The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
53. Luca dan Lia Membentuk Party?


__ADS_3

Lia memeluk Luca dengan bahagia. Tanpa sadar, mereka mengundang perhatian dua teman cleric dewasa Lia yang lain yang sedang menjaga anak-anak. Tampak anak-anak begitu antusias menyaksikan pemandangan sepasang kekasih yang sedang lovey-dovey sampai-sampai membuat kedua cleric dewasa, teman Lia tersebut, kebingungan untuk bagaimana menasihati anak-anak bahwa itu tidak layak mereka contoh.


Namun, tentu saja Luca masih belum tahu apa itu arti pacaran yang sebenarnya. Dia hanya mengikuti pace Lia saja.


Satu lagi cleric yang bahkan terlihat lebih malu lagi dibandingkan yang lain melihat pemandangan yang menurutnya sangat tidak pantas di depan umum itu. Dialah sang cleric di luar kelompok Lia yang ikut terjebak bersama mereka. Dia langsung berlari begitu saja meninggalkan tempat itu sambil menutup wajahnya yang memerah begitu barier yang mengurung mereka selama ini dilepaskan tanpa sempat sang gadis memperkenalkan namanya.


Masalah pun selesai dan semuanya kembali tenang. Namun, begitu Lia hendak kembali ke kelompoknya, dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada Luca, lantas menanyakannya.


“Ada apa, Luca?”


“Apanya?” Jawab Luca mencoba menyembunyikan apa yang membebani pikirannya.


“Hmm!” Pipi Lia lantas menggembung menunjukkan ekspresi marahnya yang imut itu kepada Luca.


“Jadi Luca tetap saja menganggapku sebagai orang lain rupanya.”


“Bukan begitu kok, Lia. Benaran tidak ada apa-apa. Aku hanya sementara kebingungan mencari dua anggota party lagi untuk membantuku dalam ujian pendewasaanku.” Ujar Luca menjelaskan dengan pembawaan yang santun tipikal pria idaman Lia.


“Ujian pendewasaan?”


“Oh, maksud aku ujian pembukaan kunci level yang keduaku.”


“Eh? Jadi Luca masih level 10 sekarang? Kalau dari cara bicaramu, kamu sudah membentuk party sebelum ke sini sebelum boss monster itu muncul, itu berarti exp mengalahkan boss monster tadi sia-sia belaka?!”


“Hehehehehehe. Begitulah. Yang penting aku dapat latihan.” Ujar Luca berwibawa.


“Padahal exp yang didapatkan barusan seharusnya lumayan banyak. Kalau begitu sudah diputuskan. Aku yang akan mengisi salah satu tempat di party Luca.” Lia serta-mengganti gearnya dengan semangat.


“Eh? Mana bisa begitu Lia! Pertandingan e-sport-mu sudah di depan mata. Bagaimana kamu bisa membantuku?! Lagipula dibandingkan kelas cleric, kini keberadaan kelas scout yang sedang memusingkanku karena sistem meminta satu orang minimal adalah scout di party.”


Tampang Lia tiba-tiba berubah menjadi serius, tampak memikirkan sesuatu.


“Hmm. Trus Luca sudah menemukan anggota scout untuk party Luca itu?”


“Itulah yang sementara ini kupikirkan. Aku sama sekali tidak mengenal satu pun pemain scout di klub.” Jawab Luca seraya menghela nafasnya.


Lia pun tersenyum nakal.


“Lalu kapan pelaksanaannya?”


“Jumat malam sampai minggu ini. Sistem hanya memberi kami waktu dua hari lebih pada quest. Mengingat ada jam malam bagi anak di bawah umur, itu lebih sedikit lagi. Trus sekarang sudah hari rabu. Sisa 3 hari sebelum tenggat waktunya tiba. Jikalau gagal membentuk party sampai di hari itu, aku harus menunggu minimal sebulan lagi untuk dapat menerima misi baru dari sistem.”


Senyum Lia pun semakin cemerlang seolah apa yang diucapkan oleh Luca memang sesuai seperti apa yang diharapkannya.

__ADS_1


“Kalau begitu sudah diputuskan, aku dan seorang temanku lagi yang akan mengisi tempat terakhir di party Luca.”


“Sudah kubilang, Lia. Pertandinganmu…”


“Kalau itu urusan pribadiku. Aku yang akan mengatasinya. Yang jelas, aku sudah menyanggupi untuk menjadi party Luca. Lagipula pertandingannya masih hari rabu. Masalah izin latihan biar aku yang nanti mengurusnya sama pelatihku. Luca tidak usah memikirkannya.”


“Tapi…”


“Aaaaah, tidak dengar, tidak dengar. Pokoknya, aku hubungi lagi jumat malam ya, Luca” Lia berteriak berusaha menutupi suara Luca seraya mendengung-dengungkan telinganya dengan kedua tangannya. Dengan itu, Lia meninggalkan Luca tanpa Luca sempat berkomentar lagi.


“Apa benar ini tidak apa-apa ya?” Gumam Luca dengan khawatir.


Oh iya, ngomong-ngomong, aku masih punya hadiah gatcha senjata dari quest sebelumnya yang belum kugunakan.” Sambil mengatakan itu, Luca mensummon dua tiket gatcha dari inventory-nya.


Mesin gatcha pun muncul lalu Luca memasukkan lembaran gatcha itu ke lubang mesin gatcha.


“Treketek ketek ketek.” Hadiah gatcha pertama keluar.


\=\=\=


Nama armor: Pakaian Silat Evony


Rank: SSR


Efek: membuat pemain mampu meng-copy strength seorang fighter tanpa perlu kehilangan kelas aslinya, strength bertambah 3 poin, agility meningkat 20 %


\=\=\=


Begitu Luca mengarahkan matanya pada syarat penggunaan, Luca hanya dapat menghela nafasnya dengan kecewa.


