The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
217. Perekrutan Anggota Cadangan Klub White Star


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu setelah itu, dan kini memasuki masa-masa di mana senior kelas tiga sudah jarang kelihatan di sekolah perihal mempersiapkan penerimaan masuk universitas mereka.


Begitu pun aku di klub White Star. Walau aku masih kelas satu, aku telah memantapkan pilihanku untuk menekuni pekerjaan di bidang e-sport vrmmorpg ini. Kami memenangkan banyak pertandingan, termasuk pertandingan tuan rumah kami melawan Klub Shadow Park. Yah, itu pun karena tim mereka hanya mengirimkan tim cadangan mereka saja.


Namun yang lucu, ada kasus di mana kami harus dua kali merelakan juara turnamen 5 on 5 perihal Kak Kania yang sakit pada hari yang bersangkutan. Satunya dari klub peringkat kesebelas bernama Dealova, dan satunya lagi dari klub peringkat ke-31 bernama Tiris. Sungguh disayangkan kami masti kehilangan poin sebelum bertanding.


Tetapi itu masih bisa kutolerir sampai sekarang. Namun, tidak untuk saat ini. Lagi-lagi, Kak Kania mesti sakit di kala kami harus melawan lawan yang penting.


Aku bisa merelakan poin untuk Klub Tiris dan Dealova, bagaimana pun, tidak untuk Klub Clock Tower. Hanya mereka saja dan anggota tim mereka yang tidak bisa kumaafkan, terutama si pengkhianat Hermanto itu.


Dialah dalang di balik kejatuhan Klub White Star. Dia mencuri informasi rahasia dari klub lantas menjualnya ke Klub Clock Tower. Tidak sampai di situ saja, dia menarik archer dan cleric berbakat kami ikut bersamanya ke klub itu. Dan yang lebih membuatku murka adalah dia mengacaukan suasana klub yang membuat para anggota, termasuk anggota pelatihan, semuanya kabur dari klub.


Satu kata untuknya, dia benar-benar sampah.


Kemudian, untuk klubnya yang sekarang itu, mereka tak kalah sampahnya. Padahal mereka dulu hanyalah seonggok bagian kecil hasil pemisahan dari klub besar Circle Tower. Tetapi entah itu keberuntungan atau apa, mereka bertumbuh semakin besar, malah mengalahkan besarnya klub asal mereka.


Itu masih bagus saja jika hanya seperti itu. Tentunya, kita harus memberikan sambutan yang hangat dengan memberikan selamat ketika ada klub yang berhasil melebarkan sayapnya. Namun, setelah suksesnya mereka, mereka segera melancarkan suatu skema jahat. Mereka melakukan segala intrik untuk menghancurkan ketiga klub awal, dimulai dari klub asal mereka sendiri, Klub Circle Tower tersebut.


Entah apa masalah atau dendam yang mereka punya kepada klub-klub awal pendiri kejayaan e-sport vrmmorpg di Indonesia ini, mereka benar-benar sangat niat dalam menjalankan ambisi mereka itu. Dan kini setelah memperoleh kekuatan yang lebih besar, sasaran mereka selanjutnya adalah dua klub awal lainnya yang masih jaya, Klub Lucifer dan Klub White Star.


Tidak hanya menghasut Hermanto dari Klub White Star saja, mereka juga turut menghasut sang duo swordsmen, Hari dan Danu dari Klub Lucifer untuk mengkhianati klub asal mereka.


Satu kata pula untuk mereka, klub sampah.


Itulah, sekecil apapun poin yang disumbangkan dari kemenangan pertandingan pekanan, aku tetap tak ikhlas menyerahkannya kepada Klub Clock Tower. Tetapi apalah daya, kami kekurangan anggota untuk mengikuti turnamen 5 on 5 ini dengan ketiadaan Kak Kania.


Di pertandingan 3 on 3, aku beserta Kak Brian dan Kak Bento menghadapi Klub Clock Tower yang salah satu pesertanya adalah si Hermanto itu.


