
Lia tiba-tiba saja teringat kejadian hari itu.
Hari di mana sekelompok gangster marah padanya karena sikapnya yang senantiasa sok berkuasa, tetapi tidak berani sedikit pun menyentuhnya karena takut akan kekuasaan ayahnya.
Jadilah para gangster itu melampiaskan amarah mereka pada Andra, senior satu tingkat di atas Lia yang terlihat paling dekat dengan nona manja itu.
“Kalian! Berani-beraninya kalian menyentuh budakku! Tidak ada yang boleh menyentuh budakku selain aku!”
Lia yang marah Andra dipukuli hingga babak-belur oleh mereka lantas balik memukuli dan menghina para gangster.
Para gangster tampak berupaya keras menahan amarah mereka karena mengingat status keluarga Lia yang sama sekali tidak bisa mereka sentuh. Tetapi pada akhirnya,
“Plak!” Sang ketua gangster tak dapat lagi menahan hinaan itu lantas menampar pipi Lia.
Mendapati perlakuan yang seperti itu, Lia hanya dapat terjatuh dan menangis.
Tetapi dengan sigap, para pengawal yang sedari tadi bersembunyi di belakang mengawasi nona mudanya itu, bermunculan lantas balik menghajar para gangster dengan pembalasan yang jauh lebih dahsyat.
Alhasil, hidup para gangster di sekolah mereka pun berakhir. Mereka dikeluarkan dari sekolah dan tidak dapat pula mendaftar di sekolah lain. Mereka juga bukannya bisa mencari pekerjaan karena ayah Lia telah memblacklist nama mereka semua di semua perusahaan yang berelasi dengan perusahaannya dan itu hampir mencakup seluruh perusahaan di Jakarta dan masih banyak lagi di luar ibukota.
Dalam kata lain, hidup para gangster sudah tamat hanya karena kesalahan satu tamparan itu, tamparan yang mereka tujukan kepada orang yang mereka tidak bisa jangkau.
Namun demikian, Lia pun sadar.
Bukannya Lia peduli dengan nasib para gangster itu karena mereka juga tidak jauh beda dari dirinya yang suka menghancurkan hidup orang lain.
Dia sadar bahwa betapa lemahnya dirinya tanpa kekuasaan ayahnya.
“Sial! Jadi pada akhirnya, aku bukan siapa-siapa tanpa Ayah. Aku benci dengan diriku yang seperti ini.”
Di situlah Lia yang masih belia di usia SMP-nya, mengenal vrmmorpg The Twelfth Sriconia. Di luar dugaan, Lia menyukainya dan terhanyut ke dalam dunia game itu.
“Hai, Nak. Kulihat kau sangat berbakat dan tertarik dengan konsep battle healing. Bagaimana kalau bergabung bersama kami, Akademi Eden, untuk mengembangkan bakat game-mu itu?”
Lia kemudian bertemu dengan pencari bakat yang tidak lain adalah pelatihnya saat ini, Riska Angela.
Lia yang tenggelam oleh ketidakberdayaan kala itu akhirnya mengambil ini sebagai peluang untuk menemukan kekuatan miliknya sendiri dan bukan berasal dari orang lain termasuk ayahnya.
Di bawah didikan sang battle healer generasi pertama dengan nickname ANGEL, Lia pun berlatih menjadi penerus sang battle healer itu.
***
Sementara itu di dunia nyata di luar.
“Hei, Luca. Apa Lia akan baik-baik saja? Lawannya itu sangat kuat, lho.”
“Tenang saja, Kak Nina. Jika itu Lia yang dulu, Lia sudah pasti akan kalah. Namun sekarang berbeda. Lia memiliki peralatan dan ketenangan untuk memanfaatkan peralatan itu dengan baik. Selama Lia bisa menggapai tubuh asli pemain, maka kemenangan akan menjadi milik Lia.”
***
__ADS_1
“Oh, apa ini? Bukannya pemain wanita satu-satunya dari Tim Silver Hero kali ini adalah seorang cleric? Tapi kenapa pakaian fighter?”
“Itu karena aku seorang battle healer.” Jawab Lia dengan pasti.
Dia pun mulai melancarkan serangannya ke arah sang pimpinan Tim Borjuin itu.
“Trang trang trang.” Adu tinju dan pedang pun terjadi di antara kedua pemain.
Walaupun pedang sang pimpinan Borjuin lebih besar daripada pedang Asario yang besar, Lia dapat mengimbangi momentumnya itu dengan tinjuan sihirnya yang diperkuat strength-nya oleh pakaian silat Evony.
“Ah, ini menjengkelkan. Masih ada Asario di sana yang menungguku. Bertarung dengan cleric yang berpura-pura menjadi fighter sepertimu sama sekali tidak menyenangkan. Akan kuakhiri ini semua dengan singkat.”
“Slash.”
