Sementara S07 mengambil minuman itu dengan tampak anggun lalu segera duduk di pojok ruangan tetap dengan pembawaannya yang anggun.


“Yah, level monsternya lumayan sih, tetapi tetap saja tidak cukup kuat buat kami berdua bersenang-senang. Tahu begini tadi aku tidak perlu ikut.” Jawab Virus Lady dengan acuh tak acuh.


Dia pun segera mengalihkan pembicaraannya, “Tetapi yang lebih penting, hei, Swadow Monarch, tahu tidak, kalau tadi sang putri NPC dari Elvendia kita tertarik dengan seorang player manusia.” Ujar Virus Lady dengan senyum yang nakal sembari melirik ke arah S07.


Tampak wajah kaget tidak percaya oleh Swadow Monarch, sementara tanpa yang lain sadari, muka S07 telah memerah dengan sangat matang.


“Aku bukannya tertarik padanya!” S07 pun tak dapat lagi menahan rasa malunya perihal kuping khas elf-nya itu telah tampak sangat kepanasan seperti kepiting yang akan masak lantas berteriak.


Ya, S07 adalah seorang elf di dunia nyata yang entah bagaimana memalsukan akun gamenya menjadi seorang ras dan umur seorang manusia.


S07 pun melanjutkan ucapannya dengan malu-malu, “Hanya saja, aku merasakan vibe pada pemuda itu seperti yang kurasakan pada teman-temanku yang lain di Elvendia. Dia tidak tampak seperti manusia yang ada di dunia nyata lainnya. Itulah yang membuatku tertarik padanya.”


“Eh, tapi Putri, merasakan simpati pada seseorang karena merasa mirip dengan vibe kita itu adalah salah satu ciri-ciri benih cinta, lho.” Virus Lady tak melewatkan satu pun kesempatan untuk semakin menggoda S07 dengan senyum nakalnya.


“Duh, sudah kubilang bukan itu! Huh!” Sang putri, S07 pun lantas meninggalkan ruangan seraya menggerutu.


***


Di sisi lain, keesokan harinya di sore hari, Luca tengah akan bersiap melanjutkan kembali pelatihan spartannya bersama dengan pelatihnya, Pak Syarifuddin, seusai jam pelajaran kelas. Dia berencana hanya akan mengikuti pelatihan itu selama 2 jam lalu nantinya akan meminta izin agar dapat menyaksikan putaran final lomba e-sport yang diikuti oleh Lia.


Namun, dia pun secara kebetulan melihat Nina dan Areka tengah mengobrol dengan panas.


“Sudah kubilang berhentilah dengan sikap bodohmu itu! Sampai kapan kamu akan menyia-nyiakan bakat kamu demi mengejar cita-cita bodohmu yang takkan pernah kesampaian itu?! Apa mengejar pria itu sepadan dengan mengorbankan bakatmu?! Masa depanmu?! Sebenarnya apa baiknya dia?!”


“Senior, apa yang kamu katakan?! Lagipula berhenti mencampuri urusanku. Biar akulah yang menentukan masa depanku sendiri. Mengapa Senior yang ikut campur?!”


“Sudah kubilang karena kamu tidak berbakat! Dan lagi apa, kamu mau masuk universitas game virtual?! Apa kamu bercanda?! Tanpa kamu sadari, umurmu akan menjadi tua tanpa meraih apa-apa dan di saat itulah kamu akan menyesal karena mengabaikan kata-kataku!”


“Cukup! Memangnya mengapa jika aku tidak berbakat?! Aku hanya perlu menutupinya dengan kerja keras! Di mana aku berbakat itu tidaklah penting, yang penting aku bisa menjalani hidupku di jalan yang aku sukai…”


Setelah melihat perdebatan antara Nina dan Areka itu, raut wajah Luca pun menjadi sedih. Dia pun kembali teringat pada salah satu sosok yang telah dianggapnya sebagai seorang kakak. Dialah Derickson Algebra.

__ADS_1


Kakaknya itu, Derickson, sebenarnya berasal keluarga sarjana Algebra yang terkenal, tidak hanya di kerajaan tempatnya berasal, Kerajaan Melodia, tetapi hampir di seluruh benua. Namun, Derickson sendiri tidak menyukai untuk menghabiskan hidupnya sama seperti keluarganya yang lain untuk menjadi seorang matematikawan. Dia lebih senang menjadi seorang petualang yang bertarung melawan para monster yang menghancurkan dunianya.


Tetapi Derickson tetap menyelesaikan pendidikannya di akademi sarjana hingga lulus. Namun setelah lulus, bukannya mencari pekerjaan sebagai seorang akuntan atau administrator, dia justru mengembara dengan menentang keputusan kedua orang tuanya ke daerah netral Gardenia dan menjadi salah satu anggota di guild assassin.


Selama di akademi, Derickson ternyata telah diam-diam melatih kemampuan bertarungnya dengan mengikuti banyak misi pembasmian monster di sela-sela jadwal pelajarannya yang sibuk. Keluarganya sangat menyayangkan keputusannya itu.


