
\=\=\=
SHADOWMONARCH
S07
VIRUSLADY
SIN
ANGEL
KALORABRIGHT
KRIMSONALC
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
MYASARIO
XXX
BRIANBRIAN
XXX
XXX
XXX
MALIKMALIK62
\=\=\=
__ADS_1
Malam itu, peringkat player The Last Gardenia baru saja diperbarui. Aku pun melihat peringkat Kak Krimson yang naik drastis dari posisi 14 ke posisi 7. Kak Krimson telah benar-benar bekerja keras.
Adapun untuk Senior Asario sendiri, dia turun peringkat dari posisi 9 ke posisi 14. Yah, itu wajar saja karena dari keterangan Lia, sejak kekalahannya di turnamen e-sport vrmmorpg tingkat internasional itu, Senior Asario lebih banyak mengurung dirinya untuk melakukan pelatihan fisik ketimbang pelatihan game.
Waktu itu, aku belum mengenalnya, tetapi rupanya yang bulan lalu berada di posisi 8 dan bulan ini naik dua peringkat ke posisi 6 tidak lain adalah salah satu anggota Lost Child yang baru-baru ini aku kenal di Amerika, Kak Kalora.
Aku sempat bertanya tentang mengapa hanya dia yang masuk papan peringkat, sedangkan para anggota lainnya juga sangat hebat-hebat. Ternyata, Kak Kalora menjawab alasan yang sangat sederhana, yakni justru karena mereka sudah terlalu jenius sehingga malah mereka sama sekali merasa tak tertantang lagi untuk memainkannya.
Tetapi, Kak Kalora juga sempat bilang bahwa selain dia, Kak Aghena juga sering aktif main di game The Last Gardenia. Tetapi mengapa kalau begitu, aku tak pernah melihat namanya di papan peringkat 20 besar? Apa karena Kak Aghena sebenarnya payah dalam game petualangan?
Mengingat bahwa pada prinsipnya, pertandingan turnamen dan permainan petualangan memang memiliki sedikit konsep kemahiran yang berbeda.
Yah, melupakan itu, ada dua pemain lagi yang membuatku sangat penasaran, yakni Kak Malik dan Kak Brian. Seingatku, bulan lalu mereka belum masuk list rangking 20 besar. Tetapi kali ini mereka masing-masing menempati posisi di urutan 20 dan 16.
Itu bisa saja karena keahlian mereka bertambah hebat. Tetapi itu aneh. Karena sejak awal, baik Kak Malik maupun Kak Brian adalah sama-sama merupakan pemain yang sangat bertalenta, tetapi mengapa baru sekarang aktif di game?
Itu mau tidak mau membuatu bertanya-tanya, terlebih isu internal dari klub mereka yang kudengarkan dari Bu Riska Angela. Bisa saja, mereka justru naik rangking ke posisi 20 besar perihal mereka sangat punya banyak waktu luang sehingga meluapkannya ke dalam game yang berarti ada masalah fatal saat ini di klub mereka yang menyebabkan mereka sangat punya banyak waktu luang tersebut.
Aku mau tidak mau jadi semakin khawatir akan semua itu. Terlebih, itu adalah klub yang saat ini kuincar untuk kumasuki.
Kalian tanya mengapa? Itu karena sebenarnya aku sedikit kagum dengan permainan pedang Kak Malik yang indah. Setelah melihatnya bermain pedang, aku jadi membayangkan seperti apa kombinasi serangan yang akan kami buat jika bertarung bersama sebagai rekan.
Tidak seperti gaya berpedang Senior Asario yang dingin walaupun auranya berelemen api, terdapat kehangatan di balik permainan pedang es Kak Malik. Aku yakin itu tentu saja melambangkan jiwanya yang suci dan bersih. Anggota tim seperti itulah yang sangat ingin aku jadikan sebagai rekan seperjuangan.
Hmm. Kalau berbicara soal peringkat, tidak ada perubahan sama sekali di posisi 5 besar. Kak Duke, Kak Silvia, dan Kak Agnes masih menguasai chart masing-masing di posisi satu sampai tiga. Sementara itu di posisi keempat ada pelatihku, Pak Syarifuddin, dan di posisi kelima ada pelatih Klub Silver Hero, Bu Riska Angela.
***
Keesokan harinya, aku menemui Pak Syarifuddin dan menanyakannya perihal latih tanding.
Awalnya, Pak Syarifuddin tampak terkejut, tetapi setelah aku memberitahunya bahwa aku mengetahui identitasnya yang masih sering aktif main di dalam game The Last Gardenia itu lewat Bu Riska Angela alias player ber-code name ANGEL yang satu peringkat di bawahnya yang tidak lain juga adalah mantan rekannya di tim profesionalnya dulu, dia pun manut-manut.
Beliau sempat pula bertanya darimana aku kenal sama Beliau, lalu aku pun menjawab pertanyaannya itu bahwa semuanya berkat Lia, pacarku, yang memperkenalkannya. Setelah itu, terjadi percakapan yang cukup panjang terkait kondisi terkini Bu Riska Angela yang ditanyakan oleh Pak Syarifuddin.
Yah, tetapi itu bukanlah sesuatu hal yang cukup penting untuk kalian ketahui di sini, jadi aku skip saja untuk memberitahu kalian detailnya.
Singkat cerita, Pak Syarifuddin menerima request latih tandingku.
Ketika kami mulai bertanding, aku bisa merasakan betul buah jatuh tak jauh dari pohonnya pula antara gaya bermain Pak Syarifuddin dengan Senior Areka. Sekarang aku paham darimana inspirasi permainan Senior Areka selama ini berasal. Pantas saja hubungan mereka berdua sangat dekat.
