
“Blindness! Sekarang saatnya, Papi, Pepi, Popi, Popo!”
Kak Nina berteriak dengan semangat mengoordinasikan jurusnya dengan para kelinci bertanduknya yang dia namakan hampir mirip dengan nama para tokoh anime Korea saudara kembar empat yang pernah aku tonton di acara tengah malam.
“Puaak! Puaak! Puaak!”
Tidak kalah dengan Kak Nina, Kak Raia justru telah berkembang jauh lebih pesat lagi. Jika boleh aku membuat prediksi kasar, mungkin kini Kak Raia telah jauh lebih kuat dibandingkan dengan terakhir kali aku melawan Kak Inggar dulu walaupun levelnya jauh lebih rendah sepuluh tingkat dari level Kak Inggar saat itu.
Kalian penasaran di mana kami saat ini?
Kami saat ini masih seperti biasa, terpaksa berada di perbatasan utara ibukota Kekaisaran Lalania menghadapi para zombie level menengah ke bawah yang berhasil lolos dari halauan para petualang veteran tingkat tinggi di utara atas perintah Kak Kaisar.
Entah mengapa, para monster zombie jadi lebih sering muncul belakangan ini. Tidak hanya di daerah perbatasan dengan tanah kematian saja, bahkan di daerah dekat pegunungan utara, tempat bangsa iblis biasanya bermunculan, malah kini turut menjadi tempat bermunculannya para zombie itu.
Tetapi terlepas dari semua itu, dari seratus keburukan sistem, setidaknya ada satu yang aku syukuri padanya. Berkat batasan level yang diberlakukan oleh sistem di tiap area, setidaknya monster zombie berlevel menengah ke atas akan tertahan oleh barier tak kasat mata di utara.
Oleh karena itu, Kak Nina dan Kak Raia hanya perlu menghadapi monster zombie level menengah ke bawah saja. Berbeda dengan monster hidup, monster zombie hanya memiliki sisa setengah kemampuannya saja sehingga kekuatannya pas buat lawan bertanding Kak Nina dan Kak Raia yang masih veteran pemula itu.
Tetapi ini tidak baik jika terus-terusan begini.
Sekuat apapun monster zombie yang kami hadapi, itu hanya akan menambah exp kami tanpa sistem mengakuinya sebagai level tertinggi monster yang kami hadapi sehingga kami sama sekali tidak bisa menggunakannya untuk naik level.
Sama halnya ketika aku mengalahkan basilisk berlevel 49 yang baru saja melepaskan kulitnya itu atau di saat aku menjalankan misi assasinasi dari Kekaisaran Lalania di mana aku membunuh pimpinan organisasi kriminal berlevel 50, itu sama sekali tidak akan meningkatkan levelku walau aku mengalahkan lawan yang berlevel lebih tinggi dariku.
Sistem sama sekali tidak mengakui korban berupa zombie, monster yang terluka, dan terlebih-lebih sesama manusia sebagai prasyarat untuk meningkatkan level.
Untuk yang pertama dan kedua, mungkin alasan sistem adalah karena monster tidak dalam keadaan optimalnya sehingga level mereka tidak bisa diukur karena pastinya akan lebih rendah dari yang terlihat seharusnya.
Untuk alasan yang ketiga, yah untuk mencegah sesama manusia saling membunuh mungkin. Bagaimana pun kuakui bahwa sistem terlepas dari sikap dinginnya itu, ternyata memiliki empati kemanusiaan juga. Untuk hal itu, sekali lagi aku salut pada sistem.
Tetapi sekali lagi kukatakan bahwa dari satu kesalutanku itu, terdapat seratus lebih kekesalanku. Dengan kata lain, lebih banyak hal yang menjengkelkan dari sistem daripada hal baiknya.
