
Sehabis bermain game dan mengerjakan PR sekolahnya, Luca tak punya tenaga lagi dan segera membaringkan tubuhnya yang mulai tak berdaya itu ke tempat tidurnya.
“Ah, kalau dipikir-pikir, seharian tadi aku lupa menanyakan sama Kak Nina soal kesalahan sistem yang memberikanku hadiah uang senilai seratus juta rupiah itu. Aku harus mengingat untuk menyampaikannya besok.” Gumam Luca.
Tampak Luca mulai akan tenggelam ke dalam dunia kapuk, tetapi matanya tiba-tiba terbuka kembali. Sekilas Luca merasakan suatu hawa keberadaan asing di kamarnya. Namun ketika Luca kembali ke dalam keadaan kesadaran penuhnya, dia ternyata tak mendapati sesuatu yang ganjil di kamarnya itu.
“Ah, itu pasti hanya perasaanku saja karena terlalu letih. Kalau dipikir-pikir, vitality itu ternyata stat yang penting juga ya. Seketika aku membubarkan party-ku dengan Kak Kirana dan aku kembali ke stat vitality-ku yang asli, aku hampir saja langsung pingsan.”
“Kalau dipikir-pikir winged gold elemental itu juga kalah karena vitality-nya yang rendah sehingga cooldown skil-nya lama. Andai monster itu memiliki vitality yang sedikit lebih tinggi, mungkin yang terjadi justru party-ku bersama Kak Kirana-lah yang akan game over duluan.”
Setelah sejenak berguling-guling di atas tempat tidurnya, Luca pun tertidur.
Luca tidak tahu saja bahwa nalurinya benar. Memang sedari tadi, ada sesosok makhluk di dalam kamarnya yang sedang mengawasinya dengan mata kuning-nya yang menyala.
Keesokan harinya, Luca terbangun dan mendapati di meja makan hanya tersisa Pak Rowin seorang. Bu Judith telah pergi berangkat kerja ke kantornya sejak pukul 3 dini hari, sementara Nina pergi ke sekolah lebih cepat dari biasanya bahkan sebelum sempat Luca keluar dari kamarnya.
Sehabis sekolah, Luca berkunjung ke kelas Nina dan lagi-lagi tidak mendapati keberadaan Nina di sana.
“Maaf ya, Dik Luca. Tampaknya Nina sedang terburu-buru pergi pas bel pulang berbunyi. Dia pasti sangat menanti-nantikan tayangan siaran ulang pertandingan Tim Silver Hero melawan Tim Passionate kemarin di Warnet Zion setelah mendengar kemenangan Tim Silver Hero yang mutlak mengantarkan mereka mewakili grup G, alih-alih tim favorit Nina, Tim White Star, di putaran semifinal. Kalau Dik Luca mau, Dik Luca bisa menemui Nina di sana.”
“Ah, kayaknya itu agak berat, Kak Raia. Pelatih klub e-sport katanya ingin bertemu denganku hari ini sepulang sekolah.”
Dengan raut wajah yang kecewa, Luca pun meninggalkan kelas tersebut menuju ke ruangan klubnya.
“Oi, selamat telah berhasil menyingkirkan Kak Areka dan mengambil tempatnya di klub e-sport.” Dialah Egi yang menyapa Luca dengan kasar.
__ADS_1
Luca tersenyum kecut menanggapinya, “Hahahahaha. Kok kedengarannya, aku malah seperti orang jahat yang merebut permen dari tangan anak kecil.”
“Tapi kamu tunggu saja ya, Luca. Aku pasti akan segera menyusulmu.” Tanpa mendengarkan respon Luca, Egi bicara seenaknya begitu saja lantas pergi.
“Selamat siang, saya Luca.” Ujar Luca sembari menyapa semua orang yang ada di ruangan klub. Tampak mereka semua telah disibukkan oleh suatu video di dalam komputer sehingga tiada satu pun yang menotice kehadiran Luca.
Luca turut berbaur bersama mereka tanpa ada satu pun yang menyadari kehadirannya itu.
Rupanya, apa yang mereka tonton adalah siaran ulang pertandingan Tim Silver Hero melawan Tim Passionate. Dan pemain yang sementara ini mereka tonton, tidak lain adalah Lia, sang cleric dari Tim Silver Hero melawan seorang fighter pria berbadan besar dari Tim Passionate.
Walaupun Lia adalah seorang cleric yang berspesifikasi sebagai support yang fokus pada mantra buff dan debuff serta penyembuhan kepada rekan-rekan setimnya. Lia yang ditonton Luca di dalam video itu bertarung dengan tinjunya. Yah, walaupun bukan tinju dengan sekadar tangan kosong saja, melainkan tinju yang dilapisi oleh aliran mana.
Namun Lia benar-benar bertarung dengan tinjunya yang bahkan sampai membuat fighter pria berbadan besar dari Tim Passionate itu tersudutkan.