Tampaknya, hubungan Pak Syarifuddin dan Senior Areka mirip dengan hubungan Bu Riska Angela dengan Lia.
Tetapi lagi-lagi tentu saja keahlian Pak Syarifuddin sebagai guru Senior Areka, sangat jauh di atasnya.
Pertahanan tameng Pak Syarifuddin begitu kokoh tanpa terlihat celah sedikit pun bagaimana pun aku terus menyerang secara memutar untuk menemukannya. Alhasil, aku segera kalah darinya di ronde pertama.
__ADS_1
Di ronde-ronde selanjutnya, aku mencoba menyerang dengan berbagai kemungkinan yang bisa di berbagai sisi, tetapi tetap saja aku tak menemukan celah. Termasuk di titik buta Beliau, dengan indah Beliau menutupinya melalui pantulan cermin di perisainya sehingga sama sekali benar-benar tidak ada celah.
Di situlah aku mengingat kembali saran dari Bu Riska Angela bahwa pertahanan terbaik adalah dengan menyerang.
Yah, keahlian seorang assassin pada dasarnya memang adalah serangan cepatnya. Kami sejak awal bukanlah seorang swordsman yang bisa bersaing dengan pertahanan kokoh seorang shielder. Kami hanya bisa menemukan celah untuk menyerang.
Kenapa sampai aku melupakan salah satu jurusku itu? Aku selama ini jarang menggunakannya perihal ketika aku menerapkannya, tubuhku sejenak harus berhenti bergerak sehingga pertahananku akan terbuka lebar.
Tetapi seperti apa yang Bu Riska Angela katakan, pertahanan terbaik adalah dengan menyerang. Jurus ini sangatlah cocok untuk menghadapi player tipe defensif dengan pertahanan tanpa celah seperti Pak Syarifuddin.
Di saat itu, adalah memasuki ronde kelima.
Begitu aba-aba pertandingan dimulai, aku pun langsung mengaktifkan skill jaring-jaring benang-ku yang masing-masing terhubung ke suatu bilah tajam, skill yang aku pelajari dari Kak Keporin.
Aku pun menyerang dari berbagai arah Pak Syarifuddin menggunakan jurus itu. Tetapi seperti yang sudah kuduga, Pak Syarifuddin yang berinsting sangat tajam benar-benar mampu menepis semua serangan itu bagaikan hanya menepis kumpulan serangga.
Tetapi bukan itu yang penting. Ini telah cukup untuk membuka sedikit celah kecil pada pertahanannya.
Serangan demi serangan jaring-jaring benang bilah tajam pun aku arahkan ke berbagai sudut pertahanan Pak Syarifudin tanpa sekalipun aku memberinya jeda untuk beristirahat.
Seranganku itu terus terang sangatlah melelahkan sampai-sampai menguras staminaku dengan sangat banyak. Tetapi itu sepadan dengan keefektifan hasilnya.
Tetapi tentu saja jurus ini hanya akan efektif untuk player kelas shielder, karena jika lawanku berasal dari kelas lain semisal swordsman atau fighter, tentu saja mereka sudah akan maju menyerangku yang pertahanannya begitu terbuka lebar perihal mengaktifkan jurus tersebut.
Namun berbeda jika lawannya adalah seorang shielder yang fokus pada pertahanan, mereka tidak akan sempat berpikir untuk maju menyerangku walau pertahananku terbuka lebar seperti ini, terima kasih berkat agility mereka yang sangat rendah.
Walaupun demikian, aku tentu saja tetap harus waspada. Bagaiamana pun seorang shielder juga masih punya skill thrust yakni menumbukkan perisainya secara tiba-tiba dengan sangat cepat dengan mengorbankan hampir semua stamina mereka yang tersisa.
Tetapi tampaknya, tidak ada satu pun tanda-tanda bahwa Pak Syarifuddin akan menggunakannya. Ini hanya mungkin karena Beliau menilai aku waspada terhadapnya. Sungguh yang diharapkan dari seorang pemain pro yang telah banyak makan asam garam kehidupan.
Karena jika saja serangannya itu gagal, maka staminanya yang tersisa takkan cukup baginya lagi untuk berada dalam posisi defensif-nya sehingga bahkan aku yang berasal dari kelas assassin akan mampu untuk menembus pertahanan perisai itu.
Mempertimbangkan lebih banyak mudarat yang terjadi daripada keuntungannya ketika mengaktifkan skill tersebut, Pak Syarifuddin pastinya enggan untuk menggunakannya, terlebih dalam fokusku yang masih sangat waspada ini.
Jika itu Senior Areka yang ada di hadapanku, maka pasti sudah kuhancurkan sejak dari dulu perisainya dengan mudah hanya lewat satu kali tusukan dari arah depan. Pemain pro benar-benar beda. Walau tanpa aura, Beliau bisa memposisikan perisainya itu di posisi yang takkan mudah terpatahkan.
Namun, cukup sampai di sini saja pertahanan kokoh itu. Aku telah menemukan celah.
“Dor dor dor dor.”
Dari celah kecil yang terbentuk dari pola defensif Pak Syarifuddin menghadapi jurus jaring-jaring benang bilah tajamku, aku menembakkan peluru yang sama sekali tak bisa lagi dihindari oleh Beliau.
Bahkan untuk pemain pro seperti Beliau pun, pasti takkan menduga bahwa seorang assassin akan menyerang dengan menggunakan sebuah pistol. Ini bisa kujadikan salah satu jurus rahasiaku menghadapi lawan yang kuat di saat-saat yang krusial.
Dan akhirnya, setelah melalui lima ronde, aku pun memperoleh kemenanganku yang pertama atas Beliau.
__ADS_1