The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
108. Ketangguhan Asario


__ADS_3

“Luca, bagaimana pendapatmu soal wanita kuat?”


“Hmm? Lia ingin jadi wanita kuat?”


“Dulu aku lemah. Aku hanya bergantung pada kekuatan keluargaku saja. Makanya aku berlatih demi menjadi wanita yang lebih kuat. Tapi seiring berjalannya waktu, wanita yang populer sekarang justru wanita imut yang lemah. Hei, Luca, kamu juga kan? Kamu lebih suka dengan wanita imut yang bisa kamu lindungi segenap jiwamu?”


“Aku hanya suka pada Lia. Tidak peduli wanita kuat atau bukan.”


“Hei, tapi wanita kuat tidak keren.”


“Untuk melindungi apa yang berarti bagi kita, seseorang perlu menjadi kuat tidak peduli dia seorang pria atau wanita.”


“Tapi bagaimana jika kekuatannya digunakan untuk membully yang lemah?”


“Tapi bukankah Lia selama ini melakukannya untuk melindungi hal yang berharga bagi Lia? Tidak peduli mereka lemah atau kuat, jika mereka jahat, maka tidak salah untuk membalas perbuatan mereka.”


Mendengar jawaban itu, wanita itu pun tersenyum.


“Hei, Luca, lantas bagaimana dengan wanita yang keras kepala?”


“Kalau itu agak sedikit…”


***


Wanita itu terbaring tak berdaya.


Namun dia tersenyum.


Dia mengingat kembali momen-momen bahagianya di kala kencan bersama pacarnya itu.


Tetapi itu tak berlangsung lama. Karena wanita itu merasakan kesakitan yang amat luar biasa.


Walaupun rasa sakit itu telah diredam hanya menjadi 10 % saja untuk dirasakan oleh syaraf pada tubuh avatar, tetap saja itu masih sangat sakit bagi seorang wanita manja yang selama ini selalu berada dalam perlindungan keluarganya.


Wanita itu pun berdiri. Dia menoleh ke kiri tubuhnya. Di situ, tepat tertancap blade bekas pertempurannya dengan pimpinan Tim Borjuin yang tidak hilang bersamaan dengan mayat sang pimpinan karena tepat patah ketika sang pimpinan ter-unsummon dari arena.


Sekitar 2 sentimeter lagi lebih ke kanan, maka blade itu sudah pasti akan mengenai jantungnya. Wanita itu tampaknya sangat beruntung.


“Ukh!”


Dengan menahan rasa sakit, wanita itu mencabut blade yang tertancap di bagian pinggir dadanya sembari mengaktifkan skill penyembuhannya dengan menggunakan sisa-sisa MP yang ada.


Wanita itu, Lia, berupaya menahan raungannya karena dia sadar bahwa saat ini di luar sana di dunia nyata, sang pacar sedang menonton pertandingannya. Dia tidak ingin tampak tidak keren sedikit pun di hadapan sang pacar.


“Ah, aku hampir kehabisan MP dan tidak bisa lagi bergerak. Kuharap pertarungan Senior Asario di barat bisa berlangsung dengan lancar.”


***


“Trang trang trang.”


Adu pedang terjadi di antara Asario dan sang robot. Lalu dengan cepat,

__ADS_1


“Baaam!”


Tinju dahsyat diarahkan kepadanya oleh sang wanita perkasa, tetapi Asario mampu dengan sigap menghindarinya.


“Tidak. Tidak ada lagi peluang bagi timku untuk lolos dari babak kualifikasi dengan skor perolehan lawan. Satu-satunya jalan bagi tim kami untuk lolos adalah dengan menjadi tim yang paling terakhir untuk bertahan. Aku harus segera kabur dari sini dan bersembunyi. Biarkan para sampah itu bertarung sesama mereka hingga pada akhirnya akulah yang terakhir akan bertahan.”


Di saat Asario sibuk bertarung dengan sang robot dan wanita perkasa, sang elf pimpinan Tim Vdol pun bergerak menjauh, berniat untuk kabur.


Akan tetapi dengan cepat, Asario sudah ada di hadapannya.


“Hiiiiks.” Melihat Asario yang tiba-tiba ada di hadapannya, membuat sang elf jadi meringis ketakutan.


“Siapa yang mengizinkanmu lari dari pertarungan, hah?! Tidak ada satu pun dari kalian yang bisa keluar hidup-hidup dari sini!”


“Srak!”


Asario melangkah dengan cepat. Tanpa disadari sang elf, pedang Asario telah menancap tepat di jantungnya dan dia pun gameover dari pertandingan.


Asario segera kembali menarik pedangnya dari mayat sang elf sebelum dua lawan lainnya mendekat ke arahnya dan memanfaatkan kesempatan pedangnya yang tak bisa digerakkan itu untuk menyerang.


Darah bercipratan di mana-mana begitu Asario menebas-nebaskan pedangnya ke udara demi membuang sisa-sisa darah yang memenuhi sekujur pedangnya.


“Aku benar-benar tak menyangka bahwa nona manja itu benar-benar mampu membersihkan seluruh lawan di area timur. Lia telah berjuang dengan baik. Sebagai seniornya, aku tidak boleh mengecewakannya.”


Di hadapan Asario telah berdiri sang wanita perkasa dari Tim Puririn.


