
Di putaran keenam pertandingan itu, di kala aku mengira bahwa mungkin saja aku takkan memperoleh lawan perihal pemilihan lawan dimulai dari peringkat yang terendah, di luar dugaan justru aku ditantang oleh sang peringkat 14 saat ini, atlit e-sport vrmmorpg dari Lucifer, Kak Didi.
Itu wajar saja sejak para peringkat bawah tentunya sadar bahwa ini kesempatan terakhir mereka sehingga jika mereka tidak mengalahkan lawan dengan peringkat tinggi, mereka akan segera tamat.
Alhasil, justru Kak Ferdi dengan peringkat di tengah-tengah yang sama sekali tak memperoleh lawan bertanding.
Aku sebenarnya kurang mengenal dengan baik Kak Didi selain aku tahu bahwa dia adalah seorang shielder yang berpengalaman.
Kami pun bertanding dan sesuai dugaan, dia memang sesuai julukannya, perisai tak tertembus dari Indonesia.
Berbeda dengan Senior Areka yang masih memiliki celah di area bagian bawahnya maupun Eren yang lemah di titik butanya, Kak Didi sama sekali tidak memiliki celah yang menonjol. Dia juga cenderung jarang bergerak dan senantiasa berada pada posisi defensif sehingga agak susah untuk menerapkan jebakan padanya.
Satu-satunya yang dapat kuandalkan adalah dengan menggunakan racun. Mungkin dia juga sudah menganalisa pertandingan-pertandinganku sebelumnya, jadi mungkin saja dia tahu bahwa aku punya dua macam tipe racun.
Satu racun efektif jika seseorang menggunakan aura seperti yang sebelumnya kugunakan pada Senior Asario. Satunya lagi justru efektif dihindari dengan pertahanan aura seperti yang aku gunakan pada Kak Ferdi.
Aku pun mencoba memadukan keduanya untuk membuat Kak Didi bingung. Namun, aku tak menduga dia memiliki insting yang begitu tajam. Ketika aku melemparkan jenis racun aura, dia seketika berdefensif dengan perisai fisiknya, namun ketika kumelemparkan tipe racun biasa, dia menghempaskannya dengan auranya.
Aku bisa bilang bahwa Kak Didi bukanlah lawan yang tersulit kuhadapi, yang tersulit rekornya masih dipegang oleh Kak Ferdi, akan tetapi dia adalah lawan yang teralot yang paling sulit kutembus pertahanannya. Yah, wajar saja sejak dia adalah seorang shielder.
Akan tetapi ketika kumenerapkan tebasan lintas dimensiku yang walau belum sehebat Senior Asario, rupanya itu bekerja pada Kak Didi.
Dia kesulitan memprediksi arah tebasanku yang meliar yang tidak tahu akan menyerang dari arah mana. Berbeda dengan Senior Asario yang memfokuskan jumlah, aku lebih melatih skill-ku itu agar mampu bergerak lebih acak sehingga tak mudah diprediksi lawan.
Begitulah pada akhirnya, Kak Didi terkena kombo serangan tebasan lintas dimensiku, lalu ketika pertahanannya mulai goyah, aku menggunakan tali penjerat untuk mengekangnya. Kak Didi meronta, namun semakin dia meronta, tali penjerat semakin mengekangnya dengan lebih ketat.
Aku tak menduga bahwa Kak Didi yang kuperkirakan memiliki strength yang besar, tak mampu lolos dari jeratan tali penjeratku itu dan begitulah dia game over karena terjerat kuat-kuat di dalamnya.
Selain pertandinganku, di batch-ku kali ini ada dua pertandingan yang tidak kalah serunya.
Yang pertama adalah Eren yang menantang Lia.
Siapa sangka bahwa Lia begitu terampil menggunakan arah lintasan tembakan pistol sihirnya untuk menembus pertahanan Eren di celah titik butanya berkali-kali. Eren pun game over karena tak berhasil menghindari serangan Lia di titik butanya itu.
Kemudian yang kedua, adalah suatu keputusan yang tak kusangka-sangka datang dari Senior Areka yang biasanya berpikiran tenang. Dia menantang Kak Malik, sang juara satu sementara kompetisi ini.
Namun hal yang paling tak kuduga-duga, dia mampu bertahan dari aura es Kak Malik dengan cukup baik. Kak Malik sampai perlu bersungguh-sunggh untuk menghadapi Senior Areka yang bahkan pada saat menghadapi Senior Asario saja dia tidak terlihat serius.