Dia terlihat mencoba memprovokasiku dengan bersikap tidak mengenakkan. Aku pun memanfaatkan momen pertarungan itu untuk melampiaskan segala amarahku padanya. Aku siksa dia setelah membuat game over dua rekannya yang lain, tanpa sama sekali membiarkannya game over di arena.


Aku memukul dan terus memukulnya hingga tampangnya begitu mengenaskan. Begitu HP-nya mendekati 0, aku menyembuhkanya kembali melalui cincinku yang terkoneksi dengan Aura. Demikianlah hingga aku bebas untuk memukulinya lebih lama. Jika bukan lantaran Kak Brian dan Kak Bento yang menghentikanku, aku pasti tak akan pernah berhenti untuk memukulinya sampai SP-ku benar-benar habis.

__ADS_1


Sayangnya, itu hanyalah tubuh virtualnya saja. Aku berharap bisa memukul tubuh fisiknya juga. Pasti itu telah akan kulakukan jika hukum di dunia ini tidak melarang untuk melakukan kekerasan. Pengkhianat seperti itu, tak layak mendapatkan belas kasihan.


Beranjak dari masalah itu, kini aku benar-benar menyadari pentingnya anggota cadangan. Berkat anggota cadangan-lah dirimu akan merasa aman untuk bertarung di arena perihal jika kamu lelah atau tidak bisa bermain, maka akan ada anggota cadangan yang segera siap menggantikanmu kapan saja sehingga kamu pun tidak perlu mengkhawatirkan punggungmu dan dapat beristirahat dengan lega.


Tidak hanya itu saja, dengan adanya anggota cadangan, kamu bisa menyusun lebih banyak strategi. Lihat saja contoh Klub Shadow Park, mereka menurunkan anggota cadangannya, alih-alih Kak Krimson dan anggota tim inti mereka lainnya menghadapi kami di turnamen pekanan, perihal mereka memanfaatkan itu untuk bisa menganalisa lawan sebanyak mungkin dengan menutupi informasi kekuatan milik mereka sendiri pula secara optimal.


Mereka tidak takut kalah di pertandingan pekanan ini, perihal, jika kamu memenangkan kompetisi utama, skor yang disumbangkan dari kompetisi pekanan ini tiadalah artinya.


Walau demikian, bukan berarti itu tidak penting sama sekali. Karena kompetisi pekananlah sehingga walaupun Kak Malik dan kawan-kawan tersingkir di babak delapan besar kompetisi utama, mereka tetap mampu menduduki posisi klub terbaik ketujuh di seluruh Indonesia.


Jadi kesimpulannya, klub kami harus segera menemukan anggota cadangan yang tepat agar level klub kami dapat lebih meningkat mengingat pentingnya keberadaan anggota cadangan itu bagi klub.


Tetapi di mana kami dapat menemukan mereka di kala hampir seluruh newbie lebih tertarik dengan klub yang sedang masa jaya-jayanya seperti Klub Silver Hero, Shadow Park, Lucifer, atau Clock Tower?


Di saat itulah, aku memikirkan dua orang. Kak Yuda dan Senior Areka. Aku mengingat dengan benar bahwa rencana masa depan karir mereka adalah untuk menjadi atlit e-sport vrmmorpg profesional. Dan jika itu mereka, aku telah sangat yakin akan kemampuannya.


“Maaf ya, Luca. Aku sudah terdaftar sebagai peserta pelatihan di Klub Lucifer.”


Yang tersisa, kini hanya Senior Areka semata. Tetapi bagaimana mengatakannya ya, berbeda dengan senior yang lain, Senior Areka-lah yang paling tidak membuatku nyaman untuk mendekatinya. Yah, tentu saja dia adalah senior yang baik. Tetapi perkara ini dan itu adalah hal yang lain. Senior Areka sulit didekati berkat ekspresi juteknya yang sudah mengusir orang yang ingin mengajaknya berbicara duluan.


Namun, ketika aku mengajaknya ke salah satu kafe lantas membicarakan hal itu, jawabannya di luar dugaanku,


“Boleh kok, Luca.”