Pedang sang pimpinan Borjuin meraung. Lia terhempas lima meter ke belakang oleh momentum pedang. Tetapi dia bisa mempertahankan posisi berdirinya dengan baik.
“Dor dor dor dor dor.”
Lia melayangkan kelima peluru sihirnya ke arah yang berbeda melewati sang pimpinan Borjuin. Namun kemudian, bagai memiliki navigasi otomatis, peluru sihir itu segera berbelok tajam kembali ke arah sang pimpinan Borjuin.
“Slash slash.” Dua peluru sihir yang datang pertama berhasil ditebasnya.
“Slash slash slash.” Lalu dilanjutkan dengan tebasan kepada tiga peluru sihir yang datang belakangan.
Kini giliran sang pimpinan Borjuin yang maju menyerang Lia. Sang pimpinan maju dengan kecepatan tinggi lantas melayangkan pedangnya ke arah wanita yang tidak sampai setengah ukuran tinggi badan suit robot yang dikendarainya itu.
Sang pimpinan sama sekali tidak memberi kesempatan Lia untuk mendarat lantas melayangkan serangan pedang keduanya kepada Lia yang masih ada di udara.
Namun dengan cekatan, Lia menendang pedang itu sehingga terpental.
Lia ikut terpental ke belakang oleh momentumnya, tetapi dia dapat dengan segera berada dalam posisi berdiri sambil dirinya masih terseret ke belakang beberapa meter.
Lia segera mengambil kembali ancang-ancang defensifnya.
Sang pimpinan maju kembali menyerang, tetapi kali ini Lia sedikit demi sedikit memancingnya ke area pepohonan di sebelah timur.
Hingga sampailah kedua pemain di area hutan yang penuh dengan pepohonan tanpa disadari oleh sang pimpinan.
“Trang.”
“Ck. Pohon-pohon sialan ini menghalangi area tebasanku.”
Sang pimpinan pun memutuskan untuk meng-unsummon pedang besarnya dan mengganti senjatanya dengan mode blade tangan kanannya.
“Slash tak slash tak slash tak.”
Sang pimpinan berusaha menebas Lia yang menyerangnya dengan taktik gerilya yang cemerlang dengan memanfaatkan pohon di sekeliling sebagai tamengnya sembari melayangkan pukulan tiap kali ada kesempatan pada tubuh suit robot yang keras itu.
“Slash tak slash tak slash tak.”
__ADS_1
Suara stagnan bergema untuk jeda waktu yang cukup lama.
“Ah, ini membuatku gila. Aku sudah tidak sabar lagi.”
Sang pimpinan pun mengaktifkan kemampuan suit robotnya. Seketika suit itu memanas yang membakar pohon-pohon di sekitar.
Lia terhempas.
Sang pimpinan yang kegirangan akhirnya melihat serangga kecil itu terjatuh lantas segera berlari untuk menggapainya.
Namun Lia segera dapat berdiri di detik-detik terakhir dan menghindari tangkapannya.
Ataukah ini sudah diperhitungkan oleh Lia sebelumnya?
Tidak, itu murni kebetulan. Tetapi Lia tersenyum.
Itu karena benih kesabarannya selama ini akhirnya berbuah juga.
Lia sengaja selama ini terus-menerus memukul suit armor robot di satu area serangan yang sama karena sadar bahwa efek defensif armor itu sangatlah luar biasa. Sehingga Lia pun datang pada ide air hujan yang memecahkan batuan. Selama Lia memukul secara terus-menerus armor pada suatu titik, suatu saaat suit armor robot itu akan retak.
Dan akhirnya, Lia melihat celah retakan itu di saat sang pimpinan Tim Borjuin yang tidak tahu apa-apa dengan bodohnya mengaktifkan efek panas armornya yang membuat retakan itu justru terbuka lebih cepat.
Lia pun melayangkan tinjunya di area retak itu.
Dan, “Krek.” Suit armor sang robot yang perkasa akhirnya pecah berkeping-keping di bagian dadanya menampakkan sang pemain yang berada di dalamnya.
Lalu dalam sekejap, “Dor.”
Lia mengarahkan peluru sihir-nya ke kepala sang pemain.
Hanya dalam satu tembakan, sang pimpinan Tim Borjuin yang tanpa perlindungan suit armor robot-nya meregang nyawa. Sang pimpinan Tim Borjuin tanpa suit armor robotnya bukanlah apa-apa. Dia dengan mudah dibuat gameover oleh sang cleric Lia.
\=\=\=
Hasil pertandingan sementara ruang virtual C sesi ketujuh
Silver Hero, jumlah korban \= 7, jumlah pemain tersisa \= 2
Borjuin, jumlah korban \= 4, jumlah pemain tersisa \= 1
Puririn, jumlah korban \= 3, jumlah pemain tersisa \= 1
Vdol, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 1
\=\=\=
__ADS_1