Namun, yang menyerangnya rupanya bukanlah sang wanita perkasa.


Di detik-detik terakhir, indera yang tajam milik Asario masih mampu bekerja hingga tusukan pedang yang diarahkan padanya mampu dia hindari mengenai jantungnya, tetapi itu tetaplah menusuk bagian samping dadanya.


Asario meringis kesakitan. Tetapi Asario menggenggam dengan kuat tangan robot yang memegang pedang lantas balik mengaktifkan skill-nya hingga pedangnya bercahaya putih lantas menusuk tepat ke dada sang robot.


Pedang yang dipertajam oleh skill berhasil menembus suit armor robot yang tampak mulai rapuh hingga tepat pula menembus dada sang pemain yang berada di dalamnya.


Sang pemain terakhir dari Tim Borjuin itu pun turut gameover di tangan Asario.


Sang wanita perkasa segera menerjang ke arah Asario yang tengah sekarat dengan melayangkan tinjuannya yang dahsyat.


Asario dengan sekuat tenaga dengan darahnya yang berceceran melompat untuk menghindari serangan itu.


Pandangan Asario mulai kabur perihal baik SP dan MP-nya yang sudah di ambang batas, terlebih dengan darahnya yang berceran hebat, HP-nya pun mulai turun dengan drastis. Asario menyedari bahwa dirinya tidak lama lagi akan gameover.


Tetapi bagaimana pun, dia tidak akan pernah mau menyerah hingga di detik-detik terakhir.


***


Sementara itu di bangku penonton di luar di dunia nyata.


“Hei, Luca. Apa ini akan baik-baik saja? Asario dan Lia sudah sekarat sementara Babahentai dari Tim Puririn masih belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Bukankah kalau begini, Tim Puririn-lah yang akan memenangkan pertandingan?”


Nina tampak khawatir terhadap hasil pertandingan. Bagaimana pun, dia sudah tidak sekhawatir sebelumnya. Itu karena walaupun Tim Silver Hero akhirnya kalah di sini, mereka tetap sudah dijamin masuk ke putaran babak selanjutnya sebagai tim peraih skor mengalahkan lawan yang terbanyak.

__ADS_1


Namun demikian, Nina tetap merasa antiklimaks jika pertarungan yang megah ini berakhir dengan kekalahan tim yang sedari awal sudah berjuang dengan sangat heroik.


***


Asario tidak menyerah.


Begitu Babahentai menyerang dengan tinjuan mautnya, Asario menepisnya dengan layangan pedangnya.


“Prak prak prak.”


Terjadi adu tinju dan pedang dengan momentum yang sangat dahsyat.


Tetapi pada suatu titik, Asario mulai kehabisan HP karena darahnya yang bercucuran dan dia pun mulai merasakan tanda-tanda sekarat yang tidak bisa ditahannya lagi.


Namun di saat itulah,


“Yo, menyenangkan juga melihat wujud Senior yang sekarat seperti ini. Jika ini di tempat lain, pasti aku sudah meng-screenshotnya dan menjadikannya kenangan di album. Tetapi sayangnya ini pertandingan penting. Sayangku Luca sedang menonton di luar. Aku takkan membiarkan tim ini kalah dari nenek tua yang memakai kostum seragam mini.”


Ujar Lia. Dan seketika itu, Babahentai semakin terprovokasi marah. Babahentai paling tidak suka jika ada orang yang menghina fisiknya. Babahentai pun kembali memasuki mode berserk yang sama persis ketika sang robot penembak berat menghina fisiknya itu.


Pertarungan penentuan babak kualifikasi pertama sesi ketujuh di grup C pun memasuki klimaksnya antara pasangan tim yang sama-sama telah kehabisan tenaga dan mencapai batas mental dan fisiknya dengan seorang gorila yang sedang memasuki mode berserk-nya. Setidaknya itu yang diteriakkan oleh komentator pertandingan sebelum mereka pun menyaksikan,


“Padahal setidaknya aku juga ingin turut membantu Senior untuk bertarung, tetapi sayangnya staminaku tidak mencukupi lagi. Jadi terimalah sisa-sisa MP-ku ini, Senior.”


Lia menembakkan pistol penyembuhannya kepada Asario sehingga HP Asario pun pulih seratus persen dan luka luarnya sedikit tertutupi walaupun tidak menjangkau luka bagian dalamnya. Tetapi setidaknya, itu sudah cukup bagi Asario untuk bangkit dengan percaya diri lagi.


Akan tetapi, Lia pun terjatuh. Syukurlah, hanya MP Lia yang mencapai nol, tetapi HP-nya baik-baik saja. Lia tidak gameover, namun tidak pula dapat bergerak dari tempatnya terduduk saat itu.


“Menangkanlah pertarungan ini, Senior.”


“Tenang saja. Serahkan semuanya kepada seniormu ini.”


Asario pun menerima tekad dari Lia yang sudah kehilangan dayanya lantas bersiap untuk kembali menyerang.


\=\=\=


Hasil pertandingan sementara ruang virtual C sesi ketujuh



Silver Hero, jumlah korban \= 9, jumlah pemain tersisa \= 2


Borjuin, jumlah korban \= 4, jumlah pemain tersisa \= 0


Puririn, jumlah korban \= 3, jumlah pemain tersisa \= 1


Vdol, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 0


\=\=\=


__ADS_1


__ADS_2