The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
142. Perdebatan Panas Penentuan Kedua Belas Calon Anggota Baru


__ADS_3

“Omong kosong apa yang kamu ucapkan, Bocah…”


Robby pun tanpa sadar kelepasan mengumpat kepada Luca begitu mendengarkan hal ngawur yang dibicarakannya. Namun begitu pandangan mereka berdua bertemu, Robby bergidik dan dan segera menghentikan ucapannya lantas memalingkan pandangannya pada bocah yang menurutnya sangat menakutkan dan tak bisa ditebak itu.


“Maksudku, tidak ada nama pemain yang seperti itu kan, Luca.”


Ujar Robby dengan pandangan menerawang ke mana-mana tanpa berani menatap mata pemuda mungil itu secara langsung.


Luca hanya menghela nafasnya begitu merasakan hawa ketakutan dari seniornya itu kepadanya. Pemuda itu pun hanya menjawab singkat,


“Ada kok, Kak Robby. Mereka ada di Tim Kak Sabrina sebelumnya.”


Mereka berenam pun atas perkataan Luca itu menonton ulang siaran pertandingan di Tim Sabrina.


“Oh, benaran ada. Pffft.” Ujar Yurika setelah menyaksikan beberapa saat siaran ulang pertandingan itu, tetapi entah mengapa wanita itu tertawa namun berusaha keras menahan tawanya.


Sesaat kemudian, Robby dan Inggar dengan cepat menyadari apa yang menjadi penyebab Yurika bertingkah seperti itu dan seketika turut menampakkan gelagat ekspresi menahan tawa persis yang dilakukan oleh Yurika. Hanya sang pelatih dan Yudishar yang tetap dalam ekspresi poker face mereka.


Mereka pun hanya melanjutkan menonton jalannya tayangan pertarungan.


“Ini benaran ada, tapi mereka kan…” Yurika tampak ragu-ragu mengutarakan pendapatnya. Dia hanya melirik ke arah Yudishar sebagai yang paling bijak di antara mereka.


“Mereka langsung kalah di babak pertama. Player yang bernama Miss Queen walaupun seorang alchemist, defensifnya lumayan hebat dengan memanfaatkan ramuannya, tetapi ujung-ujungnya dia kalah karena kehabisan item ramuan. Untuk meloloskannya sebagai anggota klub rasanya kurang tepat.”


Dengan cepat, Luca pun menjawab komentar Yudishar,


“Menurutku tidak seperti itu kok, Kak Yudishar. Pemain itu sangat bertalenta dan sangat layak diloloskan di tim. Lihat saja bagaimana dia memanfaatkan potensi bahan dasar ramuan yang murah untuk membuat potion dan senjata dengan efek yang maksimal.


“Dia dengan dana sehemat mungkin mampu membuat ramuan yang sehebat itu. Tidak ada sedikit pun masalah pada kualitas ramuannya walaupun menggunakan bahan berkualitas rendah. Kekurangannya hanyalah pada jumlah yang dibuatnya dan bahan dasar ramuannya yang pada dasarnya berkualitas rendah karena murah.”


“Justru itulah, Luca. Artinya sebagai seorang petarung, dia kurang mempersiapkan dirinya sehingga tidak layak berada di klub kita.”


“Tetapi bukankah karena player itu kekurangan dana saja, Kak Yudishar?”


“Karena dia miskiin (Miss Queen). Pffft!” Sekali lagi Yurika tanpa sadar menyela dengan gelak tawanya yang berusaha sekuat tenaga dia tahan.


Luca dan Yudishar hanya mengabaikan itu lantas melanjutkan obrolan mereka.

__ADS_1


“Harga item di dalam game semakin mahal sehingga sang player tidak sanggup untuk membeli lebih banyak bahan dasar ramuan ataupun membeli bahan dasar ramuan dengan kualitas yang lebih tinggi. Selain itu, levelnya juga masih terlalu rendah untuk dapat memasuki area hutan alchemist yang lebih dalam untuk memperoleh sendiri bahan langka yang dibutuhkannya secara langsung di alam.”


