The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
93. Pertarungan Empat Arah yang Membara


__ADS_3

Krein, swordsmen dari Tim Shadow Park yang sempat mengorbankan dirinya dengan megah di babak semifinal tingkat nasional untuk kemenangan timnya, hendak berjalan keluar dari semak-semak begitu dia menyaksikan seorang pemain wanita berkostum ghost dari Tim Almbolescence sendirian dengan tubuh mungilnya tanpa ada perlindungan.


Namun begitu Krein hendak meninggalkan semak-semak, seseorang menepuk pundaknya.


Krein kaget setengah mati dan hampir saja mengayunkan pedangnya, tetapi pemain itu segera mengonfirmasikan identitasnya. Dialah Ferdi, sang fighter rekan seperjuangannya.


“Tetap diam di sini atau kamu hanya akan gameover sia-sia.” Sahut Ferdi.


“Apa? Tapi tampaknya dia player yang lemah. Ini kesempatan untuk memperoleh poin…”


Namun, belum sempat Krein menyelesaikan kalimatnya, suara gemuruh pun terdengar. Rupanya, itu adalah salah satu pemain dari Tim Bougha. Hanya dalam satu tinjuan, sang pemain berkostum ghost dari Tim Almbolescence itu langsung tereliminasi.


Tetapi itu tidak berhenti sampai di situ saja. Hujanan peluru dan rudal tiba-tiba muncul entah darimana menghantam sang Viking. Akan tetapi di luar dugaan, sang Viking bisa bertahan. Tidak, salah seorang Viking lainnya menangkis kedua rudal dan peluru-peluru itu dengan tinjuannya tanpa mengenakan sebuah alat apapun.


Lantas, terjadilah pertempuran antara adu peluru dan rudal dari dua pemain Max Squeeze melawan tinju maut kedua Viking.


Melihat pertarungan ekstrim itu, Krein bernafas lega tidak dengan ceroboh melangkahkan kaki ke sana. Kedua tim terlalu overpower buat dia ikut masuk ke dalam pertempuran. Dia jadi merasa menyesal mengapa Krimson harus tereleminasi duluan sebab jika itu dia, Krimson sudah pasti akan membabat habis mereka dengan racunnya yang mematikan.


“Ingat prinsip pertempuran untuk selalu mengawasi baik-baik musuh terlebih dahulu untuk menemukan kelemahannya sebelum bertindak.”


“Baik, Senior.” Krein pun menjawab sembari menatap waspada ke arah pertempuran itu.


***


Sementara itu di tempat lain, dua orang berkostum vampir dan pemburu vampir dari Tim Almbolescence yang tersisa telah terlibat pertarungan sengit melawan dua Viking yang bertangan kosong.


Cambuk perak sang wanita pemburu vampir meliuk-liuk menerjang ke arah salah satu Viking. Di luar dugaan, walaupun badan rekan mereka sebelumnya kebal dengan peluru dan rudal, badan Viking yang satu itu berdarah. Itu karena cambuk perak sang wanita pemburu vampir tampak dialiri oleh sejenis kekuatan sihir.


“Sial, ini sakit.” Viking yang berdarah pun mengeluh.


“Itu salahmu sendiri. Mengapa kamu menerima serangannya begitu saja.” Lalu Viking yang satunya ikut berkomentar.


“Ck.” Viking yang mengeluh tadi pun mendecakkan lidahnya seraya menerjang ke arah sang wanita pemburu vampir.


Tetapi dia tanpa sengaja menatap mata sang pria vampir lalu di luar kehendaknya, dia justru meninju temannya.


“Hei.” Sang teman mengeluh.


Tetapi keluhan itu tidak berlangsung lama karena cambuk sang wanita pemburu vampir kembali meliuk-liuk ke arah mereka.


“Akh! Ini membuatku kesal!” Kali ini yang terluka adalah sang Viking nomor dua.


Sang Viking nomor dua pun berlari ke arah sang wanita pemburu vampir dengan mengabaikan rasa sakit akibat cambukannya lalu menghantam perut wanita pemburu vampir itu secara mentah-mentah.

__ADS_1


“Akh!”


“Marimar!” Sang pria vampir itu pun berteriak begitu melihat rekan setimnya mengeluarkan darah lewat mulutnya setelah dihantam telak oleh sang Viking nomor dua.


Tetapi begitu dia hendak mendekat, tinjuan maut dari Viking nomor satu tadi tiba-tiba datang sehingga dia terpaksa harus menghindarinya dengan mundur ke belakang.


Tetapi tanpa sadar, dia mundur terlalu jauh sehingga tampaknya sudah akan terlambat untuk menyelamatkan rekan setimnya itu.


Namun kemudian, hujanan ratusan panah api tiba-tiba menerjang ke arah pertempuran itu.


Beruntunglah sang pria vampir karena dia sempat mundur jauh ke belakang sehingga tidak tercakup oleh area serangan hujan panah api tersebut.


