
Pertandingan pun usai. Dari jauh, Luca dapat melihat dengan jelas ekspresi sedih dari Lia terlepas dari kemenangan timnya itu. Satu hal yang Luca bisa duga, Lia tidak puas dengan penampilannya yang tidak maksimal.
Luca pun hendak menuju ke arahnya. Akan tetapi, banyaknya fans dari Tim Silver Hero yang telah mengantri sejak tadi di depan jalan, menghalangi langkah Luca untuk menggapai Lia.
Di saat itulah,
“Hai, kamu… Kamu Luca kan?” Seorang wanita paruh baya dengan pakaian khas wanita karir dengan kemeja lengan panjang dan celana panjang yang sewarna dengan warna krem serta mengenakan kacamata, menyapa Luca.
“Kamu benaran Luca kan? Wah, penampilanmu benaran sama seperti di dalam game. Kukira itu hasil editan photoshop karena wajahmu terlalu ganteng. Tapi kamu seperti apa adanya di dalam game rupanya kecuali warna rambutmu. Tapi yah, menurut Kakak sih, justru warna rambut pirang dengan sedikit campuran warna hitam seperti ini, lebih terlihat ganteng daripada di dalam game.”
Wanita itu tidak henti-hentinya memuji penampilan Luca. Di samping wanita itu, telah ada sosok yang dikenal Luca dengan baik. Dialah Malik, pujaan hati Nina.
Luca menoleh bolak-balik antara wanita itu dan Malik. Sesaat kemudian, lampu di kepala Luca pun menyala.
“Ah, jangan-jangan Kak Kirana ya?”
“Kakak?” Malik ikut bergumam keheranan ketika seseorang yang berada di usia remajanya seperti Luca, memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan Kakak.
Kirana balik menatap Malik dengan tatapan intimidasi lalu Malik pun segera memalingkan pandangannya seraya tersenyum canggung.
“Iya, benar. Aku Kirana. Dik Luca tidak bisa mengenaliku ya dengan penampilan Kakak di dunia nyata seperti ini?”
“Hmm. Bagaimana mengatakannya ya. Kakak terlihat lebih tua dengan penampilan seperti ini.”
Seketika kacamata Kirana pecah mendengar komentar Luca yang terlalu jujur itu. Malik di sampingnya tampak berupaya menahan tawanya. Namun, Kirana mencoba mengabaikan semuanya.
“Uhum.” Kirana berdehem.
“Ngomong-ngomong, Luca ke sini karena mendukung salah satu tim?”
“Iya, aku ke sini untuk mendukung pacarku.”
Kacamata Kirana yang telah retak itu bertambah retak lagi.
Malik menatap dengan tidak percaya seraya bertanya, “Jadi siapa pacarmu? Archer Shadow Park atau cleric Silver Hero?”
“Lia Kak, cleric Silver Hero.” Jawab Luca cepat pada pertanyaan pilihan ganda milik Malik itu.
__ADS_1
Malik pun bersiul dengan kagum. Tetapi Kirana segera mengambil alih kembali pembicaraan.
“Lupakan itu. Pokoknya orang sehebat kamu, tidak boleh bergabung dengan Tim Silver Hero ya, Luca. Kamu harus bergabung dengan tim kami, Tim White Star!” Kirana pun mengeraskan suaranya menekankan bahwa dia sangat serius ingin merekrut Luca.
Luca pun tersenyum.
“Tidak kok, Kak Kirana. Lebih dari siapapun, aku yang paling tahu, tim itu tidak cocok untukku. Lagipula mereka sudah memiliki Kak Mark yang hebat di sana. Jikalau ada, tim yang paling cocok untukku adalah Tim White Star. Aku sudah menyaksikan pertarungan Kak Malik barusan. Sesuai dugaan dari idola Kak Nina. Kak Malik memang luar biasa.”
Malik tersipu malu oleh pujian Luca walaupun dia sendiri keheranan dengan siapa Nina yang disebutkan oleh Luca itu, sementara Kirana semakin antusias.
“Apa itu berarti kamu bersedia bergabung dengan tim kami, Luca?” Ujar Kirana dengan wajah yang semringah.
Namun, Luca menggelengkan kepalanya. Seketika wajah itu kehilangan kembali sinarnya.
“Aku belum memutuskan untuk saat ini, Kak Kirana. Namun satu hal, bolehkah aku menantang satu ronde Kakak yang di sana?” Luca menjawab seraya menatap ke arah Malik.
“Kamu ingin menantangku? Hmm.” Malik tampak ragu seraya menoleh bolak-balik antara Kirana dan Luca.
“Bo…”
“Luca!”
“Tak tak tak tak tak.” Suara langkah sepatunya terdengar dengan jelas. Seseorang mengejar Luca dari atas panggung.
