The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
146. Hati yang Jahat Merusak Kepolosan Luca


__ADS_3

Jika ditanya mengapa aku menamakan guild extra yang kubentuk sebagai ‘Gubuk Bambu’, tidak ada alasan yang benar-benar penting.


Kata ‘gubuk bambu’ hanya mengingatkanku pada sebuah rumah reot tempat aku dulu tinggal bersama ayah dan ibuku.


Tempat yang benar-benar menghasilkan kenangan yang indah.


Sehingga kata ‘gubuk bambu’ bagiku sendiri senantiasa menghubungkanku dengan makna kebahagiaan.


Tiada jalan untuk meraih apa yang sudah hilang, namun kita masihlah dapat membentuk yang baru.


Dan bagiku, teman-temanku yang berada di sisiku saat ini adalah sumber kebahagiaanku.


Hahahaha. Benar-benar sebuah pembicaraan yang tidak penting ya. Aku hanya… mungkin terlalu sentimental saja. Ah, betapa aku merindukan ayah dan ibuku.


Setelah dari guild assassin, kami berlima menuju ke quest desa pemula padang rumput luas. Ini adalah tempat di mana biasanya para scout naik level sampai ke level 10.


Sesuai yang aku rencanakan sebelumnya, demi memperkuat kekuatan tempur tim e-sport SMA Pelita Harapan, aku menyarankan Diana untuk mengganti kelasnya dari mage menjadi scout.


Bakat sihir tanah tipe pendukung, agilitas dan kemampuan penghindaran yang baik, serta kecerdasan menilai situasi dengan cepat, semua syarat-syarat demi menjadi scout yang baik telah dipenuhi olehnya. Tiada kelas yang lebih cocok baginya selain kelas scout.


Tentu saja tidak semua scout harus memiliki kemampuan penguasaan mana khususnya tipe tanah. Banyak scout yang justru hanya bergantung pada skill pembuatan jebakan murni dari pengetahuan dan keterampilan mengenai peralatan saja.


Tetapi tentu saja memiliki bakat sihir tanah yang mendukung kemampuan pendeteksian yang sangat dibutuhkan bagi seorang scout akan menjadi nilai lebih buat Diana, layaknya Kak Andra.


Dan di sinilah Diana saat ini yang baru turun kembali ke level 5 setelah mengganti kelasnya untuk kembali meningkatkan levelnya sampai ke level 10.


Quest-nya sederhana, di area quest yang luas ini yang terdampar hamparan padang rumput yang hampir tidak terlihat makhluk hidup satu pun, pemain diminta untuk mendeteksi beast parasit yang merusak ekosistem lantas membunuhnya.


Tiga yang paling terkenal di antaranya ialah cacing karnivora, tikus rakus, dan siput asam. Tentu saja beast seperti ayam pemarah dan kerbau penanduk tidak termasuk ke dalam list ini yang justru ketika dibunuh, pemain akan mendapatkan penalti game.


Awalnya, Diana tampak agak sulit dalam menerapkan skill-nya. Akan tetapi, skill pendeteksian scout yang agak mirip dengan skill sihir tipe tanah yang selama ini dikuasainya sewaktu dalam kelas mage, membuatnya dengan cepat menguasainya.


Sesuai dugaanku, Diana adalah player yang berbakat. Jarak jangkauan pendeteksiannya mencapai 20 x 20 km persegi, empat kali dari kemampuan rata-rata pendeteksian player scout normal. Ini semua pastinya berkat kecocokan Diana terhadap elemen tanah. Dia yang masih newbie itu telah hampir menyamai kemampuan Kak Andra yang merupakan player profesional.


Sayangnya, keakuratannya masihlah lemah di mana Diana baru bisa membagi ranah pencariannya ke dalam 25 kotak. Yang berarti error lokasi spesifiknya masih lumayan tinggi di kisaran angka 4 km. Aku berharap dengan latihan, dia setidaknya bisa meningkatkan keakuratannya hingga plus minus 500 meter.


Setelah memakan waktu 3 jam lebih, Diana akhirnya mampu mencapai level 10. Setelah mengeliminasi 25 ekor cacing karnivora, 51 ekor tikus rakus, dan 150 ekor siput asam.

__ADS_1


Aku sengaja menginstruksikannya untuk berfokus saja pada beast lemah ketimbang yang kuat dan berfokus pada jumlah bukannya kualitas demi mengutamakan peningkatan skill pendeteksiannya kali ini.


Alhasil, kini Diana setidaknya mampu memperkecil ranah pencariannya ke dalam 100 kotak alias tingkat error plus minus 2 km, dua kali lebih baik dari sebelumnya.


Setelah itu, karena kupikir akan memakan cukup waktu bagi Diana untuk menjalani ujian pendewasaannya, dan berhubung sekitar 45 menit lagi waktu larangan game bagi anak di bawah umur tiba, aku menyudahi lebih awal saja latihan itu dan segera log out dari game.


@@@


Setelah itu, Luca pun tertidur tanpa sama sekali menduga tentang rencana jahat Toriq yang telah menunggunya keesokan harinya.


***


Jam istirahat pertama itu, aku mengobrol biasa bersama Chika dan Diana.


Di luar dugaanku, setelah aku log out dari game, Diana rupanya masih melanjutkan game-nya dengan segera ke guild scout di desa pemula untuk merequest ujian pendewasaannya.


Diana pun mendapatkan misi menemukan 2 buah telur emas dari ayam pemarah.