Yah, tetapi karena itu pula, sampai saat ini, sistem tetap masih mengakui winged gold elemental berlevel 40 sebagai monster berlevel tertinggi yang pernah kukalahkan. Sebagai akibatnya,
\=\=\=
Nama: LUCA (Lv 41)
Pekerjaan: Assassin [veteran tingkat menengah]
Exp: 82112/82112
CH: 100 %
__ADS_1
HP: 83999/84000
MP: 72997/74779
SP: 84002/84789
\=\=\=
aku masih mentok di level 41 meski exp-ku sudah full.
“Yayang Count Luca Auralia!”
“Yo, Master Count Luca Auralia”
Yang berisik di belakang itu adalah Lia dan Aura, yang terus-terusan mengejek namaku semenjak mereka tahu gelar memalukan yang diberikan oleh Kak Kaisar padaku.
“Lagipula apa-apaan dengan Auralia itu? Aku ini kan seorang Dewantara. Darimana Kak Kaisar bisa memperoleh nama konyol seperti itu?”
“Konyol apaan, Luca. Justru itu nama yang bagus.” Bisik lembut Lia tepat di sampingku. Aku bisa dengan jelas merasakan hawa nafasnya yang manis itu.
“Bagus apanya?! Nama jelek itu…”
“Soalnya, ada nama aku juga terselip di nama Luca. Luca Auralia. Bukankah itu sangat keren? Benar kan, Luca?” Sang gadis imut itu pun berucap sembari tersenyum manis padaku. Mana bisa hatiku tidak tergoda oleh keimutannya itu.
“Yah, kalau dipikir-pikir itu ada benarnya juga.”
“Jadi apa namanya baik atau jelek?”
“Yah itu, tentu saja baik.”
“Ya kan? Hehehehehehe.” Sang gadis manis pun tertawa menampakkan keanggunan di setiap sikapnya itu.
“Kalau begitu, Master, namaku juga ada di situ dong. Soalnya kan Auralia. Iya kan, Master?”
“Iya, iya. Aku ralat perkataanku. Count Luca Auralia adalah nama yang keren karena mengandung nama kalian berdua di dalamnya.”
“Hehehehehehe.”
“Hehehehehehe.”
Aku pun menyerah pada godaan kedua kombo betina itu membiarkan mereka berdua tertawa senang dengan kemenangan mereka dalam berdebat.
Yah, tapi jujur, aku juga baru menyadari bahwa nama belakang yang diberikan oleh Kak Kaisar itu ternyata adalah gabungan nama dari Aura dan Lia. Tetapi bukankah Kak Kaisar belum mengenal Aura maupun Lia? Jadi apakah ini mutlak kebetulan?
__ADS_1
“Luca, semua monsternya sudah ditangani. Tampaknya, tidak ada lagi monster yang dalam waktu dekat akan kemari.” Itu adalah Kak Nina yang berujar.
“Sekarang kita kemana lagi, Luca? Aku sudah tak sabar untuk mengayunkan tinjuku lagi. Para monster zombie tadi dibilang pemanasan pun tidak cukup.” Kak Raia tetap dalam semangatnya.
Tampaknya stamina mereka masih bisa untuk beberapa raid monster lagi.
Akan tetapi, aku juga bukannya bisa meninggalkan daerah ini. Para pasukan kekaisaran nampaknya belum siap menghadapi serangan zombie jika ditinggalkan sendirian. Dan jika sampai sesuatu yang buruk terjadi dan para zombie berhasil masuk menyerbu ibukota, maka puluhan nyawa pribumi dipastikan akan melayang.
Dan juga perihal drop item yang ampas dan reward misi yang kurang menggiurkan perihal masalah keuangan kekaisaran yang sedang buruk pasca reformasi besar-besaran, para petualang pun enggan melakukan misi di sini.
Kebanyakan malah lebih tertarik dengan dengan misi yang sama di perbatasan tanah kematian karena reward tuan tanah di sana bahkan sangat jauh lebih tinggi dari reward keluarga royale di sini.
