
Enam orang anggota party, Areka, Raia, Heisel, Dimitri, Keporin, dan Lia membentuk barisan pertahanan dengan kombinasi barisan 2:1:2:1. Areka dan Raia sebagai shielder ada di barisan terdepan, disusul oleh Heisel di belakangnya sebagai penyerang utama, kemudian di belakang lagi ada Dimitri di sayap kiri dan Keporin di sayap kanan, lalu di barisan paling belakang ada Lia sebagai support.
“Hei, teman-teman! Bukankah tim ini kombinasi yang paling ideal? Ada tanker, DPS, dan bahkan seorang support.” Ujar Raia memecah kesunyian di kala mereka akan segera berhadapan dengan kerumunan zombie.
“Yah, tapi dibandingkan assassin, aku lebih senang jika DPS kita seorang swordsmen sih.” Areka menyela.
“Hei, Nak. Jangan anggap remeh kami para assassin. Kami tidak kalah dengan para swordsmen.” Heisel segera membalikkan penghinaan Areka itu dengan komentar sinis lantas bergerak maju menginisiasi serangan.
Areka terdiam linglung melihat bagaimana bisa seorang NPC membalas komentarnya. Apakah itu semua juga bisa dirancang komputer? Areka hanya dapat memiringkan kepalanya dengan kebingungan.
“Slash, slash, slash.” Dagger khusus ala assassin Heisel menyerang para zombie dengan ganas. Tampak para zombie seketika tertekan mundur oleh kekuatan overpower sang pemimpin guild assassin tersebut.
Namun di sisi kiri dan kanan, kerumunan zombie berhasil menyela, melewati area serangan Heisel.
Di saat itulah Lia mengeluarkan mantra buffnya untuk meningkatkan status resistansi party terhadap elemen death.
“Prang! Prang!”
Areka menghalau serangan zombie dari area kiri, sementara Raia menghalaunya dari area kanan. Dimitri dengan sigap mengambil celah di antara Areka untuk menyerang para zombie yang berusaha menembus pertahanan di sayap kiri.
Akan tetapi di sayap kanan, ketika Keporin hendak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Dimitri, Raia terlalu maju melupakan fungsinya sebagai tanker.
“Hei, bodoh! Mundur! Posisimu terlalu jauh!” Areka segera menegur Raia yang keluar dari posisinya tersebut.
Namun beberapa zombie telah menjadi liar di sisi kanan yang tak cukup hanya Keporin seorang saja yang menanganinya.
Akan tetapi ada Lia, sang battle healer, yang segera mengeluarkan jurus tinjunya memukul mundur para zombie yang berhasil masuk ke barisan pertahanan. Situasi pun akhirnya dapat kembali ke titik mula.
Untuk sesaat, mereka bertarung dalam party mempertahankan formasi yang sama, terima kasih karena belum ada pengguna kekuatan yang turut terbangkitkan di antara para zombie. Semuanya masihlah zombie dengan mayat milik orang biasa.
***
__ADS_1
Di tempat lain, Luca segera berlari masuk kembali ke desa.
Setelah meninggalkan party di luar benteng, aku berlari secepat mungkin untuk menemukan Kak Andra. Syukurlah Kak Andra masih di tempatnya semula sehingga aku dapat dengan mudah menemukannya.
“Hei, Luca! Darimana saja kamu?! Ayo segera temukan sang necromancer untuk mengakhiri misimu.” Teriak Kak Andra padaku begitu melihatku dari kejauhan.
Kami pun bergegas ke lokasi yang ditunjukkan oleh pencarian Kak Andra. Di luar dugaanku, ternyata sang necromancer telah bersembunyi di dalam desa.
Akhirnya, aku pun melihat sosok menjijikkan sang necromancer itu. Dapat kulihat bahwa muka, lengan, dan mungkin juga seluruh tubuhnya diliputi oleh nanah. Sangat menjijikkan di mana kulit-kulit tubuhnya meleleh akibat nanah-nanah yang tersebar di seluruh tubuhnya itu. Itulah bayaran bagi orang-orang yang bersedia menjual jiwanya kepada iblis demi mencari keabadian.
Kulihat necromancer itu tersenyum dengan kedatangan kami. Atau itu barangkali bukan senyum, hanya tampak seperti senyum karena hampir seluruh kulit di bagian mulutnya telah terkelupas sehingga tak mampu lagi menyembunyikan bagian rahangnya.
Aku menggertakkan gigi-gigiku dengan marah. Bagaimana bisa dia memanggil makhluk alam kematian ke tempat orang hidup ini? Tapi aku kembali mengingat nasihat Paman Heisel. Tetap tenang menghadapi lawanmu. Ketenangan adalah kunci kemenangan seorang assassin. Hapuskan niat membunuh lalu dalam sekejap habisi lawan tanpa suara. Itulah prinsip yang kami pegang sebagai seorang assassin.
