The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
183. Luca vs Living Armor


__ADS_3

“Ah, Luca. Kamu sudah datang duluan rupanya. Maaf membuatmu menunggu.”


“Tidak apa-apa Senior, masih ada beberapa menit juga sebelum waktu janjiannya tiba.”


“Ah, begitukah? Tapi kedua tamu di sebelahmu ini… apa mereka juga rekan party kita?”


Begitu melihat Kak Silvia dan Kak Agnes, Senior Areka seketika menelisik dengan penasaran ke arah mereka.


Namun tiba-tiba, Senior Areka terpelantung ke belakang dan jatuh.


“Hah, Le… le… level 103?! Hah, yang satunya juga level 105?! Mana mungkin ada player berlevel setinggi itu?! Dari Altoria sampai Sriconia series saja, level tertinggi itu 99!”


Yah, tentu saja Senior Areka kaget perihal seperti yang dikatakannya bahwa kasus Kak Silvia dan Kak Agnes itu unik. Mereka berdua memiliki level yang di atas wajar pemain normal, terlebih, lama aku tidak bersamanya, tampaknya Kak Agnes naik satu level lagi ke level 103. Sayangnya untuk alasannya, mereka sampai saat ini belum juga menceritakannya padaku.


“Hah? S… S… S07 dan Virus Lady?!” Terlihat wajah Senior Areka seketika memerah lantaran malu begitu tersadar bahwa Kak Silvia dan Kak Agnes telah memperhatikannya dengan ekspresi kasihan.


“Hei Luca, jangan bilang kalau rekan party kita itu ranker peringkat 2 dan 3 di game. Kamu sama sekali tidak pernah bilang soal itu padaku. Bukan itu yang penting, darimana kamu mengenal player hebat seperti mereka?!”


Senior Areka segera meraih bahuku lantas berbisik kepadaku. Yah, walaupun kutahu, percuma saja dia melakukan itu di hadapan duo player wanita hebat tersebut perihal indera mereka, termasuk indera pendengaran, sangatlah tajam.


Sayangnya, aku bingung untuk merespon seperti apa bagusnya keterkejutan Senior Areka itu perihal bagiku peringkat Kak Silvia dan Kak Agnes tersebut bukanlah sesuatu yang harus dikagetkan. Sudah wajar bagi pemain hebat seperti mereka berada di rangking yang seperti itu.


Ah, mungkin Senior Areka terkaget perihal kekaguman bertemu Kak Silvia dan Kak Agnes yang sudah layaknya selebriti bagi e-sport mania seperti halnya Lia. Namun sebagai orang yang baru tinggal dunia ini selama dua bulan lebih, aku masih saja belum mengerti soal perasaan itu. Sama halnya ketika Kak Nina menceritakan soal idolanya, Kak Malik, kepadaku, aku hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Yah, apapun itu, karena party sudah lengkap, ayo berangkat!”


Aku mengabaikan saja pertanyaan dari Senior Areka itu lantas segera memimpin anggota party ke depan.


Kami berteleportasi dari desa pemula ke Kekaisaran Lalania dalam waktu sekejap. Kemudian setelah berjalan beberapa lama dari titik portal, kami pun akhirnya tiba juga di Makam Sultan Lacoza.

__ADS_1


Berkat izin yang diberikan oleh Kak Kaisar padaku, penjaga pun segera membukakan pintu masuk makam tanpa kami harus melewati berbagai pemeriksaan yang menyebalkan.


Kami berjalan hingga sampai pada suatu dinding gua yang tidak terlihat ada apa-apanya di sana, kecuali ukuran garis-garis pendek sebanyak enam buah.


\=\=\=


Peringatan!


Anda akan memasuki Dungeon The Legacy of Lacoza.


Untuk memasuki Dungeon The Legacy of Lacoza dibutuhkan anggota party sang pemegang kunci sebanyak 4 orang, tidak kurang, tidak lebih.


Luka mental maupun fisik yang terjadi di dalam dungeon, terutama jika gameover di tengah-tengah misi, mungkin akan mempengaruhi tubuh asli di dunia nyata, jadi silakan pilihlah party yang menurut Anda benar-benar kuat dan layak mendampingi Anda.


Perihal reward dungeon yang mungkin akan mengundang keserakahan bagi para player, jangan lupa untuk memilih anggota party yang benar-benar Anda percayai.


Catatan: area ini adalah area yang terbatas untuk NPC, NPC dilarang keras memasuki dungeon, serta dibutuhkan minimal satu orang anggota party dari kelas shielder.


\=\=\=


Garis-garis itu sendiri membentuk pola setengah lingkaran di bagian ujungnya di mana masing-masing garis tiga yang di kiri dan tiga yang di kanan tampak miring sedikit saling menjauh dan ketika diperhatikan secara seksama ketika ditarik suatu garis vertikal tepat di tengah-tengahnya, rupanya garis-garis di kiri dan di kanan tersebut membentuk pola simetris satu sama lain.


