
Aku tidak mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat itu.
Yang kurasakan saat itu hanyalah penyatuan hati dengan kancing esensi kenyataan yang membuat amarahku sedikit teredam dan aku mampu berpikir lebih logis.
Perasaan aneh seakan diselimuti cahaya yang meredam perasaan-perasaan negatif seperti rasa takut, keputusasaan dan sebagainya, serta mencuatkan perasaan untuk bisa berjuang lebih baik lagi.
Insting bertarungku pun terasa berubah. Jika dalam kondisi itu, aku biasanya akan mensummon senjata sabit bulan-ku, tetapi entah mengapa aku saat itu hanya ingin terekonsiliasi dengan hal-hal yang penuh cahaya. Itulah sebabnya, aku lebih memilih mensummon belati elemental cahaya.
Perasaan amarah dan perasaan negatif lainnya pun kembali mencuat ke permukaan begitu monster berhasil kabur dan aku gagal membunuhnya. Seakan rasa amarah yang selama ini menumpuk dan terus menumpuk di hatiku terlepaskan dalam satu kali embusan nafas begitu saja.
Kepalaku pun rasanya panas seakan tak sanggup menghadapi tekanan perasaan-perasaan negatif yang selama ini diredam oleh kancing esensi kenyataan. Lalu setelah itu, aku pun tak mengingat apa yang terjadi.
Begitu tersadar, aku telah log out dari game dan dirawat di rumah sakit.
Akan tetapi, lambat laun aku pun menyadari, bahwa aku tidaklah pingsan hanya sekadar semalam saja. Menurut Chika dan Diana yang kebetulan ada di ruangan ini pada saat aku sadar, aku telah pingsan selama 7 hari.
Berdasarkan keterangan Chika, tubuh avatarku di game tiba-tiba meledak begitu saja. Karena khawatir, Kak Krimson dan Chika segera log out dari game dan mengabaikan misinya. Hal ini tentunya membuatku merasa bersalah khususnya kepada Kak Krimson perihal kudengar ramuan penting yang seharusnya dijaganya dalam termos khusus itu menjadi rusak karena dia meninggalkan quest di tengah jalan.
Perihal baik Chika maupun Kak Krimson secara tiba-tiba saja tidak bisa mengontakku di dunia nyata, mereka pun segera menghubungi Kak Nina dan Kak Raia. Kak Nina yang panik pun segera menuju ke kamarku dengan luntang-lantung dan apa yang ditemuinya di kamarku adalah kondisiku yang sudah terjatuh di lantai di mana bando penghubung kesadaran yang kukenakan untuk terkoneksi di dalam game telah hangus terbakar.
Kak Nina dan Om Rowin pun akhirnya membawaku ke rumah sakit dengan perasaan yang amat teramat sedih perihal kondisiku yang pingsan terlihat hampir seperti telah menjadi mayat.
Kudengar pula dari Chika dan Diana, bahwa Om Rowin segera mengajukan komplain menuntut pertanggungjawaban kepada perusahaan AD yang membuat game-nya perihal aku yang menjadi korban sehingga terluka sewaktu bermain game, tetapi begitu Tante Judith tiba, komplain itu segera dinegosiasikan dan memutuskan untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan saja.
Siapa yang menduga bahwa Tante Judith adalah lima besar pemegang saham terbesar di Perusahaan AD.
Menurut Chika dan Diana, bahkan Om Rowin pun baru tahu soal itu.
Dan di sinilah mereka saat ini, baik Tante Judith, Om Rowin, Kak Nina maupun Kak Raia juga masih berada di rumah sakit tertidur pulas setelah lega mengetahui aku telah terbangun dalam keadaan tanpa cacat sedikit pun. Sepertinya mereka selama ini cukup menderita begadang secara bergantian untuk mengawasi perkembanganku.
Seketika aku mengingat bahwa ini telah hampir tengah malam dan baik Chika maupun Diana masih ada di rumah sakit.
