
Boss monster kelinci bertanduk level 10.
Boss monster yang sangat jarang ditemukan keberadaannya. Dikatakan di dalam forum game online yang bersumber dari situs resmi perusahaan pencipta game-nya sendiri bahwa monster ini akan memiliki kemungkinan muncul sebanyak 20 % ketika seratus ekor monster kelinci bertanduk dihabisi oleh player yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kemudian aku menambahkan informasi yang lain berdasarkan pengetahuan yang pernah aku kumpulkan selama hidup di Gardenia bahwa monster tipe beast akan merespon dengan kuat terhadap esensi kematian. Oleh karena itu, aku sengaja menuangkan 5 pecahan esensi kematian di dalam tubuhku sendiri untuk memancing kemunculan sang monster.
Dan bingo. Akhirnya boss monster kelinci bertanduk itu benar-benar muncul di hadapan kami.
Tentu saja dilihat dari levelnya, ini bukan apa-apa bagi seorang pemain veteran. Akan tetapi, bagi newbie tentu beda ceritanya.
Apalagi monster ini adalah monster bertipe strength. Dengan tinju dan tendangannya yang kuat, makhluk yang berjalan dengan kedua kaki ini yang sangat berbeda dengan cara berjalan rasnya yang lain, akan sulit dihadapi oleh Kak Raia dengan kemampuannya sekarang walaupun telah dilevel-up oleh guntlet berduri buatanku.
Aku yang harus menghadapinya seorang diri.
Saat ini bukanlah level-up yang penting buat Kak Raia dan Kak Nina, melainkan mengamankan kemampuan mereka. Kak Raia tampaknya telah kokoh dalam posisi sebagai fighter. Dan kini sisa Kak Nina yang perlu mengokohkan perannya sebagai seorang tamer. Ah, sebagai informasi tambahan, mereka saat ini kembali ke level 5 karena baru saja mereset apprentice job mereka.
Ah, satu lagi.
Bukanlah sang boss monster kelinci bertanduk yang kali ini aku incar sebagai calon pet Kak Nina, melainkan keempat middle boss kelinci bertanduk level 8 yang saat ini sedang mendampingi sang boss monster yang ukurannya hanya 1,5 kali lebih besar dari kelinci bertanduk biasa.
Alasannya sederhana, Kak Nina tampaknya belum mampu untuk mengendalikan beast sekaliber boss monster.
Namun dilihat dari aspek pertumbuhannya, sang middle boss monster juga adalah pilihan yang tertepat karena mampu mengikuti perkembangan level Kak Nina dengan baik tanpa terlihat mencolok sehingga membebani sirkuit mana tubuh virtual Kak Nina. Selain itu, sang middle boss monster menang dalam hal agility sehingga bisa benar-benar menjadi support yang baik untuk menutupi kelemahan Kak Nina dalam bertarung.
“Kak Nina! Bersiap-siap! Sasarannya adalah keempat middle boss monsternya. Kakak sudah belajar cara men-tame monster-nya kan?”
Aku berteriak kepada Kak Nina lalu Kak Nina merespon dengan anggukan pelan. Aku lantas mengalihkan pandanganku kepada Kak Raia.
“Kak Raia! Support Kak Nina selama proses pen-tame-an-nya! Aku yang akan menangani boss monsternya sendirian!”
__ADS_1
“Baik, Luca.” Lalu Kak Raia pun turut menanggapi arahanku.
Kuserahkan urusan keempat middle monster kepada mereka berdua. Aku yakin dengan kemampuan Kak Raia sekarang yang telah dimaksimalkan setelah mengambil job class yang tepat telah akan mampu menahan sang middle boss monster walau berada tiga level di atasnya. Terlebih, ada guntlet berduri buatanku yang me-level-up kemampuannya itu.
Tugasku saat ini hanya satu, menghalau sang boss monster selama proses pen-tame-an berlangsung. Aku tidak boleh mengalahkan boss monster-nya sebelum proses pen-tame-an-nya selesai karena itu akan menyebabkan sang middle monster akan turut ter-un-summon yang otomatis akan menyebabkan proses pen-tame-an akan gagal.
Jadi yang kulakukan hanyalah harus menghambatnya sampai proses itu selesai.
Kumelirik ke belakang. Tampak Kak Nina mulai membaca mantra tame-nya sembari Kak Raia melindunginya dari serangan sang middle monster selama prosesnya.