“Hei, apa dia memang biasanya bertarung seperti ini?” Tanya seorang pria jangkung kurus berkacamata di antara mereka.
“Kalau menurutku, dia menyesuaikan dengan kemampuan bertarung lawannya. Waktu bertarung dengan Tim Wolf Fang kan lawannya adalah archer yang sangat gesit sehingga dia menghabisinya dengan mantra area sekali serang.”
“Kemudian waktu bertarung dengan tamer dari tim White Star juga demikian. Waktu itu beast yang disummon adalah sejenis beruang yang lebih rentan terhadap serangan sihir daripada fisik sehingga dia lebih memilih untuk menggunakan sihir.”
“Tetapi berbeda dengan pertarungannya kali ini. Fighter itu cukup lincah, tetapi strength-nya juga tidak main-main. Jelas menembakkan sihir kuat dengan resiko keakuratan rendah maupun sihir area yang langsung mencakup semua area pada radius tertentu namun tidak cukup kuat, adalah bukan pilihan.”
Kali ini giliran seorang wanita berambut panjang yang tampak ayu yang menjawab pertanyaan tersebut.
“Nah, Yurika. Jika kamu di posisinya, sanggupkah kamu bertarung sepertinya?” Tanya pria jangkung kurus berkacamata kembali kepada wanita yang tadi terakhir menjawab.
__ADS_1
“Mana mungkin aku bisa seperti itu, Robby. Cleric itu yang terlalu hebat. Tapi bagaimana bisa seorang cleric bisa mempunyai spek bertarung sehebat itu? Kudengar-dengar dia juga masih kelas 1 SMA saat ini. Jangan-jangan, dia melakukan sesuatu pada akunnya?” Yurika pun menjawab dengan spekulasi.
“Maksudmu dia berbuat curang?”
“Tidak, Lia bukan orang yang seperti itu. Walau dengan stat lemah sekali pun, jika tubuh asli kita sudah terbiasa bertarung, gerakan seperti itu adalah hal yang mudah untuk dilakukan walaupun bukan spesialisasi kelasnya.”
“Woaaaah” Sontak mereka berempat yang ada di ruangan itu terkaget begitu baru menyadari keberadaan Luca di tengah-tengah mereka.
“Kamu! Sejak kapan kamu berdiri di sini?!” Kali ini, respon datang dari salah seorang pria bertubuh paling pendek di antara mereka yang sedari tadi diam saja.
“Ah, tadi aku sudah memperkenalkan diri kok. Para Senior saja yang tidak mendengarkannya karena terlalu sibuk menonton. Kebetulan kita membicarakannya, ayo kita buktikan saja omonganku itu, Senior, dengan bertarung secara langsung. Aku sebenarnya dari kelas assassin, tetapi kali ini, aku akan melawan Senior sebagai fighter dengan spek strength seorang assassin yang rendah. Bagaimana? Apa para Senior berani menerima tantanganku?”
Ujar Luca pun memprovokasi.
“Kamu, bukannya kamu bocah newbie yang kemarin mengalahkan Areka?!” Teriak Robby. Tampaknya mereka akhirnya baru menyadari siapa pemuda bertubuh mungil yang berdiri di hadapan mereka itu. Dialah Luca, seorang newbie yang baru saja berhasil mempecundangi pemain e-sport terbaik sekolah mereka dengan skor 3 – 0.
Robby tampak ragu melawan Luca setelah menyaksikan bagaimana kemarin Areka dibuat babak-belur olehnya. Tetapi setelah Luca mengatakan akan bertarung sebagai seorang fighter, kebalikan yang terburuk dari kelas assassin, tampak membuat Robby sedikit bimbang, mungkin saja kali ini mereka bisa menang melawan newbie overpower tersebut.
Namun, di tengah kebimbangan Robby tersebut, ada di antara mereka yang sama sekali tidak memikirkan reputasi lantas menantang Luca dengan lantang.
“Hei, bocah bau bawang! Kamu baru saja meremehkan jiwa semangat seorang fighter rupanya. Baiklah, kuterima tantanganmu! Akan kutunjukkan bagaimana jiwa semangat seorang fighter yang sesungguhnya.”
Dialah pria bertubuh paling pendek di antara mereka namun sedikit lebih tinggi dari Luca, satu-satunya pula siswa kelas 2 yang berada di posisi tim inti saat ini, dialah Inggar, pria yang tanpa gentar menantang Luca yang telah mengalahkan pemain terbaik di sekolah mereka secara babak-belur.
“Baiklah Senior, kuterima tantanganmu. Akan kubuat pula Senior babak belur layaknya orang di dalam video itu.” Ujar Luca dengan tampang jahat yang dia tiru dari Senior Areka sembari menunjuk ke video yang sementara mereka tonton.
__ADS_1
Rupanya di video, Lia telah menang mutlak dari seorang fighter pria berbadan besar dari Tim Passionate itu melalui adu jotos.