Namun rupanya, tak satu pun dari ketiga pemain yang berada di area serangan itu yang gameover. Itu karena Viking nomor dua turut melindungi pemain wanita pemburu vampir dari Tim Almbolescence itu. Di luar dugaan, kulit sang Viking pun juga rupanya kebal dari panah api itu.


Namun, apakah Viking nomor dua itu berniat baik? Tentu saja tidak. Dia hanya tidak ingin poinnya itu direbut mentah-mentah oleh tim lain begitu mereka telah berusah-payah untuk mendapatkannya. Hal itu terbukti dengan Viking nomor satu justru sesegera mungkin melayangkan tinjunya ke arah wanita pemburu vampir sehingga pemain itu pun gameover.


Jauh di depan sana terlihat pasangan archer dan shielder sebagai dalang dari serangan itu. Merekalah dua orang anggota dari Tim Shadow Park.


“Dasar sialan!” Viking nomor satu berlari begitu saja dengan penuh amarah mengabaikan satu orang pemain dari Tim Almbolescence yang tersisa.


“Gonez, tunggu!” Mungkin karena khawatir pada rekannya, Viking nomor dua segera menyusulnya begitu saja tanpa memperhatikan lagi situasi sekitar sehingga sang pria vampir pun ditinggalkan seorang diri di sana.


Gonez maju menghantam perisai sang shielder, namun rupanya perisai itu cukup kokoh untuk meredam efek benturan serangannya. Hujan panah pun sekali lagi datang ke arah mereka, tetapi kali ini, itu hanya panah biasa yang hanya berjumlah sekitar tujuh atau delapan buah saja tanpa efek api sama sekali.


“Fertio, kamu tidak usah repot-repot menyingkirkannya. Kamu pikir tusuk gigi seperti itu bisa melukaiku?”


“Setidaknya, perhatikan lukamu yang barusan. Sekecil apapun tusuk gigi, bisa saja itu memperlebar lukanya.”


“Ck.”


Obrolan kedua Viking itu lantas membuat sang archer menggertakkan giginya. Dia merasa sangat direndahkan.


Pertarungan berlanjut untuk sesaat. Namun tiba-tiba, sang shielder merasakan ada yang tidak beres dengan arus angin lantas mengarahkan perisainya menghalau arah itu.


“Baaaaaaaang!” Rupanya yang melaju dengan kecepatan supersonik itu adalah sebuah peluru snipe yang diarahkan ke arah mereka.


Tetapi peluru itu mengandung unsur ledakan yang di luar dugaan melewati perisai sang shielder begitu saja bagai kertas transparan lantas menembus ke dadanya dengan telak. Sang shileder pun turut gugur di tangan sniper dari Tim Max Squeeze.


***


Kembali ke tempat pertarungan pertama,


“Kamu melihatnya kan, Rottie?”

__ADS_1


Asal suara rupanya adalah Viking yang sebelumnya menghalau kedua rudal dan peluru-peluru dengan tinjuan tangan kosong yang saat ini sedang bertarung melawan duo pistol dan bazooka.


“Ya, Antonio. Aku melihatnya dengan sangat jelas.” Dari balik alat komunikasinya, terdengar sebuah suara menjawab.


“Kamu habisi sniper itu.”


“Baik, serahkan padaku, Antonio.”


***


“Wah, ini gawat! Viking itu berhasil mentracking jejakku.” Sang sniper dari Tim Max Squeeze pun mengeluh.


“Setelah kamu menembaki ke arah mereka seperti itu, wajar saja jika satu atau dua orang dari mereka menyadarinya.” Lalu jawaban pun datang dari alat komunikasi di telinganya itu.


“Tidak, tidak. Bukan mereka, Dowald. Tetapi salah satu Viking yang sedang bertarung bersama kalian. Sebaiknya kalian hati-hati, dia punya mata yang tajam.”


“Begitukah? Senang mendengarnya.” Rupanya jawaban justru datang dari teman yang satunya lagi.


“Tapi, kamu baik-baik saja di sana kan, Donovan?” Sebuah suara baru kemudian terdengar.


“Tidak usah khawatir. Di sini ada Treco yang melindungiku. Kamu fokus saja pada misimu, Leo.”


“Baiklah, Donovan.”


Lalu, lawan yang ditunggu-tunggu oleh pasangan sniper dan penembak jarak menengah itu pun tiba. Dialah Rottie, satu-satunya wanita di dalam timnya sekaligus yang memiliki badan terkecil di antara mereka sehingga memiliki pergerakan yang lebih lincah daripada rekan-rekan setimnya yang lain.


Pertandingan sisi ketiga pun dimulai antara seorang Viking wanita yang lincah dari Tim Bougha melawan duo sniper dan penembak jarak menengah dari Tim Max Squeeze.


\=\=\=


Hasil pertandingan sementara ruang virtual B sesi kedua



Bougha, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 5


Max Squeeze, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 5


Shadow Park, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 3


Almbolescence, jumlah korban \= 0, jumlah pemain tersisa \= 1


\=\=\=

__ADS_1



__ADS_2