
“Shak, shak, shak!”
Beberapa shuriken beracun tiba-tiba diarahkan kembali padaku. Dapat kulihat dari jauh di sana ada seseorang yang sedang melompat dari pohon ke pohon dan orang itulah yang telah melemparkan shuriken itu padaku.
Aku bisa langsung menebak niat permusuhan yang datang dari player berkostum ninja itu. Tampaknya dia sedang mengincar nyawaku.
Tapi apa ini? Gerakannya terlalu mengikuti buku teks yang ada. Alhasil, aku dapat dengan mudah menebak pergerakannya. Sebagai seorang assassin, dia terlalu ceroboh.
Aku hanya dapat tertawa secara internal sehingga begitu assassin itu mendekatiku, kupersiapkanlah senjataku untuk menyerangnya dengan mudah.
Dan alhasil,
“Slash”
“…?”
@@@
Mata Luca seketika terbelalak. Dia dapat dengan jelas melihat pergerakan assassin yang mengincar nyawanya sehingga begitu assassin itu datang kepadanya dia dengan segera mengeluarkan senjatanya untuk berbalik menyerang.
Tetapi apa yang terjadi adalah sesuatu yang di luar dugaannya.
“Makanya sedari tadi aku merasa aneh. Rupanya benar ada yang mengikutimu ya, Luca? Ck. Seorang PK-er seperti ini memang selalu ada di mana-mana di RPG mana pun itu. Mereka itu sampah tak berguna di dunia par-game-an.”
Krimson yang diduganya telah lama pergi tiba-tiba saja ada di hadapannya, dengan sigap balik mem-PK sang assassin yang mengincarnya.
Luca tidak kaget dengan kehadiran sang assassin. Jelas itu karena sang assassin tidak mampu menyembunyikan hawa keberadaannya dengan baik. Tetapi justru, ada seseorang lain di luar kelas assassin yang secara mengejutkan mampu menyembunyikan hawa keberadaannya sangat baik sampai Luca sendiri tak mampu mendetiksinya.
“Glup.” Luca hanya mampu menelan ludahnya akan kemunculan kembali Krimson secara tiba-tiba di hadapannya itu.
Bukannya Luca bermaksud sombong atau bagaimana, tetapi dia sangat percaya diri akan sense-nya merasakan hawa keberadaan sekecil apapun, terima kasih berkat pelatihan keras dari pamannya. Namun walau dengan sense sebaik itu, Luca tetap tak mampu menotice keberadaan Krimson di dekatnya sampai dia menunjukkan sendiri keberadaannya.
Luca pun bertanya-tanya, bagaimana seseorang dari kelas alchemist mampu untuk menyembunyikan hawa keberadaannya sampai di taraf orang yang sesensitif dirinya tak mampu menyadarinya. Luca hanya mampu menelan ludahnya dengan perasaan kagum yang bercampur gemetaran.
“Kak Krimson?” Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari mulut Luca yang cukup terkejut saat itu.
“Yo, kamu baik-baik saja, Luca? Maafkan aku. Aku sengaja berpura-pura berpisah denganmu tadi untuk memancing PK-er ini keluar. Wah, hadiah kepalanya ternyata lumayan tinggi…”
Luca hanya mengangguk dalam diam atas pernyataan Krimson. Padahal begitu Luca ingin memberitahunya bahwa kalau hal tersebut juga dapat dinoticenya, hanya saja kemunculan dirinyalah yang sebenarnya lebih membuat Luca terkejut.
Dan begitulah pertemuan mereka berakhir kala itu disertai kekaguman bercampur kengerian Luca atas orang yang lebih superior dalam menyembunyikan keberadaannya dibandingkan dirinya tersebut. Di guild saja, hanya sekitar 5 orang yang seperti itu, termasuk pamannya, Heisel. Siapa yang menyangka bahwa Luca bertemu dengan orang yang keenam di luar guild-nya.
Siang, pukul 13.32.
Panggilan alam berupa lapar membuat Luca log out dari game sementara, tetapi apa yang terjadi, rupanya Nina bersama dengan Raia sejak tadi telah menunggunya di luar.
Dengan ekspresi marah yang sampai membuat Luca bergidik dan berkeringat dingin, Nina memarahi Luca atas kecerobohannya beratraksi di tempat umum melompati tiang listrik serta atap rumah warga sehingga sampai terekam CCTV. Untunglah, wajahnya tidak ikut terekam sehingga dia aman untuk saat ini, tetapi rumor sudah terlanjur menyebar.