Alhasil, hanya akulah dan party-ku saja yang bisa diharapkan di sini. Tetapi Kak Kaisar telah berjanji padaku bahwa setidaknya dalam waktu dekat, keuangan kekaisaran akan kembali stabil sehingga hal seperti ini takkan terjadi lagi ke depannya setelah itu.
Aku sebenarnya tidak enak pada Kak Nina dan Kak Raia karena mereka berdua pun telah tertahan pada level maksimal yang bisa dicapai mereka saat ini dan mengalahkan para zombie takkan lagi mampu meningkatkan level mereka.
Tetapi terlepas dari reward yang rendah-lah atau tidak bisa meningkatkan level sekali pun, aku tetap tidak bisa mengabaikan tempat ini.
Mungkin bagi para player lain, manusia yang tinggal di sini hanya sekadar NPC saja di mata mereka. Tapi mereka itu… manusia!
Namun, bagaimana bisa para player yang selama ini menikmati hidup damai di dunia nyata dan menonton kami dari balik layar sebagai objek kesenangan, menjadikan kemalangan kami dibasmi oleh para monster sebagai bahan obrolan di waktu luang, akan bisa memahami hal itu?
Kami para pribumi… tidak ada bedanya, sama-sama manusia seperti kalian.
Namun, aku juga tidak bisa menyalahkan mereka yang tidak tahu perkara apa-apa. Yah, sedari awal, kamilah yang lemah sehingga menjadi objek sasaran para monster.
Tidak, mungkin setelah ini gelombang zombie tidak akan separah di hari-hari sebelumnya lagi sehingga aku bisa cukup men-stand by-kan Aura di sini. Jika ada apa-apa, aku bisa menggunakan skill penukar posisiku dengan Aura. Tampaknya, tidak ada lagi alasan bagiku maupun party-ku untuk tetap berada di tempat ini.
Tetapi untuk jaga-jaga, sebaiknya kami memilih lokasi yang cukup dekat dengan tempat ini sebagai area leveling-up Kak Nina dan Kak Raia. Ada banyak tempat bagi veteran pemula untuk menemukan monster level menengah ke bawah agar bisa leveling-up.
Sebenarnya yang jadi masalahnya adalah aku. Ada banyak tempat di Benua Astrovia ini di mana kita bisa menemukan monster level menengah ke atas bagiku untuk dapat leveling-up. Tetapi hanya ada sedikit tempat yang diizinkan oleh sistem bagi veteran menengah sepertiku ini memasukinya.
Setahuku hanya ada lima tempat. Di antara kelima tempat itu, yang terdekat adalah hutan berburu herbal para alchemist yang sebagian wilayahnya terletak di Kekaisaran Lalania. Mungkin aku bisa mencoba mencari monster level menengah ke atas di sana untuk leveling-up.
Untuk alternatifnya jika aku tidak bisa menemukan satu pun di sana… daerah laut tenggara Kerajaan Indiya mutlak tidak bisa saat ini karena belum musim kemunculan monsternya. Daerah hutan Kerajaan Melodia… tidak, tidak, tidak, di mana pun itu asalkan bukan tempat itu. Aku sangat benci dengan perilaku primordialisme para bangsawannya.
Kalau begitu yang tersisa… daerah padang rumput Kerajaan Symphonia. Tetapi aku sedikit trauma dengan tempat itu perihal di situlah aku sempat tertelan oleh langit dan terdampar di dunia nyata.
Kalau begitu… satu-satunya yang tersisa hanyalah daerah hutan Kerajaan Doremi saja. Yah, tapi aku berharap bahwa takkan ada masalah di daerah hutan Kekaisaran Lalania sehingga aku cukup leveling-up saja di sana sampai mencapai level veteran tingkat tinggi.
Tetapi untuk saat ini, mari lupakan semua itu.
Besok sudah waktunya bagi Kak Nina dan Kak Raia menunjukkan perkembangan mereka di ujian kualifikasi pendaftaran klub e-sport sekolah. Jadi walau agak cepat, mari sudahi saja game untuk hari ini.
__ADS_1