The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
210. Serangan Kombinasi Trio Chika-Diana-Raia


__ADS_3

Malam itu, kami berpesta sederhana merayakan majunya kami ke babak selajutnya sekaligus merayakan hasil juara 2 Chika serta kemenangan mutlak Kak Nina. Namun, itu tidak berlangsung lama perihal keesokan harinya, kami akan kembali bertanding di putaran babak kedua.


Lawan kali kami ini menurut data tidaklah lebih kuat dibandingkan dengan lawan kami sebelumnya, tetapi kami tetap tidak boleh lengah. Kami tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti yang dibuat oleh SMA Sahabat Hutan yang meremehkan kami sehingga menurunkan anggota mereka yang tidak berpengalaman untuk menghadapi kami dan akhirnya berakhir dengan kekalahan yang memalukan.


SMA Macan Hitam, perwakilan kedua Pulau Sumatera. Itulah nama sekolah yang akan kami hadapi esok. Mereka adalah tipe petarung yang mengandalkan kecepatan dan selalu menyerang dengan cepat. Mereka adalah tipe lawan yang akan sangat sesuai untuk dihadapi oleh assassin sepertiku.


“Tidak, Luca. Di pertandingan tim besok, kamu tidak akan tampil.”


“Eh? Mengapa, Lia? Kenapa aku tidak bisa tampil? Bukankah lawan besok tipe agility? Wajar jika aku yang diturunkan melawan mereka.”


“Luca, bukankah besok kamu juga akan tampil di pertandingan individu? Fokuslah di pertandingan individu itu dan percayakan rekan setimmu yang lain untuk pertandingan tim besok. Walau lebih kecil dari pertandingan tim, poin dari pertandingan individu tetap tak boleh diabaikan kan? Ataukah kamu terlalu meremehkan kemampuan anggota timmu sendiri?”


Aku tak dapat membantah jika Lia sudah sekeras kepala itu.


Benar kata Lia. Walau poinnya lebih kecil lima kali lipat dari pertadingan tim, bukan berarti itu tak akan berkontribusi apa-apa pada penentuan juara umum.


Bayangkan saja misalnya jika tim kami berhasil menjadi juara satu pada pertandingan tim dan memperoleh 25 poin. Tetapi kemudian ada tim lawan yang berhasil memperoleh juara kedua di pertandingan tim dan memperoleh 15 poin, tetapi mereka juga memenangkan tiga turnamen individu sementara kami tidak bisa memenangkan apa-apa.


Skor mereka akan menjadi 30, sementara kami tetap akan stagnan di angka 25. Jadi, walaupun kami berhasil memenangkan turnamen tim, kami tetap tidak akan mampu menjuarai juara umum turnamen akhir tahun ini.


Itulah betapa pentingnya pula untuk menjuarai setiap turnamen individu.


“Jadi, Lia, siapa yang kamu rencanakan untuk dimainkan besok?” Itu Senior Areka-lah yang bertanya.


“Senior Areka dan Senior Yurika tetap bermain. Kemudian untuk tim penyerang, kita akan menggunakan kombinasi Chika, Diana, dan Senior Raia.”


Lalu demikianlah, pertandingan penyisihan di putaran kedua pun dimulai.


Lawan kami mengutus masing-masing seorang swordsman, fighter, archer, mage, dan cleric tanpa sama sekali dukungan dari seorang shielder. Benar-benar tim yang memfokuskan pada penyerangan cepat.


Begitu aba-aba pertandingan dimulai, mereka dengan gesit berlari menerjang ke arah Tim SMA Pelita Harapan tanpa rasa gentar sedikit pun.


Sayangnya, jebakan ranjau Diana yang berisi kumpulan racun Chika telah menunggu mereka di sana. Seketika tim lawan semuanya terkena debuff.


Hal itupun membuat Kak Raia dengan mudah mengeliminasi cleric mereka. Sayangnya, ketika Kak Raia hendak menyerang sang mage, sang mage menyerang balik dan berhasil sedikit menggores tubuh avatar Kak Raia itu.


Namun, panah cross bow Chika segera berhasil mendukung Kak Raia sehingga Kak Raia punya waktu untuk segera menarik diri ke belakang. Panah yang ditembakkan oleh Chika tersebut mengandung racun yang sangat mematikan sehingga tidak butuh waktu lama bagi sang mage untuk turut pula game over dari arena. Sebagai bonusnya, Chika berhasil pula melukai archer mereka dan turut mengirimnya kembali ke dunia nyata.


“Takkan kubiarkan kesalahan yang sama terulang seperti di turnamen individu itu! Kali ini, aku pastikan akan menyumbangkan kemenangan buat tim!”