“Kalian tidak pulang? Apa orang tua kalian tidak khawatir? Kondisiku sudah agak baikan, jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.”
__ADS_1
“Bagaimana kami tidak khawatir, Luca. Kamu pingsan lama sekali. Aku kira… aku kira kamu akan… Hiks hiks.”
“Maafkan aku, Chika, telah membuatmu khawatir.”
“Ah, tidak, bukan begitu. Aku justru lega karena kamu akhirnya telah siuman.”
“Kalau soal orang tua kami, sebenarnya kami tinggal ngekost di sini. Kami aslinya dari daerah lain yang merantau untuk sekolah di sini. Jadi rasanya tidak akan ada apa-apa kalau kami pulang agak malaman.”
“Tapi, Diana, Kota Jakarta kan bahaya kalau tengah malam. Sekarang sudah hampir jam 9, sebaiknya kalian pulang saja, terlebih besok kan kalian juga masih harus sekolah.”
Setelah bercepika-cepiki sebentar, Chika dan Diana pun akhirnya menuruti saranku dan bergegas pulang ke kost mereka masing-masing.
Bertepatan setelah Chika dan Diana pamit, kulihat Tante Judith segera membuka matanya. Kuyakin sejak tadi Tante Judith tidaklah tidur karena berniat menguping pembicaraan para anak muda.
“Luca, kamu sudah baikan, Nak?”
“Iya, Tante. Sebentar lagi aku akan pulih.”
“Tidak, Tante. Besok adalah hari-hari penting seleksi penentuan tim inti klub e-sport vrmmorpg sekolah. Aku harus hadir.”
“Siapa peduli tentang e-sport atau apalah itu namanya! Yang penting adalah kesehatanmu, Luca.”
“Hmm.” Aku hanya dapat mengangguk dengan perasaan bersalah menuruti kehendak Tante Judith itu.
Masih ada hari sabtu, satu hari tersisa, di babak seleksi itu. Tertinggal seberapa jauhnya pun aku lewat skor, aku pasti akan dapat segera menyusul ketertinggalannya dan masuk ke tim inti jika aku menantang dan menang melawan peringkat 1, 2, dan 3-nya.
Untuk seharian besok, aku hanya harus fokus pada pemulihan diri. Aku sebenarnya sangat ingin menanyakan kepada Kak Nina dan Kak Raia secara langsung tentang bagaimana perkembangan skor sekarang, hanya saja harga diriku yang ingin tampak tidak peduli dengan hal-hal sepele seperti itu menghalangiku.
Yah, lagipula aku juga akan segera tahu jawabannya jika melihatnya lusa nanti.
.
.
__ADS_1
.
Keesokan harinya, Kak Krimson berkunjung tepat bersamaan dengan Lia dan Kak Andra di waktu kunjungan pagi itu. Lia benar-benar membuat keributan perihal dia baru tahu bahwa aku telah siuman. Tampaknya sejak aku pingsan, dia jadi rutin mengunjungiku tiap pagi dengan mengabaikan sekolahnya. Untuk itu, aku jadi merasa bersalah padanya.
“Kak Krimson, maaf, Kak. Katanya karena Kakak mengkhawatirkan aku dan log out dari game, quest itu jadi gagal karena ramuannya rusak.”
“Apa yang kamu katakan, Luca? Lagian itu cuma quest. Keesokan harinya setelah itu, aku juga langsung segera menerima ulang quest-nya lantas terselesaikan dengan baik. Lagian di hari itu, quest-nya juga tidak sepenuhnya gagal. Itu berhasil 80 %. Tetapi karena tidak 100 %, rewardnya pun menurun. Tapi apa? Lagian itu hanya segelintir quest yang bisa dijalankan kapan saja quest-nya muncul kembali.”
