The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
90. Terjebak Bersama Paman Menyebalkan


__ADS_3

“Hahahahahaha. Paman pasti bela-belain main game di usia Paman demi tampil hebat di hadapan putri Paman ya? Semangat, Paman! Tidak ada yang namanya istilah tua di hadapan vrmmorpg.”


“Raia benar. Dan juga, Paman akan aman di belakang perlindungan kami.”


“Terima kasih. Kalian benar-benar anak-anak muda yang baik.”


Hah. Obrolan apa yang baru saja kudengar. Putri jidatmu! Orang yang ada di hadapan kalian itu adalah salah satu dari tiga besar perjaka tua yang terkenal di seantero Gardenia. Dan melindungi apanya! Jika dia mau, dia bisa melawan naga api sendirian hanya dengan menutup mata.


Tanpa memperdulikan omongan yang tidak penting itu, aku, Kak Nina, Kak Raia, dan Paman Visgore yang menyamar lantas memasuki dungeon pemula. Karena tampaknya dia tidak mengenali penampilan tubuh avatarku ini, jadi rasanya aman-aman saja untuk saat ini.


Begitu kami memasuki dungeon pemula, di luar dugaan, party kami bisa diterima oleh sistem dengan normal padahal ada syarat yang menyatakan bahwa pemain di atas level 10 setidaknya hanya ada satu orang.


Itu berarti, sistem memang mengakui level Paman Visgore yang menyamar sebagai level 6. Aku tidak tahu level pastinya, yang jelas pastinya Paman Visgore berlevel di atas 10. Bagaimana bisa dia juga menipu sistem?


Kami mulai memasuki lantai pertama dan di situ, para slime tipe air telah menanti kami dengan boss monster mereka yang bertipe es.


Aku pun mengamati tindakan apa yang akan Kak Nina dan Kak Raia lakukan.


“Tetap di belakang kami, Paman! Walau terlihat imut, para slime ini berbahaya!”


Kak Raia terlihat begitu serius melindungi sang pemenggal legenda benua itu. Aku sampai-sampai menggelengkan kepala. Apa kiranya yang akan terjadi jika mereka tahu identitas sebenarnya dari orang itu.


Karena pada akhirnya Paman Visgore jadinya tidak terlibat pertempuran sehingga dapat memaksimalkan perkembangan Kak Raia dan Kak Nina, maka anggap saja semuanya tetap berjalan sesuai dengan rencana.


Kak Nina mengaktifkan sihir ilusinya yang menghipnotis para slime kacung, sementara para beast kelinci bertanduk milik Kak Nina beserta Kak Raia menerjang sang boss monster.


Sang boss monster sebenarnya akan lebih efektif diserang jika menggunakan sihir cahaya milik tongkat tamer Kak Nina sementara para beast dan Kak Raia menghalau para slime kacung. Akan tetapi, cara itu ternyata terbukti berhasil juga.


Para beast kelinci bertanduk berbarengan dengan guntlet berduri milik Kak Raia berbenturan dengan kecepatan tinggi dalam kurun jeda yang sangat singkat pada tubuh sang boss monster slime es.


Alhasil, tubuh yang terbuat dari es itu tak mampu lagi mempertahankan wujudnya di tengah tekanan eksternal yang menerjangnya terus-terusan dari luar dan dia pun kalah lalu menghilang.


Lantai pertama berhasil di-clear-kan tanpa ada masalah.

__ADS_1


Kami lantas menuju lantai dua.


Di situ, seratus undead telah menanti kami yang terespawn sebanyak tiga tiap semenit. Namun, berkat kegesitan Kak Raia, hal itu tidak ada apa-apanya. Dengan kemampuannya yang sekarang, kini para undead bagai cemilannya belaka. Kemampuan terespawn sebanyak tiga permenit tidak ada apa-apanya bagi Kak Raia ketika dia dapat mengeliminasi lima, tidak, enam permenit para undead itu tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun.


“Kak Raia, stop! Biar Kak Nina yang menghapapi boss monster lich-nya agar Kak Nina juga bisa segera naik ke level delapan!”


Atas perintahku itu, Kak Raia pun menurunkan keagresifannya dan hanya bertindak sebagai support serangan kali ini begitu masuk pada pertarungan melawan boss monster.


Pergerakan Kak Nina yang lincah dengan senjata tongkat tamer di tangannya yang bisa juga berfungsi sebagai gada mini betul-betul mendukung gaya serang Kak Nina yang amburadul. Sementara itu, keempat beast kelinci bertanduknya dapat mensupport Kak Nina dengan melindungi titik butanya.


Benar-benar kombinasi amburadul yang elegan.


Inilah sesuai bayanganku apa battle tamer itu. Seorang tamer tidak harus bersembunyi di belakang dilindungi oleh para beast-nya sehingga menjadikan dirinya sendiri sebagai kelemahan fatal serangan.