Di saat tim lawan akan melakukan counter attack, skill ‘longsor’ Diana menggoyahkan pemain fighter dan swordsman yang tersisa.


Kak Raia yang lukanya telah pulih berkat skill penyembuhan Kak Yurika segera mengambil kesempatan itu untuk menyisihkan sang fighter lawan. Sayangnya dalam prosesnya, Kak Raia harus game over perihal terkena pedang sang swordsman.


Namun, kemenangan telah menjadi milik kami perihal panah cross bow Chika yang berisikan melon neraka yang mengandung bakteri histeria varian 707 telah berhasil mengenai sang swordsman ketika dia mengaktifkan auranya. Tidak butuh waktu lama bagi sang swordsman yang merupakan pemain terakhir dari lawan untuk turut game over di arena.

__ADS_1


Kemenangan mutlak buat Tim SMA Pelita Harapan berkat trio Chika-Diana-Kak Raia, bahkan tanpa perlu Senior Areka untuk turut ikut campur tangan dalam pertarungan tersebut.


Kemeriahan acara terus berlanjut. Di tengah-tengah kemeriahan acara itu, kami pun menyempatkan diri menonton calon lawan kami di putaran babak penyisihan ketiga. Antara SMA Yayasan Eden atau SMA Puncak Bakti, siapapun di antara mereka yang menang di pertandingan penyisihan kedua ini, merekalah yang akan menjadi lawan kami di putaran selanjutnya.


“Bagaimana dengan pertandingan SMA Mulia Karsa, Zevan?” Karena penasaran, aku pun menanyakan hasil pertandingan sebelah.


Jawabannya telah seperti apa yang kuduga.


“Yah, itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Bagaimana mungkin mereka akan sanggup untuk mengalahkan Tim SMA Phoenix? Tim SMA Mulia Karsa benar-benar kalah dengan memalukan. Aku juga tidak tahu detailnya, tetapi tiba-tiba saja mereka batuk-batuk tanpa sebab lalu begitu saja tewas di arena. Tapi aku sudah merekam pertandingan itu dengan baik.”


‘Ah, itu pasti perbuatan junior Kak Krimson.’ Pikirku dalam hati.


Namun, bukan itu yang harus aku pikirkan saat ini, perihal pertarungan antara Tim SMA Yayasan Eden dan Tim SMA Puncak Bakti telah dimulai.


Terlihat bahwa SMA Puncak Bakti telah banyak belajar dari pertarungan mereka sebelumnya melawan SMA Yayasan Eden di babak final kompetisi awal tahun akademik itu. Sangat terlihat jelas niat mereka untuk melakukan revenge atas kekalahan mereka sebelumnya.


Tim itu sampai-sampai menurunkan seorang assassin dan scout mereka secara bersamaan yang sangat jarang dipakai di suatu pertandingan dengan mengistirahatkan shielder dan cleric mereka. Benar-benar formasi all-offense.


Daripada memfokuskan serangan mereka pada satu titik di lini depan, Tim SMA Puncak Bakti kali ini lebih memilih untuk menyerang dari segala arah untuk mencari titik lemah pertahanan Tim SMA Yayasan Eden.


Sang scout seketika mengaktifkan skill-nya untuk menggoyahkan pijakan tanah yang bertujuan untuk menghamburkan posisi all-defense SMA Yayasan Eden. Tetapi tampak dengan bertumpu pada Eren sang shielder, SMA Yayasan Eden mampu bertahan dengan baik.


Akan tetapi, serangan Tim SMA Puncak Bakti tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Sang mage terlihat mulai menyerang dengan jurus petirnya untuk menembus pertahanan lawan dari atas, sementara dalam keadaan tersebut, sang assassin mulai menyelinap ke belakang musuh untuk menghancurkan lini belakang mereka.


Setelah beberapa saat, keadaaan pun segera berbalik dengan Gajel sang mage SMA Yayasan Eden melakukan counterattack kepada mage lawan melalui suatu ultimate skill yang seketika mengenyahkan sang mage lawan itu dari arena.


Hal yang tak terduga pun terjadi ketika sang assassin lawan hendak mengassasinasi Gajel, senjatanya malah balik menyerangnya dan menikam sendiri tubuhnya. Alhasil, assassin dari Tim SMA Puncak Bakti pun segera turut game over dari arena.


Melihat dari pergerakan Tim SMA Yayasan Eden, tampaknya itu adalah skill milik sang scout. Skill steal dan super counter-attack, scout itu benar-benar sangat berbahaya.


Selanjutnya, serangan kombinasi Gajel bersama dengan sang archer akhirnya mampu mengeliminasi scout dari SMA Puncak Bakti itu yang menyisakan seorang swordsman dan seorang fighter yang merupakan tim penyerang mereka.


