
Pagi harinya, aku bertemu dengan Senior Areka sesuai janji di tempat pertandingan final e-sport vrmmorpg amatir tingkat SMA.
Aku kemudian menjelaskan kepada Senior Areka mengenai detail bahaya questnya yang bisa saja berpengaruh pada tubuh fisiknya yang berbeda dengan quest vrmmorpg biasa, tetapi entah karena dia bodoh dan tidak terlalu memperhatikan kondisi tubuhnya atau dia terlalu percaya padaku, dia segera menyetujui quest itu dan menyerahkan tubuhnya sepenuhnya padaku.
Apapun itu, aku sedari awal telah memutuskan ini, jadi aku akan memenuhi harapan Senior Areka dengan menjaga tubuhnya baik-baik.
Singkat cerita, kami pun menyaksikan pertandingan final e-sport vrmmorpg amatir tingkat SMA tersebut.
“Eh, kenapa kita repot-repot harus menonton pertandingannya sampai selesai?”
“Ah, Senior masih belum paham juga rupanya. Agar bisa mengalahkan lawan, terlebih dahulu kita harus paham benar tentang lawan kita. Kedua tim yang bertanding saat ini adalah lawan potensial kita di turnamen akhir tahun.”
“Kamu, apa benar kamu percaya diri bisa memenangkan turnamen itu?”
“Kalau aku tentu saja percaya diri, tetapi selama para anggota tim yang lain mampu level-up setidaknya ke level yang bisa disetarakan dengan mereka.”
“Baiklah kalau kau sudah berkata begitu. Mari kita tonton pertandingan ini sampai akhir.”
Demikianlah, aku dan Senior Areka pun memutuskan untuk menyaksikan pertandingan tersebut sampai akhir.
Kedua tim memang aku akui hebat. Tetapi di antara keduanya, aku bisa mengatakan bahwa tim baru SMA Yayasan Eden memang berbeda dalam artian positif.
Aku sebelumnya sudah menduga bahwa tim bentukan SMA cikal-bakal Tim Silver Hero itu pastinya bukanlah tim biasa, mengingat bagaimana Tim Silver Hero sendiri membentuk timnya dengan cara yang tidak biasa.
Bagaimana tidak, tim inti mereka sama sekali tidak memiliki seorang shielder. Yah, walaupun ada Kak Toni di tim cadangan. Akan tetapi formasi utama mereka berupa formasi liar penyerangan gabungan tanpa tameng antara swordsman, mage, dan tamer dengan dukungan seorang assassin dan battle cleric sebagai support serangan di mana sang cleric juga bertindak sebagai pemberi buff.
Namun, tim bentukan SMA Yayasan Eden ini adalah sama sekali kebalikan dari pola Tim Silver Hero. Mereka adalah tim all-defensif dengan pola serangan jarak jauh. Ada seorang shielder yang menjadi pusat pertahanan mereka di mana seorang archer dan mage memberikan serangan jarak jauhnya di balik sang shielder itu. Tidak lupa pula ada seorang cleric yang menjadi pemberi buff.
Dan yang paling spesial lagi adalah adanya seorang scout yang menjadi asisten pertahanan di celah yang dilewati oleh shielder. Benar-benar tipe all-defensif.
Beberapa saat kemudian, pertarungan pun tampaknya sudah memasuki babak akhir. Sang lawan Tim SMA Puncak Bakti memasuki mode serangan offensif penuhnya yang berpusat kepada pemain swordsman mereka.
Sang swordsman menerima dukungan buff tidak hanya dari sang cleric, tetapi juga dari sang mage dan shielder rekannya. Dengan buff yang maksimal itu, sang swordsman pun berlari dengan penuh keyakinan menerjang pertahanan inti sang shielder lawan. Akan tetapi, walau dengan semua buff itu, sang swordsman tetap tak dapat menembus pertahanan sang shielder.
__ADS_1
Di sinilah aku mengerti mengapa Tim SMA Yayasan Eden memfokuskan formasi mereka kepada sang shielder. Shielder itu bukan pemain biasa.
Dengan gagalnya serangan setelah berupaya menebas berkali-kali perisai sang shielder, sang swordsman lawan pun mundur. Namun, keanehan pun terjadi di situ. Pedangnya hilang.
Rupanya, itu adalah skill steal milik sang scout. Dengan hilangnya pedang sang swordsman, mutlak dia juga tidak punya lagi alat sebagai penahan serangan. Serangan bertubi-tubi dari archer dan mage lawan pun harus diterimanya dengan menggunakan tubuhnya yang tanpa pertahanan.
Walau dengan baju besinya yang kokoh, itu tentu saja tak akan mampu menahan serangan gabungan dari seorang mage dan archer sehingga sang swordsman pun segera tersisih di arena.