“Slash, slash, slash!” Aku menebas sang boss monster di bagian kakinya selemah mungkin, cukup untuk melukainya tanpa harus membunuhnya.
Bagaimana pun, aku harus hati-hati karena saat ini aku telah berlevel 21 sementara sang boss monster hanyalah level 10.
Aku membuat monster itu tidak bisa berjalan kemudian mengikatnya dengan tali yang aku buat sendiri dengan beberapa item dasar yang aku beli dari sistem yang dipadukan dengan serbuk tulang elemental dan tanduk serigala perak. Tugasku di sini sudah selesai. Aku akan menunggu sampai mereka berdua berhasil.
Aku tidak perlu turun tangan lagi. Dengan pengalamanku sebagai petarung, aku yakin Kak Nina akan berhasil dalam proses pen-tame-an-nya tanpa ada masalah dan Kak Raia telah cukup kuat untuk melindunginya selama proses itu. Akan tetapi, cukup melelahkan juga untuk menunggu seperti ini.
.
.
.
Dua jam sepuluh menit berlalu, akhirnya panggilan telepati dari Aura pun tiba di saat aku di sini sudah men-summon 25 boss monster kelinci bertanduk lainnya lantas mengalahkannya seorang diri. Tanpa sadar, aku sudah berada di level 23. Tampaknya, proses pen-tame-an Kak Nina sudah mendekati klimaksnya.
Segera setelah menerima panggilan telepati dari Aura, aku kembali ke party. Di sana, aku bisa menyaksikan badan Kak Nina yang bersinar putih diterangi oleh cahaya yang berasal dari tongkat hitam legam dengan ujung merah yang dipegangnya itu.
“Shak, shak, shak, shak.” Lantas, satu-persatu cahaya merembes dari badan Kak Nina ke arah masing-masing sang middle boss monster kelinci bertanduk yang telah babak belur tampak dihajar habis-habisan oleh Kak Raia.
__ADS_1
Setelah berselang beberapa waktu, proses pen-tame-an pun selesai tanpa ada kendala yang terjadi.
***
Siang itu, Lia dilanda kepanikan. Ini adalah hari terakhir sebelum waktu keberangkatannya ke luar negeri bersama timnya untuk mengikuti pertandingan e-sport tingkat internasional mewakili Indonesia di Amerika Serikat.
Bagaimana pun, ada satu hal yang menurutnya mesti dilakukan sebelum keberangkatannya. Lalu dengan penuh tekad, dia pun memberanikan diri untuk melakukannya.
.
.
.
Malam itu, dengan perasaan gugup, Lia bertamu ke rumah Luca.
“Ting tong.” Dengan segenap keberaniannya, didampingi oleh salah seorang asisten rumah tangganya, Lia menekan bel pintu rumah keluarga Judith.
“Ya, siapa?” Terdengar suara seorang wanita dari dalam yang lantas membukakannya pintu.
Wanita itu seketika membelalakkan matanya akan tamu yang tidak diduganya itu. Sebagai fans fanatik dunia e-sport vrmmorpg, dia kenal betul gadis yang ada di hadapannya itu, apalagi tim gadis itulah yang telah mengalahkan dengan telak tim pria idamannya.
Dialah Nina yang dengan mulut menganga karena kedatangan selebriti baru dunia e-sport secara tiba-tiba di rumahnya, berusaha menutupi mulutnya yang menganga itu sebelum ada lalat yang merasukinya.
“Siapa, Nina?” Seorang wanita lagi datang. Kali ini ibunya Nina, Judith.
Tak berbeda jauh dengan Nina, Judith juga terkejut sembari memberikan ekspresi yang sama. Hal itu karena pekerjaan Judith juga tidak jauh lepas dari dunia e-sport, walaupun sedikit agak berbeda sehingga tentu saja dia juga mengenal Lia sebagai selebriti dunia e-sport yang baru saja naik daun.
“Halo, Tante, dan Kakak Sepupunya Luca. Aku Lia, pacar Luca.” Dengan berusaha menampakkan senyum seramah mungkin, Lia menyapa mereka berdua.
__ADS_1
Tetapi bagaikan diterjang oleh semprotan air ledeng Pak Karno di dalam ruangan setelah selamat dari hujan lebat di luar, baik Judith maupun Nina tidak dapat mengolah akan banyaknya informasi sekaligus yang secara tiba-tiba dibebankan ke otak mereka itu.