Frekuensi ayam pemarah bertelur emas padahal sangat jarang di mana dalam dua ratus telurnya, baru akan didapati satu telur emas saja, alias memiliki peluang sebesar 0,5 % di mana dalam sehari, ayam pemarah hanya akan bertelur sekitar 1 atau 2 telur saja.


Mengingat populasi ayam pemarah tidaklah banyak yang mungkin hanya sekitar 500-an, jadi paling banyak peluang ditemukan telur emas dalam sehari hanyalah 2 sampai 3 butir saja.


Belum lagi mempertimbangkan player lain yang juga mencari telur-telur emas itu karena telur emas bisa dikatakan sebagai item yang sangat berharga karena bisa meningkatkan strength dan vitality secara permanen untuk player pemula. Tentu saja untuk pemain veteran kelas menengah sepertiku, item itu tidak lagi berguna.


Namun dari semua kemungkinan yang terlihat sangat kecil untuk mendapatkannya itu, Diana benar-benar berhasil memperoleh dua hanya dalam waktu 30 menit setelah aku meninggalkannya dan berhasil menyelesaikan quest tersebut di hari yang sama.


Satu yang bisa dikatakan untuknya, Diana benar-benar player yang sangat beruntung. Akh, aku benar-benar iri pada keberuntungannya. [<-- Orang yang tidak sadar kalau luck-nya jauh lebih crazy]


Kukira semuanya akan berjalan normal-normal saja hari itu, tetapi masalah itu pun datang.


@@@


“Hei, kamu! Ikut ke ruang BK sekarang.”


Dengan tampilan yang menyeramkan, sang guru BK menunjuk wajah Luca dengan tidak sopan yang benar-benar tidak mencerminkan akhlak sebagai seorang guru.


Luca yang tidak tahu-menahu masalahnya pun hanya mengikuti guru itu saja ke ruang BK.

__ADS_1


Di dalam ruangan, rupanya telah menunggu Toriq, beserta kedua orang tuanya, bersama dengan Pak Susanto, wali kelas Luca.


“Rupanya ini anak kurang ajar yang berani-beraninya melukai anakku.”


Ujar Ayah Toriq dengan marah sembari berdiri dan hendak menampar Luca. Namun, Luca segera mampu menghindari tamparan itu.


“Lihat, lihat, lihat itu sikapnya. Dasar anak tak berpendidikan! Mengapa bisa anak yatim piatu seperti itu satu sekolah dengan anak kami Toriq sih?! Di mana tanggung jawab sekolah?! Mengapa bisa pihak sekolah membiarkan gembel seperti itu bersekolah di level yang sama dengan anak kami?!”


Sang ibu pun menambahkan komentar jahatnya, mendukung sang suami.


Di balik mereka, Toriq menyaksikan pemandangan itu dengan antusias, tertawa kegirangan puas tanpa berusaha menyembunyikan ekspresinya di kala di ruangan itu juga masih ada sang guru BK dan wali kelas Luca.


“Aku tidak tahu apa yang dikatakan Toriq pada Anda. Tapi tampaknya Anda salah paham. Aku menghajarnya hanya demi melindungi diri karena Toriq dan para anak buahnya-lah yang memulai duluan mengeroyokku.”


Sang ayah pun tertawa kegirangan penuh kelicikan menanggapi ucapan Luca itu.


“Memangnya kamu punya bukti, anak yatim piatu rendahan sialan?!” Ujar sang ayah sembari menunjukkan rekaman video perkelahian Luca dengan geng Toriq.


Namun rupanya, video itu telah dipotong dengan tidak menampilkan cuplikan di awalnya sehingga seolah-olah, Luca yang maju seorang diri mencari gara-gara dengan langsung menghajar para preman yang tampak berupaya melindungi Toriq.


“Sudahlah. Kamu cepat mengaku bersalah saja, Luca. Buktinya sudah jelas. Kalau kamu mengaku sekarang, prosesnya akan lebih mudah. Kamu hanya akan diskors tanpa harus diberhentikan di sekolah. Kalau kamu berusaha mengelak, Bapak takut masalah ini justru akan merambah sampai ke polisi. Tapi Ayah Toriq sudah cukup bijak di sini dengan memberikanmu kesempatan untuk mengaku dan meminta maaf saja.”


Dan bukannya menengahi secara bijak, Pak Susanto sebagai wali kelas Luca malah menambahkan garam ke dalam luka itu.


Itu adalah kali pertama Luca mengalami yang namanya fitnah.


Sejak orang-orang di Gardenia, walaupun tabiat mereka kasar-kasar, mereka rata-rata orang yang jujur yang lebih suka beradu otot ketimbang mencari-cari kesalahan orang lain, terlebih jika sampai kesalahan itu sampai dibuat-buat.


“Mengapa… Mengapa aku harus meminta maaf ketika aku tidak bersalah?! Dan apa hubungannya dengan orang tuaku yang sudah meninggal dengan ini?!”


Akibat perasaan yang pertama kali dirasakannya itu, Luca pun berteriak sangat marah dan tanpa sadar mengeluarkan air mata.


“Lihat anak ini. Tidak ada itikad baiknya sama sekali dan merasa bersalah. Anak seperti ini sebaiknya dikeluarkan saja dari sekolah.”


Dengan entengnya, sang guru BK pun mengangkat suara.


Di balik pintu yang bisa memperdengarkan dengan jelas ketidakadilan itu di mana keempat orang yang katanya dewasa itu sedang mengeroyok seorang anak kecil yang lemah, Pak Syarifuddin, sang pelatih klub di mana Luca bernaung, mengepalkan tangannya dengan penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2