
Kala itu senja waktu game setempat, Luca akhirnya tiba di portal alun-alun ibokota Kerajaan Indiya, Neves No Aliehs, tempat janjiannya bersama Lia. Luca menatap sekeliling. Rupanya, Lia telah berada duluan di sana.
“Maaf, aku telat ya, Lia.” Luca segera menuju ke arah Lia dengan tampang yang merasa bersalah.
“Tidak. Tidak sama sekali kok, Luca. Aku yang justru terlalu cepat sampai.” Lia berusaha mengelak bahwa itu bukan apa-apa.
Lalu obrolan lovey dovey yang biasa terjadi antara pasangan mesra pun terjadi untuk sesaat di antara mereka berdua.
Mereka hari ini jalan-jalan berdua di Kerajaan Indiya yang terletak jauh di tenggara benua yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Melodia dan Kerajaan Doremi dengan alasan melaksanakan quest bersama yang diterima oleh Luca dari pamannya, Heisel.
Namun, tentu saja niat kedatangan mereka jauh dari misi. Hal itu karena Kerajaan Indiya terkenal dengan hidangan laut mereka yang enak-enak dan eksotis yang hanya dapat ditemukan di daerah tersebut.
Tampak Lia melihat ke seliling dengan asyiknya.
“Wah, lihat Luca! Pakaian para NPC-nya. Benar-benar tampak beda.” Ujar Lia tampak penuh antusias.
Lia tampak tertarik dengan pakaian para NPC di kerajaan itu yang benar-benar berbeda dengan kerajaan lain. Para NPC menggunakan pakaian yang mirip lembaran selendang dengan warna cerah tanpa jahitan yang melingkari menutupi tubuh mereka.
“Ngomong-ngomong, apa ini pertama kalinya kamu ke sini, Lia?” Luca yang penasaran pun bertanya kepada Lia.
Lia menjawab dengan menggelengkan kepalanya, “Hmm. Sekitar beberapa hari setelah pembukaan game, Medina mengajakku jalan-jalan kemari. Tetapi tetap saja, melihat pemandangan eksotis ini sekali lagi begitu membuatku merasa takjub.”
Mendengar jawaban Lia yang penuh dengan isyarat kebahagiaan itu, senyum simpul penuh arti pun muncul dari balik bibir pemuda mungil itu. Dia bersyukur memilih tempat terindah di benua menurutnya itu untuk kencan mereka.
Ya, sang pemuda polos telah belajar sedikit tentang arti kencan.
Tanpa berlama-lama, mereka segera berkunjung ke salah satu warung makan di daerah situ untuk mencoba hidangan seefood eksotis khas Kerajaan Indiya.
Hidangan lautnya tampak mirip dengan sebuah lobster di dunia nyata. Hanya saja, penampakan tiga mata dari makhlut laut yang dimasak itu, serta antenanya yang meliuk-liuk aneh dan juga pola cangkang luar di area sekitar perutnya, jelas menandakan itu berbeda dengan lobster. Itu adalah salah satu tipikal monster laut yang sering muncul di perairan Kerajaan Indiya yang disebut dengan Dhaki-dhaki.
Walaupun bentuknya tampak aneh, hidangan itu sepuluh kali lipat enaknya dibandingkan dengan lobster di dunia nyata. Begitu memecah cangkangnya, aroma nikmat seperti madu bercampur tomat segar mulai tercium menggugah selera. Begitu digigit, nuansa khas daging hidangan laut seketika terasa. Air bercampur lemak dengan mudah mengalir melalui setiap gigitan yang penuh dengan glutamin yang membawa nuansa aroma yang sangat menggiurkan.
__ADS_1
Bagaimana tidak tubuh Luca dan Lia seketika meleleh begitu menikmati hidangan itu.
Sayangnya, mekanisme tubuh avatar tidak jauh berbeda dengan tubuh asli. Setelah dua atau tiga piring menikmati makanan, tubuh akan segera merespon kenyang. Alhasil, mereka tak sanggup lagi untuk mencicipi hidangan-hidangan eksotis khas Kerajaan Indiya lainnya.
Setelah puas menikmati kuliner, mereka pun berkeliling menikmati pemandangan khas abad pertengahan yang cukup unik itu yang tak kalah membuat terpesona di sekitar ibukota kerajaan.
“Tututu tui tui…”
Seketika perhatian mereka tertuju pada musik seruling yang dimainkan oleh salah satu pawang wanita yang tampak mengendalikan hewan sejenis cobra, menari-nari dengan meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti lantunan musik sang pawang yang sangat estetik dipandang mata itu.
Awalnya, baik Lia maupun Luca, sama-sama tertarik menyaksikan pertunjukan sang pawang wanita itu. Namun, ketika Lia melirik ke arah Luca, tampak ekspresi Luca dilihatnya berubah. Luca tampak menjadi sangat tertarik dengan kemolekan pawang wanita itu yang mempertontonkan daerah bagian perutnya secara gratis.
Luca pun dilihatnya melambai-lambaikan pada sang pawang wanita lalu dilihatnya pula sang pawang wanita meresponnya dengan mengedipkan matanya secara genit.
Lia akhirnya menjadi cemburu karenanya dan segera hendak bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, tentu saja segera dicegat oleh Luca.