Luca dengan ekspresi polosnya, hanya mampu mendengarkan ceramah panjang Nina. Dia kala itu baru tahu kalau penduduk di dunia nyata, ternyata tidak dapat melakukan atraksi layaknya di game.
Luca sampai mengutuk dengan merendahkan lemahnya penduduk dunia nyata karena tak melatih tubuh mereka ke tingkat maksimalnya sampai-sampai melompat di atap setinggi 3 meter saja sejauh kurang dari 20 meter mereka tidak bisa. Namun, hal itu hanya ditampung oleh Luca di dalam hatinya saja.
Luca tak ingin memancing ceramah Nina lebih berkepanjangan dengan banyak bicara. Walau demikian, lebih dari sejam waktunya akhirnya terpakai untuk mendengarkan ceramah sang kakak.
***
Aku Bourbon. Kini aku berusia 34 tahun. Aku telah lama bergelut di dunia vrmmorpg AD series sejak session pertamanya di first Altoria sejak aku berumur 12 tahun.
Aku yang kala itu masih muda yang begitu mengagumi fim-film ninja lantas menjadikan karakter ninja sebagai identitasku di dalam game sebagai seorang DPS. Kalian bertanya mengapa DPS dan bukannya assassin? Itu karena dulu di sesi pertamanya, belum ada istilah assassin. Kelas pemain hanya dibagi menjadi 4 saja yakni DPS, tanker, ranger, dan support.
Kalau tidak salah, istilah assassin baru muncul di session delapan-nya, the eight tartondia. Sesi itu juga lumayan seru karena berbasiskan dunia dalam masa perang.
Aku suatu hari menyadari hobiku bahwa kesenangan kurasakan ketika membunuh player lain di dalam game. Hal itu terutama ketika aku berumur 20 tahun memasuki sesi kedelapan AD series, the eight tartondia. Karena menampilkan karakter ninja favoritku, mulai saat itulah aku memilih assassin sebagai karakterku hingga sekarang kecuali untuk the ninth Elvendia yang sama sekali tidak menyajikan karakter kelas assassin.
Aku pun mulai melakukan player kill dari waktu ke waktu hingga aku pun dijuluki sebagai red player yang berharga kepala paling tinggi. Terkadang aku menerima job dari seseorang untuk membunuh individu tertentu di dalam game. Aku tidak pernah menolak sekalipun tawaran yang ada. Kalian tanya mengapa? Tidak ada jawaban lain selain itu menyenangkan.
Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menyaksikan penampilan sekarat orang lain menjelang kematiannya. Yah, tentu saja aku melakukan hal ini hanya di dalam game dan tidak membawanya ke dunia nyata. Bagaimanapun, aku adalah orang yang taat hukum di dunia nyata.
Bukannya sombong, tingkat keberhasilan misiku adalah 95 %. Tertinggi di antara player-player lain yang menggeluti job player kill. Itulah sebabnya banyak yang mempercayakan job di bidang itu padaku karena orang-orang tak lagi meragukan kemampuanku dalam hal pembunuhan dalam senyap tanpa jejak.
__ADS_1
Dan kali ini, entah mengapa klien-ku membayar mahal untukku hanya demi misi membunuh seorang player yang baru menginjak level 18. Tentu saja aku menerima misi itu walaupun tidak menantang sama sekali. Kalian mengira itu demi bayaran yang tinggi? Kalian salah. Aku tidak peduli dengan semua itu. Yang penting bagiku, membunuh itu menyenangkan seolah aku memang terlahir sebagai seorang assassin sejati.
Aku pun mengikuti targetku begitu aku berhasil menemukan jejaknya di guild assassin. Namanya Luca, juga seorang assassin sepertiku, namun baru berlevel 18. Sehabis dari guild, tampaknya dia pergi ke area hutan di desa pemula. Bocah itu baru saja memberikanku tempat yang baik untuk mem-PK dirinya.
Tetapi sial, dia bertemu player lain. Dan itu bukan sembarang player. Kalau tidak salah, namanya adalah Krimsonalc. Dia dari kelas alchemist, tetapi merupakan player nomor satu di bidangnya, bahkan diangkat sebagai murid langsung kepala sekolah Akademi Pedang dan Sihir Nostalgia, Crevon de Lowrence.
Aku pun mencoba mengintip statusnya lebih detail dengan skill ‘chorus of the eye’-ku.
\=\=\=
Nama: KRIMSONALC (Lv 60)
Race: Manusia
Umur: 16 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Alchemist
Stat:
Strength: 85
Vitality: 95
Agility: 85
Dexterity: 59
Intelligence: 112
Luck: 3
Skill: membuat resep instan, penguatan efek resep, …
Gelar: master racun, master bom, the crazy herbalist
\=\=\=
Aku pun menunda niatku untuk mem-PK bocah itu untuk sesaat. Paling tidak, selama dia bersama alchemist gila itu.