Tetapi coba deh Kak Yudishar bayangkan, seandainya klub kita bisa membantunya dalam masalah finansial, kira-kira bagaimana perkembangan pesat yang akan dialami oleh player itu jika kita melihat potensinya.”


Sang pelatih tampak mengangguk-angguk setuju dengan pendapat Luca itu, tetapi entah mengapa cekikikan Yurika tampak semakin jelas.


“Pemain itu tidak dapat membeli ramuan karena dia miskiin (Miss Queen). Pffft!”


Seketika kelima mata tertuju padanya, barulah di saat itu Yurika tersadar bahwa dirinya telah tertawa terlalu kelewatan sehingga menjadi pusat perhatian. Yurika pun lantas segera sedikit berdehem lalu kembali memperbaiki ekspresinya yang sempat terpelintir menahan tawa itu.


Namun Luca tak menurunkan tatapan mata kesalnya sedikit pun kepada Yurika yang membuat keringat dingin sedikit mengucur keluar di pelipis sang wanita cantik yang tampak dewasa itu.


“Kakak sedang mengejekku karena cadel ya?” Tanya Luca secara jujur.


“Oh, tidak. Bukan begitu kok, Luca. Luca walau cadel, tetapi imut… Oh, bukan itu maksudku…”


Yurika berkata dengan panik sampai-sampai tidak jelas lagi apa yang ingin disampaikannya.


Di saat itu, sekali lagi Luca menghela nafasnya.


“Hah, ya sudahlah. Kalau Kakak tertawa pun, tidak masalah juga buatku. Maaf karena telah cadel.”


“Tetapi apa masalahnya dengan cadel? Kamu seharusnya berbangga. Itu bukan kekurangan, malahan menurutku, itu keuntungan yang membuatmu terlihat imut sehingga semakin menarik di hadapan wanita.”


Semua mulut pun menganga mendengarkan komentar itu. Itu bukan tentang apa isi komentarnya, melainkan siapa orang yang mengatakannya. Dia adalah sang pelatih berwajah seseram iblis itu.


Setelah diam lama dalam suasana penuh kekikukan itu, sang pelatih pun berdehem untuk memecah suasana. Sang pelatih pun mengembalikan jalur diskusi ke arah yang benar.


“Lantas bagaimana menurutmu tentang player mage bernama Diana alias Peterpan itu, Luca? Dia juga kalah di ronde pertama karena sihir tanahnya kurang kuat.”


Luca menjawab pertanyaan pelatihnya itu,


“Ya, Peterpan pada dasarnya memiliki sihir tanah yang lemah karena sihir tanahnya sebenarnya bertipe support. Tetapi dia sanggup bertahan cukup lama di arena walaupun pada akhirnya kalah berkat agilitas dan sense-nya dalam merasakan serangan yang baik. Tidakkah Pak Pelatih berpikir sesuatu setelah mendengar karakteristik pemain ini?”


Pak Pelatih tampak hanya diam saja sementara yang lainnya juga hanya menggelengkan kepala pertanda tidak punya klu sama sekali terhadap perkataan Luca tersebut.


“Sihir tipe tanahnya tidak akan optimal dengan job class-nya sebagai seorang mage sekarang. Job class scout akan lebih mengoptimalkan potensinya. Terlebih player itu memiliki agilitas dan sense yang sangat baik. Dia sangat cocok untuk menjadi pemain scout yang andal.”

__ADS_1


Setelah terlihat berpikir sejenak, sang pelatih pun tampak bergumam,


“Hmm, benar juga.”


Sesaat kemudian, sang pelatih pun kembali bertanya kepada Luca,


“Seandainya kedua peserta ini memang diloloskan, artinya hanya tersisa delapan kursi kosong di keanggotaan klub, sementara ada total 9 peserta pemenang pertandingan tim. Jadi siapa menurutmu satu di antara mereka yang pantas untuk digugurkan?”


