
[POV Evan]
Aku adalah Evan Plitzerd. Aku adalah imigran yang terlahir di wilayah konflik. Makanya ketika datang ke Indonesia yang damai, betapa aku begitu bersyukur.
Aku tidak punya hobi khusus. Aku pun tidak punya kegemaran tertentu. Namun bahkan aku yang hidup dengan penuh kehambaran ini punya sesuatu yang sangat penting untuk dihargai. Dialah adikku, Zevan Plitzerd yang hanya lahir 5 menit setelahku. Bagiku, dia adalah orang yang paling kusayangi di dunia ini sekaligus menjadi sosok idolaku.
Dia adalah pemuda yang terlahir dengan penuh talenta. Apa saja yang diinginkannya pasti akan bisa diwujudkannya. Namun, Zevan yang berbakat itu pun tetap punya kekurangan. Kekurangan yang membuatnya tidak bisa mengembangkan potensi maksimal dirinya. Dan kekurangannya itu tidak lain adalah aku. Ya, karena dia memiliki seorang kakak yang tidak berguna seperti aku.
“Wah, aku kalah lagi. Sudah kuduga Kakak memang hebat. Jurus api Kakak memang sangat luar biasa.”
Lagi-lagi dan lagi-lagi dia menutupi kemampuannya yang sebenarnya perihal dia tidak mau menyakiti perasaanku dengan mengalahkan kakaknya ini yang terlihat lemah di matanya.
Kamu bercanda?! Bukan ini Zevan yang ingin aku lihat! Jika kemampuanku memang cuma sebatas ini, maka akan aku terima! Tetapi mengapa kamu juga mesti ikut-ikutan menyesuaikan pace kamu menggunakan standar kakakmu yang tidak berbakat ini?!
Kamu sudah gila?! Padahal, aku hanya ingin melihat sekali lagi Zevan yang bersinar.
“Berhenti meledekku dan tunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya, Zevan!”
“Tapi Kak, ini kemampuanku yang maksimal, lho. Hahahahaha. Tapi sayangnya aku tidak bisa menyamai Kakak yang hebat.”
“Dasar bocah sialan yang bodoh!” Tanpa sadar, aku pun membentak Zevan dengan perkataan yang kasar.
Kulihat mukanya terdistorsi menampakkan aura yang penuh kesedihan. Namun aku bingung tentang apa yang harus kulakukan. Jikalau aku menenangkannya, maka sampai kapan pun dia tak akan menyadari kebodohannya. Namun, jika kubentak lebih dari itu, aku takut kalau adikku itu akan runtuh.
Dengan perasaan yang bagai ada batu yang menonjol di pundakku, aku pun meninggalkannya dengan mendecakkan lidah.
“Ck, sampah!”
“Kakak, tunggu.”
Aku hanya mengabaikannya lantas pergi dari tempat itu.
“Hei, Evan. Bukankah kau terlalu kasar pada adikmu sendiri? Tidak bisakah kau berbuat sedikit lebih baik pada adik kembarmu itu? Padahal dia sudah berusaha dekat denganmu.”
“Diam! Aku tidak butuh nasihatmu, Asti!”
Asti mencegatku, namun dengan kasar, aku segera melepaskan pegangan tangannya di lengan kananku itu.
“Bukan ini Zevan ingin kulihat! Zevan yang ingin kulihat seharusnya jauh lebih bersinar!”
“Kakak?”
“Kalau kau tidak mengerti juga, maka jangan pernah dekat-dekat denganku lagi.”
Entah sejak kapan itu dimulai, rasanya jarakku dengan adik kembarku sendiri semakin menjauh. Dan betapa itu membuat hatiku sakit.
“Yo, Evan.”
“Luca?”
Sesosok bocah berambut pirang kehitam-hitaman yang tampaknya juga merupakan orang asing sama sepertiku itu tiba-tiba mendekatiku lantas menyapaku.
“Maafkan aku jika ini terdengar aku sepertinya ikut campur dengan urusan kalian. Hanya saja, aku tak tahan melihatmu terus-terusan salah paham dengan saudara kandungmu sendiri, Evan.”