“Ada apa, Lia? Kamu tidak enak badan?”
“Pasti pawang wanita itu lebih cantik ya dibandingkan aku sehingga Luca begitu menatapnya dengan antusias.”
Luca hanya menanggapinya dengan senyum lembut. Luca lantas menjawab, “Pawang wanita itu Kak Keporin yang sedang menyamar, lho, Lia. Aku juga tidak tahu apa yang dilakukannya di sini, tapi karena dia sedang menyamar, pasti dia juga sedang menjalankan misi. Aku melambaikan tangan hanya sekadar menyapanya sebagai seorang adik yang baik, tidak lebih.”
Mendengar penjelasan Luca itu, mood Lia segera membaik untuk beberapa saat, namun pada akhirnya dia kembali merajuk lagi, “Luca pasti sangat dekat dengan Kak Keporin ya sampai-sampai walau dengan penampilan begitu, Luca masih bisa mengenalinya.”
“Yah, itu karena instingku saja yang tajam. Bagaimana ya mengatakannya, setiap orang memiliki ciri khas tertentu sehingga walaupun penampilannya berbeda, bahasa tubuhnya, aromanya, kebiasaannya, tidak akan berubah begitu saja sehingga aku bisa dengan cepat mengenali orang-orang yang menyamar.”
“Aroma?” Tatapan Lia berubah menjadi sedikit tajam mendengar Luca mengatakan perkataan yang mudah disalahartikan itu.
“Yah intinya, inderaku sebagai assassin cukup tajam sampai-sampai penyamaran brilian Kak Keporin saja takkan mampu mengelabuiku.”
Lia masih tampak memonyongkan bibirnya untuk sesaat tampak cemburu. Bagaimanapun, Luca tampak terlalu dekat dengan wanita yang bernama Keporin itu.
__ADS_1
Tetapi ketika dia berpikir lagi, Keporin hanyalah salah satu dari karakter game. Dia tak lain adalah seorang NPC. Mengapa dia harus cemburu padanya?
Setelah memikirkan itu, ekspresinya pun kembali cerah dan dia lantas segera meraih lengan kanan Luca kembali untuk menggandengnya dengan penuh kesenangan.
Luca dan Lia pun kembali berjalan-jalan dengan mood yang bahagia mengelilingi ibukota Kerajaan Indiya yang penuh dengan pemandangan yang menarik itu.
Akan tetapi cahaya yang terang pun terlihat dari arah pantai. Rupanya, itu adalah sekumpulan makhluk laut kecil sejenis plankton yang mengeluarkan cahaya putih yang bersinar melalui tubuhnya. Banyaknya jumlah mereka di permukaan laut saat ini pun menyebabkan cahaya berkumpul dan akhirnya menjadi cukup terang untuk menyilaukan mata.
Itulah misi yang diterima oleh Luca dan Lia yang menjadi alasan mengapa mereka datang ke tempat itu.
Setiap sekitar 2 kali dalam setahun di tempat itu yakni pada musim-musim di mana cahaya bulan lebih bersinar terang, maka makhluk kecil bercahaya itu akan merespon dengan muncul di permukaan laut sembari memancarkan sinar mereka yang terang.
Itu tidaklah menjadi masalah kalau hanya sampai di situ saja. Hanya saja, bagaikan sinar itu menghipnotis makhluk-makhluk laut lainnya, para makhluk permukaan laut yang biasanya jinak akan meliar dan turut naik ke permukaan lantas menuju daratan untuk menyebabkan kekacauan.
Segala jenis makhluk laut, mulai dari kraken kecil, sesuatu yang mirip kepiting, dan segala jenis monster kecil lainnya mulai datang menghamburi pantai sekitar. Para player pun memulai misi mereka mencegah makhluk-makhluk laut itu menyebabkan kerusakan di daratan. Luca dan Lia juga termasuk salah satu di antaranya.
Namun tak lama setelah itu, gelombang kedua pun datang. Kali ini makhluk laut dengan ukuran yang lebih besar.
“Plalalalar.”
Suatu makhluk mirip lumba-lumba, tetapi dengan tampang yang sedikit menyeramkan dengan adanya tanduk hitam legam serta pola kulitnya bagian atas kepalanya yang seperti kulit monster godzila, lantas muncul dari dalam perairan lalu membuat Lia terkejut.
“Akkkkh! Hiyat!”
Karena panik, Lia tanpa pikir panjang hendak menyerang makhluk laut itu.
“Lia, jangan serang!”
Akan tetapi, Luca segera menggapai Lia yang ketakutan lantas mencegahnya menyerang makhluk tersebut.
“Makhluk ini dinamakan Doro-doro, semacam guardian pantai ini. Dia tidak berbahaya. Berbeda dengan makhluk lain, dia tidak terpengaruh hipnotis para plankton. Justru mereka sering membantu kita mengatasi para makhluk laut yang meliar begitu siklus cahaya terang hipnotis para plankton tiba. Lihat.”
__ADS_1
Luca menenangkan Lia seraya menunjuk ke arah salah satu makhluk laut yang dipanggilnya sebagai Doro-doro itu.
Lia pun akhirnya dapat melihat dengan jelas bagaimana sang Doro-doro justru mencegah para makhluk laut lainnya yang kehilangan kendali kesadaran mereka untuk menuju ke daratan.