Terhadap pertanyaan sang pelatih itu, Luca kembali menjawab tanpa ragu,


“Itu tentu saja pemain swordsman di kelompok Kak Zen. Dia memang memenangkan pertandingan tim, tetapi itu hanya karena tidak ada pemain yang benar-benar hebat di batch-nya. Selain itu, pemain itu walau seorang swordsman, dia tidak memiliki etika bertarung layaknya seorang swordsman. Cara bertarungnya sangat barbar, tidak beradab, dan sangat bengis, benar-benar tidak menunjukkan citra seorang swordsman yang elegan dan lurus.”


“Terus terang, aku adalah orang yang tajam yang langsung dapat menilai karakteristik seseorang dari gaya bertarung mereka. Dan instingku mengatakan bahwa swordsman itu adalah orang yang memiliki tabiat yang culas. Aku benar-benar tidak suka memiliki rekan yang memiliki karakter seperti itu. Terlebih, bukankah dia kalah dengan Kak Zen, orang terlemah di tim kita saat ini?”


Luca benar-benar menjawab pertanyaan pelatih itu tanpa sedikit pun menggunakan rem untuk memperhalus bahasanya.


“Kalau memang disuruh memilih di antara kesembilan pemain itu, aku juga akan memilih pemain swordsman itu, Pelatih, perihal masih ada satu peserta swordsman lainnya di antara kesembilan pemain itu, terlebih masih ada aku, Ikki, dan Zen sebagai pemain swordsmen di dalam klub.”


“Apa ini Robby? Kamu mengabaikan kalau di tim kita masih ada tiga pemain swordsman lain?” Yurika tampak berkomentar terhadap pendapat Robby itu.


Yurika tanpa sadar telah menyediakan bom waktu.


“Siapa yang peduli dengan kutu kupret di klub itu?! Kalau mereka memang tidak punya niat untuk berlatih, sebaiknya mereka keluar saja dari klub agar semakin banyak kuota untuk pendaftar baru mendaftar!


Dan Robby pun akhirnya ikut tanpa sadar menekan tombol aktif bom waktu itu yang tak dapat ditariknya kembali.


Robby pun menatap wajah pelatih dengan ragu-ragu. Namun, tampak sang pelatih hanya menghela nafas sembari memilih untuk tidak berkomentar.


Suasana diskusi yang awalnya adem itu pun seketika mendadak rusak ketika ketiga pemain swordsman yang sampai saat ini Luca belum juga lihat wajahnya itu disebutkan.


Setelah itu, pelatih tampak berusaha keras melanjutkan diskusi dalam suasana kelam itu. Sang pelatih pun meminta pendapat lebih lanjut dari Robby dan Inggar tentang apakah ada pemain lain yang menarik perhatian mereka di luar pemenang pertandingan tim. Namun, tak ada satu pun nama yang sanggup keluar di mulut mereka.


Entah itu karena benar-benar tak ada peserta lain yang menarik minat mereka ataukah suasana hati mereka yang terlanjur hancur duluan ketika mengingat eksistensi anggota hantu ketiga pemain swordsman itu.


Dan demikianlah nama kedua belas calon anggota klub e-sport vrmmorpg sekolah itu ditentukan.


Terlepas dari suasana yang tidak mengenakkan itu, Luca tak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda kegentaran, malahan ekspresinya terlihat penuh semangat.

__ADS_1


Perihal ini adalah langkah awal baginya untuk memenuhi pernyataan tekad yang di-ikrarkan-nya kepada Ecila di malam terakhirnya di Amerika Serikat itu untuk menantang sang juara di ajang kompetisi e-sport vrmmorrpg tingkat profesional bergengsi melalui ajang amatir pertandingan e-sport vrmmorpg tingkat SMA sebagai batu loncatannya.


__ADS_2