
Egi yang sedari tadi tampak mengkhawatirkan sesuatu dengan berjalan mondar-mandir terus-terusan di luar ruangan, akhirnya memutuskan melintasi kerumunan demi melihat perkembangan situasi. Dia mengamati dengan seksama bahwa Luca dan Areka, keduanya telah berdiri di atas arena.
“Si bodoh itu! Ujung-ujungnya dia nekat melawan Senior Areka rupanya. Senior Areka bukanlah lawan yang mudah yang keahliannya bahkan bisa dikatakan sejajar dengan para pemain muda berbakat jebolan tim pro.” Dari atas podium sana, Egi tampak mengkhawatirkan Luca.
“Tapi yah, ada baiknya juga pertandingan ini. Aku jadi bisa mengumpulkan referensi untuk ujian perekrutan bulan depan. Mari kita lihat apa yang bisa kamu lakukan, Luca.”
Namun pada akhirnya, Egi memutuskan untuk menyaksikan pertarungan itu dengan penuh antusias.
“Oke, Luca. Bagaimana spesifiknya pertandingan akan kita lakukan? Apa kita pakai saja standar Indonesia saat ini dengan vrmmorpg The Last Gardenia sebagai base-nya?” Areka pun bertanya kepada Luca.
“Ya, Senior, kita pakai itu saja. Aku juga kebetulan belum punya akun untuk vrmmorpg yang lainnya.” Jawab Luca dengan pasti.
Areka tampak bingung dengan pernyataan Luca barusan, “Oi, oi. Merendah juga ada batasnya. Bagaimana bisa ada orang di zaman modern ini tidak punya akun game di vrmmorpg yang lain? Sejak umur 9 tahun, kita sudah dibebaskan dari pelarangan bermain vrmmorpg untuk anak di bawah umur. Lalu bukankah tahun lalu standar game Indonesia masih memakai The Twelfth Sriconia? Kamu mau bilang bahwa kamu masih newbie?”
“Memang begitu kok, Senior.” Sekali lagi Luca menjawab tanpa keraguan.
“Apa?!”
“Yah, yah, walaupun aku masih newbie. Akan kupastikan untuk menghajar Senior sampai babak-belur. Jadi tenang saja.” Ujar Luca mengucapkan kalimat kejam itu disertai dengan senyuman yang cerah.
Keduanya pun memakai bando penghubung kesadaran ke dunia virtual. Seketika, proyeksi karakter game mereka dalam bentuk hologram tampil di atas arena. Akan tetapi, para penonton pun menyaksikan level karakter mereka.
Pemain sudut kiri:
Nama: LUCA (Lv 6)
Race: Manusia
Umur: 15 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Assassin [apprentice]
__ADS_1
Pemain sudut kanan:
Nama: AREKAMALANG (Lv 40)
Race: Manusia
Umur: 16 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Shielder
“Hei, lihat level mereka.” Begitu satu penonton mengucapkan kalimat itu, sontak podium pun riuh dengan gelak tawa penonton.
“Hahahahahaha. Serius bocah itu ingin bertanding melawan pemain paling berbakat sekolah kita dengan level segitu? Sudah tidak waras kali ya.”
“Hahahahaha. Level 6? Serius dia hanya level 6? Bodoh pun ada batasnya.”
Mereka semua mengejek dan meremehkan Luca.
Namun sejatinya, penonton itu benar. Ini akan menjadi ajang perundungan seekor singa buas terhadap seekor anak kelinci. Hanya mereka belum tahu saja siapa singa buasnya dan siapa anak kelincinya.
“Hah, sungguh mengecewakan! Kukira kamu akan sehebat apa sampai berani berkoar di hadapanku sewaktu di warnet. Tak tahunya hanya newbie yang kelewat kepedean toh. Tampaknya kemampuanku untuk menilai bakat orang hebat sudah mulai pudar ya. Hah.” Areka pun menghela nafas begitu mengetahui level karakter game Luca karena tak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
“Kalau begitu, mari selesaikan ini dengan cepat saja. Aku juga tidak punya hobi merundung orang yang lemah.” Secara sepihak, Areka berasumsi sendiri.
Wasit pertandingan pun yang tidak lain adalah Yudishar, teman dekat Areka, memulai arahannya.
