The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
192. Semangat Raia dan Chika


__ADS_3

[POV Raia]


Aku lemah.


Tiada alasan lain mengapa aku gagal terpilih sebagai tim inti di klub e-sport vrmmorpg-ku selain karena kelemahanku.


Jadi sudah jelas langkah apa yang seharusnya aku lakukan untuk meningkatkan diriku. Aku harus memperbaiki kelemahanku.


Berkat junior tertentu, kini aku memahami lebih baik tentang bakat dan kemampuan yang kumiliki setelah lama terjebak sebagai player shielder yang selalu menjadi bahan tertawaan. Ya, aku bisa merasakan bahwa sebagai seorang fighter-lah jalan hidupku.


Namun, itu tetap saja tidak mampu menutupi kelemahan diriku. Untuk menjadi kuat, masih panjang jalan yang harus aku tempuh.


“Yo, anak muda. Lagi-lagi datang ke kolosium untuk bertarung kah?”


Dia adalah Yanagi, paman bersemangat yang sudah kuanggap sebagai teman sendiri di kolosium. Dia sejatinya adalah seorang NPC. Walau demikian, dia selalu saja memberikanku saran yang sangat bermanfaat demi perkembanganku.


Hari ini sekali lagi aku akan bertanding di kolosium. Tanpa aku sadari, peringkatku di kolosium sudah lumayan naik yakni berada di peringkat 1080. Lawanku kali ini adalah seorang petarung yang berada di peringkat 951. Kali ini adalah pertarungan yang sangat penting karena jika aku berhasil mengalahkan lawanku, maka aku akan secara resmi memasuki rank 1000 terbaik.


Lawanku kali ini adalah seorang player yang berasal dari Rusia ber-ID JASOFFDUCKIE dengan badan dan otot yang besar. Senjata utamanya yang mematikan adalah head shock dan tendangan singa yang akan segera mengenai titik vitalmu yang dalam satu kali serangan akan mampu membuatmu game over.


Aku harus berhati-hati. Lawan kali ini tidak mudah.


Sesuai dugaan, Jasoff yang temperamental segera berlari ke arahku begitu aba-aba pertandingan dimulai. Dia melayangkan tinjunya dengan sangat cepat yang membuatku kewalahan dalam menghindarinya.


Namun, bukan itu hal yang paling fatal pada serangan Jasoff. Jika kamu terlalu menjaga jarak, maka serangan tendangan cepatnya akan segera memberikan serangan yang mematikan tanpa ampun. Namun, jika jarakmu terlalu dekat, maka head shock-lah yang menanti yang tidak kalah mematikannya pula.


Dia tidak hanya lincah, tetapi juga licik dan mampu menggunakan keunggulan fisiknya dengan sangat optimal.


Inilah yang dimaksud oleh Luca bahwa sebuah pertarungan itu tidak hanya mengandalkan murni kemampuan saja. Terkadang trik yang digunakan secara tepat akan mampu membalikkan hasil pertandingan secara seketika.


Seperti contohnya, seorang pemain wanita China yang mungil baru-baru ini yang berada di peringkat 200-an, sebelumnya secara mengejutkan mampu membanting lawan yang jauh lebih besar darinya melalui suatu teknik memanfaatkan berat badan lawan sendiri sebagai keunggulan.


Aku sadar bahwa aku bukanlah tipe pemain yang berpikir. Tetapi benar apa kata Luca, walau demikian, aku harus belajar untuk menyadari trik lawan dan tidak terjebak di dalamnya.

__ADS_1


Namun demikian, bukankah si Jasoff ini terlalu curang? Sudah badannya besar, dia pun memiliki banyak trik yang berbahaya. Akan tetapi, seperti yang dikatakan Luca bahwa kuncinya adalah pengamatan yang tajam.