“Lagian aku sudah menjadi sosok kepercayaan NPC di sana. Lebih daripada itu, aku lebih penasaran dengan kemunculan monster berlevel lebih dari 100 yang tiba-tiba itu. Setahuku itu adalah semacam prajurit dari last boss di akhir event game. Siapa yang sangka hal seperti itu bisa muncul di awal-awal game, dan tidak hanya itu, di tempat antah-berantah pula seperti di perbatasan antara Kerajaan Doremi dan Negeri Nostalgia itu.”
“Maaf, Kak. Itu mungkin salahku yang memancing monster seperti itu ke tempat kita perihal ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan monster yang seperti itu. Karena keberadaanku… karena keberadaanku, para mercenary di sana… hiks hiks… mereka tewas karena monster itu… hiks hiks.”
Tanpa sadar aku mengeluarkan air mata. Itu benar. Seandainya saja aku tidak ikut quest Kak Krimson itu, mungkin saja monster itu tidak akan muncul. Sama halnya dengan Dojoron sewaktu di Kekaisaran Lalania, monster itu mungkin saja muncul karena terpancing oleh hawa keberadaanku.
Tidak ada bukti yang pasti dengan semua itu. Tetapi sejak aku log in sebagai player di Gardenia sejak terdampar di dunia nyata, banyak keanehan yang telah terjadi padaku.
Aku memperoleh gelar-gelar yang sangat menguntungkan melebihi player lain di luar luck-ku yang buruk [< -- masih mengira kalau luck-nya itu buruk, belum sadar kalau luck 600 itu sangatlah wow], juga ada Aura, sang naga emas yang menjadi pet-ku yang seharusnya hanya dimiliki oleh seorang saint ketika dunia terancam akan bahaya raja Iblis.
Banyak keanehan-keanehan telah terjadi, belum lagi soal celah dimensi itu, doppleganger Nenek Noni dan cucunya yang menggantikannya di dunia nyata, dan aku bukanlah orang bodoh yang tidak peka bahwa akulah pusat dari segala penyimpangan itu.
Dan jika dugaanku benar, sabit bulan-ku adalah bukan senjata sembarangan. Senjata ini bisa menyerap hawa negatif seperti hawa iblis atau hawa kematian dan mentransfernya menjadi energi cahaya. Tidak akan aneh jika aku berasumsi bahwa senjata inilah sebenarnya yang memancing Dojoron datang menyerang.
Setelah aku menerima kancing esensi kenyataan dari Kak Kaisar, hawa gelap dari sabit bulan tertutupi. Akan tetapi, sewaktu kami memasuki kawasan hutan di daerah perbatasan antara Kerajaan Doremi dan Negeri Nostalgia yang wilayahnya cukup gelap karena mataharinya tertutupi oleh pepohonan sekitar, kancing esensi kenyataan pun melemah sehingga monster-monster iblis bernama itu pun mampu kembali merasakan hawa sabit bulan dariku.
Itulah alasan yang paling logis yang mampu kupikirkan mengapa Aeghter sampai menyerang saat itu.
Jika demikian, aku tidak salah lagi adalah keberadaan yang sangat berbahaya baik bagi para player lain, terlebih bagi para NPC di dalam game itu.
“Apa`kamu bicara soal agro di dalam game, Luca? Siapa juga yang peduli dengan hal-hal kecil seperti itu seperti kematian para NPC. Lagipula mereka hanya NPC. Semakin kuat musuhnya pula, semakin menarik game-nya.”
Ingin rasanya aku meninju mulut kurang ajar dari Kak Krimson itu. Tetapi lebih dari siapapun, akulah yang paling tahu bahwa tidak ada niat jahat sedikit pun dari Kak Krimson mengatakan hal itu. Itu semua perihal perbedaan sudut pandangnya saja.
Itu benar, mengapa sampai aku melupakan fakta penting itu. Tidak ada satu pun orang-orang di dunia nyata ini yang akan sedih dengan kematian kami. Bagi mereka, kami tidak lebih dari sekadar karakter extra dari game belaka.
__ADS_1