Dengan hilangnya penyerang inti dari mereka, formasi Tim SMA Puncak Bakti pun mulai goyah. Tampak sang assassin dari tim tersebut berupaya mengeliminasi sang scout lawan melalui serangan sembunyi-sembunyi yang tampaknya sudah direncanakannya dari awal sejak dia sudah cukup lama menghilang di arena. Akan tetapi, serangan itu digagalkan mentah-mentah oleh kutukan sang cleric lantas diakhiri melalui tangan sang scout sendiri.
Kini sisa tiga pemain Tim SMA Puncak Bakti yang bertahan. Akan tetapi, perihal pemberian buff kepada rekan swordsman mereka sebelumnya, baik stamina maupun MP mereka sudah tampak terkuras duluan. Hingga pada akhirnya, ketika sang archer dan mage lawan melancarkan serangan jarak jauh kepada mereka, formasi mereka itu segera runtuh.
Satu persatu anggota tim SMA Puncak Bakti pun gugur di arena entah karena terkena serangan panah fisik atau pun terkena serangan panah sihir api.
SMA Yayasan Eden segera keluar sebagai pemenang tanpa ada satu anggota mereka yang game over di arena.
“Pola serangan all-defensif kah? Menarik juga.”
“Eh? Apa kamu bilang sesuatu, Luca?”
Hari itu, daftar juara turnamen awal tahun akademik tingkat SMA pun ditentukan dengan SMA Yayasan Eden sebagai pendatang baru keluar sebagai pemenangnya, menyingkirkan sang juara bertahan SMA Puncak Bakti ke posisi kedua.
Adapun untuk penentuan juara ketiga, pertandingan sebelumnya telah dilakukan antara SMA Angkasa Jaya vs SMA Mulia Karsa dan yang keluar sebagai pemenang sekaligus memperoleh juara ketiga tidak lain adalah sang mantan juara kedua, SMA Angkasa Jaya.
Akan ada pemberian penghargaan pula untuk juara keempat, kelima, dan keenam, yang itu berarti termasuk sekolah kami yang memperoleh peringkat kelima yang akan diadakan keesokan harinya. Akan tetapi, entah mengapa aku merasa malas menghadirinya.
Yah, mari melupakan hal esok terlebih dahulu. Masih ada hal penting yang harus kulakukan malam hari ini.
.
.
.
__ADS_1
Malam hari pun tiba. Aku melakukan kontrak dengan Klub White Star dengan tanpa masalah. Kini, aku akhirnya resmi menjadi bagian dari Klub White Star.
Namun ketika Kak Kirana memperkenalkanku terhadap semua member tim, aku pun jadi bertanya-tanya,
“Ngomong-ngomong, Kak Kirana, di mana pelatih Klub White Star-nya?” Tanyaku penasaran.
Seketika aku mengucapkan kalimat tersebut, tampak suasana tim terlihat agak sedikit canggung, kecuali untuk Kak Bento yang entah mengapa dia justru mempertanyakan sapaanku kepada Kak Kirana.
Apakah baginya aku terlalu sok dekat dengan Kak Kirana sampai memanggilnya dengan sebutan Kakak? Tapi menurutku itu biasa saja dan tidak ada yang salah. Entah apa yang ada di pikiran Kak Bento.
“Luca, mana pantas kamu menyebut orang ini dengan sebutan Kakak. Soalnya tahun ini dia sudah genap berusia ti…”
Kak Bento tampaknya ingin mengatakan sesuatu kepadaku, tetapi aku gagal memahaminya soalnya mulutnya dibekap duluan oleh Kak Brian.
Di saat itulah, Kak Kirana dan Kak Malik menyebutkan faktanya kepadaku,
“Luca, sebenarnya klub kami sedang tidak memiliki pelatih.”
“Iya, itu benar, Luca. Soalnya dana di klub kami sedang sangat tipis-tipisnya sehingga untuk merekrut seorang pelatih pun kami tidak mampu.”
Seketika aku menunjukkan ekspresi wajah panjang kepada mereka, Kak Kirana seketika dengan panik mengguncang-guncang tubuhku sembari berkata,
“Luca, kamu tidak akan membatalkan kontrak kita karena persoalan ini kan? Kumohon, Luca, kasihani Kakak ini.”
Bukannya aku hendak melakukan seperti apa yang dikatakan Kak Kirana hanya karena persoalan pelatih yang tidak ada, tetapi melihat ekspresi memelas Kak Kirana saking segitunya, aku jadi merasa bertambah kasihan.
“Ehem. Aku takkan membatalkan kontrak kok, Kak Kirana.”
“Benarkah?”
“Benar, benar.”
Barulah setelah kuyakinkan seperti itu, Kak Kirana tampak tersenyum segar kembali.
__ADS_1
Sisa waktu di malam hari itu pun, kami habiskan dengan perayaan penyambutanku masuk klub.
Semuanya berjalan baik-baik saja, tetapi entah mengapa ekspresi Kak Kania begitu gelisah.