“Eh, apa benar tidak apa-apa, Senior?”


“Apa ada alasan aku untuk menolaknya? Aku memang berniat untuk menjadi pemain profesional, tetapi aku belum menerima satu pun tawaran dari klub dan kamu tiba-tiba saja datang menawarinya. Tentu saja aku akan mengambil kesempatan emas ini demi mengembangkan karirku. Yah itu tentu saja selama kontraknya memuaskan.”


Senior Areka berbohong. Aku jelas-jelas melihatnya waktu itu menolak mentah-mentah tawaran yang datang dari Klub Lucifer, Klub Clock Tower, dan berbagai klub menengah ke bawah.


“Itu…”

__ADS_1


“Apa yang kamu ragukan? Terlebih jika di dalam klub itu ada kamu, pasti akan lebih menyenangkan.”


Senior Areka pun tersenyum sembari mengatakan hal itu dengan senyum khasnya yang menakutkan. Entah mengapa, aku menjadi berkeringat dingin karenanya.


Tetapi terlebih daripada itu, aku senang bahwa Senior Areka rupanya menganggap diriku ini tinggi seperti itu.


Tanpa sadar, sudut mulutku pun tersungging. Aku tersenyum.


Seketika aku mengingat, “Tapi di klub kan, ada Kak Malik yang Senior Areka benci.”


“Siapa yang benci dengannya? Aku tak pernah bilang seperti itu. Aku hanya tak suka dengan Nina yang terlalu menyanjung dan mengikutinya saja. Justru sebagai atlit, aku juga menilai tinggi Senior Malik dan kagum padanya. Yah, walaupun aku belum pernah juga bertemu dengannya secara langsung.”


Demikianlah ucap Senior Areka. Aku pun berhasil merekrut satu calon anggota potensial ke Klub White Star kami.


Di kala aku berpikir bahwa semuanya akan usai sampai di situ saja, “Puak!” Suara meja yang dipukul pun tiba-tiba terdengar dari meja belakang.


Kalau tidak salah, itu tempat Egi duduk sejak daritadi, yang entah mengapa sejak aku meninggalkan sekolah, keberadaannya selalu ada di sekelilingku, tetapi tampak berusaha mengabaikanku.


“Ini tidak adil, Luca. Mengapa hanya Senior Areka saja yang kamu ajak. Aku kepengen juga.”


“Eh, apa itu tidak apa-apa, Egi? Kamu kan masih kelas satu. Masih ada dua tahun lagi bagimu untuk bisa memikirkannya lebih matang.”


“Kalau bicara begitu, kamu kan juga sama. Lupakan itu. Aku tidak peduli dengan klub lain, aku hanya tertarik dengan klub di mana kamu bergabung.”


Itulah yang diucapkan Egi yang entah mengapa raut wajahnya berubah kemerahan setelah mengatakan kalimat itu. Mendengar ucapannya itu, betapa hatiku berbunga-bunga. Tak kusangka bahwa Egi yang selalu mengabaikanku itu rupanya juga menilai tinggi diriku sebagai temannya.


Jika itu Egi, dia juga atlit yang baik yang aku jamin kualitasnya. Jadi tentu saja, aku akan menyetujui hal itu, selama Egi akan merasa baik-baik saja pula.


Hari itu, benar-benar menjadi hari keberuntunganku. Padahal aku hanya bermaksud untuk merekrut Senior Areka saja di kafe itu, tetapi aku rupanya juga memperoleh bonus Egi, atlit newbie yang kualitasnya tak kalah jauh dari Senior Areka.


Malam harinya masih di hari yang sama pun, aku membawa mereka berdua menemui Kak Kirana. Tidak ada masalah apa-apa terkait kontrak dan kedua belah pihak menyetujuinya dengan mudah. Jadilah klub kami, Klub White Star, klub yang sempat jatuh namun mencoba untuk bangkit kembali, menjadi beranggotakan tujuh orang dengan masuknya dua orang anggota cadangan tambahan.

__ADS_1


__ADS_2