“Sebelum pertandingan dimulai, mari kita simpulkan lagi taruhan dalam duel ini. Jika Areka menang, maka Luca harus bersedia menjadi asisten serbabisa Areka tanpa dibayar selama setahun penuh. Tetapi jika Luca yang menang, Areka harus bersedia mundur dari tempatnya sebagai tim inti dalam klub e-sport di sekolah dan menyerahkan tempat tersebut kepada Luca sebagai anggota eksklusif.”
“Namun berhubung Luca sekarang adalah bagian dari sekolah ini, maka ketika Luca yang menang, dia bukan lagi menjadi anggota eksklusif, melainkan anggota resmi tim inti klub e-sport sekolah. Bagaimana dengan kedua pemain? Apakah telah puas dengan syarat ini atau ada lagi yang ingin ditambahkan?”
“Sepakat.”
__ADS_1
“Tidak ada masalah.”
Luca menjawab dengan penuh keyakinan, namun Areka tampak lebih dulu telah kehilangan semangatnya.
“Hahahahaha. Enak ya jadi Areka, dapat babu gratis selama setahun.” Bahkan di kala pertandingan akan dimulai, masih saja terdengar riuh yang mengejek Luca pasti akan kalah.
“Bersiap… Mulai!” Dengan aba-aba dari wasit tersebut, pertandingan antara Luca dan Areka pun dimulai.
Areka hanya tampak setengah hati melindungi dirinya dengan perisainya. Dia acuh tak acuh dengan Luca yang menerjang berlari ke arahnya. Tetapi di saat dia pikir Luca telah berada pada jarak serang perisainya dan ingin menyerangnya, “Pyong!” Luca seketika menghilang dari hadapannya.
Areka sama sekali tak menduga bahwa Luca dapat mengaktifkan skill sembunyi sekaligus gerak zig-zag secara bersamaan yang tak dapat dideteksi oleh intuisi-nya sebagai shielder berlevel 40.
Areka menelisik ke segala arah, ke samping kiri, samping kanan, atas, dan belakang, namun tak kunjung pula dia dapat menemukan keberadaan Luca. Tetapi rupanya, Luca ada di belakang Areka, hanya saja dia tak melihatnya karena posisinya yang berada di bawah jarak pandang Areka.
Lalu seketika, “Slash!” Luca mengaktifkan skill ‘tebasan pangkal paha’-nya, menyelinap dari balik celah perisai Areka lantas menebaskan degger di area pangkal paha Areka itu yang dekat dengan sesuatu yang kecil dari bagian tubuhnya.
Areka seketika gemetar merasakan sensasi yang hampir saja ikon kejantanannya itu menghilang walaupun sejatinya itu hanya tubuh virtualnya saja dan sama sekali bukan tubuh aslinya. Kaki Areka yang gemetaran akhirnya tak kuasa menopang berat tubuhnya dan Areka pun jatuh terduduk.
Di saat itulah, “Sraaak!” Luca mengaktifkan skill tusukan penghancur tengkorak-nya dengan menusukkan dagger tajam tepat menembus ke kepala Areka dari arah belakang sebagai serangan penutupan.
Areka pun game over dan kemenangan mutlak bagi sang newbie kita.
“Waduh, bagaimana ini, Senior? Baru 9 detik, bahkan tak sampai 10 detik, Senior sudah kalah. Apa Senior berusaha menahan diri dariku karena aku masih newbie… ataukah… jangan bilang itu kemampuan terbaik Senior.” Luca, si anak polos kita pun mulai belajar memprovokasi orang lain dengan senyum jahatnya.
Namun dari siapa Luca belajar hal buruk tersebut, itu tidak lain adalah berasal dari Areka sendiri sebagai sumber pengaruh buruknya.
“Hahahahahaha. Ternyata mataku memang belumlah tumpul. Sudah kuduga kamu adalah player yang hebat. Maafkan aku sebelumnya telah meremehkanmu. Bagaimana kalau kita mulai ronde kedua?” Ujar Areka yang tidak surut semangatnya setelah dikalahkan.
“Hei, itu curang. Senior telah kalah. Senior harusnya mengaku kalah dong dan menepati janji taruhannya.”
“Betul, betul, betul!”
Nina tak dapat menahan kesalnya ketika Areka berniat mengadakan pertandingan tambahan begitu dia telah kalah dan Luca memenangkan taruhannya, sementara Raia ada di belakangnya menyupport seratus persen protes Nina tersebut.
__ADS_1