Luca-lah yang mengatakan padaku bahwa aku terlahir dengan mata yang tajam yang terbukti aku dapat segera melihat bentuk senjata yang menyerang meskipun senjata itu masih jauh di belakang. Dan Luca pulalah yang mengatakan padaku bahwa aku harus memanfaatkan bakat bawaanku ini secara baik.


Katanya, penglihatan tajamku ini akan menjadi senjata yang sangat mematikan jika dipadukan dengan baik terhadap gerakan bertarungku yang refleks dan liar.


Aku harus bisa memperhatikan gerakan lawan dan menghindari tiap serangan serta trik liciknya. Selebihnya adalah mempercayakan insting dan gerak refleksku yang merupakan senjata terbesarku.


Tanpa sadar, aku mampu melihat dalam slow motion, Jasoff melakukan head shock-nya. Aku pun segera menunduk untuk menghindari serangan itu lantas aku pun melakukan penyerangan balik melalui gerakan tinju kombo lima kali guntlet berduri-ku tepat ke arah dagunya.


Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin karena aku terlalu fokus sehingga bisa melihat gerakan lawan lebih lambat atau bagaimana, aku juga kurang paham. Tetapi berkat itu, aku dengan mudah mengalahkannya ketika aku bisa melihat dengan jelas celah di setiap serangannya.


Apapun itu, ini adalah langkah maju bagiku dalam menemukan senjata dan gaya bertarungku sendiri sebagai seorang player fighter.


Aku pun menang melawan Jasoff lantas peringkatku naik ke 992. Aku telah mencapai targetku untuk masuk ke 1000 besar jajaran pemain terhebat kolosium untuk saat ini.


***


Hari ini berjalan seperti biasanya. Aku terjebak dalam penelitianku di bawah arahan Profesor Bruntall. Aku meneliti berbagai senyawa alkimia yang dapat kujadikan sebagai senjata di pertandingan.


Tidak hanya senjata, aku juga meneliti ramuan obat yang mampu mengobati lebih cepat daripada kemampuan penyembuhan seorang cleric maupun light mage. Kuncinya adalah item daun pohon dunia, item legendaris yang baru-baru ini aku temukan di Hutan Alchemist bersama Kak Krimson.


Dengan menggunakan katalis inti monster pohon Yate, aku berhasil mengekstrak esensi penyembuhan yang terkandung di dalam daun itu. Sedikit lagi penyempurnaan, produk ini akan selesai dan pastinya akan menjadi dukungan tim yang sangat berharga.


Dengan adanya ramuan obat, bahkan tanpa adanya cleric di tim pun, tim tetap tidak akan perlu khawatir lagi soal debuff racun. Ini tentunya akan sangat berguna jika dalam kondisi yang tidak diminta, seorang cleric akan tereliminasi duluan di arena.


Ini adalah item bawaan sehingga tanpa aku berada di arena pun, aku bisa mensupport rekan-rekanku melalui ramuanku.


Tentu saja, aku tetap ingin bermain di pertandingan. Oleh karena itu, aku juga melatih kemampuan bertarungku. Walaupun aku seorang alchemist, aku tetap harus mahir dalam menggunakan senjata. Yah, walaupun pedang agak berat buatku, setidaknya aku mahir dalam menggunakan cross bow.


Luca-lah yang menyarankan senjata ini buatku setelah aku mengeluh padanya bahwa aku sedikit trauma menggunakan pedang maupun pisau. Walau aku gemetar dalam serangan jarak dekat, aku memiliki gerakan yang lincah dalam menghindari serangan.


Setelah melihat karakteristik bertarungku yang seperti itu, Luca pun merekomendasikan cross bow sebagai senjataku. Di luar dugaan, ternyata senjata ini benar-benar nyaman buatku. Aku dapat menembak dengan mudah walaupun sementara melakukan pergerakan. Dan bagusnya senjata ini, aku tak perlu membidik terlalu akurat untuk membuat lawan waspada.

