
“Huff!”
Bu Sasmi seketika hendak berteriak tetapi dicegatnya dengan segera membekap mulutnya sendiri. Bagaimana tidak, kepanikannya baru saja teratasi. Suasana tegang benar-benar melanda hatinya ketika dia berpikir bahwa Luca kapan saja bisa kalah dengan kondisi yang tidak menguntungkannya itu.
Namun Luca seketika membalikkan keadaan tersebut. Dengan brilian, Luca satu-persatu menghabisi sang cleric, mage, serta shielder lawan. Tidak hanya itu, Luca turut pula menunjukkan taringnya yang tak mau kalah dengan ikut menghancurkan monolith lawan.
Dengan cepat, skor kembali imbang, dan kini lawan yang tersisa di hadapannya itu tinggal sang swordsman.
“Slash.”
Kepanikan sekali lagi menimpa hati sang guru sastra itu ketika sang swordsman menggunakan skill cepatnya untuk menebas Luca dengan pedangnya. Akan tetapi, tepat di saat pedang itu akan menggapai punggung Luca,
“Pyong.”
__ADS_1
Luca telah menghilang dari hadapan sang swordsman. Luca tampak lengah, namun sejatinya pemuda itu sama sekali tidak pernah lengah.
“Huff. Ya ampun, Luca, kumohon…”
Sekali lagi sang guru bernafas lega.
Di lain tempat, sang wanita lembut dari Tim White Star turut harap-harap cemas menyaksikan pertandingan itu.
“Ayo, Luca. Apa yang kamu lakukan? Cepat kalahkan swordsman itu. Ini gawat. Benar-benar gawat. Rekan shielder Luca (Areka) tampak tak bisa lagi menahan Viandra. Kuharap dia tetap akan baik-baik saja, setidaknya sampai Luca berhasil mengalahkan swordsman itu.”
“Tidak, menurutku shielder rekan Luca itu sudah berusaha yang terbaik sesuai dengan kemampuannya saat ini. Ini menunjukkan betapa besar perbedaan kekuatan lawan. Mengetahui itu, dia lebih memilih untuk meminimalisir penggunaan staminanya demi mengulur waktu Viandra lebih lama. Lihatlah bagaimana gerakan menarik dan mendorong yang shielder itu lakukan. Dia sungguh pandai memutuskan apa yang terbaik dilakukannya di saat-saat kritis ini.”
“Yah, kuakui dia hebat dengan caranya sendiri.”
__ADS_1
Ketegangan Kania turut tersalurkan pada teman duduk di sebelahnya itu, Bento. Mereka semua tulus menaruh dukungan dan harapan mereka kepada Luca dan timnya, Tim SMA Pelita Harapan.
@@@
‘Sial, sang swordsman itu lebih tangguh dari yang aku kira. Padahal Kak Andra masih jauh lebih hebat darinya, tetapi perihal staminaku yang sudah surut ini, aku jadi kewalahan menghadapinya.’
Aku sejenak mengeluh dalam hati akan situasi tidak menguntungkan yang tercipta ini atas keterlambatanku menilai situasi.
Namun, di tengah kondisi tubuhku yang mulai lelah itu baik secara mental maupun fisik, aku sekilas mengingat saran dari Kak Dimitri beberapa saat lalu padaku,
“Jangan pernah remehkan mengenai senjata, Luca. Tergantung dari senjatanya, terkadang hasil pertarungan akan ditentukan. Jika di antara dua lawan yang saling bertarung memiliki kekuatan yang hampir imbang, maka lawan dengan senjata yang memiliki ketahanan dan daya serang lebih besar-lah yang akan keluar sebagai pemenang pertarungan.”
Itu benar. Ada cara untuk segera mengungguli pertarungan ini. Sang swordsman lawan memiliki insting dan ketajaman indera yang terlalu baik sehingga bahkan dengan skill assassin tercanggih yang saat ini dikuasai oleh tubuh avatarku, mempertimbangkan kondisi lelahku saat ini, aku tetap akan sangat sulit mendaratkan satu serangan pun padanya.
__ADS_1
Jika menikam dari belakang tidak memungkinkan, maka aku hanya harus menikamnya dari depan.