Tanpa diduga, kesempatan itu datang cukup cepat, sejam lebih mereka bersama, akhirnya mereka berpisah juga. Inilah kesempatan yang kutunggu.
“Hahahahahahaha. Hari ini akan kubuat kau turun satu level, bocah. Tetapi jangan salahkan aku ya Newbie. Salahkkan dirimu yang sial sehingga ada orang yang memintaku mem-PK-mu.” Gumamku dalam hati dengan penuh kesenangan.
Yah, akulah Bourbon, seorang assassin berlevel 56 yang telah sukses dengan gemilang mengasssasinasi 38 dari 40 target penting selama vrmmorpg AD series ini berlangsung. Dan kau bocah, akan segera menjadi target keberhasilanku yang ke-39.
“Shak.” Aku pun menyerang bocah itu dengan shuriken beracunku.
“Clang.” Di luar dugaan, serangan dadakanku berhasil dideteksinya kemudian ditangkisnya dengan telak.
Yah, bukannya aku tidak menduga ini. Berhubung dia juga seorang assassin. Wajar saja jika sense-nya juga peka.
Tidak ada pilihan lain selain maju menyerang dari depan secara langsung. Walau ini bukan cara pertarunganku yang biasa, tak ada peluang bagiku akan kalah dalam pertarungan langsung melawan seorang newbie yang baru berlevel 18.
Akan tetapi, alchemist gila itu pun datang entah dari mana, lantas mem-PK-ku duluan.
Akh, sial! Justru aku yang gameover dan turun satu level. Tetapi tidak mengapa, akan ada banyak kesempatan untuk mengeliminasi target.
.
.
.
Dengan pemikiran itu, aku pun login kembali ke vrmmorpg The Last Gardenia keesokan harinya di kala penalti 24 jam sistem berakhir. Tetapi ada yang aneh pada statusku.
\=\=\=
__ADS_1
Nama: BOURBON (Lv 1)
Race: Manusia
Umur: 34 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: rakyat jelata
Stat:
Strength: 1
Vitality: 1
Agility: 1
Dexterity: 1
Intelligence: 1
Luck: -1000
Skill: [tidak ada skill, Anda di bawah pengaruh penalti karena menyerang player dengan gelar ‘anak baik hati’]
Gelar: the foolish one, tidak akan ada lagi NPC yang mau melihat muka Anda
\=\=\=
Kenapa? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Dan tidak hanya di series ke-13 saja, aku mengecek di series-series lainnya yang masih aktif, mulai dari the ninth Elvendia sampai the twelfth Sriconia, statusku semua sama, tiba-tiba saja berubah menjadi ampas begini.
Tidak hanya itu saja, ketika aku mencoba mencari quest dari NPC seperti biasanya, aku malah diludahi, ditendang, dan bahkan dihina dengan brutal.
Dengan terpaksa, aku memasuki quest di desa pemula untuk menaikkan kembali levelku. Tetapi itu ternyata sia-sia juga.
Anda tidak bisa naik level karena di bawah pengaruh penalti yang bersifat permanen
Pemberitahuan sistem itu pun membuatku bergidik. Jika dikatakan permanen, apa akunku akan seterusnya seperti ini? Bukannya aku juga bisa membuat akun baru karena untuk membuat akun, seseorang akan discan otak dan retina matanya. Menghapus lantas membuat akun baru hanya akan mengembalikan kita ke keadaan semula.
Tetapi aku tidak menyerah dan tetap melakukannya. Aku menghapus akun Bourbon-ku ini lantas mencoba membuat akun baru dengan nama yang berbeda. Kali ini dengan nama Jackthezipper. Namun hasilnya,
Nama: JACKTHEZIPPER (Lv 1)
Race: Manusia
Umur: 34 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: rakyat jelata
Stat:
Strength: 1
Vitality: 1
Agility: 1
Dexterity: 1
Intelligence: 1
Luck: -1000
Skill: [tidak ada skill, Anda di bawah pengaruh penalti karena menyerang player dengan gelar ‘anak baik hati’]
Gelar: the foolish one, tidak akan ada lagi NPC yang mau melihat muka Anda
__ADS_1
\=\=\=
Tidak ada yang berubah selain nama saja. Aku tenggelam dalam keputusasaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Ini semua sejak aku berurusan dengan bocah yang bernama Luca itu. Siapa sebenarnya dia?