“Apa maksud kamu, Luca?”
“Dia bukannya berusaha menyembunyikan kemampuannya kepadamu, Evan. Tetapi itu adalah gejala trauma. Tidakkah kamu berpikir akan sesuatu yang bisa menyebabkan Zevan trauma di saat dia menggunakan kekuatan besar di dalam game?”
Seketika aku teringat kembali kejadian itu. Mengapa aku bisa melupakannya? Zevan bukannya menahan diri menggunakan kekuatannya ketika berhadapan denganku. Pasti alam bawah sadarnya menginstruksikannya bahwa betapa dia tidak ingin melukai aku sama seperti waktu itu. Itulah sebabnya dia senantiasa menurunkan kemampuannya tanpa sadar ketika melihat aku.
“Hei, Luca. Apa menurutmu aku keluar saja dari klub ini? Tidak, apa aku sebaiknya keluar saja dari sekolah ini? Dengan demikian, Zevan pasti akan menjadi lebih kuat dengan jauh dari sumber traumanya.”
__ADS_1
Namun, bukan Luca-lah yang menjawab pertanyaan itu. Seseorang rupanya sedari tadi telah menguping pembicaraan kami.
“Tidak! Jangan, Kakak. Apapun itu, apapun itu akan kulakukan. Jadi tolong, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Hiks… Hiks… Jika itu yang Kakak inginkan, maka aku akan menjadi lebih kuat lagi. Jadi tolong, jadi tolong jangan tinggalkan aku, Kak. Hiks… Hiks…”
“Zevan, bukan seperti itu…”
“Lihatlah. Betapa sebenarnya kalian berdua saling menyayangi. Namun karena tak ingin melukai perasaan satu sama lain, kalian justru berakhir saling melukai. Evan, apa yang paling dibutuhkan Zevan sekarang adalah kamu sebagai dukungan mentalnya. Dan Zevan, aku sebenarnya tidak tahu kejadian persisnya, tetapi bukankah kakakmu telah memaafkan perbuatanmu itu?”
“Lagipula kamu tidak sengaja melukainya. Jadi, daripada berpikir untuk tidak melukainya lagi, bagaimana kalau ubah mindset-mu itu menjadi agar bagaimana kamu bisa menjadi lebih kuat supaya bisa lebih melindungi kakakmu?”
Sebuah kata-kata klise sederhana yang tampak tidak ada artinya. Namun, entah mengapa timbul kehangatan di hatiku. Tidak hanya aku, kulihat Zevan juga demikian, terlihat dari perubahan raut wajahnya yang menjadi lebih cerah.
Aku sama sekali tidak menduga bahwa Luca punya kekuatan yang spesial seperti ini untuk membuat orang lain tenang dengan kata-katanya. Padahal baru beberapa hari yang lalu, aku berpikir bahwa dia adalah bocah ember yang selalu mampu membuat orang lain terluka tanpa sadar dengan lidahnya yang tajam namun memiliki muka yang polos itu.
Benar kata Luca, pada dasarnya kesalahpahaman ini bermula dari kurangnya komunikasi dan saling memahami satu sama lain.
“Maafkan aku, Zevan.”
“Tidak Kak, aku juga minta maaf.”
Entah mengapa aku bisa merasakan bahwa saat ini akan menjadi titik mula bagi kebangkitan Zevan kembali. Tidak hanya Zevan, aku juga akan berupaya sekuat tenaga pada babak seleksi pemilihan tim inti turnamen akhir tahun ini.
***
Demikianlah waktu cepat berlalu. Tanpa terasa, telah tiba saatnya kembali perombakan susunan tim berdasarkan rangking terbaru. Dan di luar dugaan, susunan tim benar-benar dibolak-balikkan.
Sayangnya Evan masih gagal dalam meningkatkan dirinya dan tetap terjebak di posisi tim cadangan pendamping.