Itu sama persis dengan bentuk tiara mahkota sang undead yang kupunya.


“Dik Luca, apa benar di sini tempatnya?”


“Aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa.”


Terlihat keraguan sekilas di balik wajah Kak Agnes dan Kak Silvia. Tetapi raut wajah ragu itu seketika berubah menjadi kekaguman di saat aku mensummon mahkota the king of undead-ku yang ketika didekatkan dengan pola garis-garis aneh tadi, tiba-tiba saja mengeluarkan cahaya yang terang.

__ADS_1


Aku menutup mataku saking silaunya cahaya itu. Namun karena aku merasa bobot mahkotanya tiba-tiba berkurang banyak, aku seketika kembali membuka mataku dengan hati-hati. Tetapi apa yang kulihat adalah justru mahkota yang telah berubah menjadi sebuah kunci serta kemunculan tiba-tiba sebuah lubang kunci yang menggantikan tempat pola garis-garis aneh barusan.


Aku pun melihat kesesuaian antara kunci yang kupegang dengan lubang kunci itu sehingga tanpa pikir panjang, kumasukkanlah punyaku itu ke dalam lubang tersebut. Dan rupanya cocok yang ditandai dengan bunyi ‘klek’.


Secara ajaib, muncul tangga dari balik dinding gua yang mengarah ke bawah.


Kami berempat pun menyusuri tangga itu.


Hingga kami tiba di dasar tangga, sebuah suara, tetapi bukan milik sistem, tiba-tiba bergema di sekeliling tempat itu.


“Selamat datang, sang pemilik kunci. Mari uji kelayakanmu untuk mewarisi peninggalan sang pahlawan terhebat sepanjang peradaban.”


Itu bagus saja kalau hanya sampai di situ kejutannya, tetapi rupanya pikiranku terlalu naif. Tentu ini dungeon. Wajar saja jikalau ada monster yang menyerang. Tetapi apa yang menyerang kami adalah ratusan living armor yang dirasuki oleh specter yang muncul secara bersamaan dalam sekejap.


“Aaaaakkkkh! Kenapa lagi-lagi yang muncul monster tipe kematian?! Ini sama sekali tidak bisa meningkatkan level! Apa aku dikutuk oleh necromancer atau apa?!”


Aku tanpa sadar berteriak kesal. Bagaimana tidak, di Kekaisaran Lalania, aku sudah muak berurusan dengan zombie. Tak kusangka di tempat seperti ini pun, aku kembali harus menghadapi monster tipe kematian yang kali ini adalah specter.


Mungkin bagi kalian yang tidak tahu, living armor dan specter adalah kombinasi yang terburuk. Karena jika kita menghancurkan armornya, maka armor itu hanya akan seketika seperti baru kembali berkat kemampuan specter. Namun jika kita mengincar specter-nya, specter itu sama sekali tidak mempan terhadap serangan fisik. Hanya serangan sihirlah yang mampu melukainya.


Sangat beruntung berkat Kak Silvia, aku bisa sedikit menggunakan mana. Sayangnya, itu baru sebatas penggunaan aura sederhana saja.


Tetapi itu tetap belum semuanya. Keberadaan armor-armor itu sangatlah mengganggu sehingga sangat sulit untuk membidik specter ada di dalamnya secara tepat sasaran.


Satu-satunya strategi yang kemungkinan besarnya bisa diterapkan adalah dengan seorang penyerang bertipe fisik mampu menghancurkan armornya dalam waktu singkat, kemudian sebelum armor itu terpulihkan kembali, penyerang tipe sihir masuk untuk membidik specter yang mengendalikan living armor tersebut.


Dibutuhkan kerjasama yang mumpuni dan saling mempercayai di antara kombinasi penyerang tipe fisik dan tipe sihir. Untungnya di sini ada aku dan Senior Areka sebagai penyerang tipe fisik, serta Kak Silvia dan Kak Agnes sebagai penyerang tipe sihir.


Akan tetapi masalahnya, bisakah kami benar-benar menerapkan strategi itu? Itu tentu saja bisa kalau hanya sedikit, tetapi kita berbicara soal ratusan living armor sekarang. Mengalahkan satu saja sudah akan menjadi pertarungan yang alot, apa lagi sebanyak ini. Sanggupkah stamina kami bertahan dengan tekanan serangan yang begitu banyak datang dari segala arah? Tetapi tidak ada pilihan lain, kami hanya harus mencobanya.

__ADS_1


Namun rupanya, harapan satu-satunya yang terpikir di ingatanku itu pun dikhianati. Sebuah kurungan tiba-tiba saja muncul entah dari mana lantas menangkap, mengurung, serta membawa kabur Kak Silvia dan Kak Agnes entah ke mana, menyisakan aku dan Senior Areka dikelilingi oleh ratusan living armor.


__ADS_2