__ADS_1
Tetapi dari awal, perbedaan kekuatan cukup jelas sehingga ketika Kak Malik berada pada mode seriusnya, perisai Senior Areka itu pun dengan mudah terbelah oleh aura es Kak Malik yang sekalian membelah tubuhnya menjadi dua. Yah, hasil yang wajar ketika Senior Areka dikalahkan oleh Kak Malik.
Demikianlah pertandingan babak keenam berakhir di batch-ku. Sebenarnya aku cukup penasaran dengan pertandingan di batch lain soalnya ada pertandingan sesama pemain Silver Hero yakni Kak Medina versus Kak Andra serta Kak Glen versus Senior Asario. Tapi apa daya, aku tak berkesempatan untuk menyaksikannya secara langsung.
Tapi yah, pasca kompetisi ini berakhir, aku juga dapat menonton rekaman ulangnya yang telah susah-payah sementara direkam oleh Kak Kirana saat ini.
Lalu dengan berakhirnya pertandingan di putaran keenam itu, diumumkan kembali peserta yang dapat melaju ke putaran selanjutnya. Rupanya, kali ini yang dapat melaju, tersisa delapan pemain saja.
\=\=\=
Peserta delapan besar
Malik (White Star) 539 poin
Luca (White Star) 488 poin
Lia (Silver Hero) 413 poin
Asario (Silver Hero) 359 poin
Andra (Silver Hero) 328 poin
Ferdi (Shadow Park) 270 poin
Brian (White Star) 188 poin
\=\=\=
Di pertandingan putaran ketujuh, kedelapan, dan kesembilan, lawan secara langsung dipilihkan oleh panitia.
Di pertandingan ketujuh itu pun, aku bertemu Kak Andra.
***
[POV Andra]
__ADS_1
Dialah seorang bocah yang tiba-tiba saja menarik perhatian Nona Lia.
Aku tidak benci padanya sejak dia adalah anak yang polos dan sopan.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku diam-diam menaruh rasa iri padanya. Dengan cepat dia menjadi pemain inti di klub di mana dia bertgabung.
Sebagai salah satu atlit di klub dengan banyak pemain berbakat, aku sudah menduga bahwa itu tidak akan mudah bagiku untuk menembus di tim inti. Tetapi Nona Lia melakukannya, bahkan di tahun pertama dia bergabung.
Sedangkan aku?
Tiga tahun aku bergabung di Klub Silver Hero, aku selalu saja terjebak di posisi cadangan. Dan tahun depan, aku sudah akan lulus dan berada di persimpangan penentuan karirku.
Ada sekat senior dan junior yang menghalangiku antara diriku dengan Senior Mark, Senior Medina, dan Senior Glen, sehingga mau bagaimana pun aku menunjukkan kecakapan diri, aku tetap tidak akan bisa melampaui mereka walaupun aku dengan percaya diri mengatakan bahwa aku lebih baik dari mereka.
Aku perlu prestasi yang cemerlang yang benar-benar spesial untuk mampu digubris oleh Pelatih agar aku mampu seperti Nona Lia yang melampaui mereka meskipun ada gap umur.
Namun, seberapapun aku menunjukkan bakatku sebagai scout yang bertalenta dibandingkan yang lain, aku tetap saja tak mampu melampaui para pemain tim inti itu.
Itu diperparah dengan adanya scout baru yang juga dengan bakat spesial yang baru-baru ini turut bergabung dengan tim. Dia memiliki skill steal dan pandangan titik buta yang tak ada padaku. Jika dia semakin berkembang, justru malah aku yang akan disalip olehnya alih-alih aku mampu mengalahkan para senior.
Ah, mengapa aku merasa bahwa masa depanku di tim begitu suram?
Oleh karena itulah, Luca, walau aku tak menampakkannya di permukaan, sebenarnya, aku sangat iri padamu.
Dan di pertandingan kali ini, betapa aku ingin mengalahkanmu.
Yah, walau kutahu itu mustahil sejak kau juga sama dengan Nona Lia, merupakan atlit yang sangat cemerlang yang mampu melampaui para orang berbakat lainnya. Tidak seperti diriku ini yang hanya dengan bakat biasa-biasa saja.
Oleh karena itu, majulah, Luca. Menangkanlah kompetisi ini bersama Nona Lia. Demi diriku ini juga yang senantiasa menjadi pendukung setia kalian berdua.
***
“Selamat. Pemenangnya adalah Luca dari White Star.”
Pengumuman dari wasit pertandingan itu pun mengakhiri mimpi dari Andra.
__ADS_1