Tetapi berbeda dengan Evan, Zevan dengan cepat melejit ke posisi 15 dan menempati posisi tim cadangan utama. Walaupun dia gagal memasuki tim inti, terlihat Zevan telah sangat puas dengan hasil itu. Baginya, itu adalah langkah awal untuk semakin berkembang di tahun mendatang.
Melihat Zevan yang kembali bersemangat, Evan pun terlihat lega. Walau hasil menunjukkan bahwa mereka berdua gagal, tidak seperti itu bagi Evan. Zevan yang kembali bersinar adalah apa yang paling berarti baginya.
Tidak ada perubahan posisi di posisi pertama dan kedua sendiri yang tetap ditempati oleh Luca dan Areka. Namun secara mengejutkan, posisi ketiga ditempati oleh orang yang sama sekali tidak diduga-duga. Dialah Yuda, salah satu swordsman pemalas yang kembali memperoleh tekadnya berkat Luca.
Inggar, Rena, dan Danang telah lama tersingkir dari tim inti dan harus berpuas diri di tim cadangan utama di sesi kali ini. Dan kini, posisi kesembilan tim inti akan ditentukan melalui pertarungan akhir antara Robby dan Raia tersebut. Siapapun di antara mereka berdua yang menang, maka mutlak orang tersebutlah yang akan mengisi posisi kesembilan di dalam tim inti tersebut.
Di luar dugaan, Raia yang biasanya bersikap liar lebih memilih untuk bermain dengan hati-hati. Mungkin karena dia tahu bahwa kesalahan sesedikit apapun akan segera menyingkirkannya dari posisi tim inti yang diidam-idamkannya.
Robby-lah yang duluan maju menyerang. Raia memiringkan badannya ke kanan, dengan indah menghindari serangan tebasan pedang Robby. Berbagai serangan tebasan pedang Robby selanjutnya kemudian datang dengan lebih intens lagi, tetapi tak ada satu pun yang berhasil mengenai fighter liar itu.
Raia kemudian bersalto lantas melayangkan tinjuannya kepada Robby, namun Robby segera dapat menangkisnya dengan pedangnya.
Akan tetapi, mulut semua penonton pun seketika terbuka. Mereka semua takjub akan kehalusan gerakan Raia yang rupanya dia telah melakukan feint.
Semua penonton tertipu akan gerakan itu, termasuk Robby yang melawannya di dalam. Serangan tinju adalah feint. Apa yang sebenarnya diincar oleh Raia adalah keseimbangan Robby.
Dia pun menendang kaki kiri Robby sehingga keseimbangannya ambruk seketika dan dia pun runtuh. Tanpa memberikan Robby kesempatan untuk berpikir, Raia segera melayangkan serangan ultimate tinjuannya itu kepada Robby yang tak bisa lagi membuat pertahanan diri.
Dengan demikian, Robby pun kalah dalam satu tinjuan penutup yang dengan telak mengenai wajah avatar-nya hingga hancur. Begitulah posisi tim inti terakhir akhirnya diisi oleh Raia.
\=\=\=
HASIL AKHIR PENENTUAN POSISI ANGGOTA KLUB E-SPORT VRMMORPG SMA PELITA HARAPAN
TIM INTI UTAMA
Luca (assassin)
Areka (shielder)
__ADS_1
Yuda (swordsman)
Yudishar (mage)
Yurika (Cleric)
TIM INTI CADANGAN
Egi (archer)
Diana (scout)
Sabrina (mage)
Chika (alchemist)
Raia (fighter)
TIM CADANGAN UTAMA
Robby (swordsman)
Inggar (fighter)
Rena (tamer)
Danang (archer)
Zevan (mage)
Ikki (swordsman)
Zeno (shielder)
Asti (fighter)
Isman (swordsman)
Shea (cleric)
TIM CADANGAN PENDAMPING
Evan (mage)
Nina (tamer)
Joshua (mage)
Alvin (shielder)
Martin (swordsman)
Jacob (swordsman)
David (shielder)
Ula (fighter)
Zen (swordsman)
Ellen (cleric)
__ADS_1
\=\=\=