__ADS_1


Sebagai seorang alchemist, peranku di tim adalah sebagai pengacau formasi lawan melalui serangan kombinasi ramuanku. Sejak awal, aku tidak butuh senjata seperti pedang atau panah perihal aku bukan penyerang utama. Aku hanya butuh senjata untuk membuat lawan semakin sulit untuk membidikku agar aku semakin lancar dalam menjalankan peranku sebagai support.


Dan dengan keberadaan cross bow ini, aku benar-benar sangat terbantu dalam menemukan style bertarung yang paling cocok buatku itu.


Kemudian untuk senjata yang bertipikal ramuan, aku mempunyai beragam jenis, mulai dari racun, ramuan pengganggu mana, bom, jebakan, dan lain sebagainya.


Tetapi yang kali ini menjadi fokus perhatianku adalah ramuan jebakan yang tak akan mudah terdeteksi oleh lawan yang bisa dengan efisien menghancurkan formasi lawan.


Bom es yang bisa dalam sekejap membuat kulit lawan membeku dan mengoyaknya memang senjata yang baik, tetapi aku rasa itu masih kurang. Bagaimana pun, sebelum game over, lawan masih punya banyak waktu untuk bergerak turut mengeliminasi aku juga dalam petempuran.


Aku butuh ramuan yang bisa bereaksi lebih cepat hingga lawan dapat game over bahkan sebelum mereka sempat menyadarinya.


Untuk itu saat ini, aku banyak tenggelam dalam mempelajari katalis inti fire witch dan ice turtle yang kemungkinan besar dapat menjadi fondasiku dalam menemukan ramuan yang seperti itu.


Tidak hanya itu saja, ramuan-ramuan dasar seperti ramuan pelekat kuat juga turut kukembangkan. Walau sederhana, itu bisa menjadi jebakan yang sangat bermanfaat yang akan membantu rekan setimku dengan baik terutama bagi seorang assassin seperti Luca untuk semakin mudah dalam mengalahkan lawan.


“Chika, sudah siap?”


“Ah, Kak Krimson. Iya Kak, tapi tunggu sebentar ya, aku mau benah-benah dulu.”


Dialah Kak Krimson, senior baik hati yang tanpa pamrih bersedia untuk menjadi partner latihan fisikku setiap sore.


Berkat arahan Kak Krimson, kini aku semakin bisa bergerak lincah sembari menembak melalui cross bow-ku. Walaupun aku masih agak sedikit kurang nyaman dalam bergerak sembari meloncati pohon, tetapi dengan banyak latihan, aku yakin aku pasti akan bisa bertambah baik.


Walau demikian, sebenarnya aku sedikit merasa tidak enak meminta Kak Krimson latih tanding, perihal di pertandingan akhir tahun ini, kami juga akan menghadapi sekolah Kak Krimson, sekolah peraih juara satu tahun lalu, SMA Phoenix.


Namun karena Kak Krimson yang mengatakan sendiri bahwa hal itu tak akan menjadi masalah, perihal dia juga tidak ikut bertanding secara langsung karena larangan bagi peserta turnamen internasional mengikuti babak kompetisi di tingkat amatir itu, jadi mungkin tak apa aku menerima kebaikan hati dari Kak Krimson ini.


Intinya, belakangan ini benar-benar jadwal yang sibuk. Pulang sekolah, aku harus segera connect ke dalam game untuk melanjutkan penelitianku. Di sore hari, aku latih tanding bersama dengan Kak Krimson. Setelah itu pasca latihan, aku kembali bergelut dengan penelitianku.


Apatah lagi jika jadwal sibuk persiapan turnamen akhir tahun klub sudah dimulai. Pokoknya, aku harus lebih bersemangat.


Sungguh melelahkan, tetapi itu semua demi satu tujuan. Semuanya tentu saja agar kali ini aku dapat terpilih sebagai tim inti di turnamen akhir tahun tersebut.

__ADS_1


__ADS_2