Kak Nina lantas menghajar tulang tengkorak berjubah hitam itu secara brutal sembari menghempaskannya pula dengan gada, tidak, tongkat tamer yang dipegangnya itu. Tubuh sang lich perlahan mulai retak dan dia pun kehilangan daya hidupnya lantas menghilang.


Lantai dua pun terselesaikan dengan bonus Kak Nina yang naik level ke level delapan.


Kami bergerak ke lantai tiga. Di sinilah party Kak Nina dan Kak Raia mengalami stack sebelumnya.


Mutlak, para beast dan Kak Raia yang bertipe serangan jarak dekat tak dapat menjangkaunya. Para monster itu pun berelemen cahaya sehingga semua serangan sihir tongkat tamer Kak Nina sama sekali tidak berguna.


Syarat dari sistem untuk dikatakan sebuah individu mengalahkan monster untuk dihitung sebagai prasyarat naik levelnya juga luar biasa susah. Tidak hanya pemain itu harus melakukan serangan terakhir pada monster, tetapi juga damage total yang diberikan haruslah yang terbesar di antara para pemain lain yang ikut memberikan damage serangan.


Ini benar-benar susah.


Tidak, maksudku bukan susah mengalahkan monsternya. Tetapi, bagaimana aku bisa bertarung sambil menahan diri tidak membunuh boss monsternya. Itu benar-benar sungguh sangat menyusahkan.


‘Skill: berjalan vertikal.’


Aku berlari melewati dinding lantas mengeliminasi satu-persatu monster winged gold elemental itu. Jumlah mereka tampaknya 3 kali lipat lebih banyak daripada sewaktu aku menghadapi mereka sebelumnya bersama Kak Kirana. Setelah aku menghitung jumlah pastinya, ternyata ada 35 ekor.


Hmm?

__ADS_1


Ada yang aneh?


Mereka tampak ketakutan?


Di saat itulah aku baru tersadar bahwa di dekat mereka saat ini ada sosok dengan elemen yang sama tetapi lebih superior daripada mereka. Pet-ku, Aura, adalah seekor gold dragon. Wajar saja jika mereka mengalami debuff ketakutan.


Tetapi anggap saja ini peluang yang mempermudah pekerjaanku.


“Slash, slash, slash.” Tanpa terasa, kini yang tersisa hanya boss monster winged gold elemental-nya saja yang berlevel 9.


Sekarang, bagaimana caranya aku bisa menjatuhkan monster itu agar masuk jangkauan serangan Kak Nina atau Kak Raia tanpa memberikan damage yang besar?


Aura pun memberikanku sebuah ide yang menarik.


Aku melukai bagian antena kepala sang monster yang bertanggung jawab pada tubuh mereka yang bisa melayang. Damage-nya telah kupastikan hanya sekitar 20 – 30 % saja. Ini cukup untuk membuat salah satu dari Kak Nina atau Kak Raia naik ke level 10.


Saat ini Kak Nina masih berlevel 8, sementara Kak Raia berlevel 9. Jika Kak Nina yang mengalahkan beast itu sekarang, palingan dia hanya akan naik sampai level 9 saja untuk hari ini. Di sisi lain, exp Kak Raia sudah terisi full yang berarti bertarung melawan monster lebih lanjut hanya akan membuang-buang exp itu secara sia-sia saja.


Artinya, lebih efisien untuk membiarkan Kak Raia yang naik level duluan.


“Kak Raia, kuserahkan serangan terakhir monster itu kepada Kakak!”


“Yosh! Baik, Luca! Serahkan padaku!”


Sehabis itu, Kak Raia mengarahkan tinjunya secara beruntun kepada sang monster yang tengah terkapar tidak berdaya akibat debuff ketakutan dan stun tired akibat serangan dadakanku dengan sangat sadis sampai-sampai aku akan mual sendiri jika menjelaskannya dengan kata-kata. Intinya sang monster dihajar sedemikian rupa sehingga akan dianggap melanggar hak asasi perikemonsteran jika ada.


Sang boss monster pun pada akhirnya kalah dan menghilang di tangan Kak Raia. Lalu Kak Raia pun mencapai targetnya naik level ke level 10.


“Yaay, akhirnya aku bisa mencapai level 10! Terima kasih, Luca. Dari awal aku memang sudah percaya padamu! Hehehehehehehe.” Kak Raia pun bersorak dengan riang.


“Kalau begitu, mari kita ulangi sekali tahapannya dari awal. Kali ini berfokus pada peningkatan level Kak Nina.”


Namun, ekspresi bahagia itu tidak bertahan lama setelah mendengar ucapanku.

__ADS_1


Semuanya berjalan lancar sampai saat itu. Akan tetapi, dadaku tiba-tiba bersinar dan ruang di sekitar kami menjadi terdistorsi menampilkan pemandangan yang berbeda, suatu pemandangan yang gelap gulita yang dipenuhi dengan bau mayat terbakar.


Ah, inikah efek kancing itu?


__ADS_2