“Treketek ketek ketek.” Selanjutnya hadiah gatcha kedua keluar.


\=\=\=


Nama senjata: pistol kembar Hero tipe fisik dan Heroine tipe sihir


Rank: Ultra Rare


Efek: hero tipe fisik menembakkan bullet dengan mengorbankan item di inventory, jika pemain tidak mengorbankan item secara spesifik, maka item yang dikorbankan akan dipilih dari yang paling jarang digunakan pemain serta yang paling murah dan tidak langka, semakin besar nilai item yang dikorbankan semakin besar pula kekuatan bulletnya; heroine tipe sihir menembakkan bullet dengan mengorbankan MP, jika MP pemain tidak cukup, bisa mentransfer SP lalu kemudian HP pemain menjadi MP lalu digunakan, tetapi SP maupun HP yang ditransfer tidak menyebabkan SP maupun HP pemain turun sampai kurang dari 50 %, semakin besat mana yang dikorbankan semakin besar pula kekuatan bulletnya


Syarat penggunaan: agility 10, kedua pistol tidak bisa dipakai oleh pemain yang sama, sekali pemain memakai salah satu pistol, maka pistol yang lain tidak dapat lagi digunakan; syarat khusus hero tipe fisik tersedia item di inventory; syarat khusus heroine tipe sihir memiliki MP lebih dari 10 %, begitu MP mencapai 10 % atau di bawah, pistol tidak bisa digunakan


\=\=\=

__ADS_1


“Kalau begitu, mengapa mesti disummon kedua-duanya kalau hanya satu yang bisa digunakan.” Luca pun bergumam kesal.


“Tapi aku belum pernah menggunakan senjata seperti ini, jadi mungkin sia-sia saja buatku. Ah, sesuai dugaan luck 600 tak bisa membuatku memperoleh keberuntungan.” Begitulah Luca berujar yang jika sampai didengarkan oleh pemain lain, mereka mungkin akan mengeroyok Luca dengan kesal.


***


Keesokan harinya,


“Paaaaang!” Terdengar suara tamparan dahsyat dari ruang administrator guild assassin pusat tersebut.


“Maafkan aku, Kapten. Aku sama sekali tidak tahu. Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau anak itu kenalan Kapten.” Dialah Shubanz, sang kepala administrator pusat guild assassin yang terkenal akan kesewenang-wenangannya, saat ini sedang mengemis-emis meminta pengampunan dari sang kapten atas kesalahannya mengganti isi formulir Luca secara sepihak.


Sontak seluruh isi guild riuh, tetapi mereka hanya dapat menonton perkelahian itu. Tiada yang berani melerai sang kapten ketika sedang marah.


“Aku bukan melakukan ini karena Luca keponakanku. Tapi, karena kamu baru saja sudah menyalahgunakan kekuasaanmu.” Teriak sang kapten lagi dengan nada yang lebih marah.


Para wanderer serta beberapa anggota guild NPC baru yang menyaksikan kejadian itu pun jadi bertanya-tanya.


“Eh, tadi Kapten Heisel bilang kalau salah satu player adalah keponakannya?”


“Itu mana mungkinlah. Kamu kira ini negeri dongeng apa, ada seorang NPC terdampar di bumi lalu main game di negeri lamanya sendiri. Lagipula mereka itu hanya program. Tak perlu terlalu mendengarkan omongan mereka. Pasti itu hanya bagian dari pemicu quest saja. Tunggu saja, sebentar lagi di gedung ini akan ada quest baru muncul.”


Bisik-bisik yang tidak jelas dari para wanderer bercampur dengan para anggota NPC baru guild pun membuat Derickson memberanikan dirinya untuk maju menenangkan sang Kapten.


“Kapten, tenanglah. Ada banyak mata yang melihat.”


Berkat Derickson, sang kapten pun berhasil ditenangkan. Namun, semua anggota lama guild tersebut bisa memahami darimana kemarahan Heisel itu berasal. Semuanya tahu bagaimana Heisel sangat menyayangi keponakannya itu bahkan sampai mempercayakannya mengisi posisi wakil kapten.


Anggota-anggota lama guild assassin itu pun mengetahui bagaimana karakter Luca dan mereka turut menyayangi bocah baik hati yang telah mereka anggap sebagai adik bersama di guild tersebut.


Luca memang pendiam dan terkadang jika dia berujar, dia hanya akan membawa emosi. Namun terlepas dari semua itu, mereka semua mengetahui bagaimana ketulusan dan kebaikan hati Luca.


Namun beda cerita lagi bagi mereka untuk mempercayai cerita Heisel bahwa Luca yang sementara hilang itu telah menjadi wanderer. Jelas bagi mereka semua, itu adalah hal yang paling tak masuk akal.


“Mulai sekarang, kamu bisa meninggalkan tempat ini!”


“Maksud Kapten?”


“Kamu dipecat! Aku tidak butuh orang korup kayak kamu!”


Shubanz pun diusir dari guild. Heisel bisa menahan amarahnya, tetapi bukan berarti dia dapat memaafkan sikap korup Shubanz tersebut.


“Wah, wah, sudah lama aku tidak melihat Kapten semarah ini. Ada apa ya? Ngomong-ngomong, di mana Luca?”

__ADS_1


Bersamaan dengan ditendangnya Shubanz ke jalan oleh Heisel, sepasang wanita dan pria memasuki guild lalu sang wanita pun menyapa sang kapten seraya mencari Luca.


Begitu Heisel melihat wanita itu, betapa dia tak dapat menahan keterkejutannya.


__ADS_2