Bagaimana tidak, di antara saudara-saudaranya yang lain, Derickson adalah anak yang paling jenius. Bahkan bisa dikatakan Derickson adalah jenius di antara para jenius di seluruh keturunan sarjana di Kerajaan Melodia. Dia mampu menyelesaikan persamaan Voghbell yang terkenal akan kesulitan tingkat tingginya itu hanya dalam satu jentikan jari. Makanya bagi keluarganya, dia telah menyia-nyiakan bakatnya dengan justru menjadi seorang petarung.


Tetapi Luca lebih tahu tentang apa yang Derickson rasakan. Kakaknya itu bahagia. Kakaknya sangat menyenangi pekerjaannya sebagai seorang assassin. Yah, walaupun pada praktiknya, Derickson justru lebih banyak diturunkan untuk melaksanakan pekerjaan administrasi menggantikan pekerjaan sang kapten Heisel yang malas, Luca tahu betul kalau kakaknya saat ini sangatlah bahagia dengan pekerjaannya.


Bakat memang penting. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dari bakat.


Rasa senang… Minat.


Itu akan percuma walau kita berbakat di bidang itu, tetapi kita tak dapat menikmati pekerjaan kita. Oleh karena itu, Luca tidak sependapat dengan Areka. Tiada sesuatu yang tak mungkin diraih dengan kerja keras. Tentu saja selama kita meyukai hal yang kita kejar itu.


“Haaaaaah.” Luca pun menghela nafasnya dalam-dalam.


Aura pun seketika terlihat muncul dalam bentuk hologramnya di hadapan Luca sambil melirik masternya dengan keheranan, “Ada apa Master? Mengapa Master bernafas berat seperti itu?” Tanya sang pet dengan polos.


“Sudah kuputuskan di mana poin stat-ku yang terakhir akan kudistribusikan.” Ujar Luca sembari mensummon tongkat necromancer bekas milik Philtory dalam bentuk hologram ke tangannya.


Ya, setelah munculnya Aura dalam bentuk hologram yang hanya bisa dilihatnya, Luca pun mulai melakukan berbagai eksperimen. Ternyata tidak hanya kemunculan Aura saja, Luca dapat menampilkan papan sistem game beserta peralatan-peralatan yang seharusnya hanya ada di dalam game ke dunia nyata.


Tetapi semuanya hanya bisa dalam wujud hologram yang hanya mampu dilihat oleh Luca seorang. Itu pun hologram-hologram yang muncul sama sekali tidak akan mampu memberikan efek apapun pada dunia nyata.


Yah, benar-benar mirip dengan konsep khayalan anak-anak halu. Tetapi tentu saja apa yang dialami oleh Luca itu adalah sesuatu yang nyata.


Luca pun terlihat menekan-nekan tombol papan game-nya.


“Mari distribusikan poin yang besar kali ini pada stat intelligence” Luca pun membulatkan tekadnya.


\=\=\=


Stat:

__ADS_1


Strength: 27 --> 38


Vitality: 24 (+0,48) --> 35 (+0,7)


Agility: 29 --> 40


Dexterity: 20 --> 32


Intelligence: 10 --> 65


Luck: 600


Poin stat: 100 --> 0


\=\=\=


Aura yang penasaran dengan ekspresi aneh masternya yang tiba-tiba menunjukkan senyum lembut itu lantas bertanya, “Apa yang Master rencanakan?”


“Sesuatu yang menarik.” Jawab Luca dengan acuh tak acuh seraya bibirnya sedikit tersungging menampakkan senyuman.


Dia pun lantas berjalan ke tengah perdebatan sengit antara Areka dan Nina.


“Senior masih seperti biasa dengan mulut Senior yang tajam itu.” Sapa Luca pada seniornya, Areka, itu.


“Ada apa? Apa kamu mau bilang perkataanku juga salah?”


Luca menggelengkan kepalanya terhadap komentar Areka itu. Areka sejenak terlihat senang mengira Luca mendukung pula pendapatnya. Tetapi sayangnya, Luca menggeleng bukan perihal tidak setuju, melainkan menunjukkan itikadnya berada di posisi netral.


“Entahlah Senior. Tetapi daripada lewat kata-kata, mari aku buktikan sendiri saja bahwa dalam ujian masuk penerimaan klub e-sport yang selanjutnya yang akan tiba kurang dari sebulan lagi itu, Kak Nina akan menjadi salah satu peserta yang lulus seleksi setelah menerima menu pelatihan neraka dariku.”


“Apa maksudmu? Kamu akan melatih Nina?”


“Apa-apaan ini, Luca? Kenapa kamu seenaknya saja memutuskan sendiri? Kenapa juga aku menerima pelatihan darimu? Aku kan lebih senior darimu dalam game?”


Areka dan Nina tampak merespon, tetapi Luca hanya melanjutkan perkataannya dengan santai, “Akan kubuktikan kepada Senior kalau kerja keras itu dapat mengalahkan bakat.”

__ADS_1


__ADS_2