“Kamu siap menghadapinya, Luca?” Kak Andra bertanya padaku.
Aku pun menjawab dalam diam, hanya anggukan.
Aku pun berlari menerjang ke arah sang necromancer. Akan tetapi, muncul beberapa zombie menghalau jalanku. Namun apa ini? Bu Maryam, Pak Sardi, Dik Angga, dan bahkan sampai Pak Penjaga berbadan besar yang pertama aku temui di desa? Mengapa semua orang ini bisa menjadi zombie? Sungguh kejam. Sangat kejam!
Semuanya karena serangga laknat sialan yang ada di hadapanku ini! Bagaimana pun caranya, dia harus kubasmi! Hanya kau yang takkan kuampuni.
***
Mata Luca yang kiri seketika berubah warna menjadi merah sementara yang kanan berubah biru. Dari tangannya seketika sebuah dagger tergantikan oleh senjata sabit bulan-nya. Dengan air mata, Luca menebas satu-persatu zombie yang berasal dari mayat para warga desa yang selama setengah jam ini berkenalan dengannya dengan pembawaan ramah dari para warga desa.
Hati Luca meraung, tak tega melihat akhir yang kejam para warga desa yang tak bersalah tersebut. Tetapi Luca sadar betul, mereka akan lebih menderita jika dalam keadaan dibiarkan seperti itu. Yang mati harus dikirim kembali ke tempat peristirahatan yang mati. Keberadaan yang mati di alam hidup hanya akan membawa malapetaka bagi orang-orang di sekitarnya.
Luca menari dalam raungan mengoyak tubuh setiap zombie yang menghalaunya. Sabit bulan-nya yang berkilau hitam elegan seakan menggambarkan isi hati Luca yang terluka. Luca menahan rasa sakit mengirimkan jiwa-jiwa tersesat itu kembali ke alamnya karena itulah tugasnya sebagai seorang petarung. Dengan tarian sabit bulan-nya itu, dia mengakhiri kehidupan sesat para zombie warga desa yang dibangkitkan.
Kini yang tersisa di hadapannya hanyalah sang necromancer Philtory yang sementara terkungkung oleh skill pengikat milik Andra.
__ADS_1
Luca memberikan tatapan tajam tanpa keraguan sedikit pun untuk membunuh makhluk menjijikkan yang ada di hadapannya itu. Walaupun pada status window di atas kepala target itu masih bertuliskan bahwa race-nya adalah manusia, bagi Luca dia bukan lagi manusia. Dia bukan lagi manusia ketika dia bisa dengan kejamnya mengakhiri nyawa orang lain yang tak berdosa tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Dia tak ubahnya seperti monster yang harus dibasmi.
“Crang.” Luca mengangkat sabit bulan-nya untuk menebas makhluk hina di hadapannya itu.
Akan tetapi,
“Fruuuush!” Sang makhluk hina seketika berubah menjadi asap lantas dengan cepat merembes keluar menuju tanah kematian.
Rupanya Philtory telah menggunakan skillnya ‘emergency return’.
Luca pun tambah tak mampu menahan amarahnya.
“Bu Maryam, Pak Sardi, Dik Angga, Pak Penjaga berbadan besar, teman-teman warga desa yang lain, maaf. Aku tidak bisa membalaskan dendam kalian.” Air mata Luca pun jatuh menetes yang kian lama kian deras membasahi tanah tempatnya berpijak.
Sesaat kemudian, pemuda polos itu pun meraung dalam raungan penuh kesedihan.
“Hei, Luca. Mereka semua hanya NPC. Mengapa kamu bereaksi lebai seperti itu?”
Hati Luca pun bertambah sakit oleh komentar Andra itu yang walaupun Luca sadar betul Andra sama sekali tak bermaksud jahat akan komentarnya, hanya saja perbedaan persepsi mereka saja akan bagaimana sosok NPC itu sebenarnya.
Meninggalkan Andra yang tak mengerti bagaimana perasaannya, Luca kehilangan ketenangannya mengabaikan nasihat pamannya, lantas berlari cepat menuju tanah kematian.
Anda baru saja mempelajari skill ‘langkah cepat putus asa’
Dengan skill ini, Anda dapat berlari dengan kecepatan maksimal 500 m/s selama 3 menit
Hanya sekian milisekon, Luca telah berpapasan dengan keenam anggota party lainnya. Akan tetapi, belum sempat Luca melewati kelima yang lain selain Lia, waktu seakan berhenti. Lia dapat melihat dengan jelas punggung Luca.
Perhatian! Sekarang telah menunjukkan pukul 00.00 tepat untuk Kota Jakarta dan sekitarnya. Bagi pemain yang masih di bawah umur yakni yang berusia kurang dari 18 tahun, sistem akan menutup otomatis akunnya sampai pukul 08.00 besok pagi.
__ADS_1
Pemberitahuan sistem itu pun muncul.