“Hah, hah, hah, hah. Maaf menunggu lama, Luca. Aku harus menghadapi pertanyaan para reporter terlebih dahulu.”
Dialah Lia yang tampak kehabisan nafas karena berlari dengan suasana ruangan yang sesak yang kurang oksigen.
Pandangan Lia pun bertemu dengan Luca, seketika wajah Lia mengusut. Dia sedih karena justru menampilkan pemandangan yang memalukan di saat pacarnya menonton pertandingan finalnya itu. Jika saja bukan karena Asario, tim mereka pasti sudah kalah.
“Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Luca. Tim kami di sebelah sana sudah menunggu kami.” Melihat suasana lovey dovey itu, Kirana dan Malik langsung mengerti lantas mengundurkan diri mereka.
Mereka melangkah menjauh, namun setelah beberapa langkah, Kirana kembali berbalik kepada Luca.
“Ingat ya, Luca, kamu ditakdirkan untuk Tim White Star!” Teriak Kirana dengan sedikit malu-malu sebelum akhirnya dia dan Malik melangkah pergi bergabung bersama timnya kembali.
Alhasil, pertandingan antara Luca dan Malik tampaknya harus ditunda untuk saat ini.
__ADS_1
Luca menatap ke arah Lia. Dia menyadari ekspresi sedih itu.
“Aku memang tidak bisa bilang pertandingan Lia tadi bagus. Seharusnya Lia tidak berlari sembarangan menghadapi Kak Krimson, melepaskan perlindungan dari Kak Toni di kala juga ada archer dan mage di belakang yang siap mendukungnya dengan serangan jarak jauh. Apalagi Kak Krimson itu gesit. Seharusnya Lia sadar itu.”
“Jadi, Luca juga berpendapat yang sama ya dengan pelatih dan Asario ya.” Mendengar komentar Luca yang jujur itu, Lia pun bertambah sedih.
Namun, Luca segera menggelengkan kepalanya seraya tersenyum simpul.
“Tidak dengan kemampuan pertahanan Lia yang lemah seperti sekarang. Bagaimana pun, Lia adalah battle healer yang bersinar di pertandingan. Jika Lia juga memiliki skill pertahanan yang mampu mendukung style serangan karate Lia di lapangan, Lia pastinya akan menjadi pejuang yang hebat.”
“Tetapi jika aku mengaktifkan skill pertahananku, aku tidak bisa menyerang.” Ujar Lia setengah bergumam.
“Bagaimana kalau dalam waktu dekat ini kita jalan-jalan ke Kerajaan Indiya di dalam game? Kebetulan, aku dapat misi dari Paman Heisel yang lumayan menarik. Sekaligus, aku punya hadiah spesial buatmu.”
Wajah Lia seketika merona mengetahui sisi Luca yang romantis itu di luar mulutnya yang terkadang bisa menyebabkan pertikaian.
Tanpa ragu-ragu, Lia pun menjawab, “Baik, tentu saja, Luca.” Senyumnya cerah seakan melupakan stresnya yang barusan itu.
“Di sini kamu rupanya, Tuan Putri.” Asario ternyata sudah ada di belakang Lia seraya menatap Lia dengan ekspresi yang sangat merendahkan.
Luca yang sedari tadi telah menyadari kedatangannya, tidak melepaskan pandangannya dari Asario itu bareng sedetik pun.
“Nona! Hah, hah, hah, hah. Di situ Nona rupanya. Jangan tiba-tiba kabur begitu saja dong, Nona. Aku mati-matian mencarimu.” Andra pun tiba, ikut menghampiri Lia.
Pandangan Asario lantas tertuju pada Luca yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan yang tidak mengenakkan.
“Jadi bocah ini ya, penyebab kamu bolos latihan. Itulah sebabnya kamu tidak tampil maksimal dalam pertandingan.” Ujar Asario dengan nada rendah, penuh penghinaan.
“Senior! Hentikan! Aku kalah karena memang seginilah kemampuanku saat ini! Ada dinding yang sampai saat ini belum bisa kulewati! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Luca! Jadi sebaiknya Senior diam saja!” Melihat tingkah Asario yang tidak menyenangkan itu kepada pacarnya, Lia tidak dapat menahan amarahnya.
Di sisi lain, Asario marah perihal konsentrasi Lia belakangan ini pecah karena keberadaan pemuda bernama Luca yang ada di hadapannya itu, bahkan beberapa hari sebelum pertandingan, Lia yang juga turut membawa Andra sampai bolos latihan demi membuat newbie yang ada di hadapannya itu naik level.
Tak ada kata yang paling tepat menurut Asario bagi orang seperti Luca itu,
PARASIT.
Orang yang tidak berkemampuan yang menempel pada orang yang kuat demi bisa leveling up dengan mudah tanpa banyak usaha.
__ADS_1