Akan tetapi, kedua pemain yang tersisa dari SMA Puncak Bakti itu pun harus segera menelan pahit kekalahan di tangan sang shielder berbakat, Eren.


Tim SMA Yayasan Eden sekali lagi memenangkan pertandingan atas Tim SMA Puncak Bakti. Akhirnya diputuskan bahwa merekalah lawan kami di putaran babak selanjutnya.


Kalau boleh aku menilai, memang terlihat jelas perkembangan kemampuan semua pemain Tim SMA Puncak Bakti. Aku tidak tahu mengenai scout dan fighter mereka yang baru aku lihat hari ini, akan tetapi jelas-jelas bahwa skill sang swordsman, mage, dan assassin mereka telah berkembang ke ranah yang cukup menakutkan.


Namun, walau dengan perkembangan yang di tingkat monster itu, mereka tetap tak dapat menembus pertahanan SMA Yayasan Eden yang sangat kokoh tersebut. Begitu aku sangat bersemangat untuk menantikan pertarungan kami melawan benteng kokoh itu di keesokan harinya.


Untuk sekarang, aku hanya harus berfokus pada tanggung jawabku di tim saat ini yakni untuk membawa kemenangan kedua bagi tim di turnamen individu assassin.


Mekanisme turnamen untuk kelas assassin sendiri dilaksanakan dalam format yang cukup simpel. Akan ada seribu target berupa papan kotak kayu berukuran 30 x 10 x 3 sentimeter kubik yang bergerak acak secara bersamaan di suatu area terbatas di mana kami harus menghancurkan keseribu papan kotak kayu itu dalam jangka waktu 30 menit.


Namun, jikalau sampai ada satu saja papan kotak kayu yang mengenai badan kami, maka seketika itu pula permainan dihentikan dan perhitungan skor dilakukan berdasarkan berapa banyak kotak kayu yang telah berhasil kami hancurkan.

__ADS_1


Hasilnya sudah jelas, bahkan tidak sampai sepertiga waktu berjalan, aku berhasil mengenyahkan seluruh kotak kayu yang ada di arena.


Rupanya, tidak hanya aku saja assassin yang dapat menyingkirkan seluruh kotak kayu pada waktu yang disediakan, tampak bahwa dua assassin lainnya yakni yang berasal dari SMA Phoenix serta SMA Sahabat Hutan yang sebelumnya telah kami kalahkan dalam pertandingan tim juga mampu melakukan hal tersebut.


Namun, tentu saja mereka berdua tak mampu menyamai perolehan waktuku sehingga aku berhasil dinobatkan sebagai juara pertama dan berhasil dengan sukses menyumbangkan kemenangan pertandingan individu kedua bagi tim kami setelah Kak Nina.


Kesuksesan kami tidak terhenti sampai di situ saja hari ini. Walau bukan juara pertama, di luar dugaan, baik Egi di turnamen archer maupun Ellen di turnamen cleric masing-masing mampu menyumbangkan juara ketiga bagi tim.


Turnamen individu archer ialah seberapa jauh mereka dapat mengenai target secara akurat. Tentu saja ini harus dilakukan tanpa para peserta archer tersebut mengaktifkan skill mereka. Egi hanya mampu bertahan di jarak 800 meter di mana panahnya meleset ke angka 7.


Adapun dua peserta lain yang mengalahkannya masing-masing hanya mampu bertahan di jarak 900 meter, hanya satu tingkat di atas Egi. Sang juara pertama, SMA Cendrawasih, perwakilan kedua Pulau Papua meleset ke angka 8, sementara sang juara kedua, SMA Ayam Jantan, perwakilan pertama Pulau Sulawesi meleset ke angka 5.


Kemudian untuk turnamen individu cleric, hanyalah mengukur seberapa besar kekuatan suci mereka. Aku juga tidak tahu persis bagaimana mereka mengukurnya dalam bentuk angka, tetapi terlihat bahwa nilai kekuatan suci Ellen berada di angka tepat 1200, yang kalah dari sang juara pertama, SMA Phoenix di angka 1618 dan sang juara kedua, SMA Yayasan Eden di angka 1469.


\=\=\=


Hasil Sementara Turnamen Akhir Tahun e-sport vrmmorpg



SMA Pelita Harapan 19 poin


SMA Phoenix 17 poin


SMA Yayasan Eden 12 poin


SMA Cendrawasih 9 poin


SMA Ayam Jantan 7 poin


SMA Rumah Kita 7 poin


SMA Cahaya Persada 5 poin


SMA Butir Kasih 4 poin


SMA Kolam Ikan 4 poin


SMA Sahabat Hutan 4 poin



\=\=\=


__ADS_1


__ADS_2